Dia Jomblo

Lid4hnya ada di dalam mulut gue, dengan lembut merayakan lid4h gue, dan gue bahkan enggak nyangka bagaimana itu bisa terjadi.

Tapi, oke, gue enggak masalah.

Gue suka ini.

Dia mulai berdiri, tapi bibirnya masih melekat di bibir gue. Dia geser tubuh gue beberapa langkah sampai dinding di belakang, menggantikan tangannya yang ada di belakang kepala gue. Sekarang dia menyentuh pinggang gue.

Ya Tuhan, bibirnya aktif banget.

Jarinya mencengkeram lagi, menancap ke pinggul gue.

Ya ampun, dia baru saja mengeluarkan suara. Tangannya bergerak dari pinggang meluncur ke kaki gue.

Bunuh gue sekarang.

Please, bunuh gue sekarang, Tama.

Dia angkat kaki sedikit ke atas di sekitar pinggang, terus menempel ke gue dengan cara yang bikin gue enggak tahan buat mengerang ke mulutnya.

Ciuman itu tiba-tiba berhenti.

Kenapa dia mundur?

Jangan berhenti, Tama.

Dia jatuhkan kaki gue, dan telapak tangannya menabrak dinding di samping kepala gue, seolah-olah dia butuh penopang buat tetap berdiri.

Enggak, enggak, enggak.

Terus.

Tempel lagi bibir lo ke bibir gue.

Gue coba lihat matanya, tapi matanya merem. 

Dia menyesal melakukan ini.

Jangan buka mata lo, Tama.

Gue enggak mau lihat penyesalan di mata lo.

Dia tempelkan dahinya ke dinding di sebelah kepala gue, masih bersandar ke gue, sementara kita berdiri dalam diam, berusaha mengatur napas kita masing-masing.

Setelah beberapa tarikan napas, dia dorong badannya dari dinding, berbalik, dan jalan ke meja.

Untungnya, gue enggak lihat matanya sebelum dia buka, dan sekarang punggungnya menghadap ke gue, jadi gue enggak bisa lihat penyesalan yang dia rasakan.

Dia ambil gunting medis dan mulai memotong gulungan kasa.

Gue masih menempel di dinding. 

Kayaknya gue bakal di sini selamanya.

Gue jadi wallpaper sekarang.

"Seharusnya gue enggak ngelakuin itu," ucapnya.

Suaranya tegas. Keras. Kayak besi. Kayak pedang.

"Iya, enggak apa-apa, kok," jawab gue. Suara gue enggak tegas. Kayak cairan. Menguap lagi.

Dia membalut tangannya yang terluka, terus berbalik menghadap gue.

Matanya sekeras suaranya tadi. Matanya juga tajam, kayak besi. Kayak pedang, yang memotong sisa-sisa harapan yang gue punya buat dia, buat kita, dan buat ciuman itu.

"Jangan biarin gue ngelakuin itu lagi," pintanya.

Tapi gue ingin dia melakukan itu lagi, lebih dari rasa ingin merayakan Tahun Baru ini, tapi gue enggak bilang itu ke dia.

Gue enggak bisa ngomong, karena penyesalan dia tersangkut di tenggorokan gue.

Dia buka pintu kamar mandi dan pergi.

Gue masih menempel di dinding.

Apa-apaan ini?

...──── ୨୧ ────...

Gue enggak lagi nempel di dinding kamar mandi. Sekarang gue malah nempel di kursi, duduk di meja makan, dan entah bagaimana bisa ada di sebelah Tama. Tama, sejak tadi 'itu', belum ngomong lagi sama gue.

Jangan biarkan gue melakukan 'itu' lagi.

Gue bahkan enggak bisa hentikan dia kalau pun gue mau. Dan iya, gue mau 'itu', mau banget sampai bahkan enggak mood buat makan. Artinya gue ingin 'itu' banget, dan 'itu' sekarang menempel di piring makanan di depan gue.

'Itu' adalah Tama.

Kita.

Saat gue cium Tama dan dia cium gue.

Tiba-tiba haus, gue ambil gelas dan langsung minum setengah airnya dalam tiga tegukan.

"Kamu punya pacar, Tama?" tanya Nyokap gue.

Iya, Ma.

Bagus.

Terus kasih dia pertanyaan kayak begitu, soalnya gue takut buat tanya sendiri. 

Tama membetulkan suaranya. "Enggak, Tante," jawabnya.

Amio ketawa, bikin gue merasa kecewa. Ternyata Tama punya pandangan yang sama soal hubungan, sama kayak Amio, dan kakak gue merasa lucu kalau Nyokap gue pikir Tama bisa punya komitmen.

Gue tiba-tiba merasa ciuman yang tadi kita lakukan enggak berdampak apa pun buat dia.

"Wah, kamu lumayan juga ya," kata Nyokap gue. "Pilot, single, ganteng, sopan."

Tama enggak merespons. Dia senyum sedikit dan langsung makan nasi. Dia enggak ingin membicarakan dirinya sendiri.

Sayang banget.

"Tama itu udah lama enggak punya pacar, Ma," tambah Amio, membenarkan kecurigaan gue. "Tapi bukan berarti dia single."

Nyokap gue memiringkan kepala, bingung. Gue juga. Tama juga.

"Maksudnya gimana, tuh?" tanya Nyokap. Terus tiba-tiba matanya melebar. "Oh, itu! Maaf, ya. Ini gara-gara Mama penasaran."

Dari cara Nyokap ngomong di bagian terakhir kayaknya dia baru saja paham sesuatu yang gue masih belum paham. Dia minta maaf ke Tama sekarang. Dia malu.

Gue masih bingung.

"Papa kelewatan sesuatu ya?" Bokap gue tanya. Nyokap gue tunjuk Tama pakai sendoknya. "Dia gay, Pa," katanya.

"Huss, bukan," tegas Bokap gue, sambil ketawa sama dugaan nyokap.

Gue geleng-geleng.

Jangan geleng-geleng, Tia.

"Tama, bukan gay," latah gue dengan nada lantang, menatap ke Nyokap gue.

Kenapa gue bilang itu dengan suara keras?

Sekarang Amio kelihatan bingung. Dia memutar matanya ke arah Tama. Sendokkan nasi Tama berhenti di udara, dan alisnya terangkat. Dia lagi balik menatapi Amio.

"Oh, sial," kata Amio. "Gue enggak tahu kalau itu rahasia. Bro, sorry banget."

Tama menurunkan sendoknya ke piring, masih memperhatikan Amio dengan ekspresi bingung. "Gue bukan gay."

Amio mengangguk. Dia mengangkat tangannya dan mulutnya bilang, "Sorry," seperti dia enggak sengaja telah mengungkapkan sebuah rahasia besar.

Tama menggeleng. "Amio... gue bukan gay. Enggak pernah dan enggak akan pernah. Apa-apaan sih, bro?"

Amio dan Tama saling tatap, sementara yang lain pada menaruh matanya ke Tama.

"Ta–tapi." Amio mulai gagap. "Lo pernah bilang... sekali lo pernah bilang..."

Tama menaruh sendoknya lagi dan tutup mulutnya pakai tangan, menahan ketawanya yang keras.

Ya Tuhan, Tama. Ketawa dong.

Ketawa, ketawa, ketawa.

Tolong anggap ini hal paling lucu yang pernah terjadi, soalnya ketawa lo lebih enak daripada menu makan malam ini.

"Apa yang gue bilang sampe bikin lo pikir gue gay?"

Amio duduk bersandar di kursinya. "Gue enggak ingat persisnya. Lo bilang sesuatu soal enggak pernah dekat sama cewek udah lebih dari tiga tahun. Gue kira itu cara lo bilang lo gay."

Sekarang semua orang ketawa. Termasuk gue.

"Itu udah lebih dari tiga tahun yang lalu! Jadi selama ini, lo pikir gue gay?"

Amio masih bingung. "Tapi..."

Tama sampai keluar air mata gara-gara ketawa.

Indah banget.

Gue merasa kasihan sama Amio. Dia agak malu. Tapi gue suka bagaimana Tama merasa ini lucu. Gue suka dia enggak merasa malu.

"Tiga tahun?" Bokap gue tanya, masih terpikir hal yang sama dengan apa yang gue pikirkan.

"Itu tiga tahun yang lalu," kata Amio, akhirnya ikutan ketawa bareng Tama.

"Mungkin sekarang udah enam tahun."

Suasana di meja perlahan jadi sepi. Ini bikin Tama malu.

Gue terus memikirkan ciuman tadi di kamar mandi dan gue tahu banget kalau itu sudah pasti enggak ada enam tahun sejak dia bareng cewek.

Cowok dengan bibir yang kayak begitu pasti mengerti cara memakainya, dan gue yakin itu sering dia pakai. Dia begitu terampil memakai bibir itu, seperti atlet yang sering berlatih.

Gue enggak mau memikirkan itu.

Episodes
Episodes

Updated 64 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!