Keluarga Kita

...Tama...

...𓆉𓆝𓆟 𓆞 𓆝 𓆟𓇼...

Enam tahun yang lalu...

Ian tahu.

Karena gue harus kasih tahu dia. Sejak minggu pertama Yesica ada di sekolah, dia tahu kalau semuanya sudah berubah. 

Iya, dia juga tahu kalau Yesica pindah ke rumah gue sekarang, dan Yesica juga tahu kalau Ian mengetahui semuanya. Tapi dia enggak akan bilang apa-apa.

Gue kasih Yesica kamar gue pas dia pindah, dan gue ambil kamar belakang. Karena kamar gue satu-satunya kamar yang punya kamar mandi sendiri. Gue mau Yesica dapat kamar yang terbaik.

“Lo mau gue taruh kardus ini di sini, Yes?” tanya Ian ke Yesica. 

Yesica tanya balik isinya apa, dan Ian bilang kalau itu semua isinya Bra dan celana dalam dia.

“Mungkin gue harus taruh aja di kamarnya Tama.” Imbuh Ian.

Yesica melotot ke Ian. “Husssh,” katanya. 

Ian ketawa. Dia suka karena dia ikut tahu rahasia pribadi kayak begini.

Ian pergi setelah semua kardus diangkut.

Bokap gue lewat dan berhenti. Berhenti berarti gue juga harus berhenti. “Makasih, Tama.”

Dia pikir gue baik-baik saja dengan ini. Dia membiarkan wanita lain menggantikan sisa-sisa kenangan Nyokap gue.

Gue enggak setuju dengan itu. Gue cuma berpura-pura menerimanya, karena semuanya enggak penting. 

Cuma Yesica yang penting.

Bukan dia.

“Oke,” jawab gue.

Bokap gue mulai jalan, terus berhenti lagi. Dia bilang kalau dia menghargai gue yang selama ini sudah bersikap baik sama Yesica. Dia juga bilang kalau dia berharap bisa kasih gue seorang saudara waktu gue masih kecil. Dia bilang kalau gue pasti bakal jadi kakak yang baik. 

Kakak...

Yang...

Baik...

Kata-kata mengerikan itu keluar dari mulutnya.

Gue balik ke kamar Yesica. Gue tutup pintunya. Hanya kita berdua. Kita tersenyum.

Gue jalan ke dia, peluk dia, terus cium leh3rnya.

Sudah tiga minggu sejak malam pertama gue cium dia. Gue bisa hitung berapa kali gue cium dia sejak itu. Kita enggak bisa kayak begini di sekolah. Kita enggak bisa kayak begini di tempat umum. Kita juga enggak bisa kayak begini di depan orang tua kita.

Gue cuma bisa menyentuh dia pas kita lagi sendirian di rumah, dan kita belakangan ini jarang banget sendirian.

Kalau sekarang?

Sekarang gue lagi cium dia.

“Kita harus bikin kesepakatan, biar kita enggak kena masalah,” katanya. 

Dia menjauh dari gue. Dia duduk di meja belajar, dan gue duduk di tempat tidur.

“Pertama,” katanya, “Jangan ciuman saat mereka di rumah. Gue takut.”

Gue enggak mau setuju dengan aturan itu, tapi gue malah mengangguk.

“Kedua, enggak ada raba-raba.”

Gue enggak mengangguk lagi. “Selamanya?” tanya gue.

Dia mengangguk.  

Oh, gue benar-benar benci anggukan itu.

“Kenapa?”

Dia ambil napas berat. “Itu bikin kita sulit buat pisah saat waktunya habis. Lo tahu itu.”

Dia benar. Tapi dia juga salah, dan gue punya firasat dia bakal sadar nanti.

“Boleh gue tanya aturan nomor tiga sebelum gue setuju sama aturan nomor dua?”

Dia senyum. “Gak ada aturan nomor tiga.”

Gue senyum. “Jadi raba-raba aja, kan yang dilarang? Tapi kalau pegang-pegang, boleh, kan?”

Dia nutup mukanya dengan tangan. “Ya, Tuhan, sama aja!"

Dia lucu banget pas malu.

“Gue punya banyak hal yang pengen gue lakuin sama lo dan cuma ada enam bulan lagi untuk ngelakuinnya.”

“Kita lihat nanti, tergantung situasi,” katanya.

“Oke,” sahut gue, sambil mengagumi kemerahan di pipinya. “Yesica? Lo belum pernah?”

Pipinya jadi lebih merah. Dia geleng-geleng kepala dan bilang enggak. Dia tanya balik ke gue.

“Enggak sama sekali,” jawab gue, jujur.

Dia mau pastikan kalau gue perjaka atau enggak, tapi suaranya malu-malu.

“Tapi sekarang setelah ketemu lo, gue enggak kepingin lagi jadi perjaka.”

Dia suka gue bilang itu ke dia.

Gue berdiri dan siap-siap ke kamar baru gue buat mulai beres-beres. 

Sebelum keluar, gue kunci pintu kamar dia dari dalam, terus gue balik dan senyum ke dia.

Gue pelan-pelan jalan ke dia. Ambil tangan dia dan tarik dia sambil berdiri. Gue peluk dia dari belakang dan tarik dia ke arah gue.

Gue cium dia.

Episodes
Episodes

Updated 64 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!