Bab 3: Pertolongan Kakek Misterius

Akhirnya gerombolan anak SMA itu sampai di tepi danau yang jauh dari keramaian. Suasana sunyi dan angin yang berhembus pelan seolah menambah keseraman situasi ini. Mereka lalu membawa Kirana dan Ririn ke gubuk reot yang biasa dipakai para pemancing untuk beristirahat. Kirana dan Ririn saling berpegangan erat, mencoba untuk menemukan kekuatan dalam diri mereka untuk menghadapi kejadian yang tidak pernah mereka duga. 

“Rin, kita harus tetap bersama. Jangan menyerah…,” bisik Kirana kepada Ririn dengan suara gemetar, mencoba memberikan semangat kepada sahabatnya meskipun mereka sadar bahwa mereka kemungkinan kecil dapat lolos dari gerombolan anak SMA ini.

Ririn mengangguk namun air mata mulai mengalir di pipinya. “Aku selalu bersamamu Kirana. Kita akan melewati ini bersama,” ujarnya dengan suara gemetar dan hampir tidak terdengar. Tangannya yang menggenggam tangan Kirana seolah mengatakan bahwa mereka tidak akan pernah menyerah begitu saja.

Anto mendekati Kirana dengan langkah yang penuh keyakinan. Matanya menyala dengan niat buruk yang tidak bisa disembunyikan. 

“Kalian jangan sok jual mahal. Temani kami sebentar saja. Nanti juga akan kami lepaskan...,” bisik Anto pada Kirana sambil tersenyum penuh arti yang semakin membuat Kirana tidak nyaman. Kemudian tangan Anto berusaha meraih baju Kirana dan mencoba menariknya. 

Kirana langsung berontak dan tubuhnya bergerak melawan. “Jangan sentuh aku!!!” teriaknya dengan suara yang penuh ketakutan dan kemarahan. Kirana tanpa pikir panjang menggerakkan tangannya melayang dan menampar wajah Anto. Plakkkk…!!! Suara tamparan itu menggema di udara dan membuat suasana menjadi hening seketika.

Anto terkejut dan tangannya meraba pipinya yang memerah. Matanya menyipit penuh kemarahan. “Berani sekali kamu menamparku… !!!,” geramnya dengan suara yang meninggi. Tanpa pikir panjang, Anto membalas tamparan itu dengan lebih keras. Plakkkkk…!!! Tamparan itu membuat Kirana jatuh ke tanah, pipinya terasa panas dan matanya berkunang-kunang.

“Terima saja akibatnya sekarang!” Anto berteriak dengan wajah merah padam. Dia menoleh kepada teman-temannya yang hanya tertawa menonton kejadian itu. “Bantu aku… Pegang kaki dan tangannya…! Nanti kalian akan dapat gilirannya… Cepat!” teriak Anto dengan suara penuh amarah dan nafsu.

Teman-teman Anto segera bergerak mendekati Kirana dan Ririn dengan senyuman jahat. Ririn yang masih berusaha melawan, didekati oleh salah satu cowok yang memegang dagunya dengan kasar. “Jangan melawan sayang…. Kalian hanya bikin ini lebih sulit untuk diri kalian,” ucap cowok itu dengan nada mengejek.

Kirana walaupun merasa tubuhnya lemas dan pipinya masih terasa panas, berusaha bangkit. “Jangan sentuh dia…! Jangan sentuh Ririn…!” teriaknya mencoba melindungi sahabatnya. Namun tangan dan kakinya sudah dipegang erat oleh beberapa cowok lainnya, membuat dia tidak bisa bergerak.

Ririn menangis dengan suara pecah. “Tolong…. Tolong… Jangan lakukan ini…” Namun suaranya tenggelam dalam tawa dan cemoohan gerombolan itu.

Anto mendekati Kirana lagi dan kali ini dengan senyum yang lebih mengerikan. “Kamu pikir kamu bisa melawan kami? Kamu hanya anak SMP Kirana. Lebih baik menurut saja agar tidak ada yang terluka,” ujarnya dengan nada seolah menyakinkan namun penuh ancaman.

Kirana menatap Anto dengan mata penuh kebencian dan ketakutan. “Kalian tidak akan pernah bisa memaksaku…. Kami tidak akan menyerah!” teriaknya dengan suara gemetar.

Anto tertawa dan memandang teman-temannya. “Ayo kita mulai saja. Mereka tidak akan bisa melawan.”

Di tengah ancaman dan keputusasaan, Kirana dan Ririn saling memandang. Di dalam pandangan itu ada janji yang tidak terucap. Mereka akan tetap bersama, apapun yang akan terjadi. Meskipun tubuh mereka lemah dan tak berdaya, namun semangat melawan mereka tidak akan padam.

“Rin, aku di sini….” bisik Kirana mencoba menenangkan sahabatnya.

“Aku juga Kirana… Kita akan melewati ini bersama,” balas Ririn dengan air mata yang terus mengalir.

Saat Anto mulai berusaha merobek baju Kirana, langkah kaki dan teriakan dari kejauhan tiba-tiba memecahkan kesunyian. “Hentikan!!! Apa yang kalian lakukan ?!”

Tiba-tiba seorang kakek berusia sekitar 60 tahun muncul dari balik pepohonan. Wajahnya tegas, tubuhnya masih terlihat kuat dan matanya memancarkan kewibawaan.

Anto menatap kakek itu dengan pandangan meremehkan. Dalam hatinya dia tertawa. “Hanya kakek tua… menghadapi aku dan teman-temanku, pasti kakek itu akan kalah dan lari…,” pikirnya dengan sombong.

Dengan langkah sombong, Anto mendekati kakek itu. “Kakek mau apa…? Kami hanya mau bersenang-senang… Jika kakek mau, tunggu giliran tapi terakhir ya Kek…” ucap Anto sambil tertawa terbahak-bahak dan diikuti suara tawa teman-temannya.

Namun kakek itu tidak terpancing dan menjawab dengan tenang. “Nak… jangan pernah menyakiti orang lain. Apalagi mau melecehkan perempuan. Perempuan itu layaknya ibumu. Gimana kalau ibumu dilecehkan?” kata kakek itu masih dengan nada lembut.

Mendengar perkataan kakek itu, Anto tersentak sejenak namun kemudian wajahnya memerah karena marah. “Kek… sebaiknya kakek segera pergi dari sini, sebelum aku dan teman-temanku melakukan sesuatu pada kakek…” ucap Anto dengan suara meninggi.

“Baiklah… tapi tinggalkan gadis-gadis itu sekarang. Kakek akan membiarkan kalian pergi dari sini…” kata kakek itu masih dengan suara yang tenang dan senyum yang terkembang di bibirnya.

Anto merasa tersinggung, karena merasa kata-katanya diabaikan kakek itu. Lalu dia menoleh kepada teman-temannya. “Sepertinya kakek ini mau main-main sebentar. Kawan-kawan lemaskan otot kalian sebentar, sepertinya kakek ini ingin dikasih pelajaran!,” ucap Anto dengan nada sombong.

Kakek itu mengangguk pelan, seolah menerima tantangan itu. “Kakek di sini tidak mau mencari masalah, tapi jika memang kalian ingin memberikan kakek pelajaran, kakek akan menerima pelajaran itu dengan senang hati,” kata kakek masih dengan ketenangannya. 

Anto dan teman-temannya menjadi marah. Dua orang dari mereka maju, mencoba memukul kakek itu. Namun hanya dengan gerakan kaki yang sedikit, kakek itu bisa menghindari pukulan mereka dengan sangat mudah. Dengan penasaran mereka mulai tidak segan lagi dengan kakek itu. Lalu dengan sepenuh tenaga, teman Anto berusaha memukul kakek itu. Kembali dengan gerakan gesit kakek itu menghindar, dan balas menepuk punggung mereka dengan pelan namun bertenaga, sehingga mereka tersungkur ke tanah. 

“Apa-apaan ini?!” teriak Anto dengan wajah merah padam menahan amarah.

Melihat hal itu Anto dan teman-temannya menjadi marah dan menyerang kakek itu dengan beringas. Maka terjadilah perkelahian dan sebenarnya tidak seimbang. Walaupun kakek itu hanya terlihat menghindar tanpa memberikan balasan, namun hal itu cukup membuat Anto dan teman-temannya kewalahan. 

Setelah beberapa lama, akhirnya kakek itu memberikan Anto dan teman-temannya hadiah satu pukulan dan tendangan yang membuat mereka tersungkur ke tanah dan mengerang kesakitan. Melihat hal tersebut, Anto dan teman-temannya mulai khawatir dan takut, yang akhirnya berusaha pergi dari tempat itu.

“Pergilah kalian… jangan pernah mengganggu mereka lagi…!” kata kakek itu memperingatkan.

Anto dan teman-teman tidak berkata-kata lagi. Mereka bangun dengan susah payah dan berdiri dengan wajah ketakutan. Tanpa berkata-kata lagi, mereka pergi dengan tergesa-gesa, meninggalkan Kirana dan Ririn yang masih terkejut.

Lalu kakek tersebut mendekati Kirana dan Ririn. “Kalian baik-baik saja?” tanya kakek tersebut penuh dengan perhatian dan senyum yang kembali terukir di wajahnya.

Kirana dan Ririn mengangguk dengan mata berkaca-kaca. “Terima kasih Kek. Kami…. tidak tahu harus bilang apa lagi.”

Kakek itu masih tersenyum. “Tidak perlu berterima kasih Nak. Mari ikut kakek ke pondok kakek. Kalian butuh istirahat dan menenangkan diri.”

Kirana dan Ririn mengikuti kakek itu ke sebuah pondok kecil di tepian hutan. Kakek itu kemudian membuatkan Kirana dan Ririn teh hangat dan menyajikan beberapa potong kue kering. 

“Kalian sering diganggu oleh mereka?” tanyak kakek itu dengan penuh perhatian.

Kirana menunduk. “Tidak selalu Kek. Tapi hari ini… mereka teman kakak sepupuku. Dia malah membiarkan membiarkan mereka melecehkan kami,” ucap Kirana sambil terisak mengingat kejadian yang hampir melecehkan dirinya bersama Ririn.

Kakek itu menghela napas. “Dunia ini kadang tidak adil Nak. Tapi kalian harus kuat. Kakek lihat kalian punya potensi. Bagaimana kalau kalian kakek ajari ilmu silat? Agar kalian bisa menjaga diri di kemudian hari.”

Ririn terlihat antusias “Benarkah kek? Kami boleh belajar dari kakek?” ucap Ririn penuh harap.

Kakek itu tersenyum. “Tentu saja. Tapi itu bukan hal yang mudah. Butuh dedikasi dan kerja keras.”

Kiran dan Ririn memandang kakek itu penuh harap. “Kami bersedia Kek. Kami tidak ingin selalu merasa takut."

Kakek itu tersenyum. “Oh iya, kakek bernama Sapto Handoyo. Panggil saja Kakek Sapto. Nama kalian siapa?” 

Kirana dan Ririn saling tersenyum dan saling pandang. “Nama saya Kirana Kek… dan ini sahabat saya Ririn,” jawab Kirana mewakili mereka berdua.

Kakek itu mengangguk, namun kemudian matanya terlihat sayu seolah mengenang sesuatu. “Kirana… wajahmu mengingatkan kakek pada seseorang. Tapi kakek tidak bisa mengingatnya dengan jelas.”

Kirana penasaran. “Siapa kek?”

Kakek itu menggeleng. “Entahlah Nak. Mungkin hanya perasaan kakek saja. Tapi yang penting sekarang kalian harus belajar untuk menjadi lebih kuat.”

“Tapi sekarang kalian pulang dulu, hari hampir sore. Khawatir keluarga kalian akan mencari kalian,” ucap Kakek Sapto melihat hari sudah mulai menjelang sore.

“Tapi kami masih merasa takut kek… Kami takut mereka masih akan menghadang kami,” ucap Kirana dengan wajah khawatir.

Kakek Sapto tersenyum. “Jangan khawatir… Kakek akan mengantar kalian sampai dekat rumah kalian.”

Kirana dan Ririn tersenyum senang, ternyata masih ada yang peduli dengan mereka, bahkan akan mengajarkan mereka ilmu bela diri untuk menjaga diri mereka di kemudian hari.

Bagaimana Kirana menjalani kehidupan selanjutnya...? Ayo simak di bab berikutnya...

Episodes
1 Bab 1: Kirana dan Kehidupannya
2 Bab 2: Ujian Tak Terduga
3 Bab 3: Pertolongan Kakek Misterius
4 Bab 4: Kemarahan Bibi Tari
5 Bab 5: Kejutan
6 Bab 6: Latihan Perdana
7 Bab 7: Latihan Perdana 2
8 Bab 8: Beasiswa dan Pilihan
9 Bab 9: Kebahagiaan dan Cibiran
10 Bab 10: Liburan dan Latihan
11 Bab 11: Pagi Penuh Kejutan
12 Bab 12: Awal yang Baru
13 Bab 13: Jerat di Balik Senyum
14 Bab 14: Kecemburuan Susi
15 Bab 15: Perseteruan Susi dan Kirana
16 Bab 16: Pembalasan Kirana
17 Bab 17: Bantuan Daniel
18 Bab 18: Percobaan Pelecehan
19 Bab 19: Upaya Penyelamatan
20 Bab 20: Misi Penyelamatan
21 Bab 21: Trauma Susi
22 Bab 22: Kemarahan Orang Tua Susi
23 Bab 23: Trauma dan Konsekuensi
24 Bab 24: Usaha dan Harapan
25 Bab 25: Pertemuan
26 Bab 26: Terluka Parah
27 Bab 27: Pertolongan Pertama
28 Bab 28: Kirana Terpaksa Berbohong
29 Bab 29: Perkenalan
30 Bab 30: Flashback
31 Bab 31: Pemulihan
32 Bab 32: Menghubungi Tuan Nugroho
33 Bab 33: Penghianat
34 Bab 34: Rencana Pulang
35 Bab 35: Penjemputan
36 Bab 36: Tuan Nugroho dan Satria
37 Bab 37: Tuan Nugroho dan Satria 2
38 Bab 38: Pulang
39 Bab 39: Perubahan Rencana
40 Bab 40: Menuju Singapura
41 Bab 41: Rindu
42 Bab 42: Berobat
43 Bab 43: Telponan
44 Bab 44: Ungkapan Perasaan dan Pesan Perpisahan
45 Bab 45: Di Negeri Paman Sam
46 Bab 46: Malam Penuh Ketegangan
47 Bab 47: Penghianat Beraksi Lagi
48 Bab 48: Pengkhianatan yang Mematikan
49 Bab 49: Badai di Tengah Ketenangan
50 Bab 50: Kejanggalan di Balik Layar
51 Bab 51: Hukuman Awal
52 Bab 52: Jejak yang Menghilang
53 Bab 53: Ke Jakarta
54 Bab 54: Hari Kelulusan
55 Bab 55: Bertemu
56 Bab 56: Ungkapan Perasaan
57 Bab 57: Restu Kakek Sapto
58 Bab 58: Rencana Keberangkatan
59 Bab 59: Berangkat
60 Bab 60: Rindu
61 Bab 61: Pertemuan Tak Terduga
62 Bab 62: Konflik dengan Bagas
63 Bab 63: Persahabatan
64 Bab 64: Rencana Penculikan
65 Bab 65: Jalan-Jalan
66 Bab 66: Penculikan
67 Bab 67: Kepanikan di Mansion
68 Bab 68: Bantuan Jonathan
69 Bab 69: Belum Terlacak
70 Bab 70: Dalam Keterbatasan
71 Bab 71: Petunjuk
72 Bab 72: Tebusan
73 Bab 73: Upaya Penyelamatan
74 Bab 74: Tertembak
75 Bab 75: Dirawat
76 Bab 76: Khawatir
77 Bab 77: Motif Mulai Terungkap
78 Bab 78: Motif Sesungguhnya
79 Bab 79: Pengakuan
80 Bab 80: Kekhawatiran Arif
81 Bab 81: Pertemuan Kirana dan Arif
82 Bab 82: Dukungan Paman Budi
83 Bab 83: Ucapan Terima Kasih
84 Bab 84: Bisa Pulang
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Bab 1: Kirana dan Kehidupannya
2
Bab 2: Ujian Tak Terduga
3
Bab 3: Pertolongan Kakek Misterius
4
Bab 4: Kemarahan Bibi Tari
5
Bab 5: Kejutan
6
Bab 6: Latihan Perdana
7
Bab 7: Latihan Perdana 2
8
Bab 8: Beasiswa dan Pilihan
9
Bab 9: Kebahagiaan dan Cibiran
10
Bab 10: Liburan dan Latihan
11
Bab 11: Pagi Penuh Kejutan
12
Bab 12: Awal yang Baru
13
Bab 13: Jerat di Balik Senyum
14
Bab 14: Kecemburuan Susi
15
Bab 15: Perseteruan Susi dan Kirana
16
Bab 16: Pembalasan Kirana
17
Bab 17: Bantuan Daniel
18
Bab 18: Percobaan Pelecehan
19
Bab 19: Upaya Penyelamatan
20
Bab 20: Misi Penyelamatan
21
Bab 21: Trauma Susi
22
Bab 22: Kemarahan Orang Tua Susi
23
Bab 23: Trauma dan Konsekuensi
24
Bab 24: Usaha dan Harapan
25
Bab 25: Pertemuan
26
Bab 26: Terluka Parah
27
Bab 27: Pertolongan Pertama
28
Bab 28: Kirana Terpaksa Berbohong
29
Bab 29: Perkenalan
30
Bab 30: Flashback
31
Bab 31: Pemulihan
32
Bab 32: Menghubungi Tuan Nugroho
33
Bab 33: Penghianat
34
Bab 34: Rencana Pulang
35
Bab 35: Penjemputan
36
Bab 36: Tuan Nugroho dan Satria
37
Bab 37: Tuan Nugroho dan Satria 2
38
Bab 38: Pulang
39
Bab 39: Perubahan Rencana
40
Bab 40: Menuju Singapura
41
Bab 41: Rindu
42
Bab 42: Berobat
43
Bab 43: Telponan
44
Bab 44: Ungkapan Perasaan dan Pesan Perpisahan
45
Bab 45: Di Negeri Paman Sam
46
Bab 46: Malam Penuh Ketegangan
47
Bab 47: Penghianat Beraksi Lagi
48
Bab 48: Pengkhianatan yang Mematikan
49
Bab 49: Badai di Tengah Ketenangan
50
Bab 50: Kejanggalan di Balik Layar
51
Bab 51: Hukuman Awal
52
Bab 52: Jejak yang Menghilang
53
Bab 53: Ke Jakarta
54
Bab 54: Hari Kelulusan
55
Bab 55: Bertemu
56
Bab 56: Ungkapan Perasaan
57
Bab 57: Restu Kakek Sapto
58
Bab 58: Rencana Keberangkatan
59
Bab 59: Berangkat
60
Bab 60: Rindu
61
Bab 61: Pertemuan Tak Terduga
62
Bab 62: Konflik dengan Bagas
63
Bab 63: Persahabatan
64
Bab 64: Rencana Penculikan
65
Bab 65: Jalan-Jalan
66
Bab 66: Penculikan
67
Bab 67: Kepanikan di Mansion
68
Bab 68: Bantuan Jonathan
69
Bab 69: Belum Terlacak
70
Bab 70: Dalam Keterbatasan
71
Bab 71: Petunjuk
72
Bab 72: Tebusan
73
Bab 73: Upaya Penyelamatan
74
Bab 74: Tertembak
75
Bab 75: Dirawat
76
Bab 76: Khawatir
77
Bab 77: Motif Mulai Terungkap
78
Bab 78: Motif Sesungguhnya
79
Bab 79: Pengakuan
80
Bab 80: Kekhawatiran Arif
81
Bab 81: Pertemuan Kirana dan Arif
82
Bab 82: Dukungan Paman Budi
83
Bab 83: Ucapan Terima Kasih
84
Bab 84: Bisa Pulang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!