Bab 19: Upaya Penyelamatan

Tiba-tiba Daniel sudah berdiri di depannya. Senyumnya lebar tapi bukan senyum yang menenangkan. Senyum itu membuat Susi seperti seekor mangsa yang terjebak di depan predator. Mata Daniel berbinar tapi bukan dengan cahaya yang hangat melainkan dengan kilauan nafsu yang gelap dan mengerikan. Tidak ada lagi Daniel yang tampan dengan tutur kata lembut tapi sekarang Daniel seperti menjadi serigala yang mengerikan.

“Sudah siap sayang…,” ujarnya dengan suara rendah dan menggoda tapi penuh ancaman. Setiap kata yang keluar dari mulut Daniel seperti menusuk jantung Susi dan membuatnya semakin meringkuk ketakutan. Napasnya tersengal dan dadanya terasa sesak.

Susi merasa seperti terjebak dalam mimpi buruk. Dia mencoba menarik napas dalam-dalam tapi udara berat di paru-parunya seperti terperangkap dalam ruangan yang sempit. “Daniel… tolong jangan lakukan ini…,” suaranya gemetar hampir seperti bisikan yang nyaris tak terdengar. “Aku mohon… antarkan aku pulang….!” lanjutnya dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.

Tapi Daniel hanya tertawa. Suara tawanya dingin seperti es yang menusuk tulang dan tanpa  menunjukkan belas kasihan. “Pulang…? Sekarang…?” ujarnya sambil melangkah semakin dekat. “Kita baru saja akan mulai Sus…,” lanjut Daniel. Setiap langkah Daniel membuat Susi semakin terpojok.

“Daniel… aku serius… tolong…,” pinta Susi dan mencoba merangkak mundur tapi punggungnya sudah menempel ke dinding. Tidak ada jalan keluar. Dia seperti hewan buruan yang terjebak dalam perangkap.

Daniel tidak perduli dengan permohonan Susi. Dia mulai melepaskan baju kemeja sekolahnya. Gerakannya lambat dan penuh kesengajaan seperti sedang memamerkan kekuasaannya. Susi menutup matanya dan berusaha menahan air mata yang sudah menggenang di kelopak matanya. Tapi dia tidak bisa menutup telinganya dari suara langkah Daniel yang semakin mendekat.

“Jangan tutup matamu Sus…,” ujar Daniel dengan suara seperti racun yang merayap ke dalam pikiran Susi. “Lihat aku…,” lanjut Daniel dengan meraih tangan Susi dengan kasar dan mencoba menariknya semakin dekat.

Susi berontak sekuat tenaga dan mencoba melepaskan diri dari genggaman Daniel. “Jangan…!! Tolong lepaskan…!!” teriaknya namun suaranya pecah antara ketakutan dan kemarahan. Tapi Daniel terlalu kuat. Dia mendorong Susi ke dipan yang ada di sana dan Susi merasakan baju kemejanya robek di bagian bahu. Suara kain yang terkoyak seperti petir di telinganya. Bahunya yag putih mulus semakin membuat Daniel bernafsu.

“Daniel… tolong… jangan…” Susi terus meronta tapi Daniel sudah termakan nafsu. Matanya penuh hawa nafsu seperti tidak lagi memikirkan apa pun selain keinginannya sendiri. Dia tidak peduli dengan tangisan Susi dan tidak peduli dengan teriakan Susi yang memohon belas kasihan.

Rok Susi sudah hampir terlepas dan dia merasa seperti dunia ini runtuh sekelilingnya. “Tolong…!!! Siapa pun…!!! Tolong…!!!” teriaknya dengan suara menggema di ruangan kosong itu. Tapi siapa yang akan mendengarnya? Teman-teman Daniel ada di luar menjaga agar tidak ada yang mengganggu.

Daniel mencoba mencium Susi dengan beringas tapi Susi memalingkan wajahnya berusaha menghindar. “Jangan…!!!” teriaknya lagi dengan suara penuh keputusasaan. Tapi Daniel hanya tertawa dengan suara seperti deru angin yang dingin dan tak berperasaan.

“Kamu tidak bisa lari dari ini Sus…,” bisiknya sambil memegang dagu Susi agar melihat ke arahnya. 

“Tidak….!!!” Susi menjerit dan tangannya mencoba mendorong Daniel tapi tenaganya terlalu lemah.

Tapi Daniel seperti tidak mendengarkan jeritan Susi. Daniel sudah terlalu jauh terjerumus dalam nafsunya sendiri. Sedangkan Susi merasakan keputusasaan yang semakin dalam, seperti tenggelam dalam lautan hitam yang tak berujung. Susi mencoba mencari kekuatan dan mencoba melawan tapi tubuhnya seperti tidak lagi menuruti perintahnya.

----

Sementara itu Kirana berboncengan dengan Ririn, sementara Dina mengikuti dari belakang dengan motornya sendiri. Mereka melaju menelusuri jalanan berliku yang mengarah ke pondok Kakek Sapto. Udara sejuk siang menjelang sore itu menyapu wajah mereka dengan membawa aroma segar dedaunan dan tanah basah setelah hujan semalam. Matahari sudah mulai agak condong ke barat dan memberikan bayangan pepohonan yang rimbun sepanjang jalan.

Kirana memegang setang motor dengan santai dengan sekali-kali melirik ke belakang melalui spionnya untuk memastikan Dina masih mengikuti. “Rin… kamu yakin Dina nggak akan tersesat..? Dia kayaknya lebih fokus ngemil daripada lihat jalan...,” ujar Kirana sambil tertawa kecil.

Ririn yang duduk di belakangnya ikut tersenyum. “Santai saja Kir… Dina mah udah kayak GPS hidup. Dia pasti bisa nyusul kita… apalagi kalau sudah ngomongi singkong rebus Kakek Sapto. Itu kayaknya jadi motivasi utama di mau ikut kita.”

Dari belakang Dina melambai-lambaikan tangannya sambil tertawa. “Eh jangan ngomongi aku ya…! Aku denger lho...!” teriaknya dengan suara yang hampir hilang tertiup angin.

Kirana dan Ririn tertawa lepas. “Dasar Dina… makan terus pokoknya…!” sahut Ririn dengan candaannya.

Perjalanan mereka terasa ringan dan menyenangkan. Kirana merasa lega bisa melupakan sejenak kesibukannya baik di rumah mapun di sekolah. Mereka menikmati kebersamaan ini dan menikmati momen dimana mereka bisa tertawa serta bercanda tanpa beban.

-----

Sebelum mencapai pondok Kakek Sapto, tiba-tiba Kirana melihat sekelompok kakak kelasnya duduk-duduk di depan sebuah gubuk tua yang terletak di pinggir jalan. Mereka terlihat santai, tertawa-tawa dan sesekali melirik ke arah gubuk itu seperti sedang menjaga sesuatu. Kirana merasa ada yang tidak beres dan berhenti agak jauh dari gubuk itu. Karena teman-teman Daniel masih asyik ngobrol sambil merokok, mereka tidak melihat kedatangan Kirana dan teman-temannya.

“Rin… lihat itu…,” bisik Kirana sambil menghentikan laju motornya di tempat yang agak jauh. Matanya menyipit dan mencoba membaca situasi. “Mereka lagi ngapain ya di depan gubuk itu?”

Ririn yang duduk di belakangnya ikut memandang ke arah gubuk. “Hmmm… aneh juga ya… Biasanya mereka nggak pernah ke sini. Apa ada acara apa gitu?” ujarnya dengan suara penuh rasa penasaran.

Dina yang mengikuti dari belakang menghentikan motornya di samping motor Kirana. “Eh… jangan-jangan mereka lagi ngadain acara rahasia. Atau mungkin… ada sesuatu yang mereka sembunyikan…,” ujarnya dengan nada setengah bercanda tapi matanya penuh kecurigaan.

Kirana menghela napas. “Aku tidak suka ini. Ada sesuatu yang nggak beres. Kalian dengar nggak? Seperti ada suara teriakan dari dalam gubuk itu.”

Ririn dan Dina diam sejenak dan mencoba mendengarkan. Benar saja… dari kejauhan terdengar samar-samar suara teriakan. Suara itu seperti jeritan minta tolong tapi teredam oleh dinding kayu gubuk yang sudah tua.

“Apa kita harus peduli?” tanya Dina dengan wajah menunjukkan keraguan. “Aku sih nggak mau ribut dengan mereka. Bisa-bisa kita yang akan kena masalah.”

Ririn mengangguk pelan. “Iya Kir… Mending kita lanjut jalan saja. Ini sepertinya bukan urusan kita.”

Tapi Kirana tidak bisa mengabaikan perasaannya. Hatinya berdebar-debar dan nalurinya berkata bahwa ada sesuatu yang sangat salah. “Aku nggak bisa cuek Rin… Sepertinya ada orang yang membutuhkan bantuan dan kita harus lakukan sesuatu. Apa kalian nggak dengar suara teriakan itu? Itu sepertinya suara wanita minta tolong.”

Ririn dan Dina saling pandang dan ragu. Tapi mereka tahu Kirana tidak akan mundur begitu saja. “Oke… tapi kita harus hati-hati…,” ujar Ririn akhirnya. “Kita tidak tahu apa yang terjadi di sana.”

Dina menghela napas. “Aduh… ini bakal ribet sepertinya. Tapi okelah… aku ikut. Tapi kalau ada apa-apa… kita kabur saja ya…”

Kirana mengangguk. “Iya… kita harus hati-hati. Tapi kita nggak bisa tinggal diam.”

Mereka pun mendekati gerombolan kakak kelasnya dengan langkah hati-hati. Semakin dekat… suara teriakan wanita dari dalam gubuk semakin jelas. Kirana merasa dadanya sesak. Dia tidak bisa membayangkan apa yang sedang terjadi di dalam sana.

-----

Apakah Kirana dan teman-temannya bisa menyelamatkan Susi? Ikuti pada bab berikutnya…

Episodes
1 Bab 1: Kirana dan Kehidupannya
2 Bab 2: Ujian Tak Terduga
3 Bab 3: Pertolongan Kakek Misterius
4 Bab 4: Kemarahan Bibi Tari
5 Bab 5: Kejutan
6 Bab 6: Latihan Perdana
7 Bab 7: Latihan Perdana 2
8 Bab 8: Beasiswa dan Pilihan
9 Bab 9: Kebahagiaan dan Cibiran
10 Bab 10: Liburan dan Latihan
11 Bab 11: Pagi Penuh Kejutan
12 Bab 12: Awal yang Baru
13 Bab 13: Jerat di Balik Senyum
14 Bab 14: Kecemburuan Susi
15 Bab 15: Perseteruan Susi dan Kirana
16 Bab 16: Pembalasan Kirana
17 Bab 17: Bantuan Daniel
18 Bab 18: Percobaan Pelecehan
19 Bab 19: Upaya Penyelamatan
20 Bab 20: Misi Penyelamatan
21 Bab 21: Trauma Susi
22 Bab 22: Kemarahan Orang Tua Susi
23 Bab 23: Trauma dan Konsekuensi
24 Bab 24: Usaha dan Harapan
25 Bab 25: Pertemuan
26 Bab 26: Terluka Parah
27 Bab 27: Pertolongan Pertama
28 Bab 28: Kirana Terpaksa Berbohong
29 Bab 29: Perkenalan
30 Bab 30: Flashback
31 Bab 31: Pemulihan
32 Bab 32: Menghubungi Tuan Nugroho
33 Bab 33: Penghianat
34 Bab 34: Rencana Pulang
35 Bab 35: Penjemputan
36 Bab 36: Tuan Nugroho dan Satria
37 Bab 37: Tuan Nugroho dan Satria 2
38 Bab 38: Pulang
39 Bab 39: Perubahan Rencana
40 Bab 40: Menuju Singapura
41 Bab 41: Rindu
42 Bab 42: Berobat
43 Bab 43: Telponan
44 Bab 44: Ungkapan Perasaan dan Pesan Perpisahan
45 Bab 45: Di Negeri Paman Sam
46 Bab 46: Malam Penuh Ketegangan
47 Bab 47: Penghianat Beraksi Lagi
48 Bab 48: Pengkhianatan yang Mematikan
49 Bab 49: Badai di Tengah Ketenangan
50 Bab 50: Kejanggalan di Balik Layar
51 Bab 51: Hukuman Awal
52 Bab 52: Jejak yang Menghilang
53 Bab 53: Ke Jakarta
54 Bab 54: Hari Kelulusan
55 Bab 55: Bertemu
56 Bab 56: Ungkapan Perasaan
57 Bab 57: Restu Kakek Sapto
58 Bab 58: Rencana Keberangkatan
59 Bab 59: Berangkat
60 Bab 60: Rindu
61 Bab 61: Pertemuan Tak Terduga
62 Bab 62: Konflik dengan Bagas
63 Bab 63: Persahabatan
64 Bab 64: Rencana Penculikan
65 Bab 65: Jalan-Jalan
66 Bab 66: Penculikan
67 Bab 67: Kepanikan di Mansion
68 Bab 68: Bantuan Jonathan
69 Bab 69: Belum Terlacak
70 Bab 70: Dalam Keterbatasan
71 Bab 71: Petunjuk
72 Bab 72: Tebusan
73 Bab 73: Upaya Penyelamatan
74 Bab 74: Tertembak
75 Bab 75: Dirawat
76 Bab 76: Khawatir
77 Bab 77: Motif Mulai Terungkap
78 Bab 78: Motif Sesungguhnya
79 Bab 79: Pengakuan
80 Bab 80: Kekhawatiran Arif
81 Bab 81: Pertemuan Kirana dan Arif
82 Bab 82: Dukungan Paman Budi
83 Bab 83: Ucapan Terima Kasih
84 Bab 84: Bisa Pulang
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Bab 1: Kirana dan Kehidupannya
2
Bab 2: Ujian Tak Terduga
3
Bab 3: Pertolongan Kakek Misterius
4
Bab 4: Kemarahan Bibi Tari
5
Bab 5: Kejutan
6
Bab 6: Latihan Perdana
7
Bab 7: Latihan Perdana 2
8
Bab 8: Beasiswa dan Pilihan
9
Bab 9: Kebahagiaan dan Cibiran
10
Bab 10: Liburan dan Latihan
11
Bab 11: Pagi Penuh Kejutan
12
Bab 12: Awal yang Baru
13
Bab 13: Jerat di Balik Senyum
14
Bab 14: Kecemburuan Susi
15
Bab 15: Perseteruan Susi dan Kirana
16
Bab 16: Pembalasan Kirana
17
Bab 17: Bantuan Daniel
18
Bab 18: Percobaan Pelecehan
19
Bab 19: Upaya Penyelamatan
20
Bab 20: Misi Penyelamatan
21
Bab 21: Trauma Susi
22
Bab 22: Kemarahan Orang Tua Susi
23
Bab 23: Trauma dan Konsekuensi
24
Bab 24: Usaha dan Harapan
25
Bab 25: Pertemuan
26
Bab 26: Terluka Parah
27
Bab 27: Pertolongan Pertama
28
Bab 28: Kirana Terpaksa Berbohong
29
Bab 29: Perkenalan
30
Bab 30: Flashback
31
Bab 31: Pemulihan
32
Bab 32: Menghubungi Tuan Nugroho
33
Bab 33: Penghianat
34
Bab 34: Rencana Pulang
35
Bab 35: Penjemputan
36
Bab 36: Tuan Nugroho dan Satria
37
Bab 37: Tuan Nugroho dan Satria 2
38
Bab 38: Pulang
39
Bab 39: Perubahan Rencana
40
Bab 40: Menuju Singapura
41
Bab 41: Rindu
42
Bab 42: Berobat
43
Bab 43: Telponan
44
Bab 44: Ungkapan Perasaan dan Pesan Perpisahan
45
Bab 45: Di Negeri Paman Sam
46
Bab 46: Malam Penuh Ketegangan
47
Bab 47: Penghianat Beraksi Lagi
48
Bab 48: Pengkhianatan yang Mematikan
49
Bab 49: Badai di Tengah Ketenangan
50
Bab 50: Kejanggalan di Balik Layar
51
Bab 51: Hukuman Awal
52
Bab 52: Jejak yang Menghilang
53
Bab 53: Ke Jakarta
54
Bab 54: Hari Kelulusan
55
Bab 55: Bertemu
56
Bab 56: Ungkapan Perasaan
57
Bab 57: Restu Kakek Sapto
58
Bab 58: Rencana Keberangkatan
59
Bab 59: Berangkat
60
Bab 60: Rindu
61
Bab 61: Pertemuan Tak Terduga
62
Bab 62: Konflik dengan Bagas
63
Bab 63: Persahabatan
64
Bab 64: Rencana Penculikan
65
Bab 65: Jalan-Jalan
66
Bab 66: Penculikan
67
Bab 67: Kepanikan di Mansion
68
Bab 68: Bantuan Jonathan
69
Bab 69: Belum Terlacak
70
Bab 70: Dalam Keterbatasan
71
Bab 71: Petunjuk
72
Bab 72: Tebusan
73
Bab 73: Upaya Penyelamatan
74
Bab 74: Tertembak
75
Bab 75: Dirawat
76
Bab 76: Khawatir
77
Bab 77: Motif Mulai Terungkap
78
Bab 78: Motif Sesungguhnya
79
Bab 79: Pengakuan
80
Bab 80: Kekhawatiran Arif
81
Bab 81: Pertemuan Kirana dan Arif
82
Bab 82: Dukungan Paman Budi
83
Bab 83: Ucapan Terima Kasih
84
Bab 84: Bisa Pulang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!