Bab 6: Latihan Perdana

Bel sekolah berbunyi menandakan akhir pelajaran. Suara riuh siswa yang bergegas keluar sekolah memenuhi koridor sekolah. Kirana dan Ririn segera mengemas buku mereka dan memasukkannya ke dalam tas mereka. Mereka berdua terlihat semangat, ditambah wajah bahagia yang Kirana perlihatkan dari tadi. Ririn yang memperhatikan wajah bahagia sahabatnya menjadi penasaran tapi memilih untuk tidak bertanya dulu.

Mereka keluar sekolah dengan langkah cepat dan jalan berdampingan. Sinar matahari terik menyinari jalan setapak yang mereka lalui, namun udara di Desa Sekawan tetap terasa sejuk sehingga membuat perjalanan mereka terasa nyaman. Pepohonan di sekitar jalan memberikan bayangan yang menyejukkan. Sementara suara burung berkicau menambah kedamaian suasana. Jalan setapak itu terlihat ramai, namun demikian hanya beberapa sepeda motor yang melintas, karena di desa ini sebagian masyarakat menggunakan sepeda gayung sebagai alat transportasi mereka. Bahkan mobil pun sangat jarang terlihat, kecuali ada masyarakat desa yang akan menjual ternak mereka, seperti sapi atau kambing, baru ada pickup tua yang melintas untuk mengangkut hewan-hewan itu.

“Rin… ayo cepat! Aku tidak mau Kakek Sapto menunggu kita terlalu lama… Apalagi ini hari pertama kita latihan,” ujar Kirana sambil menyesuaikan tas di pundaknya dan melangkah lebih cepat.

Ririn mengangguk dengan mata penuh semangat. “Iya… aku juga tidak sabar. Tapi Kirana… kamu terlihat sangat semangat dan senang hari ini. Ada apa? Apa ada kabar baik?” tanya Ririn penasaran sambil melirik Kirana yang tersenyum lebar.

Kirana menoleh ke Ririn dengan mata berbinar seperti sedang menyimpan rahasia besar. “Iya Rin… Tadi pagi aku kan dipanggil kepala sekolah. Beliau bilang jika aku terpilih ikut program beasiswa. Bahkan kata beliau jika aku bisa mempertahankan prestasiku, beasiswa ini dapat diperpanjang sampai aku mendapatkan gelar sarjana!” cerita Kirana penuh semangat tapi ada sedikit gemetar di ujung kata-katanya

“Tapi masih ada tahap seleksi… Semoga saja aku mendapatkan program beasiswa ini, sehingga aku tidak tergantung lagi dengan keluarga Bibi Tari, walaupun aku tahu kalau Paman Budi dan Arif selalu mendukungku,” tambah Kirana.

Ririn terkesiap lalu memeluk Kirana erat. “Wah selamat Kirana! Aku sangat senang mendengarnya!” ujarnya dengan suara penuh kebahagiaan.

Kirana tersenyum namun matanya berkaca-kaca. “Terima kasih Rin… Aku masih belum percaya ini benar-benar terjadi. Ini seperti mimpi.”

“Kamu pantas mendapatkan ini Kirana. Kamu selalu rajin, tekun dan rendah hati. Aku yakin kamu pasti akan mendapatkan program beasiswa ini,” kata Ririn penuh kekaguman.

Kirana mengangguk dan hatinya penuh dengan rasa syukur. “Aku harap begitu Rin. Tapi… aku juga sedikit takut. Ini kesempatan besar tapi tantangannya pasti tidak mudah.”

“Kamu kuat dan bisa Kirana. Aku yakin kamu bisa menghadapi apapun dan aku akan selalu di sini untukmu,” ucap Ririn sambil memegang tangan Kirana memberikan dukungan.

Kirana tersenyum lega karena memiliki sahabat seperti Ririn. “Terima kasih Rin. Aku tidak tahu harus bilang apa. Kamu selama ini selalu ada untukku. Kamu sering membantuku. Semoga kamu juga sukses dan bahagia ke depannya.”

Ririn tersenyum lalu menghela napas. “Aku akan selalu ada untukmu. Kirana… kamu cantik, pintar dan rendah hati… Aku bangga memiliki sahabat sepertimu…”

Kirana tersentuh dan kembali matanya berkaca-kaca. “Rin… kamu terlalu baik. Aku juga bangga memiliki sahabat sepertimu,” ucap Kirana lalu memeluk bahu sahabatnya.

Ririn tersenyum bahagia. Dia tidak iri atas kebahagian yang diperoleh Kirana saat ini. “Aku berharap kamu selalu seperti ini Kirana… Aku akan selalu berdoa buat kebahagianmu… Kamu sahabat bahkan saudara terbaikku,” ucap Ririn di dalam hatinya.

Mereka berdua berjalan dengan bergandengan tangan dan bercerita tentang rencana-rencana mereka ke depannya. Perjalanan mereka diselingi canda tawa dan saling menggoda.

 

Saat mereka mendekati pondok Kakek Sapto, suasana semakin terasa tenang dan penuh kedamaian. Pondok kecil itu terletak di tepi hutan dan dikelilingi pepohonan rindang yang bergerak pelan diterpa angin. Suara gemericik air dari danau kecil yang ada di dekatnya menambah kesan damai dan tenang. Udara sejuk dan segar seolah menenangkan hati dan pikiran mereka setelah berkutat dengan pelajaran di sekolah. 

Pondok itu terlihat kecil dan sederhana. Pondok itu hanya terbuat dari ayaman bambu dengan satu kamar tidur, kamar tamu kecil, dapur dan kamar mandi. Meski begitu pondok tersebut terlihat bersih dan terawat. Aroma kayu dan dedaunan yang menyatu dengan udara menciptakan suasana yang nyaman.

“Kita hampir sampai…,” ujar Kirana dengan nada lega. Matanya berbinar menatap pondok kecil yang berdiri kokoh di depannya.

Ririn mengangguk dengan mata penuh kekaguman. “Pondoknya terlihat begitu damai. Aku bisa mengerti kenapa Kakek Sapto memilih tinggal di sini.”

Kirana tersenyum dan menghirup udara dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. “Iya Rin… Aku merasa tenang setelah sampai di sini… Seperti semua beban di rumah tiba-tiba terasa ringan.”

Di depan pondok, seorang lelaki tua berdiri dengan senyum lembut di wajahnya. Kakek Sapto yang rambutnya hampir seluruhnya memutih serta janggutnya yang tidak terlalu panjang menatap mereka penuh kebijaksanaan. Walaupun usianya telah lanjut, postur tubuh Kakek Sapto masih sangat tegap dan terlihat kuat. Otot-ototnya disamarkan oleh pakaian yang dipakainya. Sorot matanya menunjukkan pengalaman dan ketenangan yang mendalam.

“Ah kalian sudah datang… Bagus… Bagus…,” ujar Kakek Sapto dengan suara yang dalam namun menenangkan.

Kirana dan Ririn segera menghampiri dan memberikan salam dengan penuh hormat. “Selamat siang Kek. Maaf jika kami terlambat…,” ujar Kirana sedikit menunduk.

Kakek Sapto menggeleng pelan. “Tidak apa-apa. Yang penting kalian datang dengan semangat. Nah sekarang duduk dulu. Kalian pasti lelah. Kakek sudah menyiapkan singkong rebus. Kalian makan siang dulu dan istirahat sejenak…,” kata Kakek Sapto sembari mengeluarkan singkong rebus yang baru matang.

Mata Kirana dan Ririn berbinar. Perut mereka yang sedari tadi menahan lapar langsung berbunyi pelan, seolah menyetujui tawaran itu. Aroma singkong rebus yang asapnya masih mengepul begitu menggoda. “Terima kasih Kek… Kami makan siang dulu ya Kek… Terima kasih singkong rebusnya…,” ujar Ririn sambil tersenyum lebar.

Kirana dan Ririn kemudian mengeluarkan bekal makan siang yang mereka bawa dari rumah. Mereka makan dalam diam seraya menikmati setiap suapan dengan rasa syukur. Kakek Sapto duduk di dekat mereka sambil memperhatikan dengan senyum samar.

“Kalian tahu,” kata Kakek Sapto setelah beberapa saat hening, “berlatih dengan perut kosong itu hanya akan membuat kalian pingsan. Jadi pastikan sebelum latihan, kalian sudah makan yang cukup.”

Kirana terkekeh kecil. “Benar juga Kek. Kami hampir lupa karena terlalu bersemangat.”

Kakek Sapto mengangguk. “Semangat itu penting. Tapi lebih penting lagi adalah menjaga tubuh kalian agar tetap kuat. Bela diri bukan hanya kekuatan fisik, tapi keseimbangan antara tubuh dan pikiran.”

Ririn menatap Kakek Sapto dengan rasa penuh ingin tahu. “Kek… apakah latihan kita akan sulit?”

Kakek Sapto tertawa kecil. “Tentu saja…. Tidak ada yang mudah dalam hidup ini. Tapi jika kalian sungguh-sungguh, pasti kalian akan cepat menguasainya.”

Mereka bertiga kembali menikmati makanan dan ketenangan pondok kecil itu. Di luar pondok, angin berembus lembut membawa harapan dan awal yang baru bagi Kirana dan Ririn.

Bagaimana perjalanan hidup Kirana selanjutnya..? ikuti pada bab selanjutnya...

Episodes
1 Bab 1: Kirana dan Kehidupannya
2 Bab 2: Ujian Tak Terduga
3 Bab 3: Pertolongan Kakek Misterius
4 Bab 4: Kemarahan Bibi Tari
5 Bab 5: Kejutan
6 Bab 6: Latihan Perdana
7 Bab 7: Latihan Perdana 2
8 Bab 8: Beasiswa dan Pilihan
9 Bab 9: Kebahagiaan dan Cibiran
10 Bab 10: Liburan dan Latihan
11 Bab 11: Pagi Penuh Kejutan
12 Bab 12: Awal yang Baru
13 Bab 13: Jerat di Balik Senyum
14 Bab 14: Kecemburuan Susi
15 Bab 15: Perseteruan Susi dan Kirana
16 Bab 16: Pembalasan Kirana
17 Bab 17: Bantuan Daniel
18 Bab 18: Percobaan Pelecehan
19 Bab 19: Upaya Penyelamatan
20 Bab 20: Misi Penyelamatan
21 Bab 21: Trauma Susi
22 Bab 22: Kemarahan Orang Tua Susi
23 Bab 23: Trauma dan Konsekuensi
24 Bab 24: Usaha dan Harapan
25 Bab 25: Pertemuan
26 Bab 26: Terluka Parah
27 Bab 27: Pertolongan Pertama
28 Bab 28: Kirana Terpaksa Berbohong
29 Bab 29: Perkenalan
30 Bab 30: Flashback
31 Bab 31: Pemulihan
32 Bab 32: Menghubungi Tuan Nugroho
33 Bab 33: Penghianat
34 Bab 34: Rencana Pulang
35 Bab 35: Penjemputan
36 Bab 36: Tuan Nugroho dan Satria
37 Bab 37: Tuan Nugroho dan Satria 2
38 Bab 38: Pulang
39 Bab 39: Perubahan Rencana
40 Bab 40: Menuju Singapura
41 Bab 41: Rindu
42 Bab 42: Berobat
43 Bab 43: Telponan
44 Bab 44: Ungkapan Perasaan dan Pesan Perpisahan
45 Bab 45: Di Negeri Paman Sam
46 Bab 46: Malam Penuh Ketegangan
47 Bab 47: Penghianat Beraksi Lagi
48 Bab 48: Pengkhianatan yang Mematikan
49 Bab 49: Badai di Tengah Ketenangan
50 Bab 50: Kejanggalan di Balik Layar
51 Bab 51: Hukuman Awal
52 Bab 52: Jejak yang Menghilang
53 Bab 53: Ke Jakarta
54 Bab 54: Hari Kelulusan
55 Bab 55: Bertemu
56 Bab 56: Ungkapan Perasaan
57 Bab 57: Restu Kakek Sapto
58 Bab 58: Rencana Keberangkatan
59 Bab 59: Berangkat
60 Bab 60: Rindu
61 Bab 61: Pertemuan Tak Terduga
62 Bab 62: Konflik dengan Bagas
63 Bab 63: Persahabatan
64 Bab 64: Rencana Penculikan
65 Bab 65: Jalan-Jalan
66 Bab 66: Penculikan
67 Bab 67: Kepanikan di Mansion
68 Bab 68: Bantuan Jonathan
69 Bab 69: Belum Terlacak
70 Bab 70: Dalam Keterbatasan
71 Bab 71: Petunjuk
72 Bab 72: Tebusan
73 Bab 73: Upaya Penyelamatan
74 Bab 74: Tertembak
75 Bab 75: Dirawat
76 Bab 76: Khawatir
77 Bab 77: Motif Mulai Terungkap
78 Bab 78: Motif Sesungguhnya
79 Bab 79: Pengakuan
80 Bab 80: Kekhawatiran Arif
81 Bab 81: Pertemuan Kirana dan Arif
82 Bab 82: Dukungan Paman Budi
83 Bab 83: Ucapan Terima Kasih
84 Bab 84: Bisa Pulang
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Bab 1: Kirana dan Kehidupannya
2
Bab 2: Ujian Tak Terduga
3
Bab 3: Pertolongan Kakek Misterius
4
Bab 4: Kemarahan Bibi Tari
5
Bab 5: Kejutan
6
Bab 6: Latihan Perdana
7
Bab 7: Latihan Perdana 2
8
Bab 8: Beasiswa dan Pilihan
9
Bab 9: Kebahagiaan dan Cibiran
10
Bab 10: Liburan dan Latihan
11
Bab 11: Pagi Penuh Kejutan
12
Bab 12: Awal yang Baru
13
Bab 13: Jerat di Balik Senyum
14
Bab 14: Kecemburuan Susi
15
Bab 15: Perseteruan Susi dan Kirana
16
Bab 16: Pembalasan Kirana
17
Bab 17: Bantuan Daniel
18
Bab 18: Percobaan Pelecehan
19
Bab 19: Upaya Penyelamatan
20
Bab 20: Misi Penyelamatan
21
Bab 21: Trauma Susi
22
Bab 22: Kemarahan Orang Tua Susi
23
Bab 23: Trauma dan Konsekuensi
24
Bab 24: Usaha dan Harapan
25
Bab 25: Pertemuan
26
Bab 26: Terluka Parah
27
Bab 27: Pertolongan Pertama
28
Bab 28: Kirana Terpaksa Berbohong
29
Bab 29: Perkenalan
30
Bab 30: Flashback
31
Bab 31: Pemulihan
32
Bab 32: Menghubungi Tuan Nugroho
33
Bab 33: Penghianat
34
Bab 34: Rencana Pulang
35
Bab 35: Penjemputan
36
Bab 36: Tuan Nugroho dan Satria
37
Bab 37: Tuan Nugroho dan Satria 2
38
Bab 38: Pulang
39
Bab 39: Perubahan Rencana
40
Bab 40: Menuju Singapura
41
Bab 41: Rindu
42
Bab 42: Berobat
43
Bab 43: Telponan
44
Bab 44: Ungkapan Perasaan dan Pesan Perpisahan
45
Bab 45: Di Negeri Paman Sam
46
Bab 46: Malam Penuh Ketegangan
47
Bab 47: Penghianat Beraksi Lagi
48
Bab 48: Pengkhianatan yang Mematikan
49
Bab 49: Badai di Tengah Ketenangan
50
Bab 50: Kejanggalan di Balik Layar
51
Bab 51: Hukuman Awal
52
Bab 52: Jejak yang Menghilang
53
Bab 53: Ke Jakarta
54
Bab 54: Hari Kelulusan
55
Bab 55: Bertemu
56
Bab 56: Ungkapan Perasaan
57
Bab 57: Restu Kakek Sapto
58
Bab 58: Rencana Keberangkatan
59
Bab 59: Berangkat
60
Bab 60: Rindu
61
Bab 61: Pertemuan Tak Terduga
62
Bab 62: Konflik dengan Bagas
63
Bab 63: Persahabatan
64
Bab 64: Rencana Penculikan
65
Bab 65: Jalan-Jalan
66
Bab 66: Penculikan
67
Bab 67: Kepanikan di Mansion
68
Bab 68: Bantuan Jonathan
69
Bab 69: Belum Terlacak
70
Bab 70: Dalam Keterbatasan
71
Bab 71: Petunjuk
72
Bab 72: Tebusan
73
Bab 73: Upaya Penyelamatan
74
Bab 74: Tertembak
75
Bab 75: Dirawat
76
Bab 76: Khawatir
77
Bab 77: Motif Mulai Terungkap
78
Bab 78: Motif Sesungguhnya
79
Bab 79: Pengakuan
80
Bab 80: Kekhawatiran Arif
81
Bab 81: Pertemuan Kirana dan Arif
82
Bab 82: Dukungan Paman Budi
83
Bab 83: Ucapan Terima Kasih
84
Bab 84: Bisa Pulang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!