"Lo berdarah lagi," potong gue, melihat perban yang sudah basah dengan darah, tapi masih menempel di tangan Tama.
Gue sampaikan ke Nyokap, "Ma, punya plester?"
"Enggak," kata Nyokap. "Barang itu bikin Mama takut."
Gue lihat Tama, "Abis makan, gue cek, ya."
Tama mengangguk tapi enggak menatap gue.
Nyokap tanya soal pekerjaan, dan Tama enggak jadi pusat perhatian lagi. Gue rasa dia senang banget.
...──── ୨୧ ────...
Gue matikan lampu dan masuk ke tempat tidur, enggak tahu harus bagaimana dengan hari ini. Kita enggak ngobrol lagi setelah makan malam, meski gue sempat habiskan sepuluh menit buat ganti perban di tangannya. Kita enggak bicara selama proses itu.
Kaki kita enggak saling menyentuh. Jarinya enggak lagi menyentuh lutut gue. Dia bahkan enggak menengok ke gue. Dia cuma lihat tangannya, fokus, sepertinya dia bakal jatuh kalau dia lihat ke arah lain.
Gue enggak tahu harus memikirkan yang mana, tentang Tama atau tentang ciuman tadi. Dia jelas tertarik sama gue, kalau enggak, dia enggak mungkin cium gue.
Sayangnya, itu sudah cukup. Gue enggak peduli kalau pun dia enggak suka sama gue. Gue cuma mau dia tertarik dulu sama gue, karena suka bisa datang belakangan.
Gue tutup mata dan mencoba tidur untuk kelima kalinya, tapi sia-sia. Gue putar badan ke samping dan menghadap pintu. Enggak sengaja lihat bayangan kaki seseorang yang mendekat. Gue lihat pintu, menunggu dibuka, tapi bayangan itu menghilang, dan langkah kaki terus menjauh.
Gue yakin itu Tama, karena cuma dia satu-satunya yang ada di dalam pikiran gue sekarang. Gue ambil napas beberapa kali buat menenangkan diri sebelum memutuskan untuk mengikuti dia atau enggak.
Baru di napas ketiga, gue langsung lompat dari tempat tidur. Gue debat sama diri gue sendiri mau sikat gigi lagi atau enggak, padahal baru dua puluh menit sejak terakhir kali gue sikat gigi.
Gue cek rambut di cermin, lalu buka pintu kamar dan jalan pelan-pelan ke dapur. Pas gue belok ke sudut, gue lihat dia. Dia lagi bersandar di meja, menghadap ke gue, sepertinya dia memang sudah menunggu.
Tuhan, gue benci itu.
Gue pura-pura saja kalau ini cuma kebetulan kita ada di sini bareng, meski lewat tengah malam.
“Gak bisa tidur?” Gue jalan melewati dia ke kulkas dan ambil jus jeruk. Gue tuang segelas, terus bersandar di meja di seberangnya. Dia memperhatikan gue, tapi dia enggak jawab pertanyaan gue. “Atau lo tidur sambil jalan?”
Dia senyum, memperhatikan gue mulai dari atas ke bawah.
“Lo beneran suka jus jeruk,” jawabnya dengan nada senang.
Gue lihat gelas gue, terus lihat dia lagi, dan angkat bahu. Dia melangkah ke arah gue dan minta gelasnya.
Gue kasih ke dia, dia mengambil satu tegukan dengan lambat, dan kasih lagi ke gue. Semua gerakan ini dilakukan tanpa dia putuskan kontak matanya dengan gue.
Iya, pasti, gue sekarang benar-benar suka sama yang namanya jus jeruk.
“Gue juga suka,” katanya, padahal gue belum jawab dia.
Gue taruh gelas di samping gue, pegangan sama tepi meja, dan dorong diri gue sampai duduk di atasnya.
Terlalu hening. Gue putuskan buat ambil gerakan pertama.
“Emang benaran, ya. Udah enam tahun sejak terakhir kali lo punya pacar?” Dia mengangguk tanpa ragu, dan gue kaget sekaligus senang banget sama jawaban itu.
Gue enggak tahu kenapa gue suka. Mungkin karena ini jauh lebih baik daripada apa yang gue bayangkan tentang hidupnya.
“Wow. Berarti lo udah pernah...?” Gue enggak tahu bagaimana cara melanjutkan kalimat ini.
“Berhubungan badan?” potongnya, cepat.
Gue senang satu-satunya lampu yang menyala cuma lampu di atas kompor dapur, soalnya gue benar-benar malu sekarang.
“Gak semua orang mau hal yang sama,” katanya. Suaranya lembut, kayak selimut bulu. Gue ingin berguling-guling di situ, membungkus diri gue dalam suara itu.
“Semua orang ingin cinta,” balas gue. “Atau setidaknya s3ks. Itu naluri manusia, kan?”
Gue enggak percaya kita bakal bahas ini.
Dia lipat tangan di dada. Kakinya bersilang di pergelangan. Gue perhatikan ini adalah bentuk pertahanannya. Dia lagi membangun sebuah perisai tak kasat mata, melindungi diri kalau-kalau terlalu banyak rahasia yang tak sengaja diungkap.
“Kebanyakan orang enggak mau cuma hanya ngedapetin satu hal, tanpa harus menanggung hal yang lain,” katanya. “Jadi gue merasa lebih baik kalau menyerah aja sama kedua-duanya.”
Dia lagi memperhatikan gue, mengukur reaksi gue terhadap kata-katanya.
“Jadi lo enggak mau yang mana, Tama?” Suara gue terdengar lemah. “Cinta atau s3ks?”
Matanya tetap sama, tapi mulutnya berubah. Bibirnya melengkung. “Gue rasa lo udah tahu jawabannya, Tia.”
Wow.
Gue hembuskan napas yang tak terkendali, dia enggak peduli kalau kata-kata itu bikin gue merasa seperti ini. Cara dia menyebut nama gue bikin gue merasa sama malunya waktu dicium dia.
Gue silangkan kaki di lutut, berharap dia enggak sadar kalau itu cara gue mempertahankan diri.
Mata dia jatuh ke kaki gue, dan dia tarik napas lembut.
Enam tahun.
Enggak bisa dipercaya.
Gue lihat kaki gue juga. Gue ingin tanya lagi, tapi gue enggak tega lihat respons dia kalau gue tanya, dan akhirnya pertanyaan itu terbang dari mulut gue. “Udah berapa lama sejak terakhir kali lo cium cewek?”
“Delapan jam,” jawabnya tanpa ragu. Gue angkat mata ke dia, dan dia senyum, karena tahu apa yang gue tanyakan. “Sama,” bisiknya pelan. “Enam tahun.”
Gue enggak tahu apa yang terjadi sama gue, tapi sesuatu berubah. Sesuatu mencair. Sesuatu yang keras atau beku atau tertutup sama benteng pertahanan gue sekarang jadi cair setelah gue sadar apa artinya ciuman itu.
Gue merasa kalau gue kayak cairan, dan cairan enggak akan bisa berdiri atau pergi begitu saja, jadi gue enggak bergerak.
“Lo bercanda?” tanya gue, masih enggak percaya.
Gue rasa dia yang malu sekarang.
Gue bingung. Gue enggak ngerti apakah gue salah paham sama dia atau semua yang dia bilang itu memang benar.
Dia cakep. Dia punya pekerjaan yang bagus. Dia jelas tahu cara ciuman yang baik dan benar, jadi kenapa dia enggak melakukannya?
“Apa masalah lo?” tanya gue lagi. “Lo kena Raja Singa atau lo punya semacam penyakit kelamin gitu?”
Ini sisi perawat gue. Gue selalu antusias di bidang gue, medis. Jadi pertanyaan gue agak aneh untuk orang lain.
Dia ketawa. “Enggak, gue bersih, kok,” katanya.
Tapi dia masih belum mau menjelaskannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments