Bab 15: Perseteruan Susi dan Kirana

Setelah beberapa hari merasa diawasi dan diperlakukan aneh oleh Susi dan teman-temannya. Kirana mulai curiga. Ia menyadari bahwa Susi tidak menyukainya tapi ia tidak menyangka kalau Susi akan berani melakukan sesuatu yang ekstrem. Setiap kali mereka berpapasan, Kirana selalu melihat senyum palsu yang terpampang di wajah Susi.

Suatu siang setelah jam pelajaran selesai... Kirana sedang membereskan buku-bukunya serta memasukkannya ke dalam tas. Udara di ruangan itu terasa agak panas dan suara riuh rendah siswa yang pulang sekolah memenuhi selasar. 

Tiba-tiba Susi memasuki kelas Kirana dengan langkah percaya diri. Senyum palsunya terpampang di wajahnya tapi matanya menyimpan sesuai yang tidak tulus.

“Kirana… kamu ada waktu nggak? Aku mau ngobrol sesuatu… penting…,” ujar Susi dengan nada yang seolah ramah tapi Kirana bisa merasakan ada sesuatu yang tidak beres.

Kirana yang sedang membereskan buku-bukunya menoleh kepada Susi. Kirana merasa tidak nyaman tapi mencoba bersikap sopan. “Ada apa ya Kak…? Kita bisa bicara di sini aja Kak…,” jawabnya sambil mencoba membaca ekspresi Susi.

Susi menggeleng namun dengan senyum yang semakin lebar. “Nggak bisa Kir… Ini privasi… Ayo kita ke gudang belakang sekolah aja. Cuma sebentar kok…,” bujuknya mencoba meyakinkan Kirana.

Ririn yang kebetulan datang untuk mengajak Kirana pulang, mendengarkan percakapan Susi dan Kirana dari pintu kelas. Ririn merasa ada sesuatu yang direncanakan oleh Susi. Langkahnya cepat mendekati Kirana dan memegang pundak sahabatnya dengan erat. “Kir… jangan deh… Aku rasa ini tidak baik… Aku merasa ada sesuatu yang direncanakan Susi…,” bisik Ririn pelan dengan mata penuh kekhawatiran.

Kirana memandang Ririn lalu kembali kepada Susi. Ia tahu ini mungkin jebakan tapi rasa penasarannya dan keinginan untuk menyelesaikan masalah ini membuatnya memutuskan untuk pergi. “Oke… tapi cuma sebentar ya…,” jawab Kirana sambil mengambil tasnya.

“Rin… kamu tunggu sebentar di tempat parkir ya… Aku bicara dulu sama Susi…,” ucap Kirana kepada Ririn mencoba meyakinkan sahabatnya.

Ririn mencoba menahan Kirana dengan mata penuh kekhawatiran. “Kir… jangan! Aku rasa ini bahaya…,” protesnya tapi Kirana hanya tersenyum kecil.

“Tenang Rin… Aku akan baik-baik saja. Kalau aku tidak balik dalam 15 menit… cari aku ya…,” bisik Kirana sambil menyelipkan ponsel jadulnya ke saku bajunya. Ia sudah mempersiapkan diri untuk kemungkinan terburuk.

-----

Kirana mengikuti Susi ke gudang belakang sekolah dengan langkah yang tetap tenang mesti hatinya berdebar-debar. Udara di luar terasa lebih dingin walaupun cuaca masih cerah. Suara burung berkicau di dahan pohon di sekitar sekolah seolah tidak peduli dengan ketegangan yang dirasakan Kirana. Setiap langkahnya terasa berat tapi ia mencoba untuk tetap fokus. Ia tahu bahwa apa pun yang terjadi… ia harus siap.

Susi berjalan di depan Kirana dan sekali-kali menoleh ke belakang, memastikan Kirana masih mengikutinya. “Kamu nggak perlu khawatir Kir… Ini cuma obrolan kecil saja…,” ujar Susi dengan suara terdengar manis tapi tetap membuat Kirana waspada.

Kirana tidak menjawab. Ia hanya mengikuti Susi dengan langkah yang mantap dan mencoba menenangkan diri. Tangannya mengepal erat di samping tubuhnya dan siap untuk menghadapi apapun yang menunggunya di gudang belakang.

Sesampainya di gudang belakang sekolah, Kirana langsung merasa suasana yang tidak biasa. Udara di sana terasa dingin dan sunyi. Susi berdiri di tengah ruangan dikelilingi oleh empat temannya yang telah menunggu. Mereka semua memandang Kirana dengan tatapan tidak bersahabat seperti kelompok predator yang sedang mengincar mangsanya.

“Akhirnya kamu datang juga…,” ujar salah satu teman Susi kepada Kirana dengan senyum sinis. Suaranya terdengar dingin dan ketus seolah ingin membuat Kirana merasa tidak nyaman.

Kirana tidak menyahut cibiran teman Susi. Kirana menatap Susi dengan tenang meski hatinya berdebar. “Apa yang kamu mau Kak…? Katanya mau ngobrol sesuatu yang penting…?” tanya Kirana dengan mencoba tetap bersikap sopan meski situasinya semakin tegang.

Susi tertawa pendek lalu melangkah mendekati Kirana. “Iya penting sekali…,” ujarnya dengan suara tiba-tiba berubah menjadi penuh ejekan. “Aku hanya mau bilang kalau kamu ini tidak pantas dekat-dekat sama Daniel. Kamu ini hanya anak kampung... Jangan sok cantik. Ngerti nggak…!!!” teriak Susi dengan suara penuh kebencian.

Teman-teman Susi mulai tertawa dan mengejek Kirana dengan kata-kata kasar. “Iya nih… Anak kampung sok cantik..!!!” teriak salah satu dari mereka sambil melirik Kirana dengan tatapan merendahkan.

Kirana menghela napas dan mencoba menahan emosinya. Kirana tahu bahwa marah hanya akan memperburuk situasi. “Aku nggak pernah dekat-dekat dengan Kak Daniel. Dia yang selalu mencari aku. Kalau kakak tidak suka… bilang saja sama dia…,” jawab Kirana dengan tegas dan matanya tidak gentar.

Susi mendadak marah. Wajahnya memerah dan matanya menyala-nyala. “Jangan sok suci kamu Kirana…!!! Kamu pikir kamu siapa…?!” teriaknya lalu melangkah lebih dekat dan mencoba menakut-nakuti Kirana. Tangannya menunjuk ke arah Kirana seolah ingin menekan mental Kirana.

Tapi Kirana tidak mundur. Ia tetap berdiri tegak dan matanya menatap tajam. “Aku hanya siswa baru yang tidak tahu apa-apa dan tidak mau terlibat masalah. Tapi kalau kalian terus ganggu aku… aku tidak akan diam saja…,” ujarnya dengan suara tenang tapi penuh peringatan.

Susi dan teman-temannya terkejut dengan keberanian Kirana. Mereka tidak menyangka bahwa Kirana bisa seberani itu. Susi yang merasa tersinggung langsung memerintahkan teman-temannya untuk mengepung Kirana. “Beri dia pelajaran…! Biar tau rasa…!” teriak Susi suaranya penuh amarah.

Salah satu teman Susi mencoba mendorong Kirana tapi dengan gerakan cepat Kirana menghindar. Gerakan menghindar tersebut membuat teman Susi terhuyung dan jatuh terjerembab. Kirana memang tidak terlihat seperti seseorang yang bisa bela diri, tapi Susi dan teman-temannya tidak tahu tentang hal itu. 

Susi dan teman-temannya terkejut. Mereka tidak menyangka Kirana bisa menghindar. Susi mencoba menampar Kirana tapi Kirana dengan cepat mengunci tangannya dan mendorongnya ke dinding. “Cukup…!!!!” teriak Kirana dengan suara tegas. “Aku tidak mau ribut… tapi kalau kalian terus ganggu aku… aku tidak akan segan-segan melapor ke pihak sekolah,” lanjutnya dengan matanya menatap tajam ke arah Susi.

Susi yang masih terkejut dan tetap mencoba melawan. “Kamu pikir kamu bisa menang..?!” teriaknya namun suaranya terdengar gemetar. Teman-temannya terlihat tidak berani membantu, karena sekarang Kirana terlihat garang. 

Bagaimana akhir perseteruan mereka...? Ikuti pada bab berikutnya.

Episodes
1 Bab 1: Kirana dan Kehidupannya
2 Bab 2: Ujian Tak Terduga
3 Bab 3: Pertolongan Kakek Misterius
4 Bab 4: Kemarahan Bibi Tari
5 Bab 5: Kejutan
6 Bab 6: Latihan Perdana
7 Bab 7: Latihan Perdana 2
8 Bab 8: Beasiswa dan Pilihan
9 Bab 9: Kebahagiaan dan Cibiran
10 Bab 10: Liburan dan Latihan
11 Bab 11: Pagi Penuh Kejutan
12 Bab 12: Awal yang Baru
13 Bab 13: Jerat di Balik Senyum
14 Bab 14: Kecemburuan Susi
15 Bab 15: Perseteruan Susi dan Kirana
16 Bab 16: Pembalasan Kirana
17 Bab 17: Bantuan Daniel
18 Bab 18: Percobaan Pelecehan
19 Bab 19: Upaya Penyelamatan
20 Bab 20: Misi Penyelamatan
21 Bab 21: Trauma Susi
22 Bab 22: Kemarahan Orang Tua Susi
23 Bab 23: Trauma dan Konsekuensi
24 Bab 24: Usaha dan Harapan
25 Bab 25: Pertemuan
26 Bab 26: Terluka Parah
27 Bab 27: Pertolongan Pertama
28 Bab 28: Kirana Terpaksa Berbohong
29 Bab 29: Perkenalan
30 Bab 30: Flashback
31 Bab 31: Pemulihan
32 Bab 32: Menghubungi Tuan Nugroho
33 Bab 33: Penghianat
34 Bab 34: Rencana Pulang
35 Bab 35: Penjemputan
36 Bab 36: Tuan Nugroho dan Satria
37 Bab 37: Tuan Nugroho dan Satria 2
38 Bab 38: Pulang
39 Bab 39: Perubahan Rencana
40 Bab 40: Menuju Singapura
41 Bab 41: Rindu
42 Bab 42: Berobat
43 Bab 43: Telponan
44 Bab 44: Ungkapan Perasaan dan Pesan Perpisahan
45 Bab 45: Di Negeri Paman Sam
46 Bab 46: Malam Penuh Ketegangan
47 Bab 47: Penghianat Beraksi Lagi
48 Bab 48: Pengkhianatan yang Mematikan
49 Bab 49: Badai di Tengah Ketenangan
50 Bab 50: Kejanggalan di Balik Layar
51 Bab 51: Hukuman Awal
52 Bab 52: Jejak yang Menghilang
53 Bab 53: Ke Jakarta
54 Bab 54: Hari Kelulusan
55 Bab 55: Bertemu
56 Bab 56: Ungkapan Perasaan
57 Bab 57: Restu Kakek Sapto
58 Bab 58: Rencana Keberangkatan
59 Bab 59: Berangkat
60 Bab 60: Rindu
61 Bab 61: Pertemuan Tak Terduga
62 Bab 62: Konflik dengan Bagas
63 Bab 63: Persahabatan
64 Bab 64: Rencana Penculikan
65 Bab 65: Jalan-Jalan
66 Bab 66: Penculikan
67 Bab 67: Kepanikan di Mansion
68 Bab 68: Bantuan Jonathan
69 Bab 69: Belum Terlacak
70 Bab 70: Dalam Keterbatasan
71 Bab 71: Petunjuk
72 Bab 72: Tebusan
73 Bab 73: Upaya Penyelamatan
74 Bab 74: Tertembak
75 Bab 75: Dirawat
76 Bab 76: Khawatir
77 Bab 77: Motif Mulai Terungkap
78 Bab 78: Motif Sesungguhnya
79 Bab 79: Pengakuan
80 Bab 80: Kekhawatiran Arif
81 Bab 81: Pertemuan Kirana dan Arif
82 Bab 82: Dukungan Paman Budi
83 Bab 83: Ucapan Terima Kasih
84 Bab 84: Bisa Pulang
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Bab 1: Kirana dan Kehidupannya
2
Bab 2: Ujian Tak Terduga
3
Bab 3: Pertolongan Kakek Misterius
4
Bab 4: Kemarahan Bibi Tari
5
Bab 5: Kejutan
6
Bab 6: Latihan Perdana
7
Bab 7: Latihan Perdana 2
8
Bab 8: Beasiswa dan Pilihan
9
Bab 9: Kebahagiaan dan Cibiran
10
Bab 10: Liburan dan Latihan
11
Bab 11: Pagi Penuh Kejutan
12
Bab 12: Awal yang Baru
13
Bab 13: Jerat di Balik Senyum
14
Bab 14: Kecemburuan Susi
15
Bab 15: Perseteruan Susi dan Kirana
16
Bab 16: Pembalasan Kirana
17
Bab 17: Bantuan Daniel
18
Bab 18: Percobaan Pelecehan
19
Bab 19: Upaya Penyelamatan
20
Bab 20: Misi Penyelamatan
21
Bab 21: Trauma Susi
22
Bab 22: Kemarahan Orang Tua Susi
23
Bab 23: Trauma dan Konsekuensi
24
Bab 24: Usaha dan Harapan
25
Bab 25: Pertemuan
26
Bab 26: Terluka Parah
27
Bab 27: Pertolongan Pertama
28
Bab 28: Kirana Terpaksa Berbohong
29
Bab 29: Perkenalan
30
Bab 30: Flashback
31
Bab 31: Pemulihan
32
Bab 32: Menghubungi Tuan Nugroho
33
Bab 33: Penghianat
34
Bab 34: Rencana Pulang
35
Bab 35: Penjemputan
36
Bab 36: Tuan Nugroho dan Satria
37
Bab 37: Tuan Nugroho dan Satria 2
38
Bab 38: Pulang
39
Bab 39: Perubahan Rencana
40
Bab 40: Menuju Singapura
41
Bab 41: Rindu
42
Bab 42: Berobat
43
Bab 43: Telponan
44
Bab 44: Ungkapan Perasaan dan Pesan Perpisahan
45
Bab 45: Di Negeri Paman Sam
46
Bab 46: Malam Penuh Ketegangan
47
Bab 47: Penghianat Beraksi Lagi
48
Bab 48: Pengkhianatan yang Mematikan
49
Bab 49: Badai di Tengah Ketenangan
50
Bab 50: Kejanggalan di Balik Layar
51
Bab 51: Hukuman Awal
52
Bab 52: Jejak yang Menghilang
53
Bab 53: Ke Jakarta
54
Bab 54: Hari Kelulusan
55
Bab 55: Bertemu
56
Bab 56: Ungkapan Perasaan
57
Bab 57: Restu Kakek Sapto
58
Bab 58: Rencana Keberangkatan
59
Bab 59: Berangkat
60
Bab 60: Rindu
61
Bab 61: Pertemuan Tak Terduga
62
Bab 62: Konflik dengan Bagas
63
Bab 63: Persahabatan
64
Bab 64: Rencana Penculikan
65
Bab 65: Jalan-Jalan
66
Bab 66: Penculikan
67
Bab 67: Kepanikan di Mansion
68
Bab 68: Bantuan Jonathan
69
Bab 69: Belum Terlacak
70
Bab 70: Dalam Keterbatasan
71
Bab 71: Petunjuk
72
Bab 72: Tebusan
73
Bab 73: Upaya Penyelamatan
74
Bab 74: Tertembak
75
Bab 75: Dirawat
76
Bab 76: Khawatir
77
Bab 77: Motif Mulai Terungkap
78
Bab 78: Motif Sesungguhnya
79
Bab 79: Pengakuan
80
Bab 80: Kekhawatiran Arif
81
Bab 81: Pertemuan Kirana dan Arif
82
Bab 82: Dukungan Paman Budi
83
Bab 83: Ucapan Terima Kasih
84
Bab 84: Bisa Pulang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!