17. Restu

“Mengenai pernikahan dalam waktu dekat, ... kalian sama-sama terluka. Bukankah alangkah baiknya kalian menyembuhkannya atau—”

“Ma, maaf aku potong ucapan Mama. Namun, delapan hari lagi pernikahan Arini dan suaminya, genap enam bulan. Kami mengejar waktu genapnya enam bulan pernikahan Arini dan suaminya. Karena pembatalan pernikahan, hanya berlaku untuk pernikahan yang belum ada enam bulan.” Ardhan menyela ucapan mamanya dengan sangat santun. Hingga kedua wanita di hadapannya, apalagi ibu Sundari, sudah langsung menjadikannya sebagai pusat perhatian.

Tak ada lagi tawa tertahan gara-gara kelakuan Arini yang benar-benar polos. Yang ada hanyalah keseriusan dan membuat kebersamaan hening.

“Terlepas dari semuanya, suami Arini tidak mau menceraikan Arini. Nanti yang ada, kasu s akan mirip perceraian Mbak Alina dan Yusuf. Prosesnya jadi alot karena Yusuf terus berusaha mempertahankan pernikahan. Yusuf sampai kerja sama dengan pihak KUA buat enggak memberikan salinan buku nikah mbak Alina dan Yusuf. Intinya ribet,” lanjut Ardhan.

“Oh ...,” lirih ibu Sundari merasa syok. Tatapannya dengan refleks menatap Arini yang ada di sebelahnya. “Apakah selama bersama, suamimu memperlakukan kamu dengan baik?”

Ditanya begitu, lagi-lagi Arini refleks melirik bahkan menatap Ardhan. “Sebenarnya, baik tidaknya seseorang juga harus dilihat dari keadaan sekaligus latar belakangnya. Karena baik bagiku, belum tentu akan sama jika orang lain yang menilainya. Namun sejauh ini, sebenarnya dia pria yang sangat tanggung jawab.”

“Pria tanggung jawab tidak akan selingkuh, selain dia yang tega menjadikan kamu tulang punggung!” sela Ardhan langsung sewot dan memang emosi.

“Iya ... maksud saya, terlepas dari apa yang terjadi sebelum tiga bulan terakhir. Dia itu tipikal pria yang sangat perhatian, hangat, ... memang suami idaman. Mungkin karena sejak kecil, dia sudah ditinggal meninggal oleh bapaknya. Hingga mau tak mau, dia harus menggantikan tanggung jawab papanya. Dia beneran peduli sekaligus manjain banget ke mama dan adiknya. Hingga dia sensiti f banget jika disinggung mama dan adiknya. Jadi, dia beneran akan diam walau dia din jak-injak sekalipun. Namun kalau mama sama adiknya diusik, dia langsung marah.”

“Bisa jadi, ... Killa baper dengan perlakuan dia. Sementara setelah ada hubungan lebih, dia cerita ke mama dan adiknya. Dan mama maupun adiknya yang memang haus harta, pasti langsung silau kemudian tanpa pikir panjang mendukung hubungan dia dengan Killa. Saya rasa, urutan kejadiannya seperti itu. Bukan bermaksud kepedean, tapi alasan dia enggak mau menceraikan saya, mungkin karena hubungan baik kami selama ini. Meski andai saya berani mengusik mama dan adiknya, dia pasti akan langsung otomatis membenci saya.” Tanpa Arini sadari, pipinya sudah basah karena air matanya yang berjatuhan mengiringi ceritanya. Cerita yang juga menjadi bagian dari jeritan isi hatinya yang paling dalam.

“Iya, ... sebenarnya mas Akbar memang orang baik. Bersamanya, aku juga pernah sangat bahagia. Bersamanya, dia pernah membuatku merasakan kasih sayang orang tua, khususnya kasih sayang seorang bapak. Masalahnya, dia punya mama dan adik yang masya Allah banget. Sementara dia tipikal yang enggak bisa menolak permintaan adik apalagi mamanya,” lirih Arini sambil mengelap air matanya menggunakan tisu kering yang ia terima dari ibu Sundari. Namun karena air matanya terus berjatuhan membasahi pipi, kedua tangannya jadi sibuk mengelap air mata di pipinya.

“Rasanya sesak banget. Karena walau mama dan adiknya julid level kerak neraka, aku tetap sayang mas Akbar. Namun, ... nyatanya aku tetap enggak ada artinya buat mas Akbar. Baginya mama dan adiknya tetap yang nomor satu. Bahkan dia tega mengkhianatiku selama ini. Andai aku enggak tahu, pasti dia tetap enggak ngaku. Pasti dia masih mengaku di—PHK dan alasan lainnya!” batin Arini sampai sesenggukan karena keputusannya menahan tangis berikut suara yang dihasilkan, justru membuat dadanya sangat sesak. Rasanya sakit sekali, tubuh Arini sampai terguncang pelan.

“Jangan menangisinya lagi. Karena walau dia pria bertanggung jawab, dia hanya benar-benar melakukannya kepada mama dan adiknya. Dia pria tidak punya pendirian yang akan menuruti setiap kemauan mama dan adiknya. Hidup dengan pria seperti itu, apalagi kalau kamu misk!n, kamu pasti hanya sakit hati. Kamu hanya akan menjadi ba bu mereka, enggak lebih!” ucap Ardhan merasa prihatin. Ia menatap Arini yang baru saja dirangkul kemudian dipeluk ibu Sundari.

Terlepas dari semuanya, sebenarnya Ardhan juga sedang menasihati sekaligus menghibur dirinya sendiri. Karena jauh di dalam hatinya yang paling dalam, Ardhan juga wanti-wanti dirinya untuk tidak pernah memaafkan Killa.

“Setega ini dia ke aku,” batin Arini yang jadi teringat keadaan Akbar, ketika untuk pertama kalinya pintu hotel dibuka. Kejadian penggerebekan itu sungguh terputar dengan sangat lancar di ingatan Arini, sebelum akhirnya kisah mereka juga turut terputar. Kisah sangat manis yang mana sekadar pakaian untuk Akbar, tak hanya Arini siapkan penuh cinta di tengah kesibukannya. Sebab Arini tak segan membantu Akbar memakai pakaiannya.

“Kalian sama-sama terluka. Ingat, menikah bukan untuk menambah luka. Menikah itu menyembuhkan luka. Minimal jika kalian tidak bisa pacaran halal setiap saat, kalian wajib menjadi teman baik. Apa pun yang terjadi karena ini kemauan kalian, kalian harus bertanggung jawab ke pernikahan kalian. Pasangan itu cukup satu, saling jaga dan saling melengkapi saja. Turunkan ego, dan saling terbuka. Namun bukan berarti kalian anti kritik,” ucap ibu Sundari sambil menatap kedua mata Ardhan, maupun kedua mata Arini yang masih ia rangkul punggungnya. Arini masih berderai air mata.

“Heh, ... ini dikasih restu? Serius, aku enggak halu, kan?” pikir Arini yang detik itu jadi membatu.

Ibu Sundari memang memberi restu, dengan catatan, Arini dan Ardhan harus sama-sama bertanggung jawab kepada hubungan yang keduanya jalin. Ibu Sundari berharap, apa yang sudah terjadi bisa menjadi pelajaran. Menjadi bekal Arini maupun Ardhan dalam menjadi manusia yang lebih baik lagi.

“Untuk urusan dengan keluarga besar kita, nanti Mama akan bantu sampaikan. Sekarang yang terpenting, urus ke keluarga Arini dulu. Nanti kalau semuanya sudah siap, baru keluarga kita bertemu. Apakah kalian mau gelar resepsi?” ucap ibu Sundari.

“Enggak perlu. Kepalaku masih penuh pikiran, selain jadwalku yang padat banget. Yang penting kami langsung nikah biar enggak ada fitnah. Resepsi bisa nyusul, Ma!” sergah Ardhan langsung menolak.

Lain dengan Ardhan, Arini yang diam juga tak tertarik menggelar resepsi. Terlebih keadaan sedang panas-panasnya, dan baik dirinya maupun Ardhan, sedang menjadi pusat perhatian.

“Bentar ... rasanya mirip mimpi. Ini dengan keluarga Pak Ardhan bisa mulus jalan restunya. Mulus banget, tapi di keluargaku ... ah, ... Pak Ardhan wajib tahu semuanya sebelum dia syok!” batin Arini yang malah makin deg-degan hanya karena restu yang ia dapatkan.

(Alhamdullilah hari ini sudah up 3 bab ya. Yuk ramaikan ❤️)

Terpopuler

Comments

aryuu

aryuu

bukannya cerita malah ngebatin meluluuu nih si Arini... bikin gemes... kalo ngebatin panjang banget pas cerita pendek pendek hadohhhh Arin Arin... gimana orang lain tau ceritanya kalo Lo ngebatin mulu

2024-11-23

1

Sarti Patimuan

Sarti Patimuan

Arini punya keluarga toxic

2024-11-06

0

💞pejuang🤑🤑🤑

💞pejuang🤑🤑🤑

next

2024-10-27

0

lihat semua
Episodes
1 1. Benarkah Ada Rahasia?
2 2. Kecurigaan Dan Atisipasi
3 3. Satu Frekuensi
4 4. Tak Mau Hancur Sendiri
5 5. Selingkug Balas Selingkuh
6 6. Bertukar Pasangan
7 7. Sudah Bulat
8 8. Di Lingkungan Keluarga Ardhan
9 9. Larangan Untuk Orang M!skin
10 10. Langsung Viral
11 11. Pemberian Ardhan
12 12. Seolah Akan Nyata
13 13. Pertemuan yang Meledakkan Emosi
14 14. Pembagian Tugas Dan Agak Gugup
15 15. Semi Pacaran
16 16. Calon Menantu Jalur Korban Perselingkuhan
17 17. Restu
18 18. Peringatan Keras
19 19. Kehidupan Arini
20 20. Dituduh Selingkuh
21 21. Sudah Ada Rasa Sayang
22 22. Peduli
23 23. Pembatalan Pernikahan
24 24. Panggilan Dan Sebutan Untuk Ardhan
25 25. Mesra yang Berbeda
26 26. Serba Cepat Dan Makin Gugup
27 27. Jedag–Jedug
28 28. Akan Ada Balas Dendam
29 29. Merasa Dispesialkan
30 30. Beneran Pengantin Baru
31 31. Ardhan—Kamu Kok Manis Banget, Sih?
32 32. Istri Baru
33 33. Kresek-Kresek
34 34. Kita Harus Menikah~
35 35. Gara-Gara Ganti Istri
36 36. Kabar Kehamilan
37 37. Mengenai Kehamilan Killa
38 38. Keluarga Ardhan
39 39. Keputusan yang Diambil
40 40. Semua yang Sudah Ada Di Depan Mata
41 41. Keputusan yang Sudah Bulat
42 42. Emas Kawin
43 43. Uring-Uringan Sendiri
44 44. Perhiasan Berlian Lima Belas Gram
45 45. Pijat Makin Sayang
46 Empat Puluh Enam
47 Empat Puluh Tujuh
48 Empat Puluh Delapan
49 Empat Puluh Sembilan
50 Lima Puluh
51 Lima Puluh Satu
52 Lima Puluh Dua
53 BONUS
54 BONUS DUA
55 Bonus Tiga
56 Bonus : Muyen
57 Ditikung Kakak Kandung, Dapat Boss Tajir
58 Istri yang (Tak) Diinginkan
Episodes

Updated 58 Episodes

1
1. Benarkah Ada Rahasia?
2
2. Kecurigaan Dan Atisipasi
3
3. Satu Frekuensi
4
4. Tak Mau Hancur Sendiri
5
5. Selingkug Balas Selingkuh
6
6. Bertukar Pasangan
7
7. Sudah Bulat
8
8. Di Lingkungan Keluarga Ardhan
9
9. Larangan Untuk Orang M!skin
10
10. Langsung Viral
11
11. Pemberian Ardhan
12
12. Seolah Akan Nyata
13
13. Pertemuan yang Meledakkan Emosi
14
14. Pembagian Tugas Dan Agak Gugup
15
15. Semi Pacaran
16
16. Calon Menantu Jalur Korban Perselingkuhan
17
17. Restu
18
18. Peringatan Keras
19
19. Kehidupan Arini
20
20. Dituduh Selingkuh
21
21. Sudah Ada Rasa Sayang
22
22. Peduli
23
23. Pembatalan Pernikahan
24
24. Panggilan Dan Sebutan Untuk Ardhan
25
25. Mesra yang Berbeda
26
26. Serba Cepat Dan Makin Gugup
27
27. Jedag–Jedug
28
28. Akan Ada Balas Dendam
29
29. Merasa Dispesialkan
30
30. Beneran Pengantin Baru
31
31. Ardhan—Kamu Kok Manis Banget, Sih?
32
32. Istri Baru
33
33. Kresek-Kresek
34
34. Kita Harus Menikah~
35
35. Gara-Gara Ganti Istri
36
36. Kabar Kehamilan
37
37. Mengenai Kehamilan Killa
38
38. Keluarga Ardhan
39
39. Keputusan yang Diambil
40
40. Semua yang Sudah Ada Di Depan Mata
41
41. Keputusan yang Sudah Bulat
42
42. Emas Kawin
43
43. Uring-Uringan Sendiri
44
44. Perhiasan Berlian Lima Belas Gram
45
45. Pijat Makin Sayang
46
Empat Puluh Enam
47
Empat Puluh Tujuh
48
Empat Puluh Delapan
49
Empat Puluh Sembilan
50
Lima Puluh
51
Lima Puluh Satu
52
Lima Puluh Dua
53
BONUS
54
BONUS DUA
55
Bonus Tiga
56
Bonus : Muyen
57
Ditikung Kakak Kandung, Dapat Boss Tajir
58
Istri yang (Tak) Diinginkan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!