2. Kecurigaan Dan Atisipasi

“Mas Akbar bukan orang kaya loh. Dia juga cuma lulusan SMA kayak aku. Ah masa ... enggak mungkin ah. Mas Akbar enggak mungkin selingkuh. Duit saja enggak punya, masa mau jadi mokondo. Tadi, aku pasti hanya salah dengar, tapi–” Arini yang awalnya merenung serius, dikejutkan dengan kehadiran Akbar. Bukan tanpa alasan. Namun, dering telepon masuk di ponsel Akbar, membuat suaminya terjatuh karena terpeleset setelah lari sangat cepat.

Dering telepon masuk di ponselnya membuat Akbar begitu bersemangat. Seperti biasa, seolah Akbar merupakan raja sekaligus aset penting dalam hidup mereka, ibu Minah dan juga Messi langsung mengamankannya. Keduanya berbondong-bondong membantu Akbar bangun.

“Apaan sih kamu, Mbak. Suami jatuh kok cuma diliatin. Bantu apa gimana?” sewot Messi.

“Sebelum kalian membantu Mas Akbar, aku sudah bantu lewat doa kok. Jangan khawatir, ... doa seorang istri ke suami, enggak pernah putus. Karena kami para istri percaya, doa kami buat suami kami bisa tembus ke langit!” balas Arini dengan santainya sambil merapikan lipstik yang menggumpal di bibir bawahnya.

“Goblok banget, di mana-mana tetap doa seorang ibu yang paling mujarab ke anak!” sewot ibu Minah.

“Lah ... ya konteksnya beda, Ma. Anak laki-laki yang sudah jadi suami orang ya terikat dengan istrinya. Enggak usah dibikin rumit lah, Mama kan juga punya anak perempuan. Gimana, Dek ... andai suamimu direcoki mama sama ipar kamu. Ibaratnya, kamu sama suamimu baru nempel saja, mama mertua sama ipar kamu heboh, enggak terima dan berusaha memisahkan kalian. Terus, kamu mau juga enggak, jadi tulang punggung keluarga suamimu? Berasa panti sosial, kan? Teruss terusssssss, gimana perasaan kamu, kalau mama mertua kamu sama adik ipar kamu, melarang suami kamu kasih uang ke kamu? Lima ribu saja diungkit-ungkit loh!” ucap Arini santai tapi sangat tajam.

“Najis banget Mbak! Yang ada, aku racun tuh, mertua sama ipar benalu!” refleks Messi terlalu menjiwai cerita Arini.

Padahal di seberang Arini, ibu Minah langsung mendelik karena sadar, sebenarnya Arini sengaja menyindir ibu Minah dan juga Messi.

“Nah, dengar, Ma ... enggak main-main. Si Messi bakalan ngeracun mertua ama iparnya andai dapat yang spek benalu model nempel!” balas Arini yang mengakhirinya dengan tersenyum penuh kemenangan.

Sadar si Messi akan kembali membalas sekaligus mendukung topik pembicaraan Arini, ibu Messi sengaja menginjak kuat kaki kiri sang putri. Wanita muda berusia dua puluh empat tahun dan memang sebaya dengan Arini itu langsung mendelik kepada sang mama. Messi sungguh tak tahu menahu alasan sang mama menginjaknya dan sampai melotot-melotot kepadanya.

“Sudah ... sudah. Masih pagi jangan ribut, malu ke tetangga!” lembut Akbar berusaha melerai.

Sebenarnya, alasan Arini mau dinikahi Akbar, murni lantaran Akbar terkenal sebagai pria santun yang juga sangat bertanggung jawab. Karenanya, setelah membiarkan Akbar jungkir balik mengejarnya selama dua tahun, Arini mau dinikahi Akbar. Akan tetapi, nyatanya rasa sayang Akbar kepada mama dan adiknya tidak terusik sedikit pun, meski pria itu sudah menikah. Malahan, Arini yang harus serba mengalah, menekan ego dan selalu siap dianggap salah jika ibu Minah maupun Messi, tidak terima. Akbar akan menyebut bakti sekaligus mengaitkan agama di setiap pembelaan yang ia berikan kepada Arini. Sebab meski sudah diberi pengertian, Arini yang memang bar-bar, kerap melawan. Tak jarang, Arini dan mertua maupun iparnya akan terlibat jambak maupun adegan saling cakar.

“Ya sudah, siapa sih yang telepon? Biar aku saja yang jawab—” Arini belum selesai bicara, tapi Akbar mirip orang kerasukan hanya karena Arini lari dan jelas akan mengambil ponselnya.

“M—Mas? M—mas kenapa?” lemah Arini karena jadi makin yakin, ada yang disembunyikan di ponsel sang suami yang kini sampai diberi sandi. Selain itu, Arini juga curiga. Bahwa telepon suara di ponsel suaminya dan sampai membuat Akbar jatuh, masih berkaitan dengan rahasia yang ia curigai.

Melalui lirikan, Arini juga menyaksikan perubahan ekspresi ibu Minah maupun Messi, yang begitu drastis. Kedua wanita itu tak lagi sibuk membuat gara-gara kepadanya. Karena yang ada, keduanya tampak tegang, tapi berusaha biasa saja. Keduanya kerap melirik ponsel Akbar, dan tampak begitu mengkhawatirkannya.

“Kalau memang kecurigaanku terbukti dan kesalahan kalian fatal, ... aku ratakan rumah ini biar kalian enggak punya tempat tinggal!” batin Arini benar-benar dendam. Wadah lipstik hitam keemasan di tangan kanannya berakhir patah setelah ia genggam paksa sekuat tenaga menggunakan tangan kanan.

••••

Khusus hari ini, Arini menghabiskan waktunya penuh emosi. Beres-beres dan bersih-bersih yang Arini jalani jadi lebih cepat selesai ketimbang biasanya. Arini sampai membantu rekannya membereskan toilet jatah sang teman. Karena menyibukkan diri ketika emosi layaknya sekarang, kerap membuat Arina merasa lebih baik.

“Kalau lagi emosi, paling bener aku memang sibuk kerja. Karena dengan begitu, emosiku enggak sia-sia!” batin Arini yang melempar sikat toilet yang ia gunakan, ke sudut ruangan.

“Ini si Tejo mati suri, apa gimana, sih? Aku suruh ngikutin mas Akbar, kok enggak ada kabarnya juga?” kesal Arini dalam hatinya. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celana panjang warna hitam selaku seragamnya sebagai cleaning servis di sana.

Di ponsel yang layarnya sudah retak parah itu, Arini memastikan pemberitahuan terbaru. Namun, ponselnya memang tidak ada pesan apalagi panggilan tak terjawab. Baik dari Tejo sang sahabat yang ia tugasi untuk memata-matai Akbar, maupun Akbar yang jadi sibuk semenjak diPHK.

“Sumpah, aku merasa kecolongan. Masa iya, korban PHK, dia sibuk cari kerja dan selama tiga bulan enggak pernah kasih uang, malah lebih sibuk dari IRT punya anak kembar sembilan?” Arini sungguh baru menyadari, bahwa semenjak mengaku di—PHK dan setiap harinya pergi pagi pulang larut malam, suaminya tak pernah mengabarinya lagi. Sekadar tanya sedang apa, sudah makan belum, tak lagi Akbar lakukan kepada Arini.

Baru keluar dari toilet yang ia bersihkan dan memang harusnya jatah rekannya, Arini justru dikagetkan oleh sosok tegap tinggi yang sukses membuat pandangannya gelap.

Arini pikir, yang ada di hadapannya merupakan hantu penunggu toilet. Hantu tersebut sengaja menemuinya karena marah, tak terima sepanjang Arini bekerja kali ini, Arini melakukannya dengan penuh emosi. Namun ternyata, pria rupawan itu merupakan Ardhan Pradipta Kalandra, bosnya!

“Harusnya di toilet enggak ada CCTV. Harusnya pak Ardhan juga enggak tahu kalau dari tadi, aku kerjanya gaya emosi. Apa, ... ada yang lapor ke pak Ardhan, ya?” pikir Arini langsung deg-degan tak karuan.

“Benar, kamu yang namanya Arini Tri Hapsari? Kamu istrinya Akbar Suhendar yang pernah jadi OB di kantor H&D?” tanya Ardhan dengan suara sekaligus gaya yang membuat seorang Arini langsung ketakutan.

Yang membuat Arini penasaran, kenapa sang bos besar sampai mengenal suaminya? Padahal, Arini sengaja merahasiakan hubungannya dan Akbar. Hingga rekan kerjanya beranggapan bahwa Arini yang sudah berusia 24 tahun baru lulus SMA.

•••

Terpopuler

Comments

Sarti Patimuan

Sarti Patimuan

Arini kalau marah seperti ibuku semuanya dikerjakan secepat kilat 🤭🤭

2024-11-05

0

Irma Dwi

Irma Dwi

salut sama istrinya, tegas dan ngak menye2,
BASMI PELAKOR 😡😡😡

2024-11-04

0

Kamiem sag

Kamiem sag

sepertinya seru

2025-02-09

0

lihat semua
Episodes
1 1. Benarkah Ada Rahasia?
2 2. Kecurigaan Dan Atisipasi
3 3. Satu Frekuensi
4 4. Tak Mau Hancur Sendiri
5 5. Selingkug Balas Selingkuh
6 6. Bertukar Pasangan
7 7. Sudah Bulat
8 8. Di Lingkungan Keluarga Ardhan
9 9. Larangan Untuk Orang M!skin
10 10. Langsung Viral
11 11. Pemberian Ardhan
12 12. Seolah Akan Nyata
13 13. Pertemuan yang Meledakkan Emosi
14 14. Pembagian Tugas Dan Agak Gugup
15 15. Semi Pacaran
16 16. Calon Menantu Jalur Korban Perselingkuhan
17 17. Restu
18 18. Peringatan Keras
19 19. Kehidupan Arini
20 20. Dituduh Selingkuh
21 21. Sudah Ada Rasa Sayang
22 22. Peduli
23 23. Pembatalan Pernikahan
24 24. Panggilan Dan Sebutan Untuk Ardhan
25 25. Mesra yang Berbeda
26 26. Serba Cepat Dan Makin Gugup
27 27. Jedag–Jedug
28 28. Akan Ada Balas Dendam
29 29. Merasa Dispesialkan
30 30. Beneran Pengantin Baru
31 31. Ardhan—Kamu Kok Manis Banget, Sih?
32 32. Istri Baru
33 33. Kresek-Kresek
34 34. Kita Harus Menikah~
35 35. Gara-Gara Ganti Istri
36 36. Kabar Kehamilan
37 37. Mengenai Kehamilan Killa
38 38. Keluarga Ardhan
39 39. Keputusan yang Diambil
40 40. Semua yang Sudah Ada Di Depan Mata
41 41. Keputusan yang Sudah Bulat
42 42. Emas Kawin
43 43. Uring-Uringan Sendiri
44 44. Perhiasan Berlian Lima Belas Gram
45 45. Pijat Makin Sayang
46 Empat Puluh Enam
47 Empat Puluh Tujuh
48 Empat Puluh Delapan
49 Empat Puluh Sembilan
50 Lima Puluh
51 Lima Puluh Satu
52 Lima Puluh Dua
53 BONUS
54 BONUS DUA
55 Bonus Tiga
56 Bonus : Muyen
57 Ditikung Kakak Kandung, Dapat Boss Tajir
58 Istri yang (Tak) Diinginkan
Episodes

Updated 58 Episodes

1
1. Benarkah Ada Rahasia?
2
2. Kecurigaan Dan Atisipasi
3
3. Satu Frekuensi
4
4. Tak Mau Hancur Sendiri
5
5. Selingkug Balas Selingkuh
6
6. Bertukar Pasangan
7
7. Sudah Bulat
8
8. Di Lingkungan Keluarga Ardhan
9
9. Larangan Untuk Orang M!skin
10
10. Langsung Viral
11
11. Pemberian Ardhan
12
12. Seolah Akan Nyata
13
13. Pertemuan yang Meledakkan Emosi
14
14. Pembagian Tugas Dan Agak Gugup
15
15. Semi Pacaran
16
16. Calon Menantu Jalur Korban Perselingkuhan
17
17. Restu
18
18. Peringatan Keras
19
19. Kehidupan Arini
20
20. Dituduh Selingkuh
21
21. Sudah Ada Rasa Sayang
22
22. Peduli
23
23. Pembatalan Pernikahan
24
24. Panggilan Dan Sebutan Untuk Ardhan
25
25. Mesra yang Berbeda
26
26. Serba Cepat Dan Makin Gugup
27
27. Jedag–Jedug
28
28. Akan Ada Balas Dendam
29
29. Merasa Dispesialkan
30
30. Beneran Pengantin Baru
31
31. Ardhan—Kamu Kok Manis Banget, Sih?
32
32. Istri Baru
33
33. Kresek-Kresek
34
34. Kita Harus Menikah~
35
35. Gara-Gara Ganti Istri
36
36. Kabar Kehamilan
37
37. Mengenai Kehamilan Killa
38
38. Keluarga Ardhan
39
39. Keputusan yang Diambil
40
40. Semua yang Sudah Ada Di Depan Mata
41
41. Keputusan yang Sudah Bulat
42
42. Emas Kawin
43
43. Uring-Uringan Sendiri
44
44. Perhiasan Berlian Lima Belas Gram
45
45. Pijat Makin Sayang
46
Empat Puluh Enam
47
Empat Puluh Tujuh
48
Empat Puluh Delapan
49
Empat Puluh Sembilan
50
Lima Puluh
51
Lima Puluh Satu
52
Lima Puluh Dua
53
BONUS
54
BONUS DUA
55
Bonus Tiga
56
Bonus : Muyen
57
Ditikung Kakak Kandung, Dapat Boss Tajir
58
Istri yang (Tak) Diinginkan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!