“Mas Akbar bukan orang kaya loh. Dia juga cuma lulusan SMA kayak aku. Ah masa ... enggak mungkin ah. Mas Akbar enggak mungkin selingkuh. Duit saja enggak punya, masa mau jadi mokondo. Tadi, aku pasti hanya salah dengar, tapi–” Arini yang awalnya merenung serius, dikejutkan dengan kehadiran Akbar. Bukan tanpa alasan. Namun, dering telepon masuk di ponsel Akbar, membuat suaminya terjatuh karena terpeleset setelah lari sangat cepat.
Dering telepon masuk di ponselnya membuat Akbar begitu bersemangat. Seperti biasa, seolah Akbar merupakan raja sekaligus aset penting dalam hidup mereka, ibu Minah dan juga Messi langsung mengamankannya. Keduanya berbondong-bondong membantu Akbar bangun.
“Apaan sih kamu, Mbak. Suami jatuh kok cuma diliatin. Bantu apa gimana?” sewot Messi.
“Sebelum kalian membantu Mas Akbar, aku sudah bantu lewat doa kok. Jangan khawatir, ... doa seorang istri ke suami, enggak pernah putus. Karena kami para istri percaya, doa kami buat suami kami bisa tembus ke langit!” balas Arini dengan santainya sambil merapikan lipstik yang menggumpal di bibir bawahnya.
“Goblok banget, di mana-mana tetap doa seorang ibu yang paling mujarab ke anak!” sewot ibu Minah.
“Lah ... ya konteksnya beda, Ma. Anak laki-laki yang sudah jadi suami orang ya terikat dengan istrinya. Enggak usah dibikin rumit lah, Mama kan juga punya anak perempuan. Gimana, Dek ... andai suamimu direcoki mama sama ipar kamu. Ibaratnya, kamu sama suamimu baru nempel saja, mama mertua sama ipar kamu heboh, enggak terima dan berusaha memisahkan kalian. Terus, kamu mau juga enggak, jadi tulang punggung keluarga suamimu? Berasa panti sosial, kan? Teruss terusssssss, gimana perasaan kamu, kalau mama mertua kamu sama adik ipar kamu, melarang suami kamu kasih uang ke kamu? Lima ribu saja diungkit-ungkit loh!” ucap Arini santai tapi sangat tajam.
“Najis banget Mbak! Yang ada, aku racun tuh, mertua sama ipar benalu!” refleks Messi terlalu menjiwai cerita Arini.
Padahal di seberang Arini, ibu Minah langsung mendelik karena sadar, sebenarnya Arini sengaja menyindir ibu Minah dan juga Messi.
“Nah, dengar, Ma ... enggak main-main. Si Messi bakalan ngeracun mertua ama iparnya andai dapat yang spek benalu model nempel!” balas Arini yang mengakhirinya dengan tersenyum penuh kemenangan.
Sadar si Messi akan kembali membalas sekaligus mendukung topik pembicaraan Arini, ibu Messi sengaja menginjak kuat kaki kiri sang putri. Wanita muda berusia dua puluh empat tahun dan memang sebaya dengan Arini itu langsung mendelik kepada sang mama. Messi sungguh tak tahu menahu alasan sang mama menginjaknya dan sampai melotot-melotot kepadanya.
“Sudah ... sudah. Masih pagi jangan ribut, malu ke tetangga!” lembut Akbar berusaha melerai.
Sebenarnya, alasan Arini mau dinikahi Akbar, murni lantaran Akbar terkenal sebagai pria santun yang juga sangat bertanggung jawab. Karenanya, setelah membiarkan Akbar jungkir balik mengejarnya selama dua tahun, Arini mau dinikahi Akbar. Akan tetapi, nyatanya rasa sayang Akbar kepada mama dan adiknya tidak terusik sedikit pun, meski pria itu sudah menikah. Malahan, Arini yang harus serba mengalah, menekan ego dan selalu siap dianggap salah jika ibu Minah maupun Messi, tidak terima. Akbar akan menyebut bakti sekaligus mengaitkan agama di setiap pembelaan yang ia berikan kepada Arini. Sebab meski sudah diberi pengertian, Arini yang memang bar-bar, kerap melawan. Tak jarang, Arini dan mertua maupun iparnya akan terlibat jambak maupun adegan saling cakar.
“Ya sudah, siapa sih yang telepon? Biar aku saja yang jawab—” Arini belum selesai bicara, tapi Akbar mirip orang kerasukan hanya karena Arini lari dan jelas akan mengambil ponselnya.
“M—Mas? M—mas kenapa?” lemah Arini karena jadi makin yakin, ada yang disembunyikan di ponsel sang suami yang kini sampai diberi sandi. Selain itu, Arini juga curiga. Bahwa telepon suara di ponsel suaminya dan sampai membuat Akbar jatuh, masih berkaitan dengan rahasia yang ia curigai.
Melalui lirikan, Arini juga menyaksikan perubahan ekspresi ibu Minah maupun Messi, yang begitu drastis. Kedua wanita itu tak lagi sibuk membuat gara-gara kepadanya. Karena yang ada, keduanya tampak tegang, tapi berusaha biasa saja. Keduanya kerap melirik ponsel Akbar, dan tampak begitu mengkhawatirkannya.
“Kalau memang kecurigaanku terbukti dan kesalahan kalian fatal, ... aku ratakan rumah ini biar kalian enggak punya tempat tinggal!” batin Arini benar-benar dendam. Wadah lipstik hitam keemasan di tangan kanannya berakhir patah setelah ia genggam paksa sekuat tenaga menggunakan tangan kanan.
••••
Khusus hari ini, Arini menghabiskan waktunya penuh emosi. Beres-beres dan bersih-bersih yang Arini jalani jadi lebih cepat selesai ketimbang biasanya. Arini sampai membantu rekannya membereskan toilet jatah sang teman. Karena menyibukkan diri ketika emosi layaknya sekarang, kerap membuat Arina merasa lebih baik.
“Kalau lagi emosi, paling bener aku memang sibuk kerja. Karena dengan begitu, emosiku enggak sia-sia!” batin Arini yang melempar sikat toilet yang ia gunakan, ke sudut ruangan.
“Ini si Tejo mati suri, apa gimana, sih? Aku suruh ngikutin mas Akbar, kok enggak ada kabarnya juga?” kesal Arini dalam hatinya. Ia mengeluarkan ponsel dari saku celana panjang warna hitam selaku seragamnya sebagai cleaning servis di sana.
Di ponsel yang layarnya sudah retak parah itu, Arini memastikan pemberitahuan terbaru. Namun, ponselnya memang tidak ada pesan apalagi panggilan tak terjawab. Baik dari Tejo sang sahabat yang ia tugasi untuk memata-matai Akbar, maupun Akbar yang jadi sibuk semenjak diPHK.
“Sumpah, aku merasa kecolongan. Masa iya, korban PHK, dia sibuk cari kerja dan selama tiga bulan enggak pernah kasih uang, malah lebih sibuk dari IRT punya anak kembar sembilan?” Arini sungguh baru menyadari, bahwa semenjak mengaku di—PHK dan setiap harinya pergi pagi pulang larut malam, suaminya tak pernah mengabarinya lagi. Sekadar tanya sedang apa, sudah makan belum, tak lagi Akbar lakukan kepada Arini.
Baru keluar dari toilet yang ia bersihkan dan memang harusnya jatah rekannya, Arini justru dikagetkan oleh sosok tegap tinggi yang sukses membuat pandangannya gelap.
Arini pikir, yang ada di hadapannya merupakan hantu penunggu toilet. Hantu tersebut sengaja menemuinya karena marah, tak terima sepanjang Arini bekerja kali ini, Arini melakukannya dengan penuh emosi. Namun ternyata, pria rupawan itu merupakan Ardhan Pradipta Kalandra, bosnya!
“Harusnya di toilet enggak ada CCTV. Harusnya pak Ardhan juga enggak tahu kalau dari tadi, aku kerjanya gaya emosi. Apa, ... ada yang lapor ke pak Ardhan, ya?” pikir Arini langsung deg-degan tak karuan.
“Benar, kamu yang namanya Arini Tri Hapsari? Kamu istrinya Akbar Suhendar yang pernah jadi OB di kantor H&D?” tanya Ardhan dengan suara sekaligus gaya yang membuat seorang Arini langsung ketakutan.
Yang membuat Arini penasaran, kenapa sang bos besar sampai mengenal suaminya? Padahal, Arini sengaja merahasiakan hubungannya dan Akbar. Hingga rekan kerjanya beranggapan bahwa Arini yang sudah berusia 24 tahun baru lulus SMA.
•••
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 58 Episodes
Comments
Sarti Patimuan
Arini kalau marah seperti ibuku semuanya dikerjakan secepat kilat 🤭🤭
2024-11-05
0
Irma Dwi
salut sama istrinya, tegas dan ngak menye2,
BASMI PELAKOR 😡😡😡
2024-11-04
0
Kamiem sag
sepertinya seru
2025-02-09
0