Jus di Meja

“Kalau udah enam tahun dari terakhir kali lo ciuman sama cewek, terus kenapa lo cium gue? Gue kira lo bahkan enggak suka sama gue. Lo susah banget ditebak.”

“Bukan berarti gue enggak suka sama lo, Tia.” Dia resah. “Gue cuma enggak mau suka sama lo. Gue enggak mau suka sama siapa pun. Gue enggak mau pacaran. Gue enggak mau cinta. Gue cuma...”

Dia lipat tangannya lagi di dada dan lihat ke lantai.

“Lo cuma apa?” tanya gue, memaksa.

Matanya perlahan naik.

“Gue tertarik sama lo, Tia,” katanya dengan suara rendah. “Gue mau lo, tapi gue cuma mau body lo aja, enggak yang lain.”

Gue enggak punya pikiran lagi. Otak gue cair. Hati gue luber kayak mentega.

Dia baru saja mengaku kalau dia cuma mau hubungan tanpa status alias s3ks oriented aja sama gue. Dia cuma enggak mau ini berlanjut ke hubungan yang lebih serius.

Gue enggak tahu kenapa ini malah bikin gue merasa terhormat.

Gue enggak tahu mau ngomong apa. Kita punya obrolan yang paling aneh dan canggung sejak gue ketemu dia dan ini jelas yang paling aneh.

“Obrolan kita aneh banget,” kata gue.

Dia ketawa dengan rasa lega. “Iya.”

Gue buka kaki yang tadinya menyilang. Dia memperhatikannya. 

"Jadi, Tama," tegas gue. "Coba, biar gue pastiin lagi. Kalau lo emang udah enam tahun enggak berhubungan s3ks. Enam tahun juga enggak punya pacar. Pastinya lo enggak suka hubungan dengan cinta. Tapi lo laki-laki dan laki-laki punya kebutuhan."

Dia tatap gue, masih sambil tersenyum. "Lanjut," balasnya dengan senyum yang enggak sengaja seksi itu.

"Lo enggak mau jatuh cinta sama gue, lo cuma tertarik buat berhubungan s3ks sama gue, dan lo enggak mau pacaran sama gue. Lo juga enggak mau gue jatuh cinta sama lo."

Gue masih bikin dia senyum. Dia masih senyum. "Gue enggak nyangka gue sebegitu mokondo-nya."

Lo enggak begitu, Tama. Percaya sama gue.

"Kalau kita sama-sama sepakat ngelakuin ini, menurut gue kita harus jalaninnya pelan-pelan," kata gue sambil bercanda. "Tapi gue enggak yakin, lo udah siap.” 

Dia kehilangan senyumnya dan melangkah pelan ke arah gue. Gue berhenti senyum, karena dia bikin gue ngeri.

Saat dia sampai di depan gue, dia letakkan tangan di sisi gue, terus mendekat ke leher gue. "Udah enam tahun, Tia. Percaya, deh, kalau gue bilang... Gue siap."

Semua kata itu jadi favorit baru gue juga.

Dia mundur dan mungkin tahu gue lagi enggak bernapas. Dia mundur ke tempatnya yang tadi.

Dia geleng-geleng kepala, "Gue enggak percaya gue baru minta jatah ke lo. Cowok macam apa yang ngelakuin itu?"

Gue telan ludah. "Hampir semua cowok."

Dia ketawa, tapi gue bisa lihat dia merasa bersalah. Mungkin dia takut karena gue enggak bisa tangani ini.

Gue taruh gelas jus, terus tekan telapak tangan gue ke meja dan sedikit membungkuk.

"Dengar, Tama. Lo masih single. Gue juga single. Lo kerja terus selama ini, dan gue terlalu fokus sama karier gue. Bahkan kalau kita mau hubungan serius dari ini, itu enggak akan berhasil. Hidup kita enggak bakal cocok. Kita juga bukan teman dekat, jadi kita enggak perlu khawatir hubungan kita rusak. Lo mau hubungan itu, kan, sama gue? Gue bakal kasih."

"Yakin?" tanyanya. 

Gue angguk. "Iya."

"Oke."

Kita masih beberapa meter jauhnya. Gue baru saja bilang ke cowok ini kalau gue bakal mau berhubungan s3ks tanpa imbalan apa-apa, dan dia masih jauh di sana, sementara gue di sini, dan makin jelas kalau gue salah menilai dia.

Dia lebih gugup daripada gue. Meski gugup kita datang dari tempat yang berbeda. Dia gugup karena enggak mau ini jadi lebih serius. Sedangkan gue gugup karena enggak yakin kalau bisa jalani hubungan ini dengannya.

Gue punya firasat kalau ini enggak akan jadi masalah nantinya. Dan gue duduk di sini dengan posisi ter-seksi, berpura-pura baik-baik saja. Mungkin kalau dimulai dari sini, nantinya bakal jadi sesuatu yang lebih seru.

“Yah, kita enggak bisa lakuin itu sekarang,” katanya.

Sialan.

“Kenapa enggak?”

“Satu-satunya kond*m yang gue punya di dompet udah pasti hancur sekarang. Udah enam tahun,”

Gue ketawa.

Gue suka banget lelucon dia yang merendah itu.

“Gue mau ciuman lagi,” katanya dengan senyum penuh harapan.

Gue sebenarnya terkejut, dia belum cium gue. “Iya.”

Dia perlahan-lahan balik ke tempat gue duduk, sampai lutut gue ada di sisi pinggangnya. Gue perhatikan matanya, karena dia memperhatikan, menunggu kalau seandainya gue akan berubah pikiran.

Gue enggak bakal berubah pikiran.

Dia angkat tangannya dan sentuh rambut gue, menyapu pipi dengan ibu jarinya. Dia tarik napas berat sambil lihat bibir gue. “Lo bikin gue susah bernapas, Tia.”

Dia menyelesaikan kalimatnya dengan ciumannya, membawa bibirnya ke bibir gue. Setiap bagian dari diri gue yang belum meleleh di hadapannya sekarang jadi cair seperti bagian dari diri gue yang lain.

Gue coba ingat kapan terakhir kali mulut cowok terasa seindah ini. Lid4hnya menyapu bibir gue, terus masuk, mencicipi, mengisi, dan sekarang dia milik gue.

Oh, Tuhan.

Gue... 

Suka... 

Bibirnya... 

Gue miringkan kepala agar bisa mencicipi lebih banyak. Dia miringkan kepalanya juga untuk mencicipi lebih banyak dari bibir gue.

Lid4hnya punya ingatan yang bagus, karena dia tahu persis caranya. Dia turunkan tangan yang cedera dan letakkan di pah4, sementara tangan satunya menggenggam belakang kepala gue, menempelkan bibir kita.

Tangan gue enggak lagi menahan bajunya, tapi menjelajahi lengan, leh3r, punggung, dan rambutnya.

Gue mengerang pelan, dan suara itu bikin dia menempel lebih dalam ke gue, menarik gue beberapa inci lebih dekat ke tepi meja.

“Iya, kamu jelas bukan gay,” kata seseorang dari belakang kita.

Ya,ampun.

Bokap gue.

Sial.

Tama menjauh.

Gue melompat dari meja.

Bokap gue melewati kita.

Dia buka kulkas dan ambil botol air, seolah-olah dia baru saja melihat anak perempuannya ‘digituin’ sama tamunya tiap malam.

Dia menengok ke kita, terus minum pelan-pelan. Habis itu, dia menutup botol airnya dan memasukkannya lagi ke kulkas. Dia tutup kulkas dan jalan ke arah kita.

"Tidur, Tia," katanya sambil keluar dari dapur.

Gue tutup mulut dengan tangan. Tama tutup mukanya dengan tangannya. Kita berdua benar-benar malu. Dia lebih malu daripada gue, gue yakin.

“Kita harus tidur,” kata Tama.

Gue setuju.

Kita keluar dari dapur tanpa saling menyentuh. Kita sampai di pintu kamar tidur gue lebih dulu, jadi gue berhenti, putar badan, dan menghadap dia. Dia juga berhenti.

Dia lihat kiri, terus kanan, buat memastikan kita lagi sendirian. Dia maju satu langkah dan mencuri ciuman lagi. Punggung gue menempel di pintu kamar, tapi dia masih bisa menarik bibirnya.

“Lo yakin ini enggak apa-apa?” tanya dia, mencari keraguan di mata gue.

Gue enggak tahu. Rasanya enak, dia juga enak, dan gue enggak bisa memikirkan hal lain selain ingin terus bersamanya. Tapi, alasan di balik enam tahun dia yang gue khawatirkan.

“Lo kebanyakan mikir,” balas gue sambil mencoba senyum.

“Kalau kita bikin aturan, setuju gak?” Dia tatap gue diam-diam sebelum mundur satu langkah.

“Boleh,” jawab gue.

“Gue cuma bisa bikin dua aturan sekarang.”

“Apa aja?”

Mata dia fokus ke mata gue beberapa detik.

“Jangan tanya soal masa lalu gue,” katanya tegas. “Dan jangan ngarepin masa depan dari gue.”

Gue enggak suka sama aturan-aturan itu. Keduanya bikin gue ingin batalkan semuanya dan kabur, tapi gue malah mengangguk. Gue mengangguk karena gue bakal ambil apa saja yang bisa gue dapat.

Gue bukan Sintia saat bersama Tama. Gue kayak cairan, dan benda cair enggak tahu bagaimana caranya menjadi keras atau berdiri tegak. Air akan terus mengalir.

Itu yang gue lakukan sama dia.

“Gue cuma punya satu aturan,” kata gue pelan. Dia menunggu aturan gue.

Gue enggak bisa bikin aturan.

Gue enggak punya aturan.

Kenapa gue enggak punya aturan?

Dia masih menunggu. “Gue belum tahu apa aturannya. Tapi, pas gue ingat, lo harus ngikutin.”

Tama ketawa. Dia maju dan cium dahi gue, terus jalan ke kamarnya. Dia buka pintu tapi melirik gue sebentar sebelum menghilang ke dalam kamar.

Gue enggak yakin, tapi gue rasa ekspresi yang baru saja gue lihat di wajahnya itu adalah bentuk ketakutan. Gue cuma ingin tahu apa yang dia takuti, karena gue tahu persis apa yang gue takuti sekarang.

Gue takut bagaimana ini akan berakhir.

Terpopuler

Comments

Ziaroh Akhromah

Ziaroh Akhromah

kaka nya ke yang mergoki, eh malah Bpk nya

2025-01-20

0

lihat semua
Episodes
Episodes

Updated 64 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!