14. Pembagian Tugas Dan Agak Gugup

Ardhan sama sekali tidak menoleh apalagi berhenti. Membuat seorang Killa benar-benar ketakutan.

“Enggak ... Ardhan pasti hanya menggertak. Kami kenal dari zaman masih sama-sama SMA. Aku tahu betul, Ardhan tipikal yang paling enggak suka disenggol. Andai aku sampai dipenjara, dia pasti hanya melakukannya untuk sementara!”

Layaknya Akbar, Killa juga tidak yakin, seorang Ardhan tega menghukumnya. Apalagi meski sering putus nyambung sejak SMA, Killa memiliki banyak cara untuk meluluhkan hati Ardhan. Terlepas dari semuanya, sekeras apa pun Ardhan kepada Killa, pada akhirnya Killa kembali menjadi pemenangnya. Ardhan selalu akan kembali, kemudian mengajak Killa balikan.

“Kasihan banget si Arini. Sok iye banget. Sok cantik banget. Padahal andai dia dan Ardhan enggak sedang sandiwara. Ardhan pasti hanya sedang memanfaatkannya buat bikin aku cemburu!” pikir Killa yang kemudian memilih kembali masuk ke rutan, sebelum dibimbing oleh penjaga di sana.

Pertemuan yang meledakkan emosi, sukses membungkam kehidupan Ardhan maupun Arini. Sepanjang perjalanan, keduanya tidak saling mengobrol. Keduanya apalagi Arini, memilih diam. Namun beberapa kali, Ardhan menerima telepon maupun menelepon seseorang. Dari obrolan yang Ardhan lakukan, kebanyakan dari mereka sengaja memastikan hasil pekerjaan kepada Ardhan. Ada juga yang sengaja Ardhan tunda karena pekerjaan tersebut mengharuskan Ardhan keluar kota. Selain itu, beberapa pekerjaan yang bermasalah juga Ardhan limpahkan ke pak Azzam selaku papa Ardhan.

“Pak Ardhan sibuk banget. Kerja, kerja, kerja, keluarga, masalah, kasus, keluar kota. Namun karena kelakuan Killa, semuanya kacau. Padahal kalau mau, harusnya pak Ardhan yang selingkuh. Pas keluar kota, contohnya. Harusnya pak Ardhan bisa sewa, apa udah lah nikah lagi secara diam-diam. Eh, kok gini. Harusnya gen dari keluarga pak Ardhan, enggak ada yang oleng gitu sih. Malahan yang suka oleng gitu biasanya laki-laki yang identik jadi beban istri!” batin Arini.

“Ngomong, dong. Saya bingung ... bahkan takut kalau kamu enggak ngomong,” ucap Ardhan sambil fokus membalas setiap pesan di ponselnya.

Setelah menunggu satu menit lebih, Arini tetap tidak menjawab. Karenanya, Ardhan berangsur menoleh kemudian menatapnya. Ardhan memastikan apa yang terjadi kepada Arini. Ternyata Arini tengah merenung dan terlihat sangat serius.

“Kenapa?” lirih Ardhan sampai berhenti mengetik.

“Bingung mau mikirin yang mana dulu. Banyak banget soalnya.” Arini berangsur menatap Ardhan.

Walau tak sepenuhnya fokus kepadanya, Arini yakin, Ardhan yang menang sibuk dengan ponsel, tetap akan mendengarkannya.

“Katakan. Aku pasti dengar. Banyak yang harus aku urus dan kebanyakan karena perselingkuhan Killa dan Akbar,” ucap Ardhan.

“Urutannya masih sama, kan?” lirih Arini.

“He’hem!” gumam Ardhan sambil mengangguk dna masih fokus pada ponsel.

“Sepertinya mertua dan iparku bakalan ngajak aku perang.”

“Jika itu sampai terjadi, penjarakan saja. Han cur kan mereka!”

“Penginnya gitu, tapi–”

“Mulai detik ini tidak ada tapi lagi dalam hidup kamu karena kamu punya aku.”

Jujur, balasan Ardhan barusan langsung membuat Arini baper. Jantung Arini seolah mental karenanya, tapi berhasil kembali ke tempat semula. Sebab Arini melarang dirinya untuk berharap lebih kepada Ardhan.

“Mama dan nenek Pak Ardhan, enggak setuju, kan?”

Pertanyaan dari Arini barusan dan terdengar sangat hati-hati, langsung membuat Ardhan diam. Selain itu, Ardhan juga berangsur menoleh kemudian menatap Arini.

“Bukan masalah andai awalnya mereka enggak setuju. Aku serahin itu ke kamu. Buat mereka maupun keluargaku yang lain percaya, kamu layak jadi istriku—”

“B—bentar, Pak. I–ini, beneran serius? Aku pikir–”

“Memangnya selain menikah dengan saya, rencana kamu move on dari perselingkuhan pasangan kita, apa? Merantau ke ibukota? Atau malah jadi TKW dan mengumpulkan uang sebanyak mungkin, agar kamu bisa balas dendam?”

“P—paham banget ....”

“Saya amati, merantau ke ibukota atau jadi TKW, selalu menjadi solusi para wanita desa dalam menyelesaikan masalah rumah tangga maupun perceraian. Apalagi kalau kasusnya seperti kamu, pasti tua bangka langsung antre daftar jadi suami. Sementara andai kamu menolak, pasti dampaknya fatal.”

“Rasanya ... masa? Bertukar pasangan? Pak—” Niat Arini melanjutkan obrolan mereka refleks terhenti. Sebab Ardhan yang baru saja menerima telepon, buru-buru meletakan telunjuk tangan kirinya di tengah bibir berisi milik pria itu.

“Ini beneran mau bertukar pasangan?” pikir Arini tidak yakin. Arini bahkan sulit percaya, bahwa dirinya akan benar-benar dinikahi oleh Ardhan. “Harusnya sih, ... aku enggak sampai dijadikan tumbal pesugihan. Soalnya sejauh ini, keluarga pak Ardhan terkenal lurus. Keluarga cemara-nya kabupaten ini,” batin Arini.

Harusnya Arini bahagia karena dirinya benar-benar akan dinikahi oleh Ardhan. Namun, Arini yang terbiasa mandiri dan cobaan hidupnya melebihi biksu Tong ketika mencari kitab suci, justru jadi ketakutan sendiri.

“Coba dulu lah, optimis. Enggak ada salahnya. Lagian kan aku sudah terbiasa menghadapi marabahaya dari berbagai silu man. Alarm ru sak saja bisa aku hadapi, apalagi ibu Sundari dan nenek Septi yang terkenal sebagai manusia manusiawi? Ini aku hanya ditugasi, agar aku dapat restu dari keluarga pak Ardhan. Bisalah, ... bisa!” lirih Arini yang lagi-lagi tak berani mengusik Ardhan lantaran pria itu begitu sibuk dengan ponsel.

Sampai akhirnya mereka mampir ke rumah makan untuk makan siang yang terbilang sudah sangat telat, Ardhan tetap sibuk.

“Pak, ternyata jadi orang kaya enggak selamanya nikmat, ya?” ucap Arini yang jadi ragu menyentuh makanannya karena Ardhan saja belum melakukannya.

“Loh ... kenapa?” bingung Ardhan berangsur menatap Arini. Ia tak lagi menatap ponselnya.

“Ya iya, ... sekadar makan saja, kayaknya asal masuk mulut. Jadi, ketika orang susah enggak bisa menikmati makanan karena memang enggak ada yang buat dinikmati. Pak Ardhan justru sebaliknya. Banyak yang bisa nikmati, tapi Pak Ardhan enggak punya waktu buat melakukannya.” Arini yang berucap lirih cenderung berbisik-bisik, menatap saksama kedua mata Ardhan. Ia terpaksa begitu karena setiap mata di rumah makan keberadaan mereka, memperhatikan Arini dan Ardhan. Arini berpikir, alasan itu terjadi karena mereka sedang jadi artis dadakan. Efek berita mereka khususnya kasus Killa dan Akbar yang telanjur viral.

“Mungkin karena ini juga, Killa yang terbiasa diperlakukan layaknya tuan putri merasa kurang karena baginya, Pak Ardhan sibuk sendiri. Padahal, alasan Pak Ardhan sibuk juga buat kebaikan kalian. Ya sudah lah, ya ... sudah jadi pilihannya,” ucap Arini.

“Kamu yang bahas, kamu sendiri yang mengakhiri,” ucap Ardhan jadi sewot hanya karena Arini baru saja membahas Killa.

“Maaf, ya. I–ini ....” Arini menyodorkan piringnya yang isinya sudah sangat rapi. Ayam bakar miliknya sudah menjadi bagian dari nasi yang bentuknya nyaris bulat. Semuanya sudah dibagi, dan tinggal lahap. Ia sengaja menyiapkan semua itu untuk Ardhan. Agar Ardhan lebih mudah makan.

Tanpa berkomentar, Ardhan yang paham maksud Arini, sengaja mengambil piring Arini, kemudian memberikan piring miliknya yang isinya masih utuh.

Senyum kecil menghiasi wajah cantik Arini sambil menerima piring milik Ardhan.

“T—tolong suwirin sisa ayam bakarnya juga dong. Aku mau makan, tapi enggak sempat suwir sendiri. Masih harus urus pekerjaan,” ucap Ardhan yang entah kenapa jadi merasa gugup. Padahal, Arini saja amat sangat santai dalam menyikapinya. Selain, dirinya yang tak lagi menyebut dirinya kepada Arini, “saya”. Kini, ia sudah bisa menyebut dirinya kepada Arini, sebagai “aku”.

Seiring senyumnya yang jadi lepas, Arini juga berangsur mengangguk-angguk. Tanpa Arini sadari, bahwa rumah makan keberadaan mereka merupakan rumah makan milik keluarga Ardhan. Hingga setiap mata pekerja bahkan pemiliknya, mendadak menjelma menjadi CCTV. Acara makan siang yang kesorean dan Ardhan lakukan bersama Arini, langsung sampai ke ibu Sundari melalui WA.

(Ramaikan yaaa 😂)

Terpopuler

Comments

Sandisalbiah

Sandisalbiah

nah.. secara gak langsung.. arus membawa mereka berdua ke arah yg lebih serius.. the power of Kk Ros emang ter the best lah kalau soal cocokologi perjodohan buat tohoh ceritanya..

2025-02-20

0

Sarti Patimuan

Sarti Patimuan

Arini gak tau masuk kerumah makan keluarga Ardhan

2024-11-05

0

Inooy

Inooy

hebat nih CCTV nya bertebaran dn bisa hilir mudik k sana kemari 😁

2024-11-12

1

lihat semua
Episodes
1 1. Benarkah Ada Rahasia?
2 2. Kecurigaan Dan Atisipasi
3 3. Satu Frekuensi
4 4. Tak Mau Hancur Sendiri
5 5. Selingkug Balas Selingkuh
6 6. Bertukar Pasangan
7 7. Sudah Bulat
8 8. Di Lingkungan Keluarga Ardhan
9 9. Larangan Untuk Orang M!skin
10 10. Langsung Viral
11 11. Pemberian Ardhan
12 12. Seolah Akan Nyata
13 13. Pertemuan yang Meledakkan Emosi
14 14. Pembagian Tugas Dan Agak Gugup
15 15. Semi Pacaran
16 16. Calon Menantu Jalur Korban Perselingkuhan
17 17. Restu
18 18. Peringatan Keras
19 19. Kehidupan Arini
20 20. Dituduh Selingkuh
21 21. Sudah Ada Rasa Sayang
22 22. Peduli
23 23. Pembatalan Pernikahan
24 24. Panggilan Dan Sebutan Untuk Ardhan
25 25. Mesra yang Berbeda
26 26. Serba Cepat Dan Makin Gugup
27 27. Jedag–Jedug
28 28. Akan Ada Balas Dendam
29 29. Merasa Dispesialkan
30 30. Beneran Pengantin Baru
31 31. Ardhan—Kamu Kok Manis Banget, Sih?
32 32. Istri Baru
33 33. Kresek-Kresek
34 34. Kita Harus Menikah~
35 35. Gara-Gara Ganti Istri
36 36. Kabar Kehamilan
37 37. Mengenai Kehamilan Killa
38 38. Keluarga Ardhan
39 39. Keputusan yang Diambil
40 40. Semua yang Sudah Ada Di Depan Mata
41 41. Keputusan yang Sudah Bulat
42 42. Emas Kawin
43 43. Uring-Uringan Sendiri
44 44. Perhiasan Berlian Lima Belas Gram
45 45. Pijat Makin Sayang
46 Empat Puluh Enam
47 Empat Puluh Tujuh
48 Empat Puluh Delapan
49 Empat Puluh Sembilan
50 Lima Puluh
51 Lima Puluh Satu
52 Lima Puluh Dua
53 BONUS
54 BONUS DUA
55 Bonus Tiga
56 Bonus : Muyen
57 Ditikung Kakak Kandung, Dapat Boss Tajir
58 Istri yang (Tak) Diinginkan
Episodes

Updated 58 Episodes

1
1. Benarkah Ada Rahasia?
2
2. Kecurigaan Dan Atisipasi
3
3. Satu Frekuensi
4
4. Tak Mau Hancur Sendiri
5
5. Selingkug Balas Selingkuh
6
6. Bertukar Pasangan
7
7. Sudah Bulat
8
8. Di Lingkungan Keluarga Ardhan
9
9. Larangan Untuk Orang M!skin
10
10. Langsung Viral
11
11. Pemberian Ardhan
12
12. Seolah Akan Nyata
13
13. Pertemuan yang Meledakkan Emosi
14
14. Pembagian Tugas Dan Agak Gugup
15
15. Semi Pacaran
16
16. Calon Menantu Jalur Korban Perselingkuhan
17
17. Restu
18
18. Peringatan Keras
19
19. Kehidupan Arini
20
20. Dituduh Selingkuh
21
21. Sudah Ada Rasa Sayang
22
22. Peduli
23
23. Pembatalan Pernikahan
24
24. Panggilan Dan Sebutan Untuk Ardhan
25
25. Mesra yang Berbeda
26
26. Serba Cepat Dan Makin Gugup
27
27. Jedag–Jedug
28
28. Akan Ada Balas Dendam
29
29. Merasa Dispesialkan
30
30. Beneran Pengantin Baru
31
31. Ardhan—Kamu Kok Manis Banget, Sih?
32
32. Istri Baru
33
33. Kresek-Kresek
34
34. Kita Harus Menikah~
35
35. Gara-Gara Ganti Istri
36
36. Kabar Kehamilan
37
37. Mengenai Kehamilan Killa
38
38. Keluarga Ardhan
39
39. Keputusan yang Diambil
40
40. Semua yang Sudah Ada Di Depan Mata
41
41. Keputusan yang Sudah Bulat
42
42. Emas Kawin
43
43. Uring-Uringan Sendiri
44
44. Perhiasan Berlian Lima Belas Gram
45
45. Pijat Makin Sayang
46
Empat Puluh Enam
47
Empat Puluh Tujuh
48
Empat Puluh Delapan
49
Empat Puluh Sembilan
50
Lima Puluh
51
Lima Puluh Satu
52
Lima Puluh Dua
53
BONUS
54
BONUS DUA
55
Bonus Tiga
56
Bonus : Muyen
57
Ditikung Kakak Kandung, Dapat Boss Tajir
58
Istri yang (Tak) Diinginkan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!