Bab 9. Nyaris celaka

"Aku membeli tas keluaran terbaru hari ini. Kau harus memilikinya sayang. Karena kau datang, aku lebih baik langsung memberikannya padamu. Ini sayang!" ucap Jovan langsung mengambil barang yang sebenarnya juga diberikan kepada Visya.

Agnia tentu saja menunjukkan senyum paling manis. Ia tahu jika Visya terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Jovan. Meski perutnya lekas terasa seperti di aduk, tapi ia masih bisa bertahan. Sementara Visya, wajah perempuan itu sudah sangat tampak berubah. Antara kesal, marah, juga tak bisa berbuat apa-apa.

Airlangga yang menyaksikan hal itu hanya diam tanpa ekspresi. Ia tak memperdulikan tatapan mengejek Jovan yang seperti menerangkan jika dia bukanlah tandingannya.

"Kalau gitu, aku pulang dulu ya Jo!" pamit Visya yang tentu saja harus pergi karena apa yang terjadi sungguh membuatnya tak tahan.

"Kenapa buru-buru?" tanya Agnia berpura-pura peduli.

"Emmm kalian lanjut aja, aku masih ada sedikit kerjaan!" kata Visya tersenyum palsu.

Dan sepeninggal Visya, Agnia maju lalu meraba dada Jovan sensual. "Sayang, bisa kau berikan aku laporan pengeluaran. Aku ingin mempelajarinya."

GLEK!

Jovan menekan ludah. Untuk apa Agnia meminta itu. Sebelumnya tidak pernah dia seperti ini ?

"La-laporan keuangan?" ulang Jovan mulai lirik sana sini.

Agnia mengangguk sambil menyetrika dada Jovan menggunakan tangannya. "Aku sudah memutuskan akan belajar mengelola perusahaan. Aku harus tahu mulai dari hulu hingga hilir, kamu tidak keberatan kan sayang?"

Jovan tertawa kikuk. Sial, ini benar-benar akan membuatnya pusing. Dan Airlangga yang tak mengira jika Agnia bakal merubah rencananya secara mendadak terlihatnya menarik senyuman. Pintar juga bosnya itu, sengaja membuat Jovan kalang kabut dulu.

"Tentu saja. Tapi tidak perlu buru-buru sayang. Jika butuh sesuatu, kamu bisa minta aku untuk melakukan semuanya. Jangan lupa, kita akan menjadi suami istri, sudah sepatutnya aku yang berusaha untukmu." ucap Jovan yang sebenarnya sedang panik.

***

Malam harinya, Visya yang dari tadi uring-uringan di telepon akhirnya datang ke rumah Jovan yang terlihat pusing. Pria itu bahkan tak menyongsong kedatangannya.

"Kenapa kau tak menjawab teleponku, Jovan?" kesal Visya.

Dan Jovan yang di berondongi pertanyaan seperti itu langsung meradang. "Apa kau tidak bisa diam? Aku sedang pusing karena Agnia meminta laporan keuangan mendadak!" teriak Jovan menumpahkan kekesalannya.

Mulut Visya terbuka saking terkejutnya. "Kenapa Agni tiba-tiba meminta laporan keuangan? Bukankah dari dulu dia sangat cuek dan pasrah padamu soal apapun?"

"Aku juga tidak tahu, aku curiga pria itu lah yang menghasut nya!"

"Siapa yang kau maksud?"

"Pengawal sialan itu!"

Visya tiba-tiba memikirkan hal yang sama. Agnia selama ini selalu taat dan percaya penuh kepada Jovan. Tapi jika semua karena ingatannya yang hilang, mereka bisa apa mereka? Bagaimanapun juga Agnia merupakan pewaris asli perusahaan keluarga Hardianto.

"Sebaiknya kita cari tahu siapa dia!"

Dan yang di bicarakan kini terlihat sedang berada di kediaman Agnia. Pria itu tampak berkeliling di seputaran rumah besar Agnia. Selalu melakukan tugasnya untuk mengontrol dan berpatroli. Hari ini ia meminta semua tempat di pasangi kamera pengawas. Usai memastikan hal itu telah di lakukan, ia lantas menuju sebuah ruangan dimana itu adalah ruangan operator. Ia mengecek flashback video dan tak ada hal yang mencurigakan.

Selanjutnya pria itu kembali mengerjakan pekerjaannya di kamar. Usai mengirimkan hasilnya kepada Zidan melalui email, pria itu melepas jasnya dan menggulung kemejanya hingga sebatas siku. Terlihat sangat tampan. Ia melihat jam di meja dan merasa lapar. Selanjutnya ia menuju dapur dan mendapati Agnia celingak-celinguk seperti mencari sesuatu di dapur.

"Apa yang kau cari?" ucapnya mengejutkan sang client.

"Emmm aku mau..."

Tapi mata Airlangga lebih dulu melihat jika bos-nya itu mau membuat ramen instan.

"Kenapa makan yang instan terus?" tanya Airlangga sembari melangkahkan kakinya.

"Sekali ini aja, aku...ingin sekali!" ia memohon. Ia tahu ia tak boleh terlalu makan makanan instan karena itu gak baik.

"Duduk lah, biar aku buatkan!" jawab Airlangga akhirnya tak tega.

Entah mengapa Agni menjadi sangat senang. Dia sebenarnya memang sangat malas dan tidak bisa memasak. Makanya dia bingung mencari beberapa bahan lainnya.

Agnia akhirnya duduk sembari menggulir ponselnya. Namun beberapa saat kemudian, ia malah terfokus akan sesosok pria tampan bertubuh bagus yang kini berjibaku dengan panci juga sayur yang ia potong.

"Dia tampan kalau begitu. Tapi sepertinya dia nggak normal. Kenapa gak ada reaksi sih tiap ngobrol?"

"Silahkan!"

Agnia menatap senang dengan sajian panas yang terhidang di hadapannya. Ia melihat wajah datar itu melepas apron yang semula di gunakan.

"Wah, kau jago memasak!" puji Agnia.

Sementara yang di puji terlihat biasa saja. "Kalau tidak kaya, maka sebaiknya kita harus serba bisa!"

Agnia melihat ke arah Airlangga. Ia mendengar nada ironi dari kalimat yang terucap.

"Kenapa menatap ku begitu? Benar kan, kita tidak bisa mengandalkan siapapun kecuali diri kita sendiri. Aku membuatkan ini karena kau mampu membayar ku. Jika tidak, kau pasti tau jawabnya. Makan lah, tak baik banyak bicara saat sedang makan!"

Ini merupakan kalimat terpanjang yang pernah Airlangga ucapkan seharian ini. Tunggu dulu, kenapa perkataan pria itu seolah menegaskan jika semua ini dia lakukan hanya karena hubungan penyedia jasa dan client? Agni tersenyum kecut, nyaris saja di GR dengan perbuatan Airlangga. Pria itu benar-benar berbeda dengan yang ia duga.

Mereka akhirnya makan bersama. Agnia memperhatikan cara makan Airlangga yang cepat dan tekun. Terlihat fokus di makanan dan bibirnya juga tak mengeluarkan apapun. Sangat jantan sekali dia terlihat.

"Apa kau punya pacar?" tanya Agnia.

Airlangga yang mengelap bibirnya dengan tissue menatap sebentar Agnia.

"Sudah hampir jam dua belas. Kau sebaiknya tidur, aku akan berkeliling lagi!"

Agnia merengut karena jawabannya lagi-lagi tak sesuai harapan. Ia hanya ingin punya teman ngobrol, itu saja.

"Hih, dia itu kenapa sih kalau di tanya nggak pernah jawab?"

Airlangga sebenarnya mendengar, tapi ia lebih memilih abai dan terus berjalan. Di kamar Agnia lagi-lagi tak bisa tidur. Ia malah teringat dengan dirinya yang tangkap Airlangga saat hampir terjatuh tadi. Ia dan pengawalnya itu sangat dekat. Tiba-tiba hatinya berdesir aneh.

"Parfum apa yang di pakai ya. Enak banget!"

Ia tidur sambil senyam-senyum. Perasaan aman yang bercampur rasa nyaman. Pria itu cuek, tapi perbuatannya sungguh membuatnya merasa beruntung.

Agnia lagi-lagi memimpikan seseorang sedang menggenggam tangannya, namun saat matanya tiba-tiba terbuka akibat suara bernada ancaman, ia langsung berjingkat karena tangannya malah sudah memegang tangan Airlangga yang sedari tadi kesulitan membangunkannya.

"Astagaa!" kata Agnia berjingkat kaget.

Airlangga menatap datar perempuan yang sebenarnya sedang menikmati mimpinya itu. "Jam delapan lebih sepuluh. Kita akan ke proyek!"

"Hah, ya ampun!" ia sungguh lupa jika hari ini akan ikut berkunjung ke proyek mereka.

Agnia merutuki kebodohannya. Ia mandi cepat-cepat karena hari ini ia akan mengikuti Jovan ke proyek baru.

"Kenapa aku selalu mimpi pria misterius itu sih?"

***

Ketika mereka tiba di lokasi, Airlangga memperhatikan daerah sekeliling dengan saksama. Proyek ini terlihat mangkir agak lama, kenapa bisa? Dan ekor matanya juga melihat sesuatu yang berhasil membuatnya berpikir beberapa detik.

Sementara Agnia yang berjalan di samping Jovan terlihat fokus dan memperhatikan betul-betul penjelasan pria yang juga menggunakan helm kuning seperti dirinya.

Semua hal tampak aman terkendali. Mereka terus berjalan untuk melihat progres pembangunan gedung utama. Namun tanpa orang sadari kecuali Airlangga yang kini tiba-tiba berlari ke arah Agnia, sebuah bata berukuran besar tiba-tiba jatuh dan tepat akan mengenai Agnia.

"Awas!"

BRUAK!

Agnia yang mendengar teriakan kontan memejamkan matanya dengan ketakutan saat tarikan cepat itu kini membuatnya terdiam. Terlambat menarik lengan Agnia sepersekian detik saja, bisa di pastikan kepala Agnia akan pecah karena terhantam material sebesar itu.

Syukurnya, Airlangga telah berhasil menarik tubuh Agnia dan mendekap tubuh wanita itu. Membuat Jovan yang tersadar langsung maju.

"Lepaskan!" Jovan menarik paksa Agnia yang masih berusaha menetralisir rasa takutnya.

" Kamu nggak apa-apa sayang?" Jovan menangkup pipi Agnia dan terlihat khawatir.

Agnia yang di tarik paksa oleh Jovan agak kaget. Sementara Airlangga hanya membalas tatapan Jovan dengan tatapan dingin.

"Astaga, hey kenapa bisa ada material yang jatuh. Bu Agnia nyaris terkena batu, apa kalian mau di pecat?" Jovan berteriak marah kepada semua pekerja di sana.

Agnia ketakutan setengah mati, namun seseorang di balik dinding terlihat mengepal kesal karena niatnya untuk mencelakai Agnia gagal total gara-gara pengawal sialan itu.

Terpopuler

Comments

Bintang Gatimurni

Bintang Gatimurni

Bagus amat ungkapannya thor, ' kalau tidak kaya, maka sebaiknya kita harus serba bisa' ckckck kereeen /Good//Good//Good//Good/

2024-11-17

0

Yumna

Yumna

Ihh seru nih ceritanya mom😍😍😍

2024-09-13

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Khianat
2 Bab 2. Agnia Hardianto
3 Bab 3. Be my bodyguard!
4 Bab 4. Deal
5 Bab 5. The Protector
6 Bab 6. Perduli
7 Bab 7. Dia dan pekerjaannya
8 Bab 8. Sulit di tebak
9 Bab 9. Nyaris celaka
10 Bab 10. Kesulitan seorang pria
11 Bab 11. Emang boleh sekesal ini?
12 Bab 12. Sakit
13 Bab 13. Dia dan masa lalunya
14 Bab 14. Liburan
15 Bab 15. Gara-gara turbulensi
16 Bab 16. Perangkap
17 Bab 17. Dia menyelamatkan
18 Bab 18. Rasa lain
19 Bab 19. Perseteruan dua pria
20 Bab 20. Tak semudah yang di kira
21 Bab 21. Benda bersejarah
22 Bab 22. Tak lagi bisa menutupi
23 Bab 23. Mr. Payah
24 Bab 24. Jangan rendahkan dirimu
25 Bab 25. Menabuh genderang perang
26 Bab 26. Suara hati
27 Bab 27. Berita viral
28 Bab 28. Mantan pacar?
29 Bab 29. Kenapa jealous
30 Bab 30. Paman datang
31 Bab 31. Pelukmu
32 Bab 32. Kenapa selalu dingin dan datar?
33 Bab 33. Aku pergi
34 Bab 34. Putar haluan
35 Bab 35. Welcome back
36 Bab 36. Fell to you
37 Bab 37. Efek domino
38 Bab 38. Suprise
39 Bab 39. Gangguan
40 Bab 40. Jangan begitu lagi, aku cemburu!
41 Bab 41. Tak rela?
42 Bab 42. Memeluk mu
43 Bab 43. Satu pagi bersama mu
44 Bab 44. Di kebimbangan hati
45 Bab 45. Hal menyakitkan
46 Bab 46. Mulai berani
47 Bab 47. Kita pacaran?
48 Bab 48. Happy New year
49 Bab 49. Rasa yang melampaui batas
50 Bab 50. Jalan terjal berliku
51 Bab 51. Kiamat itu tiba
52 Bab 52. Patah hati
53 Bab 53. Niat Zidan
54 Bab 54. Misi Airlangga part 1
55 Bab 55. Misi Airlangga part 2
56 Bab 56. Misi Airlangga part 3
57 Bab 57. Kehilangan mu, menyakitkan nurani
58 Bab 57. Roda sedang berputar
59 Bab 59. Kenyataan harus di kabarkan
60 Bab 60. Pertanggungjawaban
61 Bab 61. Ingin bertemu
62 Bab 62. Aku butuh kamu, kamu juga harus membutuhkan aku
63 Bab 63. Bangun pagi bersamamu
64 Bab 64. Aku mencintaimu, Agnia
Episodes

Updated 64 Episodes

1
Bab 1. Khianat
2
Bab 2. Agnia Hardianto
3
Bab 3. Be my bodyguard!
4
Bab 4. Deal
5
Bab 5. The Protector
6
Bab 6. Perduli
7
Bab 7. Dia dan pekerjaannya
8
Bab 8. Sulit di tebak
9
Bab 9. Nyaris celaka
10
Bab 10. Kesulitan seorang pria
11
Bab 11. Emang boleh sekesal ini?
12
Bab 12. Sakit
13
Bab 13. Dia dan masa lalunya
14
Bab 14. Liburan
15
Bab 15. Gara-gara turbulensi
16
Bab 16. Perangkap
17
Bab 17. Dia menyelamatkan
18
Bab 18. Rasa lain
19
Bab 19. Perseteruan dua pria
20
Bab 20. Tak semudah yang di kira
21
Bab 21. Benda bersejarah
22
Bab 22. Tak lagi bisa menutupi
23
Bab 23. Mr. Payah
24
Bab 24. Jangan rendahkan dirimu
25
Bab 25. Menabuh genderang perang
26
Bab 26. Suara hati
27
Bab 27. Berita viral
28
Bab 28. Mantan pacar?
29
Bab 29. Kenapa jealous
30
Bab 30. Paman datang
31
Bab 31. Pelukmu
32
Bab 32. Kenapa selalu dingin dan datar?
33
Bab 33. Aku pergi
34
Bab 34. Putar haluan
35
Bab 35. Welcome back
36
Bab 36. Fell to you
37
Bab 37. Efek domino
38
Bab 38. Suprise
39
Bab 39. Gangguan
40
Bab 40. Jangan begitu lagi, aku cemburu!
41
Bab 41. Tak rela?
42
Bab 42. Memeluk mu
43
Bab 43. Satu pagi bersama mu
44
Bab 44. Di kebimbangan hati
45
Bab 45. Hal menyakitkan
46
Bab 46. Mulai berani
47
Bab 47. Kita pacaran?
48
Bab 48. Happy New year
49
Bab 49. Rasa yang melampaui batas
50
Bab 50. Jalan terjal berliku
51
Bab 51. Kiamat itu tiba
52
Bab 52. Patah hati
53
Bab 53. Niat Zidan
54
Bab 54. Misi Airlangga part 1
55
Bab 55. Misi Airlangga part 2
56
Bab 56. Misi Airlangga part 3
57
Bab 57. Kehilangan mu, menyakitkan nurani
58
Bab 57. Roda sedang berputar
59
Bab 59. Kenyataan harus di kabarkan
60
Bab 60. Pertanggungjawaban
61
Bab 61. Ingin bertemu
62
Bab 62. Aku butuh kamu, kamu juga harus membutuhkan aku
63
Bab 63. Bangun pagi bersamamu
64
Bab 64. Aku mencintaimu, Agnia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!