8. Di Lingkungan Keluarga Ardhan

“Kata siapa aku tidak sedih. Aku bahkan lebih dari itu.”

“Aku hancur. Hanya saja, aku tetap berusaha menyembunyikannya. Karena sedih apalagi menghabiskan waktuku dengan tangis. Apalagi menangisi sam pah sam pah pengkhianat itu. Semua itu tak akan bisa mengubah keadaan.”

“Orang-orang belum tentu akan peduli kepadaku. Yang ada mereka akan menyalahkan aku. Mereka akan menghakimi aku hanya karena selingkuhan suamiku jauh lebih cantik bahkan jauh lebih kaya dariku.”

“Terlebih di negara konoha yang dipenuhi orang bijak ini, pelaku kejahatan tetap akan dibela asal bertampang good looking. Cantik, tampan, imut, memiliki senyum manis, berprestasi, punya uang, akan tetap dibela meski mereka penjahat. Sementara kucel, apalagi tak punya uang, akan tetap disalahkan walau posisinya merupakan korban!”

“Aku sudah terbiasa dengan luka. Sungguh, aku sudah sangat terbiasa. Karena di lingkungan keluargaku saja, aku sudah terbiasa diperlakukan berbeda.”

“Jadi, tampil sedih apalagi sampai menangis meraung-raung di depan kamera maupun di depan mas Akbar, ... itu hanya akan membuatku lebih buruk.”

“Aku menutup kisah ini. Melupakan laki-laki yang pernah sangat aku sayangi. Laki-laki yang pernah aku jadikan rumah karena aku pernah sangat berharap kepadanya untuk bisa merasa bahagia seperti orang-orang, apa minimal seperti tetangga. Jujur, mas Akbar sungguh yang pertama. Aku mengenal cinta bahkan kasih sayang dari mas Akbar. Walau aku masih tidak percaya, masih dia juga yang menjadi penyebab utama luka terbesarku. Mas Akbar menjadi orang yang lebih tega dari keluargaku!”

“Jika ingat mas Akbar saat di hotel tadi. Jika ingat celananya, pakaian Killa, dala man di wastafel, ... bahkan ... bahkan Killa benar-benar susah telanjang. Ya Allah ... memangnya aku sekuat ini? Rasanya sakit banget ya Allah, sumpah!”

Arini yang hanya mampu berbicara dalam hati, tersedu-sedu di pinggir tempat tidur dirinya akan bermalam. Arini tinggal di salah satu kontrakan yang ada di dekat klinik. Setelah sebelumnya menolak bermalam di rumah orang tua Ardhan.

Yang Arini tahu, tadi Ardhan sudah langsung mengumpulkan anggota keluarganya. Arini yakin, Ardhan langsung mengurus apa yang Killa lakukan dan sukses membuat rumah tangga keduanya hancur.

“Ngeri ... beneran ngeri. Perselingkuhan benar-benar menghancurkan mental!” lirih Arini yang memutuskan untuk mengelap tuntas air matanya.

“Pak Ardhan bilang, kontrakan ini biasa dipakai buat saudara pekerja, atau klien yang kebetulan bermalam. Jadi di sini sudah ada kasur dan juga keperluan lain ada. Namun untuk selimut dan sebagainya, ini beneran baru diurus mendadak pas sebelum aku masuk.”

Arini yang terlalu bingung sengaja berwudhu. Niatnya Arini akan menunaikan shalat hajat. Arini ingin memohon, agar sang pemilik kehidupan, menghapus rasa sayang apalagi cintanya kepada Akbar, tanpa sisa.

Di tempat berbeda, Ardan sukses membuat seluruh anggota keluarganya di sana menunduk dalam. Mereka yang jumlahnya ada tujuh orang dengan Ardhan, tidak sedang mengheningkan cipta. Namun mereka sedang menyayangkan ulah Killa.

“Biarkan aku memenjarakan mereka. Biar ini menjadi pelajaran, ... benar-benar bukan hanya untuk Killa,” ucap Ardhan tegas.

“Besok kita urus ke rumah orang tuanya,” ucap pak Azzam yang tak lain papa kandung Ardhan.

Ardhan yang duduk persis di hadapan sang papa, menatapnya sambil mengangguk paham.

“Kuat, ya ...,” lembut ibu Sundari selaku mamanya Ardhan.

Sedari awal Ardhan mengabarkan apa yang terjadi kepada Killa, ibu Sundari menjadi orang yang langsung rapuh. Ibu Sundari yang awalnya duduk di sebelah sang suami, memilih langsung menghampiri Ardhan kemudian mendekapnya hangat. Ibu Sundari jadi terus berdiri karena kesibukannya dalam menenangkan sang putra.

“Bagaimana dengan keluarga sopir apalagi istri sopir Killa? Pasti mereka tidak terima. Mereka pasti akan membuat spekulasi, bahwa sopir Killa hanya di bawah tekanan. Yang dengan kata lain, sopir Killa hanya korban,” ucap pak Sepri dan tak lain merupakan kakak dari mamanya Ardhan.

“Itu ... aku lupa mengatakannya. Aku ... aku berniat menikahinya,” ucap Ardhan dan lagi-lagi sukses membuat anggota keluarganya terkejut.

“Enggak usah aneh-aneh lah, Mas!” sergah nenek Septi, selaku neneknya Ardhan, dan memang langsung tidak setuju.

“Iya, Mas. Fokus saja urus hubungan Mas dan Killa. Beresin seberes-beresnya!” yakin ibu Sundari sambil mengguncang pelan punggung Ardhan yang masih ia rangkul.

“Dengerin apa yang mama sama mbah kamu katakan, Mas. Jangan lupa, ... dari awal Mas dan Killa, mama sama mbah, juga enggak setuju. Sementara sekarang, terbukti, kan?” lembut pak Azzam berusaha memberi sang putra pengertian. Tanpa menyinggung kekurangan Killa di hadapan mereka.

Detik itu juga Ardhan jadi serba salah. Di lain sisi, apa yang keluarga dan itu para orang tua katakan, memang benar adanya. Apalagi dari awal, hubungan Ardhan dan Killa memang tidak begitu disetujui oleh keluarga besar. Sedangkan kini, apa yang terjadi langsung membuat Ardhan kapok menjalani apa pun apalagi rumah tangga, tanpa restu keluarga. Masalahnya, Ardhan sudah berjanji kepada Arini. Yang mana d mata Ardhan, Arini sangat berbeda dari wanita pada kebanyakan.

Di kontrakan, Arini tengah dibingungkan dengan keadaan cincin berlian pemberian Ardhan. Cincin tersebut tidak bisa dilepas dari jari manis tangan kanannya.

“Sudah pakai sabun mandi juga enggak bisa dilepas. Duh, terancam wajib diet kalau gini caranya biar cincinnya bisa lepas!” Arini memilih menaruh sabun mandinya pada tempatnya.

Arini memutuskan untuk tidak lanjut berusaha melepas cincin pemberian Ardhan. Cincin yang langsung Ardhan pasangkan dan itu di hadapan Killa.

“Iya, aku wajib diet. Karena kalau enggak, jari manis tangan kananku terancam diamputasi, biar nih cincin bisa diambil. Aku yakin nih cincin asli dan sangat mahal. Jariku saja enggak ada apa-apa dari harga cincin ini!” keluh Arini yang kemudian baru ingat, dirinya tak membawa mukena.

Setelah mencari-cari, di sana juga tidak ada mukena. “Emang enggak ada mukena. Harusnya pak Ardan belum tidur. Mau pinjam ke beliau saja karena keluarga atau pekerjanya, pasti punya mukena!”

Tanpa sedikit pun rasa takut, apalagi di sana tidak sepi-sepi amat, Arini nekat meninggalkan kontrakan. Ia berjalan kaki menuju rumah tiga lantai di depan sana, dan merupakan rumah orang tua Ardhan. Tak disangka, belum sampai ke halaman rumah, Arini melihat ibu Sundari dan nenek Septi. Keduanya yang juga berhijab layaknya Arini, tampak meninggalkan rumah dan sepertinya akan ke klinik.

Gugup seketika menyelimuti hati Arini. Arini sengaja berdeham dan membenarkan asal hijabnya.

“Pokonya aku enggak setuju kalau mas Ardhan tetap lanjut menikahi istri sopir selingkuhannya Killa, Ma,” ucap ibu Sundari. Ucapan yang langsung didengar Arini dan membuat Arini refleks melipir.

Arini memunggungi ibu Sundari maupun nenek Septi. Ia sengaja menghindari keduanya walau harusnya keduanya belum mengenal Arini.

Terpopuler

Comments

Sarti Patimuan

Sarti Patimuan

Kasihan Arini sudah ditolak oleh calon mama mertua

2024-11-05

0

Onin Ajah

Onin Ajah

jangan berkecil hati arini ibunya ardhan lum kenal kamu

2024-11-03

0

mang tri

mang tri

Kan blm kenal jd pikiran mereka pasti jelek tentang arini

2024-11-03

0

lihat semua
Episodes
1 1. Benarkah Ada Rahasia?
2 2. Kecurigaan Dan Atisipasi
3 3. Satu Frekuensi
4 4. Tak Mau Hancur Sendiri
5 5. Selingkug Balas Selingkuh
6 6. Bertukar Pasangan
7 7. Sudah Bulat
8 8. Di Lingkungan Keluarga Ardhan
9 9. Larangan Untuk Orang M!skin
10 10. Langsung Viral
11 11. Pemberian Ardhan
12 12. Seolah Akan Nyata
13 13. Pertemuan yang Meledakkan Emosi
14 14. Pembagian Tugas Dan Agak Gugup
15 15. Semi Pacaran
16 16. Calon Menantu Jalur Korban Perselingkuhan
17 17. Restu
18 18. Peringatan Keras
19 19. Kehidupan Arini
20 20. Dituduh Selingkuh
21 21. Sudah Ada Rasa Sayang
22 22. Peduli
23 23. Pembatalan Pernikahan
24 24. Panggilan Dan Sebutan Untuk Ardhan
25 25. Mesra yang Berbeda
26 26. Serba Cepat Dan Makin Gugup
27 27. Jedag–Jedug
28 28. Akan Ada Balas Dendam
29 29. Merasa Dispesialkan
30 30. Beneran Pengantin Baru
31 31. Ardhan—Kamu Kok Manis Banget, Sih?
32 32. Istri Baru
33 33. Kresek-Kresek
34 34. Kita Harus Menikah~
35 35. Gara-Gara Ganti Istri
36 36. Kabar Kehamilan
37 37. Mengenai Kehamilan Killa
38 38. Keluarga Ardhan
39 39. Keputusan yang Diambil
40 40. Semua yang Sudah Ada Di Depan Mata
41 41. Keputusan yang Sudah Bulat
42 42. Emas Kawin
43 43. Uring-Uringan Sendiri
44 44. Perhiasan Berlian Lima Belas Gram
45 45. Pijat Makin Sayang
46 Empat Puluh Enam
47 Empat Puluh Tujuh
48 Empat Puluh Delapan
49 Empat Puluh Sembilan
50 Lima Puluh
51 Lima Puluh Satu
52 Lima Puluh Dua
53 BONUS
54 BONUS DUA
55 Bonus Tiga
56 Bonus : Muyen
57 Ditikung Kakak Kandung, Dapat Boss Tajir
58 Istri yang (Tak) Diinginkan
Episodes

Updated 58 Episodes

1
1. Benarkah Ada Rahasia?
2
2. Kecurigaan Dan Atisipasi
3
3. Satu Frekuensi
4
4. Tak Mau Hancur Sendiri
5
5. Selingkug Balas Selingkuh
6
6. Bertukar Pasangan
7
7. Sudah Bulat
8
8. Di Lingkungan Keluarga Ardhan
9
9. Larangan Untuk Orang M!skin
10
10. Langsung Viral
11
11. Pemberian Ardhan
12
12. Seolah Akan Nyata
13
13. Pertemuan yang Meledakkan Emosi
14
14. Pembagian Tugas Dan Agak Gugup
15
15. Semi Pacaran
16
16. Calon Menantu Jalur Korban Perselingkuhan
17
17. Restu
18
18. Peringatan Keras
19
19. Kehidupan Arini
20
20. Dituduh Selingkuh
21
21. Sudah Ada Rasa Sayang
22
22. Peduli
23
23. Pembatalan Pernikahan
24
24. Panggilan Dan Sebutan Untuk Ardhan
25
25. Mesra yang Berbeda
26
26. Serba Cepat Dan Makin Gugup
27
27. Jedag–Jedug
28
28. Akan Ada Balas Dendam
29
29. Merasa Dispesialkan
30
30. Beneran Pengantin Baru
31
31. Ardhan—Kamu Kok Manis Banget, Sih?
32
32. Istri Baru
33
33. Kresek-Kresek
34
34. Kita Harus Menikah~
35
35. Gara-Gara Ganti Istri
36
36. Kabar Kehamilan
37
37. Mengenai Kehamilan Killa
38
38. Keluarga Ardhan
39
39. Keputusan yang Diambil
40
40. Semua yang Sudah Ada Di Depan Mata
41
41. Keputusan yang Sudah Bulat
42
42. Emas Kawin
43
43. Uring-Uringan Sendiri
44
44. Perhiasan Berlian Lima Belas Gram
45
45. Pijat Makin Sayang
46
Empat Puluh Enam
47
Empat Puluh Tujuh
48
Empat Puluh Delapan
49
Empat Puluh Sembilan
50
Lima Puluh
51
Lima Puluh Satu
52
Lima Puluh Dua
53
BONUS
54
BONUS DUA
55
Bonus Tiga
56
Bonus : Muyen
57
Ditikung Kakak Kandung, Dapat Boss Tajir
58
Istri yang (Tak) Diinginkan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!