...Tama...
...𓆉𓆝𓆟 𓆞 𓆝 𓆟𓇼...
Enam tahun yang lalu...
Aturan nomor satu 'enggak boleh macam-macam kalau orang tua lagi di rumah' sudah diubah. Sekarang, boleh ciuman, tapi cuma kalau kita ada di balik kamar yang dikunci.
Aturan nomor dua masih berlaku. Masih enggak boleh raba-raba. Dan ada aturan nomor tiga yang baru-baru ini ditambahkan, 'enggak boleh keluar malam-malam'.
Tante Ike masih suka ngecek Yesica tengah malam, karena dia itu Nyokap dari seorang remaja dan itu hal yang wajar.
Tapi gue benci dia melakukan itu.
Kita sudah sebulan tinggal di rumah yang sama. Kita enggak bahas kalau sisa waktu bersama kita tinggal lima bulan lagi.
Kita juga enggak bicarakan soal apa yang bakal terjadi kalau Bokap gue nikahi Nyokap dia. Kita enggak ungkit-ungkit tentang bagaimana hubungan kita setelah lima bulan itu selesai.
Gue enggak tahu bisa atau enggak, saat gue hidup di mana dia enggak jadi segalanya buat gue.
“Kita balik Minggu,” kata Bokap gue. “Lo bakal di rumah sendiri. Yesica nginep di rumah temannya. Lo harus undang Ian ke sini.”
“Udah Tama undang,” bohong gue.
Yesica juga bohong. Karena dia bakal ada di sini sepanjang akhir pekan. Kita enggak mau kasih mereka alasan yang bikin curiga sama kita.
Gue kepingin pamer ke Bokap soal kecerdasannya, rangkingnya, kebaikannya, kepintarannya. Gue keingin bilang ke Bokap kalau gue punya pacar yang luar biasa, karena dia pasti bakal suka.
Bokap suka dia.
Cuma bukan dengan cara yang gue inginkan.
Gue ingin Bokap suka dia buat gue.
Kita mengucapkan selamat tinggal ke orang tua kita. Tante Ike bilang ke Yesica buat bersikap baik, tapi dia enggak terlalu khawatir. Sejauh yang dia tahu, Yesica itu anak baik. Yesica patuh. Yesica enggak pernah melanggar aturan.
Kita main rumah-rumahan. Kita pura-pura kalau itu adalah rumah kita. Kita pura-pura itu dapur kita, dan dia masak makanan buat gue. Gue pura-pura dia milik gue, dan gue mengikutinya keliling dapur sambil menempel terus.
Menyentuh dia. Cium leh3rnya. Enggak kasih dia waktu buat menyelesaikan kerjaannya biar gue bisa merasakan dia di dekat gue.
Dia suka, tapi pura-pura enggak suka. Setelah kita selesai makan, dia duduk sama gue di sofa. Kita setel film, tapi enggak ada satu pun dari kita yang menontonnya.
Kita enggak bisa berhenti cium4n. Kita cium4n sampai bibir kita sakit. Tangan kita sakit. Perut kita sakit, karena tubuh kita saat ini benar-benar ingin melanggar aturan nomor dua.
Akhir pekan ini bakal panjang banget. Gue memutuskan buat mandi, kalau enggak, gue bakal minta izin buat ubah aturan nomor dua.
Gue mandi di kamar mandinya. Gue suka mandi di sini. Gue suka lihat barang-barangnya di sini. Gue suka lihat pisau cukurnya dan membayangkan bagaimana dia pas lagi pakai itu.
Gue suka lihat botol sampo-nya dan membayangkan dia yang lagi memiringkan kepala di bawah aliran air sambil bilas rambutnya.
Gue suka banget kamar mandi ini sekarang.
"Tama?" katanya. Dia ketuk pintu, tapi dia sudah ada di dalam kamar mandi. Air panas menyentuh kulit gue, tapi suaranya bikin semuanya terasa lebih panas.
Gue buka tirai shower. Mungkin gue buka terlalu lebar karena gue mau dia juga ingin melanggar aturan nomor dua.
Dia menghela napas pelan, tapi matanya jatuh ke tempat yang gue mau. Ke area sensitif gue.
"Yesica," kata gue sambil nyengir melihat wajahnya yang malu-malu. Dia tatap mata gue. Dia ingin mandi bareng gue. Dia cuma terlalu malu buat minta. "Masuk!"
Suara gue serak, kayak habis teriak.
Lima detik yang lalu suara gue masih baik-baik saja.
Gue tutup tirai shower buat menyembunyikan apa yang akan dia lakukan buat gue dan juga buat kasih kesempatan buat dia buka bajunya.
Gue belum pernah lihat dia tanpa baju. Tapi gue merasakan apa yang ada di balik tirai itu.
Tiba-tiba gue gugup. Dia mematikan lampu.
"Ini enggak apa-apa?" tanyanya pelan.
Gue bilang enggak apa-apa, tapi gue berharap dia lebih percaya diri. Gue harus bikin dia lebih percaya diri.
Dia buka tirai shower, dan gue melihat salah satu kakinya masuk lebih dulu. Gue telan ludah saat sisa kakinya menyusul.
Untungnya, ada cukup cahaya dari lampu malam yang memberikan sedikit sinar lembut di tubuhnya.
Gue bisa lihat dia cukup jelas.
Gue bisa lihat dia dengan sempurna.
Matanya kembali terkunci sama mata gue. Dia melangkah lebih dekat. Gue penasaran, apa dia pernah mandi bareng sama orang lain sebelumnya, tapi gue enggak tanya.
Kali ini, gue yang melangkah mendekatinya, karena dia kelihatan takut. Gue enggak mau dia takut.
Gue juga takut.
Gue sentuh bahunya dan arahkan dia supaya berdiri di bawah air. Gue enggak menempel ke dia, walaupun gue ingin. Gue jaga jarak di antara kita.
Gue harus.
Satu-satunya yang bersentuhan cuma bib1r kita. Gue cium dia dengan lembut, hampir enggak menyentuh bibirnya, tapi rasanya sakit banget. Lebih sakit daripada cium4n kita yang lain.
Cium4n di mana mulut kita bertabrakan. Gigi kita berbenturan. Cium4n tergesa-gesa yang bikin kita enggak nyaman. Cium4n yang berakhir dengan gue atau dia menggigit bib1r satu sama lain.
Enggak ada cium4n yang sesakit ini, dan gue enggak tahu kenapa.
Gue harus mundur.
Gue bilang ke dia buat kasih gue waktu sebentar, dan dia mengangguk, terus dia sandarkan pipinya ke dada gue.
Gue bersandar ke dinding dan menarik dia lebih dekat sambil menutup mata rapat-rapat.
“Gue enggak bisa lihat apa-apa.” Gue tahu dia enggak mengerti apa yang gue maksud. “Nanti kalau lo pindah ke Jogja dan gue tetap di Jakarta? Gue enggak akan bisa lihat apa-apa setelah itu. Dulu gue bisa lihat masa depan yang gue mau, tapi sekarang gue enggak bisa lihat apa-apa lagi.”
Gue cium air mata yang mengalir di pipinya.
“Gue enggak bisa terus begini,” tegas gue. “Satu-satunya orang yang pingin gue lihat cuma lo, dan kalau gue enggak bisa lakuin itu... enggak akan ada yang berarti lagi. Lo yang bikin semuanya jadi lebih indah, Yesica. Semuanya.”
Gue cium bibirnya dengan keras, dan kali ini enggak terasa sakit sama sekali, “Gue cinta sama lo,” melepaskan semua yang gue rasakan.
Gue cium dia lagi, enggak kasih dia kesempatan buat merespons. Gue enggak perlu dengar dia bilang hal yang sama, dan gue enggak mau dengar dia bilang kalau perasaan gue ini salah.
Tangannya ada di punggung gue, menariknya erat. Kakinya melingkar sepertinya dia ingin menjadi satu sama gue. Dia sebenarnya sudah jadi bagian dari gue.
Kita jadi lebih tergesa-gesa. Gigi kita bertabrakan, bibir kita tergigit, semuanya terengah-engah, saling menyentuh.
Dia mendesah, dan gue bisa merasakan dia berusaha menjauh, tapi tangan ini terlanjur membelit rambutnya, dan menutup mulutnya dengan putus asa.
Dahi kita menempel, terengah-engah, berusaha buat mengendalikan emosi biar enggak meledak.
“Tama,” katanya dengan napas tersengal. “Tama, gue cinta sama lo. Gue takut banget sekarang. Gue enggak mau kita berakhir.”
Gue mundur sedikit dan menatap matanya.
Dia menangis.
Gue enggak mau dia takut dan bilang ke dia kalau semuanya bakal baik-baik saja. Bilang kalau kita bakal tunggu sampai lulus, baru kita jujur ke mereka.
Gue bakal cerita dan mereka harus terima. Begitu kita keluar dari rumah ini, semuanya bakal beda. Semuanya bakal baik-baik saja. Mereka harus kasih buat restu kita.
Gue bilang ke dia, kita pasti bisa.
Dia mengangguk cepat. "Kita bisa, kok," jawabnya, setuju sama gue.
Gue tempel kening gue ke keningnya. "Kita bisa, Yesica," tegas gue."Gue enggak bakal ninggalin lo sekarang. Gak mungkin."
Dia pegang wajah gue dengan kedua tangannya, terus dia cium gue.
Ciumannya menghapus beban berat di dada gue, sampai akhirnya melayang. Gue merasa dia juga melayang bareng gue.
Gue putar tubuhnya sampai punggungnya menempel ke dinding. Gue angkat tangannya ke atas kepala dan coba jalin jari-jari dia, tekan tangannya ke tembok keramik di belakangnya.
Kita bertatap mata satu sama lain dan kita sepenuhnya melanggar aturan nomor dua.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments