Malam gelap gulita, langit polos tak berbintang, angin sepoi menyapa daun melambai-lambai, udara dingin menusuk tulang, menambah kulit yang terluka bertambah nyeri.
Alif mengompres lukanya sambil duduk melamun di balkon rumahnya, barusan Fatih menelfonnya dan mengabarkan kalau ia telah menemui Shafiya untuk minta maaf.
Lamunannya membayangkan bila Shafiya memilih Fatih atau orang lain, karena perjuangannya cukup berat untuk mendapatkan restu ibunya, sementara Fatih orangtuanya malah sudah melamar Shafiya bahkan sangat menyukainya.
Hasna Adiknya masuk dan berdiri di hadapannya, membuyarkan lamunannya, Adiknya itu membawakan kopi untuknya.
" Akukan minta pada Bibi Dek, kok kamu yang bawa? " Tanya Alif.
" Aku kawatir dengan Kak Alif, sejak kapan Kakak suka berkelahi? sampai separah ini pula." Ujar Hasna kawatir.
Alif hanya diam tak mau menjawab, karena kalau dia bercerita takut Adiknya bercerita pada Mamanya dan itu akan membuat Mamanya semakin membenci Shafiya.
" Kak... ayo ceritalah jangan diam aja. " Bujuk Hasna.
" Aku tak papa Dek... " Jawab Alif dengan tersenyum.
" Kak... aku berjanji tidak akan bercerita pada Mama... Ku mohon... " Bujuk Hasna lagi.
" Hanya luka ringan, Kakak pula yang mulai duluan. " Jawab Alif.
" Dengan siapa? " Selidik Hasna.
" Bukan siapa-siapa, sudah sana tidurlah, aku juga mengantuk... " Usir Alif beranjak dari duduknya dan masuk ke kamar akhirnya Hasna menyerah.
" Ya sudah Kak, beristirahatlah... " Hasna keluar dari kamar Alif, namun masih menyimpan banyak tanda tanya.
Alif memejamkan matanya namun wajah Shafiya tetap berada di sana. Entah sampai kapan perjuangan cintanya akan berujung, Alif menghelai nafas dan memaksa dirinya untuk tidur. Perlahan nafasnya teratur dan membawa nama Shafiya dalam tidurnya.
***
Di rumah lain, rumah yang megah namun hanya segelintir orang yang menghuninya.
Plak
Plak
Suara tamparan cukup keras hingga yang di tampar terjatuh. Namun tidak membuat yang di tampar marah atau pun membalas.
" Kenapa kamu sebreng**k itu !!! "
" Memalukan !!! "
" Apa Papa mengajarimu untuk menjadi laki-laki breng**k seperti itu ??? Hah...??? "
" Papa sudah melamarkan untukmu tapi kamu malah bertindak bodoh !!! "
" Pantas bila dia menolakmu, kau pantas mendapatkannya !!! "
Fatih menunduk, dia pasrah, menerima semua kemarahan Papanya.
" Aku memang pantas menerima ini semua. " Batinnya.
" Maaf Pah... " Ujar Fatih sambil menunduk, luka yang belum sembuh kini terasa semakin nyeri.
" Aku menyesal... " Lanjutnya.
" Aku sudah menemuinya dan meminta maaf padanya. " Lanjutnya lagi.
" Bagus kalau kau sudah meminta maaf padanya, Papa sangat ingin mempunyai menantu seperti dia. " Kini Papanya mulai mengurangi suaranya.
" Fatih tidak yakin untuk itu Pah... " lanjut Fatih sedikit menyerah.
" Tapi Fatih akan berusaha... " Ujarnya meski sedikit ragu, bagaimanapun juga belum ada cinta dari Shafiya untuknya. Sementara Alif jelas-jelas sudah pernah mengisi hati Shafiya bahkan mungkin sampai hari ini, meski tidak di setujui orang tuanya.
Fatih beranjak ke kamarnya dan merebahkan dirinya di sofa, mencoba memejamkan mata, namun tak bisa, bayang-bayang Shafiya masih tergambar di pelupuk matanya. Lambat laun matanya benar-benar terpejam dan membawa Shafiya dalam mimpinya.
***
Suara merdu sedang mengalun, seorang gadis tengah mengaji di kamarnya, bacaannya setengah bergetar ada sesuatu di dadanya yang berusaha di tenangkan.
Merasa lebih tenang, gadis itu menyudahi mengajinya dan lanjut melaksanakan shalat isya' . Setelah shalat gadis itu berdoa dan menyerahkan semuanya pada Allah.
" Ya Allah, hamba hanya seongkok daging yang begitu baiknya Engkau memberi ruh di dalam jiwaku, hamba lemah dan tak berdaya tanpa kekuatan darimu. Hamba yang berlumur dosa mohon ampun padamu atas semua perbuatan yang tak kau ridhoi."
Katanya dalam Do'a nya.
" Ya Allah Engkau Pemilik hati ini, Engkau yang mengisi cinta di hati hamba ini, Engkau yang telah menuliskan jodoh hamba, Jika itu di antara mereka yang datang kepada hamba maka condongkanlah hati hamba kepada salah satu dari mereka, namun jika jodoh hamba bukan mereka pertemukan hamba dengan dia, serta hilangkanlah rasa yang tak seharusnya ada di hati hamba ini. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha mengabulkan Do'a-Do'a. Aamiin." Shafiya menutup Do'anya dan melepas mukenanya lalu melipatnya dan menaruh di tempatnya.
Shafiya duduk melamun membayangkan betapa beratnya hari ini, Allah menghadirkan banyak rasa untuknya, rasa marah, sedih, kasian dan cinta yang lengkap untuk dirinya. Warna warni beradu didalam hatinya. Entah kepada siapa hati dan jiwanya nanti berlabuh. Shafiya masih mencari jawabanya, hatinya belum bisa memilih, biarlah Allah yang memilihkan cintanya untuknya.
.
.
.
.
.
.
Hay.... terimakasih yang udah baca, tetap tinggalkan jejak ya...😄
Ku tunggu komen dan likenya, biar aku makin semangatttt 😍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 60 Episodes
Comments
Neneng Saadi
semangat Thor 💪💪
2025-03-03
0
Damai Damaiyanti
thor karyamu bagus" aku suka ,maaf aku baca yg sdh tamat aj abis suka penasaran kalo nunggu lama hehe maaf y thor
2024-09-16
2
💋Titika tika27💋
🌹🌹🌹
2024-02-29
1