...Sintia...
...𓆉𓆝𓆟 𓆞 𓆝 𓆟𓇼...
"Gue harus ke toilet."
Amio mengeluh, "Lagi?"
"Ya iyalah, gue enggak pipis hampir dua jam," jawab gue sambil bertahan.
Sebenarnya, gue enggak benar-benar kebelet, tapi gue cuma butuh keluar dari mobil ini.
Setelah ngobrol sama Tama semalam, mobil ini rasanya beda banget kalau ada dia di dalamnya. Rasanya makin canggung karena tiap menit yang lewat tanpa ada suara dari dia bikin gue jadi mikir, sebenarnya apa yang ada di kepalanya?
Apa dia menyesal dengan obrolan kita semalam?
Apa dia bakal pura-pura itu enggak pernah terjadi?
Gue harap Bokap gue juga pura-pura kalau itu enggak pernah terjadi.
Sebelum kita cabut tadi pagi, gue duduk di meja makan sama Bokap waktu Tama masuk. “Tidur nyenyak, Tama?” tanya Bokap gue waktu dia duduk.
Gue kira dia bakal malu, tapi dia malah nyengir kecil.
“Enggak terlalu,” jawabnya. “Anak Om ngorok kalau tidur,”
Bokap gue mengangkat gelasnya ke arah Tama. “Bagus, itu akibatnya kalau kamu sekamar sama Amio.”
Untung saja Amio belum duduk dan dengar komentar Bokap gue soal itu. Tama diam sepanjang sarapan, dan waktu gue lihat dia ngomong lagi adalah waktu kita bertiga sudah di mobil.
Tama datangi Bokap dan salaman, ngomong sesuatu yang cuma bisa didengar sama Bokap gue. Gue mencoba baca ekspresi Bokap, tapi dia pintar banget buat menutupinya.
Bokap gue hampir sama jagonya kayak Tama dalam menyembunyikan pikirannya.
Gue benar-benar ingin tahu apa yang Tama bicarakan ke Bokap tadi pagi sebelum kita cabut. Gue juga ingin tahu balasan Bokap gue dari pertanyaan-pertanyaan Tama.
Dulu waktu kecil, gue sama Amio selalu setuju kalau kita punya kekuatan super, kita berdua kepingin bisa terbang. Tapi sekarang setelah gue kenal Tama, gue berubah pikiran.
Kalau gue punya kekuatan super, gue kepingin bisa menyusup. Gue ingin masuk ke dalam pikirannya biar bisa lihat semua yang dia pikirkan. Gue ingin masuk ke hatinya dan sebarkan diri gue kayak virus. Gue bakal menyebut diri gue The Infiltrator.
Iya, itu keren juga kedengarannya.
“Yaudah, sono pipis,” kata Amio dengan nada kesal sambil mengerem mobil.
Gue harap gue masih SMA biar bisa panggil dia ‘berengsek’. Tapi orang dewasa enggak panggil saudara mereka dengan sebutan itu.
Gue keluar dari mobil dan merasa sedikit lebih lega, sampai Tama juga keluar dari mobil dan masuk ke dunia luar.
Sekarang Tama kelihatan makin besar, dan paru-paru gue jadi makin kecil. Kita jalan bareng ke pom bensin, tapi enggak ada satu pun dari kita yang ngomong.
Lucu, bagaimana itu bisa terjadi.
Gue enggak tahu bagaimana caranya ngomong sama dia. Gue enggak tahu apa yang dia pikirkan. Tapi hati ini terus ngomong sama mata gue.
Ngomong, dong!
Please, katakan sesuatu.
Ceritakan semua yang mau lo ceritakan.
Gue penasaran, di dalam hati dia lagi ngomong apa.
Begitu kita di dalam, dia yang lebih dulu menemukan tanda toilet, jadi dia menoleh lalu mengangguk dan jalan di depan gue. Dia yang memimpin. Gue mengikuti. Soalnya dia kayak benda padat, sementara gue benda cair, dan sekarang, gue cuma jadi bayangannya, di belakang.
Sial.
Pas kita sampai di toilet, dia masuk ke kamar mandi cowok tanpa ragu. Dia sama sekali enggak menoleh ke gue. Dia enggak tunggu gue buat masuk lebih dulu ke toilet cewek.
Gue dorong pintu, tapi gue sebenarnya enggak perlu ke toilet. Gue cuma ingin bernapas, tapi dia enggak kasih gue ruang.
Dia itu seperti sedang menyerbu. Gue enggak yakin dia sengaja melakukan itu. Dia cuma menyerbu pikiran gue, perut gue, paru-paru gue, dan dunia gue.
Mungkin itu kekuatan super dia.
Invasi.
The Invader dan The Infiltrator. Kayaknya artinya mirip, jadi gue rasa kita tim yang cocok.
Gue cuci tangan dan menghabiskan waktu cukup lama biar kelihatan kalau gue memang benar-benar harus berhenti di sini.
Gue buka pintu kamar mandi, dan dia sudah menyerbu lagi. Dia berdiri di depan pintu yang mau gue lewati.
Dia enggak gerak, walaupun dia lagi menyerbu. Tapi sebenarnya gue juga enggak ingin dia pergi, jadi gue biarkan dia di situ.
“Mau minum enggak?” tanyanya.
Gue geleng-geleng kepala. “Gue udah punya air di mobil.”
“Laper?”
Gue bilang enggak. Dia kelihatan sedikit kecewa karena gue enggak mau apa-apa. Mungkin dia juga belum ingin balik ke mobil.
“Gue pingin permen,” kata gue.
Senyum langka dan berharganya pelan-pelan muncul. “Gue beliin lo permen, deh.”
Dia balik dan jalan ke rak permen. Gue berhenti di sebelahnya dan melihat pilihan yang ada. Kita memperhatikan permen itu terlalu lama. Gue sebenarnya enggak benar-benar kepingin, tapi kita berdua pura-pura saja.
“Aneh ya,” bisik gue.
“Apa yang aneh?” balasnya. “Milih permen atau pura-pura enggak kepingin kita ada di kursi belakang sekarang?”
Wow.
Gue merasa kayak benaran menyusup ke pikirannya. Cuma bedanya, kali ini dia ngomong dengan sukarela. Kata-kata yang bikin gue merasa senang.
“Keduanya,” jawab gue dengan tenang. Gue berbalik menghadap dia. “Lo ngerokok?”
Dia kasih gue tatapan itu lagi. Tatapannya bilang kalau gue aneh.
Gue enggak peduli.
“Enggak,” jawabnya santai.
“Ingat permen rokok yang dijual waktu kita kecil?”
“Iya,” katanya. “Kalau dipikir-pikir, agak serem juga sih.”
Gue mengangguk. “Gue sama Amio dulu sering beli itu. Sekarang, enggak bakal gue izinin dia beli permen itu.”
“Kayaknya udah enggak diproduksi lagi,” katanya.
Kita balik memperhatikan permen lagi.
“Lo?” tanya Tama.
“Apa?”
“Ngerokok?.”
Gue geleng kepala. “Enggak.”
“Bagus,” tegasnya. Kita masih tatap permen itu sebentar lagi. Dia berbalik menghadap gue, dan gue melirik ke atas, ke arahnya. “Lo beneran pingin permen, Tia?”
“Enggak.”
Dia ketawa. “Kayaknya kita harus balik ke mobil.”
Gue setuju, tapi enggak ada dari kita yang bergerak. Dia menyentuh tangan gue, lembut banget, seolah-olah dia tahu kalo dia terbuat dari lava dan gue dari air laut.
Dia genggam dua jari gue, bahkan enggak sampai pegang seluruh tangan gue, dan menariknya lembut.
“Tunggu,” kata gue sambil tarik balik tangannya. “Apa yang lo omongin ke bokap gue tadi pagi? Sebelum kita berangkat?”
Jarinya menggenggam lebih erat, dan ekspresinya enggak berubah dari tatapan tajam yang sudah dia sempurnakan. “Gue minta maaf ke dia.”
Kita sampai di mobil. “Antreannya panjang,” lapor Tama ke Amio pas kita berdua ada di dalam.
Amio langsung ambil gas dan ganti Channel radio. Dia enggak peduli seberapa panjang antreannya. Dia enggak curiga, atau dia pasti sudah tahu sesuatu.
Kita berjalan selama sekitar lima belas menit sebelum gue sadar kalau gue sudah enggak memikirkan Tama lagi.
Selama lima belas menit terakhir, pikiran gue cuma berisi kenangan.
“Ingat waktu kita kecil dulu, kita pingin banget punya kekuatan super buat terbang?”
“Iya, gue inget,” jawab Amio.
“Sekarang lo udah punya kekuatan super lo. Lo bisa terbang.”
Amio senyum ke gue dari kaca spion. “Iya,” katanya. “Kayaknya itu bikin gue jadi superhero.”
Gue bersandar di kursi dan lihat jendela, sedikit iri sama mereka berdua. Iri sama hal-hal yang sudah mereka lihat. Tempat-tempat yang sudah mereka kunjungi.
“Gimana rasanya lihat matahari terbit dari atas sana?”
Amio angkat bahu. “Gue enggak terlalu merhatiin,” katanya. “Gue fokus sama kerjaan gue waktu di atas.”
Gue jadi sedih dengarnya.
Jangan anggap itu sepele, Amio.
“Gue lihat,” sahut Tama. Dia melihat keluar jendela, dan suaranya pelan banget sampai hampir enggak kedengaran. “Setiap kali gue di atas sana, gue lihat matahari terbit.”
Tapi dia enggak bilang bagaimana rasanya. Suaranya jauh, kayak dia ingin simpan perasaan itu buat dirinya sendiri.
Oke, gue biarkan dia begitu.
“Lo itu mengganti aturan alam semesta, waktu lo terbang,” kata gue. “Itu keren. Ngelawan gravitasi? Ngelihat matahari terbit dan terbenam dari tempat yang enggak bisa semua orang lihat? Lo benar-benar superhero kalau dipikir-pikir.”
Amio melirik gue dari kaca spion dan ketawa. Tapi Tama enggak ketawa. Dia masih lihat ke jendela.
“Lo nyelamatin nyawa,” kata Tama ke gue. “Itu jauh lebih keren, Tia.”
Kata-katanya langsung meresap ke hati gue.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 64 Episodes
Comments
sihat dan kaya
cantik pemandangannya... indah banget... mentari menyinar bagai disebalik kapas putih...
2024-11-07
0