15. Semi Pacaran

Selain membantu Ardhan menyiapkan makanan dan minuman, dari video yang ibu Sundari terima, Arini juga tampak layaknya pendengar baik. Tatapan Arini kepada Ardhan menjadi bukti. Tatapan sungkan yang masih dipenuhi kecanggungan, tapi akan refleks menatapnya penuh keteduhan di setiap Ardhan berbicara.

“Ardhan beneran mau sama Arini. Sementara sejauh ini, dia mirip papanya. Ardhan mirip banget papanya. Orangnya gigih banget. Kalau dia sudah ada niat ya sudah, dijalani. Buktinya pas dengan Killa ya sampai putus nyambung selama itu. Coba saja lah, ... lagian sebagai orang tua, kalau terlalu memaksa. Baik bu r uknya anak juga yang merasakan karena anak juga yang menjalani. Moga saja Ardhan bisa belajar,” lirih ibu Sundari masih duduk di kursi kerjanya. Selain itu ia juga masih memakai jas putih selaku seragam dokter kebanggaannya.

***

Hingga siang menjelang sore, perdebatan sengit antara ibu Minah dan Messi dalam melawan Marini, tak juga mendapatkan hasil. Sebab Arini yang mereka ributkan tak kunjung datang. Jangankan orangnya, sekadar kabar Arini saja, mereka tak punya. Sebab nomor ponsel Arini saja, sudah tidak bisa dihubungi.

Di teras rumah semi permanen milik orang tua Arini yang sudah ditempati Marini, kebersamaan itu terjadi. Ketiganya tak hanya bertiga. Karena selain ada Rasman selaku suami Marini, di sana juga ada perwakilan warga dan dikawal ketua RT. Tentu keadaan tersebut beralasan. Karena kehadiran ibu Minah dan Messi tak hanya menciptakan keributan biasa. Bayangkan saja, ibu Minah sampai membawa palu dan golok. Selain ibu Minah yang tak segan menggunakannya ke Marini.

“Emang kebangetan si Arini. Tahu-tahu ibu masih sakit. Bukannya mikir dan ikut kasih uang buat berobat, ini malah kasih aib!” batin Marini makin jengkel saja kepada sang adik.

***

“Istirahat lah, kalau ada apa-apa, kabari aku!” sergah Ardhan yang mengantar Arini hingga kontrakan.

Walau tak sampai turut membawa barang-barang Arini. Barang-barang yang juga merupakan pemberiannya karena semuanya diboyong oleh sang sopir. Ardhan tetap mengantar Arini hingga kontrakan. Kontrakan yang kemarin malam dan Ardhan jadikan sebagai tempat tinggal sementara untuk Arini. Karena selain agar orang tuanya bisa memantau kemudian mengenal Arini. Dirasa Ardhan yang tak mungkin bersama Arini selama 24 jam, kontrakan tersebut menjadi tempat paling aman untuk Arini.

Ardhan yang masih sibuk dengan ponsel, melihat Arini murung. Entah kesedihan yang mana yang sedang membuat Arini merenung bahkan melamun. Sebab Ardhan yakin, beban hidup Arini terlalu banyak. Hingga saking banyaknya, sekadar mau memikirkan mana dulu, juga bingung.

“Kamu enggak usah terlalu memaksa diri kamu buat diterima keluargaku.” Ardhan rasa, dari semua beban hidup Arini, restu dari pihak Ardhan, menjadi yang paling menguras pikiran maupun emosi Arini saat ini.

Bagi Ardhan, Arini tak mungkin baper apalagi melow gara-gara Akbar. Yang ada, Arini sangat dendam sekaligus ji jik, layaknya apa yang Ardhan rasakan kepada Killa.

“Bukan itu sih, Pak. Kalau restu, aku siap maju karena sudah jadi risiko aku. Lagian yang sebelumnya, aku juga sudah terbiasa menghadapi dua alarm rusak jelmaan rubah betina,” ucap Arini.

“Aku percaya, keluarga Pak Ardhan bisa bersikap jauh lebih manusiawi. Ya pelan-pelan, tapi pasti sambil terus hati-hati. Karena tipikal keluarga maupun orang tua seperti yang Pak Ardhan miliki, mereka akan menjadi orang yang jauh lebih sakit ketika Pak Ardhan maupun orang-orang mereka di sakiti.”

“Aku yakin Pak Ardhan juga tahu, bahwa keluarga khususnya orang tua Pak Ardhan, sangat mengkhawatirkan Pak Ardhan. Apalagi apa yang mantan pasangan kita lakukan, menimbulkan pro kontra. Mau enggak mau, suka enggak suka, keputusan kita membuat apa yang mereka lakukan, juga bikin Pak Ardhan mendapatkan tanggapan miring.” Arini masih berdiri di depan teras kontrakan petak selaku tempat tinggal sementara untuknya. Ia sengaja tak mengizinkan Ardhan masuk jika bukan untuk urusan mendesak, demi menghindari fitnah.

Di hadapan Arini, Ardhan yang awalnya menyimak, jadi melow. Ardhan menyudahi tatapannya kemudian mengakhiri tatapannya.

“Kalau bisa, sisihkan waktu buat keluarga Pak Ardhan. Coba, pilih-pilih kesibukan maupun pekerjaan. Dua puluh empat jam yang Pak Ardhan miliki, jangan full hanya buat kerja. Bukan apa-apa karena semua orang bahkan orang mapan sekalipun pasti butuh duit. Namun Pak Ardhan juga harus memikirkan jangka panjang.”

“Jangka panjang yang aku maksud bukannya bikin pasangan Pak Ardhan selingkuh karena kesepian. Karena selingkuhnya pasangan di saat kita berjuang, ibaratnya itu seleksi alam. Jangka panjang yang aku maksud itu, kesehatan Pak Ardhan.”

“Mungkin sekarang Pak Ardhan masih sanggup dan belum ada keluhan berarti. Nanti saat Pak Ardhan tua, atau malah sebentar lagi. Keluhan karena hidup kurang sehat hanya fokus kerja, pasti berdatangan.”

“Ingat, Pak Ardhan belum punya anak. Nanti giliran anak minta gendong, Pak Ardhan sudah enggak kuat!” Arini bukan bermaksud menakut-nakuti Ardhan. Namun dirasanya, ia harus melakukanya. Sebab ke depannya pun, dirinya yang akan menjadi teman hidup Ardhan. Jadi segala sesuatunya harus dilakukan dari sekarang.

Detik selanjutnya, suasana mendadak hening. Baik Ardhan maupun Arini kompak Diam. Ardhan tampak merenung dan Arini yakini bahwa pria di hadapannya tengah merenungi ucapannya. Sementara Arini masih setia menunggu lanjutan arahan dari Ardhan. Kedua mata Arini masih aktif mengawasi setiap perubahan ekspresi dari Ardhan, khususnya bagian wajah.

“Pak Ardhan bingung, ya? Baru sadar bahwa Pak Ardhan kesepian padahal kesibukan Pak Ardhan luar biasa. Maksudnya, padahal kesibukan Pak Ardhan bikin Pak Ardhan berkomunikasi dengan banyak orang, tapi itu beneran enggak sampai mengisi hati Pak Ardhan. Malahan sekarang Pak Ardhan menyesal, kenapa Pak Ardhan enggak punya banyak waktu dengan keluarga maupun orang tua Pak Ardhan?”

“Tutup dan kunci pintunya. Ayo ngomong panjang lebar begitu di depan orang tuaku,” sergah Ardhan sambil mengantongi ponselnya.

“S–sekarang, ... Pak?” Arini mendadak gugup.

“Ya iya ... lebaran haji sudah lewat, masa kamu mau nungguin lebaran haji atau malah balik ke masa lalu? Balik ke masa lalu, bakalan bikin kamu sama Akbar lagi, loh!”

“Ihhh!” sebal Arini hanya karena nama Akbar sampai disebut. Ia segera menutup kemudian mengunci pintu kontrakannya seperti arahan Ardhan.

Dari gelagat Ardhan yang memimpin langkah, Arini merasa. Bahwa dalam waktu dekat, Ardhan tak akan beraktivitas di luar rumah. Selain sampai mengantongi ponsel, kini Ardhan yang mengantongi kedua tangannya di sisi celana bahan warna abu-abunya, juga melangkah dengan santai. Padahal biasanya, langkah Ardhan mirip angin ribut. Langkah yang masih satu tipe dengan langkah Arini. Selama ini, Arini memang selalu melakukan segala sesuatunya dengan cepat. Karena sejauh ini, beban hidup Arini terlalu banyak. Hingga Arini harus pandai-pandai membagi waktunya.

“Dia melangkah di depan dan sengaja santai. Baru aku sadari, hubungan kami sudah naik level. Mungkin sekarang, kami ini sudah semi pacaran. Bentar deh, entah kenapa, bagiku dekat dengan Pak Ardhan bukan hal yang sulit apalagi menakutkan. Semuanya beneran mengalir begitu saja,” batin Arini.

(Aku terbangun dini hari gara-gara alarm bunyi. Yuk lah, ramaikan ya. Genre cerita mendadak berasa novel cinta romantis gini ya 😅😅😅)

Terpopuler

Comments

Sarti Patimuan

Sarti Patimuan

Arini apes banget punya kakak yang tidak perduli terhadap adiknya

2024-11-06

0

Sandisalbiah

Sandisalbiah

bijak banget sih calon jodohnya Ardhan... 🤭

2025-02-20

0

Kamiem sag

Kamiem sag

kok mau sih Arini punya kakak Marini

2025-02-09

0

lihat semua
Episodes
1 1. Benarkah Ada Rahasia?
2 2. Kecurigaan Dan Atisipasi
3 3. Satu Frekuensi
4 4. Tak Mau Hancur Sendiri
5 5. Selingkug Balas Selingkuh
6 6. Bertukar Pasangan
7 7. Sudah Bulat
8 8. Di Lingkungan Keluarga Ardhan
9 9. Larangan Untuk Orang M!skin
10 10. Langsung Viral
11 11. Pemberian Ardhan
12 12. Seolah Akan Nyata
13 13. Pertemuan yang Meledakkan Emosi
14 14. Pembagian Tugas Dan Agak Gugup
15 15. Semi Pacaran
16 16. Calon Menantu Jalur Korban Perselingkuhan
17 17. Restu
18 18. Peringatan Keras
19 19. Kehidupan Arini
20 20. Dituduh Selingkuh
21 21. Sudah Ada Rasa Sayang
22 22. Peduli
23 23. Pembatalan Pernikahan
24 24. Panggilan Dan Sebutan Untuk Ardhan
25 25. Mesra yang Berbeda
26 26. Serba Cepat Dan Makin Gugup
27 27. Jedag–Jedug
28 28. Akan Ada Balas Dendam
29 29. Merasa Dispesialkan
30 30. Beneran Pengantin Baru
31 31. Ardhan—Kamu Kok Manis Banget, Sih?
32 32. Istri Baru
33 33. Kresek-Kresek
34 34. Kita Harus Menikah~
35 35. Gara-Gara Ganti Istri
36 36. Kabar Kehamilan
37 37. Mengenai Kehamilan Killa
38 38. Keluarga Ardhan
39 39. Keputusan yang Diambil
40 40. Semua yang Sudah Ada Di Depan Mata
41 41. Keputusan yang Sudah Bulat
42 42. Emas Kawin
43 43. Uring-Uringan Sendiri
44 44. Perhiasan Berlian Lima Belas Gram
45 45. Pijat Makin Sayang
46 Empat Puluh Enam
47 Empat Puluh Tujuh
48 Empat Puluh Delapan
49 Empat Puluh Sembilan
50 Lima Puluh
51 Lima Puluh Satu
52 Lima Puluh Dua
53 BONUS
54 BONUS DUA
55 Bonus Tiga
56 Bonus : Muyen
57 Ditikung Kakak Kandung, Dapat Boss Tajir
58 Istri yang (Tak) Diinginkan
Episodes

Updated 58 Episodes

1
1. Benarkah Ada Rahasia?
2
2. Kecurigaan Dan Atisipasi
3
3. Satu Frekuensi
4
4. Tak Mau Hancur Sendiri
5
5. Selingkug Balas Selingkuh
6
6. Bertukar Pasangan
7
7. Sudah Bulat
8
8. Di Lingkungan Keluarga Ardhan
9
9. Larangan Untuk Orang M!skin
10
10. Langsung Viral
11
11. Pemberian Ardhan
12
12. Seolah Akan Nyata
13
13. Pertemuan yang Meledakkan Emosi
14
14. Pembagian Tugas Dan Agak Gugup
15
15. Semi Pacaran
16
16. Calon Menantu Jalur Korban Perselingkuhan
17
17. Restu
18
18. Peringatan Keras
19
19. Kehidupan Arini
20
20. Dituduh Selingkuh
21
21. Sudah Ada Rasa Sayang
22
22. Peduli
23
23. Pembatalan Pernikahan
24
24. Panggilan Dan Sebutan Untuk Ardhan
25
25. Mesra yang Berbeda
26
26. Serba Cepat Dan Makin Gugup
27
27. Jedag–Jedug
28
28. Akan Ada Balas Dendam
29
29. Merasa Dispesialkan
30
30. Beneran Pengantin Baru
31
31. Ardhan—Kamu Kok Manis Banget, Sih?
32
32. Istri Baru
33
33. Kresek-Kresek
34
34. Kita Harus Menikah~
35
35. Gara-Gara Ganti Istri
36
36. Kabar Kehamilan
37
37. Mengenai Kehamilan Killa
38
38. Keluarga Ardhan
39
39. Keputusan yang Diambil
40
40. Semua yang Sudah Ada Di Depan Mata
41
41. Keputusan yang Sudah Bulat
42
42. Emas Kawin
43
43. Uring-Uringan Sendiri
44
44. Perhiasan Berlian Lima Belas Gram
45
45. Pijat Makin Sayang
46
Empat Puluh Enam
47
Empat Puluh Tujuh
48
Empat Puluh Delapan
49
Empat Puluh Sembilan
50
Lima Puluh
51
Lima Puluh Satu
52
Lima Puluh Dua
53
BONUS
54
BONUS DUA
55
Bonus Tiga
56
Bonus : Muyen
57
Ditikung Kakak Kandung, Dapat Boss Tajir
58
Istri yang (Tak) Diinginkan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!