Bab 13: Jerat di Balik Senyum

Sesampainya di gerbang sekolah, kerumunan siswa baru terlihat mulai ramai memasuki gerbang sekolah. Suasana pagi ini dipenuhi dengan suara tawa, obrolan dan langkah kaki yang semangat dari para siswa. Kirana memarkirkan motornya di tempat parkir yang telah tersedia di depan sekolah. Meski motornya terlihat tua, namun aura Kirana yang tenang dan penuh keyakinan membuat Kirana lebih menonjol dari siswa baru lainnya Tiba-tiba kerumunan para siswa, baik siswa baru maupun kakak kelasnya berdecak kagum melihat Kirana turun dari motor tua berwarna merah dengan percaya diri..

Namun di antara kerumunan panitia orientasi, sorot mata Daniel yang merupakan ketua panitia orientasi, mengikuti setiap gerak Kirana dengan intens. Daniel berdiri tidak jauh dari kerumunan siswa baru dengan tangan disilangkan di dada. Daniel tersenyum melihat interaksi Kirana dengan siswa lainnya. Matanya menyipit dan seolah sedang mengamati sesuatu yang menarik perhatiannya.

“Nama kamu Kirana khan…?” tanya Daniel tiba-tiba sambil mendekati Kirana dengan santai. Senyum termanis terpampang di wajahnya. Tapi di balik senyum itu, tatapan Daniel terasa licik seperti predator yang sedang mengincar mangsanya. “Aku Daniel… Kalau ada masalah nantinya bilang saja ke aku. Aku pasti bantu,” ujarnya dengan nada yang ramah namun Kirana merasa sedikit tidak nyaman dari sikap Daniel.

Kirana mengangguk formal dan mencoba menjaga jarak. “Terima kasih Kak...,” jawabnya singkat dengan suara datar namun tetap sopan. Ia tidak mau terlibat lebih jauh dengan Daniel tapi dia juga tidak ingin terlihat tidak menghargai.

Ririn yang berdiri di samping Kirana mencubit lengan sahabatnya dengan lembut. “Hati-hati Kir… Matanya seperti elang yang ngeliatin mangsa,” bisiknya pelan dengan suara penuh kekhawatiran. Mata Ririn melirik ke arah Daniel yang masih berdiri tidak jauh dari mereka dan masih menampilkan senyum termanisnya.

Kirana hanya tersenyum kecil dan mencoba menenangkan Ririn termasuk dirinya sendiri. “Tenang saja Rin… sepertinya aku masih bisa mengatasi ini…,” bisiknya balik meski sebenarnya ia juga merasa tidak nyaman dengan senyuman dan tatapan Daniel. Ia menarik napas dalam-dalam dan berusaha mengusir perasaan was-was yang mulai menggelayuti hatinya.

 

Tiga hari masa orientasi telah berlalu dan sikap Daniel semakin agresif. Ia selalu “kebetulan” berada di dekat Kirana. Entah itu mengambilkan air saat Kirana kehausan, menawarkan bantuan saat Kirana terlihat kesulitan atau sekedar mencoba memulai percakapan. Padahal dia ketua panitia orientasi yang seharusnya memperhatikan semua siswa baru, bukan hanya fokus pada Kirana. Ini tidak lepas dari pengamatan Susi, kakak kelasnya yang juga jadi panitia orientasi. Susi selama ini menaruh rasa pada Daniel merasa cemburu melihat perhatian berlebihan Daniel kepada Kirana.

Suatu siang ketika kegiatan orientasi hari itu telah selesai, Daniel kembali mendekati Kirana dan memaksa Kirana untuk mengantarnya pulang. Kirana selalu menolak tetapi senyum Daniel tetap terpampang, tapi matanya menyimpan sesuatu yang tidak tulus seperti ada niat tersembunyi yang tidak ingin diungkapkan.

“Kirana… aku antar kamu pulang ya...? Jalanan kjan masih sepi… takutnya nggak aman…,” ujar Daniel dengan nada seolah penuh perhatian. Daniel berdiri di samping motor barunya yang mengkilap dan mencoba menarik perhatian Kirana dengan menawarkan tumpangan.

Kirana menghela napas halus dan mencoba menolak dengan sopan. “Terima kasih Kak… tapi aku bisa pulang sendiri. Lagipula ada Ririn yang bareng aku…,” jawabnya sambil menunjuk Ririn yang sedang menunggu di dekat motor tua Kirana. Suaranya halus namun tegas. Kirana ingin menunjukkan bahwa ia tidak ingin diberi perhatian khusus.

Wajah Daniel memerah tapi ia mencoba menahan emosinya. “Ah masa sih nggak mau? Motor aku kan lebih nyaman…,” godanya tapi nada suaranya mulai terdengar memaksa seperti ia tidak terbiasa ditolak.

Kirana menggeleng dan tetap dengan pendiriannya. “Tidak usah repot-repot Kak. Aku sudah biasa naik motor sendiri. Terima kasih Kak…,” ujarnya sambil tersenyum tipis lalu berbalik dan berjalan menuju Ririn. Ia tidak ingin memberi harapan kepada Daniel, apalagi Karina merasa tidak nyaman dengan perhatian Daniel yang berlebihan.

Begitu Kirana berlalu meninggalkan Daniel, senyum Daniel mendadak menghilang. Wajahnya berubah masam dan ia menggerutu pelan. “Dasar anak kampung sok jual mahal…,” gerutunya dengan mata menyipit dengan penuh rasa kesal dan kebencian yang mulai membesar. Baginya penolakan Kirana adalah tamparan keras bagi egonya. Ia tidak terbiasa ditolak apalagi oleh seseorang yang di anggap “biasa”.

Sementara itu di balik pohon, Susi memperhatikan gerak-gerik Daniel dan Kirana dengan intens. Matanya menyipit dan bibirnya mengerucut serta rasa cemburu yang selama ini dia pendam semakin membesar. “Kenapa Daniel selalu memperhatikan dia? Apa istimewanya anak itu?” gumannya pelan dengan suara penuh kekecewaan dan kebencian. Susi merasa posisinya terancam dan Kirana menjadi sasaran kemarahannya. 

 

Sekilas tentang Daniel:

Daniel adalah anak tunggal dari seorang pejabat tinggi di kabupaten daerah itu. Ayahnya terkenal sebagai orang yang berpengaruh dan keluarganya hidup dalam kemewahan. Sejak kecil Daniel terbiasa mendapatkan apa yang ia inginkan. Fasilitas terbaik dengan uang berlimpah membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri… atau lebih tepatnya “sombong”.

Daniel memang tampan dengan postur tubuh tinggi dan dengan wajah yang menarik. Tapi sikapnya seringkali membuat orang lain tidak nyaman. Daniel suka memamerkan kekayaannya, mulai dari motor barunya yang selalu mengkilap, jam tangan mahal yang selalu ia kenakan, hingga cara bicaranya yang sering terkesan merendahkan.

 

Sekilas tentang Susi:

Sedangkan Susi adalah anak seorang pengusaha sukses di daerah itu. Keluarganya kaya raya dan ia tumbuh di lingkungan dimana semua keinginannya selalu terpenuhi. Apa yang dia minta, keluarganya selalu akan memenuhinya mulai dari pakaian branded, perhiasan mahal hingga mobil mewah yang ia kendarai ke sekolah.

Susi memang cantik tapi riasannya selalu berlebihan. Ia selalu tampil dengan makeup tebal dan pakaian yang mencolok, seolah ingin semua tertuju padanya. Namun di balik penampilannya yang glamor. Susi adalah pribadi yang manja dan egois. Ia merasa bahwa dunia ini hanya miliknya dan tidak ada hal yang tidak bisa ia peroleh.

 

Daniel dan Susi bagaikan dua sisi mata uang yang sama. Mereka sama-sama terbiasa mendapatkan apa yang mereka inginkan dan keduanya tidak suka ditolak. Daniel merasa tertantang oleh Kirana, sementara Susi merasa terancam oleh keberadaan Kirana. Keduanya tidak menyadari bahwa sikap mereka justru membuat mereka semakin jauh dari apa yang sebenarnya mereka inginkan.

Bagaimana kisah selanjutnya...? Ikuti bab selanjutnya...

Episodes
1 Bab 1: Kirana dan Kehidupannya
2 Bab 2: Ujian Tak Terduga
3 Bab 3: Pertolongan Kakek Misterius
4 Bab 4: Kemarahan Bibi Tari
5 Bab 5: Kejutan
6 Bab 6: Latihan Perdana
7 Bab 7: Latihan Perdana 2
8 Bab 8: Beasiswa dan Pilihan
9 Bab 9: Kebahagiaan dan Cibiran
10 Bab 10: Liburan dan Latihan
11 Bab 11: Pagi Penuh Kejutan
12 Bab 12: Awal yang Baru
13 Bab 13: Jerat di Balik Senyum
14 Bab 14: Kecemburuan Susi
15 Bab 15: Perseteruan Susi dan Kirana
16 Bab 16: Pembalasan Kirana
17 Bab 17: Bantuan Daniel
18 Bab 18: Percobaan Pelecehan
19 Bab 19: Upaya Penyelamatan
20 Bab 20: Misi Penyelamatan
21 Bab 21: Trauma Susi
22 Bab 22: Kemarahan Orang Tua Susi
23 Bab 23: Trauma dan Konsekuensi
24 Bab 24: Usaha dan Harapan
25 Bab 25: Pertemuan
26 Bab 26: Terluka Parah
27 Bab 27: Pertolongan Pertama
28 Bab 28: Kirana Terpaksa Berbohong
29 Bab 29: Perkenalan
30 Bab 30: Flashback
31 Bab 31: Pemulihan
32 Bab 32: Menghubungi Tuan Nugroho
33 Bab 33: Penghianat
34 Bab 34: Rencana Pulang
35 Bab 35: Penjemputan
36 Bab 36: Tuan Nugroho dan Satria
37 Bab 37: Tuan Nugroho dan Satria 2
38 Bab 38: Pulang
39 Bab 39: Perubahan Rencana
40 Bab 40: Menuju Singapura
41 Bab 41: Rindu
42 Bab 42: Berobat
43 Bab 43: Telponan
44 Bab 44: Ungkapan Perasaan dan Pesan Perpisahan
45 Bab 45: Di Negeri Paman Sam
46 Bab 46: Malam Penuh Ketegangan
47 Bab 47: Penghianat Beraksi Lagi
48 Bab 48: Pengkhianatan yang Mematikan
49 Bab 49: Badai di Tengah Ketenangan
50 Bab 50: Kejanggalan di Balik Layar
51 Bab 51: Hukuman Awal
52 Bab 52: Jejak yang Menghilang
53 Bab 53: Ke Jakarta
54 Bab 54: Hari Kelulusan
55 Bab 55: Bertemu
56 Bab 56: Ungkapan Perasaan
57 Bab 57: Restu Kakek Sapto
58 Bab 58: Rencana Keberangkatan
59 Bab 59: Berangkat
60 Bab 60: Rindu
61 Bab 61: Pertemuan Tak Terduga
62 Bab 62: Konflik dengan Bagas
63 Bab 63: Persahabatan
64 Bab 64: Rencana Penculikan
65 Bab 65: Jalan-Jalan
66 Bab 66: Penculikan
67 Bab 67: Kepanikan di Mansion
68 Bab 68: Bantuan Jonathan
69 Bab 69: Belum Terlacak
70 Bab 70: Dalam Keterbatasan
71 Bab 71: Petunjuk
72 Bab 72: Tebusan
73 Bab 73: Upaya Penyelamatan
74 Bab 74: Tertembak
75 Bab 75: Dirawat
76 Bab 76: Khawatir
77 Bab 77: Motif Mulai Terungkap
78 Bab 78: Motif Sesungguhnya
79 Bab 79: Pengakuan
80 Bab 80: Kekhawatiran Arif
81 Bab 81: Pertemuan Kirana dan Arif
82 Bab 82: Dukungan Paman Budi
83 Bab 83: Ucapan Terima Kasih
84 Bab 84: Bisa Pulang
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Bab 1: Kirana dan Kehidupannya
2
Bab 2: Ujian Tak Terduga
3
Bab 3: Pertolongan Kakek Misterius
4
Bab 4: Kemarahan Bibi Tari
5
Bab 5: Kejutan
6
Bab 6: Latihan Perdana
7
Bab 7: Latihan Perdana 2
8
Bab 8: Beasiswa dan Pilihan
9
Bab 9: Kebahagiaan dan Cibiran
10
Bab 10: Liburan dan Latihan
11
Bab 11: Pagi Penuh Kejutan
12
Bab 12: Awal yang Baru
13
Bab 13: Jerat di Balik Senyum
14
Bab 14: Kecemburuan Susi
15
Bab 15: Perseteruan Susi dan Kirana
16
Bab 16: Pembalasan Kirana
17
Bab 17: Bantuan Daniel
18
Bab 18: Percobaan Pelecehan
19
Bab 19: Upaya Penyelamatan
20
Bab 20: Misi Penyelamatan
21
Bab 21: Trauma Susi
22
Bab 22: Kemarahan Orang Tua Susi
23
Bab 23: Trauma dan Konsekuensi
24
Bab 24: Usaha dan Harapan
25
Bab 25: Pertemuan
26
Bab 26: Terluka Parah
27
Bab 27: Pertolongan Pertama
28
Bab 28: Kirana Terpaksa Berbohong
29
Bab 29: Perkenalan
30
Bab 30: Flashback
31
Bab 31: Pemulihan
32
Bab 32: Menghubungi Tuan Nugroho
33
Bab 33: Penghianat
34
Bab 34: Rencana Pulang
35
Bab 35: Penjemputan
36
Bab 36: Tuan Nugroho dan Satria
37
Bab 37: Tuan Nugroho dan Satria 2
38
Bab 38: Pulang
39
Bab 39: Perubahan Rencana
40
Bab 40: Menuju Singapura
41
Bab 41: Rindu
42
Bab 42: Berobat
43
Bab 43: Telponan
44
Bab 44: Ungkapan Perasaan dan Pesan Perpisahan
45
Bab 45: Di Negeri Paman Sam
46
Bab 46: Malam Penuh Ketegangan
47
Bab 47: Penghianat Beraksi Lagi
48
Bab 48: Pengkhianatan yang Mematikan
49
Bab 49: Badai di Tengah Ketenangan
50
Bab 50: Kejanggalan di Balik Layar
51
Bab 51: Hukuman Awal
52
Bab 52: Jejak yang Menghilang
53
Bab 53: Ke Jakarta
54
Bab 54: Hari Kelulusan
55
Bab 55: Bertemu
56
Bab 56: Ungkapan Perasaan
57
Bab 57: Restu Kakek Sapto
58
Bab 58: Rencana Keberangkatan
59
Bab 59: Berangkat
60
Bab 60: Rindu
61
Bab 61: Pertemuan Tak Terduga
62
Bab 62: Konflik dengan Bagas
63
Bab 63: Persahabatan
64
Bab 64: Rencana Penculikan
65
Bab 65: Jalan-Jalan
66
Bab 66: Penculikan
67
Bab 67: Kepanikan di Mansion
68
Bab 68: Bantuan Jonathan
69
Bab 69: Belum Terlacak
70
Bab 70: Dalam Keterbatasan
71
Bab 71: Petunjuk
72
Bab 72: Tebusan
73
Bab 73: Upaya Penyelamatan
74
Bab 74: Tertembak
75
Bab 75: Dirawat
76
Bab 76: Khawatir
77
Bab 77: Motif Mulai Terungkap
78
Bab 78: Motif Sesungguhnya
79
Bab 79: Pengakuan
80
Bab 80: Kekhawatiran Arif
81
Bab 81: Pertemuan Kirana dan Arif
82
Bab 82: Dukungan Paman Budi
83
Bab 83: Ucapan Terima Kasih
84
Bab 84: Bisa Pulang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!