Bab 14: Kecemburuan Susi

Masa orientasi telah berakhir dan tidak banyak yang terjadi selama periode tersebut. Semua berjalan lancar tanpa ada kejadian yang mencolok atau terlalu berlebihan. Kirana yang kini sudah mulai menyesuaikan diri dengan rutinitas barunya, baik di rumah maupun di sekolah bahkan latihan silatnya masih berlangsung. 

Kirana memutuskan untuk membeli sebuah ponsel baru untuk menunjang semua aktivitasnya tersebut. Ponsel tersebut tidaklah mewah tetapi masih cukup untuk menunjang aktivitas belajarnya nanti. Kirana berharap lebih mudah mengakses materi pelajaran, mengatur jadwal bahkan berkomunikasi dengan teman-teman sekelasnya dan tentunya dengan Rini sahabatnya. 

Satu hal yang sedikit mengecewakan Kirana adalah kenyataan bahwa Ririn sahabatnya ternyata tidak satu kelas dengannya. Meski begitu mereka bertekad untuk tetap menjaga kedekatan mereka. Siap jam istirahat Kirana dan Ririn selalu menyempatkan diri untuk bertemu, berbagi cerita atau sekedar menghabiskan waktu bersama. Meski tidak duduk di kelas yang sama, persahabatan mereka tetap kuat dan momen-momen pertemuan di sela-sela kesibukan terutama paa saat latihan silat menjadi sesuatu yang selalu dinantikan mereka.

 

Beberapa hari terakhir Kirana merasa ada sesuatu yang tidak biasa. Setiap kali Kirana bertemu Susi di selasar sekolah, di kantin atau di lapangan, Kirana selalu melihat senyum sinis tersungging dari bibir Susi. Senyum itu bukan senyum ramah melainkan senyum yang penuh dengan maksud tersembunyi. Kirana merasa sesuatu yang tidak beres akan terjadi namun ia mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya. Ia punya banyak hal yang harus dipikirkannya, mulai pekerjaan rumah, tugas sekolah dan latihan silat yang semakin berat saat ini.

Namun rasa tidak nyaman itu semakin menjadi ketika Ririn memberitahukannya sesuatu. “Kir… aku dengar dari teman-teman kalau Susi lagi nyari tahu tentang kamu,” ujar Ririn suatu siang saat mereka sedang makan siang di kantin. Suaranya pelan namun penuh kekhawatiran.

Kirana mengerutkan keningnya. “Nyari tahu tentang aku…? Maksudnya gimana ya Rin…?” tanyanya mencoba memahami apa yang Ririn katakan.

Ririn menghela napas. “Iya… aku dengar dia nanya-nanya ke teman-teman kita tentang kamu. Mulai dari keluarga, latar belakang sampai kebiasaan kamu. Aku rasa dia mencari celah untuk menjelekkanmu dan ganggu kamu…,” jelas Ririn dengan mata penuh kecemasan.

Kirana mengangguk pelan dan mencerna informasi itu. “Sebenarnya aku sudah curiga sih… Setiap kali kami bertemu… dia selalu tersenyum sinis kepadaku. Aku rasa dia tidak suka kepadaku,” ujarnya sambil menatap piring makanannya namun mencoba tetap tenang.

Ririn menghela napas lagi. “Kamu harus berhati-hati Kir… Susi itu dikenal jahat oleh teman-teman. Kalau dia tidak senang terhadap seseorang, dia akan menjahatinya… Aku nggak mau kamu kenapa-napa…,” ujarnya masih dengan kekhawatirannya.

Kirana tersenyum kecil dan mencoba menenangkan sahabatnya. “Tenang saja Rin… Aku sepertinya bisa menghadapi ini. Aku tidak akan biarkan dia mengganggu kita…,” jawabnya dengan penuh keyakinan.

Lalu mereka melanjutkan makan siang mereka, duduk di meja makan kantin yang cukup ramai namun tetap nyaman. Suara riuh rendah suara siswa lain meramaikan suasana, tapi Kirana dan Ririn lebih fokus pada makanan dan obrolan mereka. Meskipun begitu ada rasa kekhawatiran yang masih menggelayut di hati mereka, seolah-olah ada sesuatu yang belum terselesaikan. Mereka berusaha menikmati waktu makan siang itu meski beban pikiran yang samar-samar masih mengganggu. Keduanya tahu bahwa kekhawatiran itu mungkin tidak akan hilang dalam sekejap tetapi setidaknya dengan saling berbagi, beban itu terasa sedikit lebih ringan.

 

Hari demi hari Susi semakin penasaran dengan Kirana. Ia masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa Daniel yang dia sukai begitu tertarik pada Kirana. Baginya Kirana hanyalah “anak kampung” yang tidak pantas mendapatkan perhatian dari seseorang seperti Daniel. Setiap kali Susi melihat Kirana, rasa cemburu dan kebenciannya semakin membesar seperti api yang terus menyala dan tidak bisa dipadamkan.

Susi mulai mencari tahu tentang Kirana. Susi bertanya kepada teman-teman Kirana bahkan mencoba mengumpulkan informasi dari kakak kelas yang mungkin mengenal Kirana. Ia ingin tahu latar belakang Kirana dan mencari celah untuk menjatuhkannya serta menemukan kelemahan Kirana yang bisa dia gunakan untuk membuat Kirana tidak lagi dianggap istimewa oleh Daniel.

Sebenarnya Daniel tidak terlalu tertarik dengan Kirana. Daniel mendekati Kirana bukan karena perasaan tulus tapi melainkan lebih karena keinginan untuk membuktikan bahwa dia bisa mendapatkan perhatian Kirana. Daniel terbiasa dengan perhatian dari banyak orang dan merasa tertantang oleh penolakan yang Kirana tunjukkan. Bagi Daniel ini hanyalah sebuah tantangan kecil untuk mengisi waktu dan memuaskan ego dirinya. Dia tidak benar-benar memikirkan perasaan Kirana atau konsekuensi dari tindakannya. Yang dia tahu bahwa penolakan Kirana justru membuatnya semakin ingin “menang” dalam permainan yang dia ciptakan sendiri.

 

Suatu siang Susi mendekati salah satu teman Kirana yang kebetulan satu kampung dengan Kirana. “Eh… kamu khan satu kampung dengan Kirana ya?” tanya Susi dengan pura-pura ramah.

Siswa itu menoleh dan tersenyum. “Iya kak… ada apa ya kak?” jawab siswa itu tidak kalah ramah.

“Aku penasaran… gimana sih latar belakang dia?” tanya Susi dengan nada yang seolah biasa saja tapi matanya penuh dengan rasa ingin tahu.

Teman Kirana itu yang tidak menyadari niat buruk Susi, menjawab dengan jujur. “Kirana itu anaknya biasa saja kok… Dia tinggal bersama pamannya. Tapi Karina siswa berprestasi dan mendapatkan beasiswa sejak SMP…,” jawab teman Kirana sambil tersenyum dan bangga menceritakan tentang Kirana.

Susi mengerutkan keningnya dan berusaha menyembunyikan rasa tidak sukanya. “Beasiswa? Jadi dia orang tidak mampu ya…?” tanyanya mencoba mencari celah untuk menjatuhkan Kirana.

Temannya mengangguk. “Iya… Kirana itu yatim piatu… Kabarnya ayah ibunya sudah meninggal sejak dia bayi… dan sekarang di numpang bersama keluarga pamannya,” jelasnya dengan suara pelan dan penuh simpati.

Susi mendengarkan dengan seksama dan matanya berbinar seperti menemukan sesuatu yang berharga. “Hemmmmm….,” dehem Susi mencerna informasinya yang diperolehnya. Ia semakin yakin bahwa Kirana tidak dapat mendapatkan perhatian Daniel.

“Tapi dia pintar dan berprestasi waktu SMP. Mandiri juga lho…,” lanjut teman Kirana itu mencoba memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang Kirana.

Susi tersenyum sinis dan bibirnya meringis penuh ejekan seolah-olah baru saja menemukan sesuatu yang sangat menghibur. Matanya menyipit dan menatap ke arah Kirana yang sedang asik berbincang dengan teman-temannya di halaman sekolah.

“Mandiri…? Jadi dia cuma anak yatim piatu dan miskin yang sok mandiri ya?” bisiknya dalam hati  dengan suara penuh ejekan dan merendahkan. Baginya kata “mandiri” yang Kirana banggakan hanyalah kedok untuk menutupi kekurangan dan latar belakangnya yang memprihatinkan. Susi semakin yakin bahwa Kirana tidak pantas mendapatkan perhatian Daniel apalagi bersaing dengannya.

Susi memalingkan pandangannya mencoba menyembunyikan senyum sinisnya tetapi kepuasan hatinya tidak dapat disembunyikannya. Baginya Kirana hanyalah seorang gadis biasa yang tidak layak mendapatkan tempat di dunia yang Susi anggap miliknya. Dengan keyakinan itu, Susi semakin yakin dan mantap untuk memastikan bahwa Daniel tidak akan pernah serius mendapatkan Kirana.

Bagaimana kisah selanjutnya...? Ikuti bab selanjutnya...

Episodes
1 Bab 1: Kirana dan Kehidupannya
2 Bab 2: Ujian Tak Terduga
3 Bab 3: Pertolongan Kakek Misterius
4 Bab 4: Kemarahan Bibi Tari
5 Bab 5: Kejutan
6 Bab 6: Latihan Perdana
7 Bab 7: Latihan Perdana 2
8 Bab 8: Beasiswa dan Pilihan
9 Bab 9: Kebahagiaan dan Cibiran
10 Bab 10: Liburan dan Latihan
11 Bab 11: Pagi Penuh Kejutan
12 Bab 12: Awal yang Baru
13 Bab 13: Jerat di Balik Senyum
14 Bab 14: Kecemburuan Susi
15 Bab 15: Perseteruan Susi dan Kirana
16 Bab 16: Pembalasan Kirana
17 Bab 17: Bantuan Daniel
18 Bab 18: Percobaan Pelecehan
19 Bab 19: Upaya Penyelamatan
20 Bab 20: Misi Penyelamatan
21 Bab 21: Trauma Susi
22 Bab 22: Kemarahan Orang Tua Susi
23 Bab 23: Trauma dan Konsekuensi
24 Bab 24: Usaha dan Harapan
25 Bab 25: Pertemuan
26 Bab 26: Terluka Parah
27 Bab 27: Pertolongan Pertama
28 Bab 28: Kirana Terpaksa Berbohong
29 Bab 29: Perkenalan
30 Bab 30: Flashback
31 Bab 31: Pemulihan
32 Bab 32: Menghubungi Tuan Nugroho
33 Bab 33: Penghianat
34 Bab 34: Rencana Pulang
35 Bab 35: Penjemputan
36 Bab 36: Tuan Nugroho dan Satria
37 Bab 37: Tuan Nugroho dan Satria 2
38 Bab 38: Pulang
39 Bab 39: Perubahan Rencana
40 Bab 40: Menuju Singapura
41 Bab 41: Rindu
42 Bab 42: Berobat
43 Bab 43: Telponan
44 Bab 44: Ungkapan Perasaan dan Pesan Perpisahan
45 Bab 45: Di Negeri Paman Sam
46 Bab 46: Malam Penuh Ketegangan
47 Bab 47: Penghianat Beraksi Lagi
48 Bab 48: Pengkhianatan yang Mematikan
49 Bab 49: Badai di Tengah Ketenangan
50 Bab 50: Kejanggalan di Balik Layar
51 Bab 51: Hukuman Awal
52 Bab 52: Jejak yang Menghilang
53 Bab 53: Ke Jakarta
54 Bab 54: Hari Kelulusan
55 Bab 55: Bertemu
56 Bab 56: Ungkapan Perasaan
57 Bab 57: Restu Kakek Sapto
58 Bab 58: Rencana Keberangkatan
59 Bab 59: Berangkat
60 Bab 60: Rindu
61 Bab 61: Pertemuan Tak Terduga
62 Bab 62: Konflik dengan Bagas
63 Bab 63: Persahabatan
64 Bab 64: Rencana Penculikan
65 Bab 65: Jalan-Jalan
66 Bab 66: Penculikan
67 Bab 67: Kepanikan di Mansion
68 Bab 68: Bantuan Jonathan
69 Bab 69: Belum Terlacak
70 Bab 70: Dalam Keterbatasan
71 Bab 71: Petunjuk
72 Bab 72: Tebusan
73 Bab 73: Upaya Penyelamatan
74 Bab 74: Tertembak
75 Bab 75: Dirawat
76 Bab 76: Khawatir
77 Bab 77: Motif Mulai Terungkap
78 Bab 78: Motif Sesungguhnya
79 Bab 79: Pengakuan
80 Bab 80: Kekhawatiran Arif
81 Bab 81: Pertemuan Kirana dan Arif
82 Bab 82: Dukungan Paman Budi
83 Bab 83: Ucapan Terima Kasih
84 Bab 84: Bisa Pulang
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Bab 1: Kirana dan Kehidupannya
2
Bab 2: Ujian Tak Terduga
3
Bab 3: Pertolongan Kakek Misterius
4
Bab 4: Kemarahan Bibi Tari
5
Bab 5: Kejutan
6
Bab 6: Latihan Perdana
7
Bab 7: Latihan Perdana 2
8
Bab 8: Beasiswa dan Pilihan
9
Bab 9: Kebahagiaan dan Cibiran
10
Bab 10: Liburan dan Latihan
11
Bab 11: Pagi Penuh Kejutan
12
Bab 12: Awal yang Baru
13
Bab 13: Jerat di Balik Senyum
14
Bab 14: Kecemburuan Susi
15
Bab 15: Perseteruan Susi dan Kirana
16
Bab 16: Pembalasan Kirana
17
Bab 17: Bantuan Daniel
18
Bab 18: Percobaan Pelecehan
19
Bab 19: Upaya Penyelamatan
20
Bab 20: Misi Penyelamatan
21
Bab 21: Trauma Susi
22
Bab 22: Kemarahan Orang Tua Susi
23
Bab 23: Trauma dan Konsekuensi
24
Bab 24: Usaha dan Harapan
25
Bab 25: Pertemuan
26
Bab 26: Terluka Parah
27
Bab 27: Pertolongan Pertama
28
Bab 28: Kirana Terpaksa Berbohong
29
Bab 29: Perkenalan
30
Bab 30: Flashback
31
Bab 31: Pemulihan
32
Bab 32: Menghubungi Tuan Nugroho
33
Bab 33: Penghianat
34
Bab 34: Rencana Pulang
35
Bab 35: Penjemputan
36
Bab 36: Tuan Nugroho dan Satria
37
Bab 37: Tuan Nugroho dan Satria 2
38
Bab 38: Pulang
39
Bab 39: Perubahan Rencana
40
Bab 40: Menuju Singapura
41
Bab 41: Rindu
42
Bab 42: Berobat
43
Bab 43: Telponan
44
Bab 44: Ungkapan Perasaan dan Pesan Perpisahan
45
Bab 45: Di Negeri Paman Sam
46
Bab 46: Malam Penuh Ketegangan
47
Bab 47: Penghianat Beraksi Lagi
48
Bab 48: Pengkhianatan yang Mematikan
49
Bab 49: Badai di Tengah Ketenangan
50
Bab 50: Kejanggalan di Balik Layar
51
Bab 51: Hukuman Awal
52
Bab 52: Jejak yang Menghilang
53
Bab 53: Ke Jakarta
54
Bab 54: Hari Kelulusan
55
Bab 55: Bertemu
56
Bab 56: Ungkapan Perasaan
57
Bab 57: Restu Kakek Sapto
58
Bab 58: Rencana Keberangkatan
59
Bab 59: Berangkat
60
Bab 60: Rindu
61
Bab 61: Pertemuan Tak Terduga
62
Bab 62: Konflik dengan Bagas
63
Bab 63: Persahabatan
64
Bab 64: Rencana Penculikan
65
Bab 65: Jalan-Jalan
66
Bab 66: Penculikan
67
Bab 67: Kepanikan di Mansion
68
Bab 68: Bantuan Jonathan
69
Bab 69: Belum Terlacak
70
Bab 70: Dalam Keterbatasan
71
Bab 71: Petunjuk
72
Bab 72: Tebusan
73
Bab 73: Upaya Penyelamatan
74
Bab 74: Tertembak
75
Bab 75: Dirawat
76
Bab 76: Khawatir
77
Bab 77: Motif Mulai Terungkap
78
Bab 78: Motif Sesungguhnya
79
Bab 79: Pengakuan
80
Bab 80: Kekhawatiran Arif
81
Bab 81: Pertemuan Kirana dan Arif
82
Bab 82: Dukungan Paman Budi
83
Bab 83: Ucapan Terima Kasih
84
Bab 84: Bisa Pulang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!