Tapi kalau memang proyek besar, kenapa dia nggak bilang langsung? Kenapa harus dirahasiakan? 😕😐
Han Jisung
Mungkin dia cuma mau kerja sama sama orang yang dia percaya? Atau dia nggak mau ada tekanan dari luar. 😕
Lee Felix
Entahlah, Sung. Aku nggak mau terlalu berharap. Lagipula, aku cuma mahasiswa biasa yang kebetulan suka desain. 🙁
Han Jisung
Felix, kau bukan mahasiswa biasa. Kau punya bakat yang luar biasa. Kalau rumor ini benar dan kau nggak ambil kesempatan ini, kau pasti menyesal.
Lee Felix
Kau selalu lebih percaya diri daripada aku sendiri, Sung. Tapi aku akan pikirkan ini. 😊
Han Jisung
Bagus! Jangan terlalu lama mikir. Dunia fashion nggak tunggu siapa pun, tahu! 🙂
Lee Felix
Dasar, kau itu memang jagonya bikin orang bingung. 😄
[Dirumah Felix]
[Langit mulai berubah warna keemasan saat Felix duduk di meja belajarnya. Rumah terasa sunyi, hanya terdengar detak jam dinding dan suara kendaraan di luar. Tiba-tiba, ponselnya berdering, mengejutkannya.]
Lee Felix
Halo, hyung?
Lee Bangchan
Felix, lagi apa?
Lee Felix
Tidak ada. Duduk saja di meja belajar. Kenapa?
Lee Bangchan
Bagus. Kalau begitu, kau tidak punya alasan untuk menolak ajakan hyung kali ini.
Lee Felix
Ajakan apa? 😕
Lee Bangchan
Nonton, dong. Kali ini Minho ikut juga. Seru, kan? 😄
Lee Felix
Minho-hyung? Hmm, ya sudah, boleh. Tapi kita nonton apa?
Lee Bangchan
Film seru. Ada di bioskop dekat rumahmu. Aku dan Minho sudah pilih filmnya, jadi kau tinggal siap-siap. Kami jemput kau setengah jam lagi.
Lee Felix
*Melirik jam dinding
Lee Felix
Oke, aku siap-siap dulu.
Lee Bangchan
Bagus. Sampai ketemu nanti.
Felix bangkit dari kursinya, mengganti bajunya dengan setelan kasual—kaus hitam, jaket denim, dan celana jeans. Setelah memastikan rambutnya rapi, ia mengambil dompet dan ponselnya, lalu menunggu di ruang tamu. Tak lama, suara klakson terdengar dari luar. Felix keluar dan melihat mobil Bangchan terparkir di depan rumah.
Lee Bangchan
Felix! Cepat masuk.
Lee Felix
Terima kasih sudah menjemput, hyung.
Lee Bangchan
Felix! Kau terlihat keren malam ini.
Lee Felix
Terima kasih, hyung. 😊
Lee Bangchan
Ayo, kita buat malam ini menyenangkan. Filmnya pasti sangat seru. 😊
Lee Felix
Baiklah, aku ikut saja. 😊
Minho dan Bangchan saling melirik dengan pandangan penuh arti sebelum mobil mulai melaju menuju bioskop. Suasana di dalam mobil terasa hangat, meskipun ada sesuatu yang Felix tidak sadari.
[Bioskop tengah malam. Felix duduk di antara Bangchan dan Minho, wajahnya pucat pasi. Adegan horor psikologis penuh darah terus bergulir di layar. Ia tampak gelisah, menggenggam kursi dengan erat.]
Lee Felix
Hyung, ini... terlalu menyeramkan. 😥
Lee Bangchan
Santai, Felix. Itu cuma film. 😊
Lee Minho
Iya, kau tidak apa-apa, kan? Kalau takut, kau bisa pegang tanganku. 🙂
Lee Felix
Aku baik-baik saja. 😐
Namun, tubuhnya semakin tegang. Setiap adegan kejam di layar membuat Felix sedikit terlonjak. Minho dan Bangchan diam-diam saling melirik, senyum mereka menyiratkan sesuatu yang lebih dari sekadar perhatian.
Lee Minho
*berbisik ke Bangchan
Lee Minho
Lihat dia. Kau tahu, dia makin menarik saat seperti ini.
Lee Bangchan
Sudah kukatakan, dia sempurna. Ini waktunya.
Setelah setengah jam, tubuh Felix mulai berkeringat dingin. Kepalanya terasa pusing, dan wajahnya semakin pucat. Minho menyadari perubahan itu lebih dulu. Ia menyentuh dahi Felix dengan tangan dinginnya.
Comments