Amora menatap langit malam dari balkon kamarnya. Pertemuannya dengan pria bernama Maxime tadi mengusik hatinya. Siapa pria itu?, kenapa pria itu menatapnya begitu intens diawal pertemuan mereka.
Amora menghela nafas beratnya, ia memutuskan untuk bergabung dengan kelompok ini setelah bertemu dengan Revan yang sudah menyelamatkan nyawanya dari sebuah kecelakaan maut yang hampir merenggut nyawanya. Itu yang dijelaskan Revan padanya saat itu saat ia terbangun dari komanya.
Revan begitu baik padanya dan membawanya tinggal di bersamanya selama masa pemulihan. Hingga ia bertemu dengan Kakek Armand dan memintanya untuk bergabung dengan kelompok ini. Sebenarnya dulu ia sempat menolak tapi karena ingin membalas budi pada Revan yang sudah menyelamatkannya ia akhirnya setuju dan selama lima bulan lebih Revan melatihnya ilmu bela diri dan juga cara memakai berbagai senjata api.
"Kamu belum tidur?," tanya Revan memasuki kamar Amora.
Amora menggeleng pelan. Memang hampir setiap malam Revan mendatangi kamarnya untuk mematikannya tidur.
"Tidak bisa tidur lagi?," tanya Revan ikut berdiri di sebelah Amora dengan kedua tangannya berada di dalam saku celananya.
"Iya...," angguk Amora.
"Kakak belum tidur?," tanya Amora menatap sekilas pada Revan yang berdiri di sampingnya.
"Belum, biasanya jika selesai melakukan misi, aku tidak akan tidur hingga pagi untuk berjaga-jaga jika ada serangan balik," jawab Revan.
Amora mengangguk pelan dan tidak lagi bertanya. Gadis itu sibuk dengan pikirannya sendiri. Hampir setiap malam ia berdiri disini sebelum rasa kantuk menghampirinya.
"Istirahatlah!, besok kita ke Berlin untuk tidak berlibur," untuk Revan mengacak rambut pirang Amora. Ia sudah menganggap Amora seperti adik kandungnya sendiri pengganti Revina yang sudah tiada. Revina adalah adik kandungnya dan tewas karena kelompok musuh menyerang markas ini.
"Aku tidak ikut Kak, kalian pergi saja!," jawab Amora.
"Kenapa?," tanya Revan dengan kening yang berkerut.
"Aku ingin disini saja Kak," jawab Amora yang tidak mau mengatakan alasannya kenapa ia tidak mau ikut pergi.
"Baiklah, temani Kakek disini dan Kakak akan menempatkan beberapa penjaga disini untuk berjaga-jaga melindungimu dan Kakek," ucap Revan.
"Kakak meragukanku kemampuanku?," tanya Amora.
Revan menggeleng pelan." Tidak...kamu sangat berbakat. Tapi kamu tidak tahu bagaimana kekuatan musuh kita. Dan yang kita habisi tadi malam sebelum setengahnya," jawab Revan.
"Mereka sebanyak itu?," tanya Amora membulatkan matanya.
"Kenapa? kau terkejut?," jawab Revan kembali bertanya.
"Sedikit," jawab Amora.
"Kita juga lebih banyak dari mereka. Kakek memiliki markas di beberapa tempat di negara ini dan juga negara lainnya. Dan kelompok kita cukup ditakuti di negara ini," ucap Revan.
"Oh ya jangan tidur terlalu larut," sambung Revan meninggalkan Amora yang masih berada di balkon kamarnya.
Amora mengangguk pelan menatap punggung Revan yang mulai menjauh dan hilang dibalik pintu kamarnya. Ia kembali masuk kedalam kamarnya saat merasakan dingin malam mulai menusuk tulang. Ia berganti pakaian dan bersiap untuk beristirahat. Semoga saja rasa kantuknya datang menjelang karena akhir-akhir ini ia cukup sulit untuk tidur.
***
Maxime masih berkutat dengan laptopnya mencari tahu tentang siapa Amora. Namun pria juga itu tidak menemukan apapun tentang siapa gadis itu. Ia sudah berusaha untuk meretas data pribadi gadis itu namun ia tidak bisa melakukannya. Sepertinya ada seseorang yang melindungi data pribadi gadis itu. sehingga ia tidak bisa meretasnya. Ia masih sangat penasaran siapa Amora sebenarnya.
Maxime mengusap wajahnya dengan kasar karena ia tidak menemukan apapun. Ia sudah meminta orang kepercayaannya namun hasilnya tetap sama.
Ting
Emily
📩: Kak, kamu tidak ingin melihat keponakanmu dan mencari keberadaan Amelia disini?. Jangan menyesal jika Amelia nantinya berpindah ke lain hati jika Kakak tidak kunjung mencarinya.
Maxime menatap nanar pesan yang baru saja masuk di ponselnya. Pria itu membuka blokiran nomor Amelia diponselnya. Ia sengaja memblokir nomor gadis itu agar bisa melupakannya tapi kenyataannya ia tidak pernah bisa melupakannya.
Saat blokiran nomor Amelia terbuka, deretan pesan langsung masuk. Maxime membuka satu persatu pesan dari Amelia.
Amelia
📩: Max... kamu dimana? bisa temui aku sekarang di restoran biasa?. Aku ingin membicarakan sesuatu sama kamu.
Amelia
📩:Max... aku menunggu disini, di restoran biasanya.
Maxime menghela nafas beratnya, pesan ini delapan bulan yang lalu tepatnya dua hari ia berada di negara ini. Ternyata Amelia menunggunya di sana tapi ia keburu memblokir nomor gadis itu.
Dan Maxime membaca pesan berikutnya dan Amelia terus menanyakan keberadaannya. Hingga Maxime tampak tertohok dengan pesan berikutnya yang ia baca dan itu juga delapan bulan yang lalu tepatnya di hari pernikahan Amelia.
Amelia
📩:Max... pernikahanku gagal, Ibu ternyata memanfaatkanku demi warisan peninggalan Ibu kandungku. Aku kabur dari rumah, ada beberapa pria berpakaian hitam tiba-tiba menyerang dan membantai seluruh keluargaku. Aku takut Max, tolong aku. Aku takut orang itu juga menyakitiku. Aku mohon jemput aku Max!
Maxime mengusap wajahnya dengan kasar. Orang-orang itu pasti orang-orang kepercayaannya. Ia memang meminta orang kepercayaannya untuk menyekap keluarga Amelia dan ia tidak pernah tahu jika mereka ternyata malah menghabisi nyawanya keluarga Amelia.
Maxime kembali membaca pesan dari Amelia dan berharap ada titik terang dimana gadis itu saat ini berada.
Amelia
📩:Max...aku di bandara. Aku akan ke Jerman, aku tahu dari pelayan rumah Emily yang aku temui dan mengatakan jika kamu kembali ke Jerman. Jemput aku di Bandara, Max!.
Deg
Jantung Maxime berdegup kencang, Amelia ada di Jerman. Lalu dimana dia?. Maxime langsung melacak GPS ponsel Amelia dan hasilnya nihil. Data terakhir Amelia berada di dekat Bandara dan setelah itu tidak akan terkoneksi lagi.
"Dimana kamu Amelia?. Maafkan aku, seharusnya aku tidak memblokir nomor ponselmu," lirih Maxime. Ia tidak bisa lagi melacak keberadaan GPS ponsel Amelia karena nomor Amelia sudah tidak aktif lagi.
Hampir semalaman Maxime tidak bisa tidur, ia benar-benar merasa bersalah. Ia masih memikirkan dimana Amelia sekarang. Andai ia tidak memblokir nomor ponsel Amelia tentu saja ia bisa menjemput Amelia saat itu dan ia yakin ia dan Amelia sudah bersama saat ini.
Hingga pagi menjelang, Maxime tidak bisa tidur. Ia dihantui rasa bersalah pada Amelia. Dimana gadis itu sekarang, bagaimana keadaannya?. Di kota mana dia saat ini berada?.
Maxime segara bersiap untuk berangkat ke kantor karena pagi ini ia ada meeting. Meski tubuhnya sedikit lesu karena semalaman ia tidak bisa memejamkan kedua matanya karena pikirannya terus tertuju pada sang kekasih yang kini entah dimana keberadaannya.
Pria itu langsung berangkat ke kantor, ia berencana untuk menemui Revan dan meminta pria itu untuk melacak keberadaan Amelia, semoga saja bisa karena Revan adalah ahli dalam bidang IT.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
Lilis mulyati
kisahnya SMA persis sprti Yovan yg hilang ingatan apa jdinya jka Amelia inget smuanya dan inget klau max sdah menyakiti hatinya dngan memblokir nmrnya smpe Amelia mengalami kecelakaan dan smpe koma apa lgi ditambah jka Amelia tau jka yg membantai kluarga Amelia adlh orng kepercayaan max bertmbahlah kekecewaan Amelia pda max
2024-11-29
1
Maya Lara Faderik
Amelia Amnesia, apa yang akan max lakukan sekiranya tahu Amora itu Amelia ngak sabar tunggu reaksi max,...
2024-11-29
0
Ana
semoga kamu bisa bersatu dengan Amelia ya max, revan yang udah nolongin Amelia max🥺
2024-11-29
0