16. Calon Menantu Jalur Korban Perselingkuhan

Entah sudah berapa kali Arini menghela napas pelan. Mencoba meredam kegugupan yang sudah sangat membuatnya tegang.

Sebelumnya, Arini belum pernah segugup kali ini. Karena biasanya, Arini belum pernah berurusan dengan orang kaya yang juga sangat berpengaruh. Tentunya, alasan Arini harus berurusan dengan mereka, menjadi alasan kenapa sekadar bernapas saja, Arini jadi mengaturnya.

“Andai cuma untuk urusan pekerjaan, atau sekadar sosialisasi, oke. Aku bisa biasa saja. Lah ini, mau jadi bagian mereka. Jadi menantu lewat jalur korban selingkuh!” batin Arini.

Yang membuat Arini tak habis pikir, setelah memintanya duduk di sofa panjang yang ada di ruang tamu kediaman orang tua Ardhan, pria itu justru memisahkan diri. Ardhan justru duduk di sofa panjang satunya lagi, alih-alih duduk di sebelah Arini.

“Ih ... ini aku beneran disuruh tempur sendiri. Mentang-mentang dia sudah bilang, urusan restu jadi tugasku!” batin Arini yang balas melirik sebal Ardhan. Karena selain sofa panjang mereka duduk saling berhadapan dan hanya dipisahkan meja kaca. Sesekali, Ardhan yang sibuk dengan ponsel dan kedua tangan pria itu bekerja di ponsel, akan diam-diam mengawasinya.

“Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang,” batin Arini ketika ibu Sundari dan awalnya ada di klinik, pulang.

Kepulangan ibu Sundari karena sebelumnya, Ardhan menghubunginya. Ardhan sengaja meminta sang mama untuk berkenalan dengan Arini.

Dengan segera Arini berdiri. Walau sempat maju mundur, Arini yang Ardhan dapati sampai gemetaran, akhirnya menghampiri ibu Sundari. Arini sampai membungkuk ketika kedua tangannya menyalami tangan ibu Sundari dengan sangat takzim. Arini juga sampai men c ium punggung tangan ibu Sundari yang ia salami.

“Ternyata dia bisa gugup bahkan takut juga? Lihat, tangannya sampai gemetaran parah gitu. Aku perhatikan, sekadar napas pun jadi dia atur,” batin Ardhan yang diam-diam ingin tertawa. Namun karena ia tak mungkin melakukannya, ia sengaja menahannya.

Bagi Ardhan, kegugupan Arini sekaligus ketakutan wanita itu, tak ubahnya hiburan grati s untuknya. Karena sejauh mengenal, baginya Arini sangat tangguh. Sekelas wonder woman maupun Srikandi saja, tampaknya akan takut jika keduanya harus berhadapan dengan Arini.

“Ini tangan kok bisa selembut ini, ya? Fix, calon bapak mertua sudah resmi menjadi suami sukses. Karena kerja keras seseorang termasuk seorang istri, bisa diukur dari kehalusan telapak tangannya. Kan memang dapat suami yang tepat, bisa jadi istri serasa ratu,,” batin Arini mengomentari kelembutan kedua telapak tangan ibu Sundari dan statusnya merupakan seorang dokter kesehatan sekaligus kecantikan.

Saking lembutnya kedua telapak tangan ibu Sundari, Arini jadi takut lama-lama salaman dengan calon mama mertuanya itu. “Takutnya telapak tangan ibu Sundari kegores jejak perjuangan di sepanjang telapak tangan aku, dan orang-orang bilang ‘kapal’!” batin Arini masih tetap menunduk santun, walau ia tak lagi menyalami ibu Sundari. Selain itu, Arini juga tak langsung duduk. Arini yang melipir ke samping ibu Sundari sengaja menunggu disuruh duduk dulu, baru akan melakukannya.

“Perkenalkan diri kamu. Kamu bilang, mau jadi istriku!” ucap Ardhan yang sebenarnya sudah ingin ngakak.

Wajah Arini yang sudah mulai berkeringat bahkan pucat. Selain Arini yang diam-diam meliriknya sinis, sungguh membuatnya tidak tahan. Ardhan sengaja menunduk guna melepas senyumnya. Namun karena ia tak kuasa menahan tawanya, ia yang telanjur kelepasan tawanya, sengaja pura-pura batuk kemudian pergi dari sana.

“Ih tuh orang malah ... sengaja ya ... dia ketawa itu. Ah iya, dia beneran ketawa. Awas ya kamu Pak Ardhan. Akan ada balasannya. Awassss!” batin Arini yang memergoki sang bos dan juga akan menikahinya, justru sibuk menahan tawa sambil melangkah meninggalkannya.

Dalam diamnya, ibu Sundari yang tipikal lemah lembut, mendapati interaksi manis antara Arini dan Ardhan. Arini yang melirik sebal Ardhan, serta Ardan yang ia pergoki hanya pura-pura batuk. Karena pada kenyataannya, Ardhan malah sibuk menahan tertawa.

“Nama kamu siapa?” lembut ibu Sundari sambil meraih lembut punggung Arini yang ia rangkul.

Namun, rangkulan sangat lembut dari ibu Sundari justru membuat Arini sangat terkejut. Selain sampai mental, seolah sentuhan ibh Sundari tak ubahnya sengatan aliran arus listrik, tubuh Arini juga berakhir meringkuk di sofa panjang tempat Arini sempat duduk.

Sebenarnya ibu Sundari juga merasa syok dengan tanggapan spontan Arini dan ia yakini sangat segan bahkan takut kepadanya. Terlebih biar bagaimanapun, walau dulu hubungannya dan calon mama mertua terbilang mulus tanpa halangan. Ibu Sundari tetap paham bagaimana dilemanya calon menantu kepada calon mertuanya, terlebih di pertemuan pertama ketika mereka berkenalan.

“Ya ampun ... ya ampun ... ini aku beneran malu-maluin!” batin Arini bergegas berdiri. Ia segera meminta maaf kepada ibh Sundari yang ia panggil “ibu”.

Tanggapan Arini yang begitu panik dan bagi ibu Sundari, merupakan ekspresi alami tanpa dibuat-buat, membuat wanita berwajah mungil itu tersenyum. Apalagi ketika ia menoleh ke depan, di sana Ardhan juga masih sibuk menahan tawa. Ardhan tertawa gara-gara Arini. Tawa yang detik itu juga menghipnotis ibu Sundari. Karena apa yang putranya itu alami, jujur saja sangat menyita pikiran bahkan hidupnya. Hingga ketika Ardhan mengabarkan akan langsung menikah dan itu justru dengan istri dari selingkuhan Killa, ibu Sundari benar-benar ketakutan. Namun setelah mengenal Arini yang kini sampai membungkuk beberapa kali sambil meminta maaf kepadanya. Juga cara Ardhan yang bisa dengan bebas menertawakan Arini, ibu Sundari sudah langsung bisa mengambil sikap.

Sekitar lima menit kemudian, Arini jadi tahu alasan Ardhan membiarkannya duduk di sofa panjang sendirian. Sebab pria itu sengaja membuat Arini didekati ibu Sundari.

“Kalian kenal sejak kapan?” lembut ibu Sundari. Tangan kanannya masih betah di punggung Arini.

“Tiga bulan lalu karena saya bekerja di kantor Pak Ardhan,” ucap Arini masih sangat gugup kemudian menatap Ardhan, berharap pria itu melanjutkan atau setidaknya menyempurnakan balasan yang ia berikan.

“Kamu terus-menerus memanggilku Pak, seolah aku justru akan menikah dengan ibumu,” protes Ardhan sambil bersedekap. Ia menatap sebal Arini yang langsung menunduk sebal.

“Ya diajarin, ... pelan-pelan,” ujar ibu Sundari benar-benar sabar dan tak segan menegur sang putra di hadapan Arini.

“Iya ... harus sabar. Karena apa yang terjadi ibarat ka sus strata sosial. Terlalu tiba-tiba, yang mana aku ini kan ... calon menantu jalur korban perselingkuhan,” ucap Arini dan langsung membuat ibu Sundari maupun Ardhan menahan senyum.

Arini tidak tahu, bahwa penyebutan yang ia lakukan dan itu menganggap dirinya sebagai menantu jalur korban perselingkuhan, membuat kedua orang di sana tergelitik.

“Nih orang, ada-ada saja kelakuannya,” batin Ardhan yang tidak tahan dengan ekspresi Arini yang mendadak jadi alim sekaligus lemah lembut.

Terpopuler

Comments

Siti Hadijah

Siti Hadijah

ngakak hbs sampe keluar air mata saking luccunya🤣🤣

2024-11-02

1

Onin Ajah

Onin Ajah

arini bisa aja bilang calon mantu

2024-11-03

0

Jodi Novianti

Jodi Novianti

/Joyful/

2025-03-15

0

lihat semua
Episodes
1 1. Benarkah Ada Rahasia?
2 2. Kecurigaan Dan Atisipasi
3 3. Satu Frekuensi
4 4. Tak Mau Hancur Sendiri
5 5. Selingkug Balas Selingkuh
6 6. Bertukar Pasangan
7 7. Sudah Bulat
8 8. Di Lingkungan Keluarga Ardhan
9 9. Larangan Untuk Orang M!skin
10 10. Langsung Viral
11 11. Pemberian Ardhan
12 12. Seolah Akan Nyata
13 13. Pertemuan yang Meledakkan Emosi
14 14. Pembagian Tugas Dan Agak Gugup
15 15. Semi Pacaran
16 16. Calon Menantu Jalur Korban Perselingkuhan
17 17. Restu
18 18. Peringatan Keras
19 19. Kehidupan Arini
20 20. Dituduh Selingkuh
21 21. Sudah Ada Rasa Sayang
22 22. Peduli
23 23. Pembatalan Pernikahan
24 24. Panggilan Dan Sebutan Untuk Ardhan
25 25. Mesra yang Berbeda
26 26. Serba Cepat Dan Makin Gugup
27 27. Jedag–Jedug
28 28. Akan Ada Balas Dendam
29 29. Merasa Dispesialkan
30 30. Beneran Pengantin Baru
31 31. Ardhan—Kamu Kok Manis Banget, Sih?
32 32. Istri Baru
33 33. Kresek-Kresek
34 34. Kita Harus Menikah~
35 35. Gara-Gara Ganti Istri
36 36. Kabar Kehamilan
37 37. Mengenai Kehamilan Killa
38 38. Keluarga Ardhan
39 39. Keputusan yang Diambil
40 40. Semua yang Sudah Ada Di Depan Mata
41 41. Keputusan yang Sudah Bulat
42 42. Emas Kawin
43 43. Uring-Uringan Sendiri
44 44. Perhiasan Berlian Lima Belas Gram
45 45. Pijat Makin Sayang
46 Empat Puluh Enam
47 Empat Puluh Tujuh
48 Empat Puluh Delapan
49 Empat Puluh Sembilan
50 Lima Puluh
51 Lima Puluh Satu
52 Lima Puluh Dua
53 BONUS
54 BONUS DUA
55 Bonus Tiga
56 Bonus : Muyen
57 Ditikung Kakak Kandung, Dapat Boss Tajir
58 Istri yang (Tak) Diinginkan
Episodes

Updated 58 Episodes

1
1. Benarkah Ada Rahasia?
2
2. Kecurigaan Dan Atisipasi
3
3. Satu Frekuensi
4
4. Tak Mau Hancur Sendiri
5
5. Selingkug Balas Selingkuh
6
6. Bertukar Pasangan
7
7. Sudah Bulat
8
8. Di Lingkungan Keluarga Ardhan
9
9. Larangan Untuk Orang M!skin
10
10. Langsung Viral
11
11. Pemberian Ardhan
12
12. Seolah Akan Nyata
13
13. Pertemuan yang Meledakkan Emosi
14
14. Pembagian Tugas Dan Agak Gugup
15
15. Semi Pacaran
16
16. Calon Menantu Jalur Korban Perselingkuhan
17
17. Restu
18
18. Peringatan Keras
19
19. Kehidupan Arini
20
20. Dituduh Selingkuh
21
21. Sudah Ada Rasa Sayang
22
22. Peduli
23
23. Pembatalan Pernikahan
24
24. Panggilan Dan Sebutan Untuk Ardhan
25
25. Mesra yang Berbeda
26
26. Serba Cepat Dan Makin Gugup
27
27. Jedag–Jedug
28
28. Akan Ada Balas Dendam
29
29. Merasa Dispesialkan
30
30. Beneran Pengantin Baru
31
31. Ardhan—Kamu Kok Manis Banget, Sih?
32
32. Istri Baru
33
33. Kresek-Kresek
34
34. Kita Harus Menikah~
35
35. Gara-Gara Ganti Istri
36
36. Kabar Kehamilan
37
37. Mengenai Kehamilan Killa
38
38. Keluarga Ardhan
39
39. Keputusan yang Diambil
40
40. Semua yang Sudah Ada Di Depan Mata
41
41. Keputusan yang Sudah Bulat
42
42. Emas Kawin
43
43. Uring-Uringan Sendiri
44
44. Perhiasan Berlian Lima Belas Gram
45
45. Pijat Makin Sayang
46
Empat Puluh Enam
47
Empat Puluh Tujuh
48
Empat Puluh Delapan
49
Empat Puluh Sembilan
50
Lima Puluh
51
Lima Puluh Satu
52
Lima Puluh Dua
53
BONUS
54
BONUS DUA
55
Bonus Tiga
56
Bonus : Muyen
57
Ditikung Kakak Kandung, Dapat Boss Tajir
58
Istri yang (Tak) Diinginkan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!