...Sintia...
...𓆉𓆝𓆟 𓆞 𓆝 𓆟𓇼...
"Makasih udah maksa gue buat ikut," kata Tama ke Amio. "Meski itu bikin tangan gue cedera dan lo juga ngira gue gay, tapi gue senang, kok."
Amio ketawa dan berbalik buat buka pintu. "Bukan salah gue juga, sih kalau gue ngira lo gay. Lo enggak pernah ngomongin cewek, dan lo juga enggak pernah bahas soal pacaran selama ini."
Amio buka pintu dan masuk ke kamarnya. Gue berdiri di ambang pintu, menghadap ke Tama. Dia menatap gue langsung dan menghancurkan tameng gue.
"Sekarang udah masuk dalam agenda," katanya sambil senyum.
Gue jadi agendanya sekarang.
Gue enggak mau jadi agenda doang.
Gue mau jadi rencana.
Peta.
Gue mau ada di peta masa depannya.
Tapi itu melanggar aturan nomor dua.
Tama mundur ke apartemennya setelah buka pintu, dia mengintip dari arah kamarnya.
"Tunggu Amio tidur?" bisiknya.
Oke, Tama.
Lo bisa berhenti ngomong.
Iya, gue bakal jadi agenda lo.
Gue mengangguk sebelum tutup pintu.
Gue mandi, cukur bulu, sikat gigi, nyanyi, dan dandan secukupnya biar kelihatan kalau gue enggak dandan sama sekali.
Cukup dengan cubit-cubit rambut biar kelihatan enggak di apa-apa in. Terus gue pakai baju yang sama kayak tadi biar kelihatan juga enggak ganti baju. Tapi sebenarnya, gue ganti Bra sama celana dalam, karena tadi enggak matching.
Tadi enggak matching, tapi sekarang sudah eyecatching. Dan gue mulai panik karena Tama bakal lihat Bra dan celana dalam gue malam ini. Dan mungkin juga bakal menyentuhnya.
Kalau itu bagian dari agendanya, justru dia mungkin yang bakal melepaskan semuanya.
Tiba-tiba HP gue bunyi, ini jam sebelas malam.
Chatnya dari nomor yang enggak gue kenal.
...📩...
Dia udah di kamarnya belum?
^^^Gue: Dari mana lo dapat nomor gue?^^^
Tama: Gue nyolong dari HP-nya Amio.
^^^Gue: Belum, dia masih nonton TV.^^^
Tama: Bagus. Gue harus keluar bentar, ada urusan. Gue bakal balik dalam dua puluh menit. Gue tinggalin apartemennya gak dikunci, kali aja dia tidur sebelum gue balik.
^^^Gue: Oke, sampai nanti.^^^
Gue lihat chat terakhir gue ke dia dan langsung merasa enggak enak. Kedengarannya santai banget. Kayak gue ini lagi kasih kesan kalau gue sering begini. Dia mungkin berpikir kalau hari-hari gue kayak pelacvr.
Om-Om: Tia, lo mau nge-wew enggak?
^^^Gue: Boleh. Gue selesain dulu sama dua cowok ini, terus gue nyusul. Oh iya, gue gak ada aturan main, jadi bebas mau ngapain aja.^^^
Om-Om: Mantap.
Lima belas menit berlalu, dan akhirnya TV-nya mati. Begitu pintu kamar Amio tertutup, pintu kamar gue langsung terbuka. Gue cepat-cepat keluar ruang tamu dan hampir tabrak Tama, yang sudah berdiri di lorong.
"Pas banget," katanya.
Dia bawa tas di tangannya. Dia pindahkan tas itu ke tangan satunya biar gue enggak lihat.
"Duluan, Tia," katanya sambil dorong pintu apartemennya.
Enggak, Tama.
Gue yang harusnya mengikuti lo.
Begitu cara kita.
Lo benda padat, gue benda cair. Lo yang membelah air, gue yang mengikuti di belakang lo.
"Lo haus?" Dia jalan ke dapurnya, tapi gue enggak yakin bisa mengikuti dia kali ini. Gue enggak tahu bagaimana caranya, dan gue takut dia bakal sadar kalau gue belum pernah punya aturan nomor satu atau dua sebelumnya.
Kalau masa lalu dan masa depannya enggak boleh disentuh, itu berarti cuma ada masa sekarang, dan gue enggak tahu harus buat aturan apa di masa sekarang.
Gue jalan ke dapur. "Lo punya apa?" tanya gue.
Tasnya ada di atas meja, dan dia lihat gue melirik tas itu, jadi dia geser tasnya ke samping, biar gue enggak lihat.
"Bilang aja, apa yang lo mau, dan gue lihat dulu ada apa enggak," katanya.
"Jus jeruk."
Dia senyum, terus dia ambil sesuatu dari tas itu. Dia mengeluarkan satu botol jus jeruk, dan sederhananya dia bahkan terpikir buat belikan itu. Itu juga membuktikan kalau dia enggak perlu keluarkan banyak modal buat bikin gue meleleh.
Gue harusnya bilang ke dia kalau satu-satunya aturan gue sekarang adalah: Berhenti melakukan hal-hal yang bikin gue ingin melanggar aturan lo.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments