Bab 3. Be my bodyguard!

Agni terkejut bukan main saat tangannya tiba-tiba di tarik seseorang begitu ia keluar kamar mandi. Tarikannya begitu kuat, membuatnya sedikit terbentur ke dinding.

"Ada apa?" tanya Agni ketakutan sebab pria asing itu menatap dengan jarak sangat dekat. Memindai, mengamati dan seperti mau mengintimidasi. Bahkan, aroma minyak rambut pria pria gagah itu bisa ia hirup.

"Kau sedang di cari banyak orang. Kau sudah bertunangan? Bagiamana kau bisa terjatuh?" cecar si pria yang akhirnya tahu jika perempuan di depannya bisa membahayakan keselamatannya.

Agni membulatkan matanya, bagaimana bisa pria asing ini tahu?

"Minggir!" Agni yang gugup reflek berontak dan menabrak tubuh pria itu. Ia benar-benar tak nyaman. Sorot matanya yang tajam membuatnya tak nyaman.

"Baca ini!" seru si pria setengah kesal sembari kembali menyodorkan ponselnya.

Agni meraih ponsel berisikan artikel yang di sodorkan si pria. Begitu membaca, matanya membulat sempurna. Berita yang beredar dia mendapat insiden di rumahnya dan terjatuh. Padahal kejadian yang terjadi tidak seperti itu. Mata Agni tiba-tiba terasa panas. Ia sungguh merasa sakit hati dan di khianati.

"Ku antar pulang! Penawaran ku hanya sekali. Merepotkan saja! " ucap pria itu dengan wajah datar.

Membuat Agni tertunduk murung.

Di dalam mobil, Agni terus saja diam dan melamun. Pikirannya bermacam-macam. Pria di sampingnya itu terlihat sangat kesal. Mungkin karena dia memang benar-benar merepotkan. Sungguh bukan niatnya merepotkan orang, tapi apa yang terjadi sekarang sungguh menggerus semangat hidupnya.

Bagiamana dia sekarang? Apakah dia harus pura-pura amnesia saja seperti yang di katakan Jovan kemarin? Benar, sepertinya ia harus melakukan hal itu karena ia benar-benar ingin balas dendam.

Ia bahkan tak mempedulikan pria asing di sampingnya, ia tak terlalu perduli apakah pria yang kini mendiamkannya itu orang jahat atau bukan. Pikirannya yang semrawut membuatnya tak memperdulikan apapun.

"Aku tidak bisa sampai ke sana. Kalau ada yang tahu, mereka bisa mengira aku yang menculik mu. Jangan lupakan berita itu!" kata pria itu masih terlihat kesal sembari menarik handbreak.

Agnia mengangguk. Ia paham akan situasi yang tercipta, ia juga sadar diri. "Terimakasih kasih untuk bantuan mu!"

Pria itu menatap acuh Agnia yang mulai membuka pintu mobil. Entah mengapa, perasaan yang agak mengganggu tiba-tiba kembali muncul.

"Kau tenang saja, secepatnya aku akan menghubungi nomer yang kau berikan untuk membayarnya hutang!" kata Agnia sesaat setelah menutup pintu mobil. Ia tak mau mengira jika semua yang di kaki-kaki pria itu akan berlalu begitu saja.

"Hemm!" jawabannya singkat.

Namun ketika hendak menginjak pedal gas, Agnia tiba-tiba berbalik dan berkata, "Tunggu, aku belum tahu siapa namamu!"

Pria itu mengembuskan napas malas lalu mengatakan, "Aku Airlangga!"

Agnia merekam baik-baik nama itu. Tanpa menoleh lagi, Agni lalu melangkahkan kakinya lalu masuk ke dalam rumah. Menarik napas dalam-dalam karena sepertinya ia harus memulai sandiwara.

Usai memastikan Agni masuk ke dalam gerbang rumah besar nan mewah itu, Airlangga melajukan mobilnya. Namun begitu ia melintas ekor matanya sempat melihat seperti ada mobil hitam telah terparkir di sana.

Semula Airlangga tetap melajukan mobilnya, tapi entah mengapa ia tiba-tiba merasa risau.

"Sial, kenapa aku harus memperdulikan wanita itu? CK!" ia bermonolog sendiri melawan keraguannya sebelum akhirnya ia bermanuver kasar.

Sementara di dalam rumah, Agnia yang pulang tiba-tiba membuat beberapa orang terkejut, tak terkecuali orang-orang utusan Jovan yang selalu standby di sana, karena di tugaskan untuk menjaga rumah Agnia.

Agni yang melihat tampang-tampang asing dan beringas menghadang langkahnya menjadi gemetar dan ketakutan.

"Siapa kalian?" ucapnya sembari memundurkan langkah.

Beberapa pria itu saling bertukar pandangan, jelas target yang di cari ada di depan mata. Mereka tampak tersenyum menyeringai dengan licik.

"Nona, anda pulang? Kami semua mencari anda!" kata seseorang sembari menarik paksa tangan Agnia.

"Aku tidak kenal kau, pergi!" teriak Agnia berusaha melindungi dirinya.

PLAK!

Karena Agnia kesal, tangannya tak sengaja memukul kepala salah seorang pria itu. Membuat mereka berang.

"Percayalah nona, nasib anda akan jauh lebih baik kalau anda menurut!"

Namun begitu akan mencekal tangan Agni yang mulai berteriak ketakutan, sebuah tendangan tiba-tiba mengenai rahang kanan pria itu hingga membuatnya mengerang kesakitan.

BUG!

"Arghhh!"

Agni terkejut lalu menoleh ke arah si penendang. Sontak ia merasa lega karena Airlangga tiba-tiba kembali.

"Keparat! Cari mati kau!" umpat pria berjanggut dengan matanya yang terlihat berang karena temannya kini menggelosor kesakitan.

Namun dengan badas dan tanpa banyak omong, Airlangga merangsek maju dan melawan para penjahat itu dengan ganas. Pria itu terlihat begitu menikmati aksinya saat-saat menghajar orang-orang itu lalu membuat mereka kocar-kacir.

Mereka terpaksa kabur karena tangan mereka bahkan ada yang patah. Adalah suatu tindakan bodoh jika mereka nekat menyerang Airlangga.

Agni seketika mengembuskan napas plong begitu telinganya mendengar decitan kasar dari ban mobil para orang jelek itu.

"Kau terluka?" tanya Airlangga datar namun sorot matanya menyuguhkan kekhawatiran.

Agni menggeleng dengan gestur kikuk. Sama sekali tak menduga jika pria itu akan kembali dan menolongnya. Tubuhnya masih terlihat gemetaran usai melihat Airlangga yang dengan brutalnya menghajar tiga orang jahat tadi.

Bagiamana bisa pria ini sangat mahir berkelahi? Dan entah mengapa ia begitu merasa aman saat berada di dekatnya.

"Kau benar-benar sedang tidak aman!" kata Airlangga lagi. Merasa jika konspirasi besar sedang mengancam kehidupan Agnia.

Agnia dan Airlangga saling menatap dengan pikiran yang bercabang. Jika Airlangga memikirkan betapa ribetnya menjadi orang kaya, Agnia justru memikirkan hal lain.

"Masuklah. Aku akan berkeliling!"

"Tunggu! Jangan pergi!" ucap Agnia sedikit meragu.

Airlangga reflek menatap tangan mulus Agnia yang kini menahan lengan kekarnya untuk pergi. Sentuhan seorang wanita yang sorot matanya jelas-jelas mempertontonkan rasa takut.

"Aku akan membayar berapapun yang kau mau, jadilah pengawal ku!" pinta Agnia spontan yang tidak tahu kenapa malah tiba-tiba mengucapkan hal itu. Dalam pikirannya, hari-hari kedepannya nanti pasti tidak akan mudah lagi.

Airlangga menatap wajah Agni yang tampak risau. Ia tertegun sejenak.

"Kau bahkan belum mengenalku!" balas Airlangga dengan raut datar.

"Orang asing yang menyelamatkan ku dua kali sudah lebih dari cukup bagiku untuk yakin, saat orang-orang terdekatku semua mengkhianati ku!"

Airlangga terkekeh, " Kau tipikal orang yang mudah percaya! Bagiamana kalau aku memanfaatkan mu? Kau tidak takut?"

Agnia lalu tertunduk murung, membuat Airlangga mengamati. Ia ingin tahu jawaban selanjutnya.

"Jujur saja, percaya tidak percaya, saat ini aku bahkan tidak tahu harus mengadu pada siapa." Agni menitikkan air mata, ia memandang Airlangga yang masih betah menunjukkan raut datar. Untuk pertama kalinya, ia merasa begitu tak enak menjalani hidup.

"Jika tidak, jadilah pengawalku untuk sementara, kau akan membayar mu tiga kali lipat!"

Airlangga kembali terdiam. Keduanya merenung dalam kesunyian yang kian terasa. Dua manusia asing itu, malah tidak sengaja terseret pada hal rumit macam ini.

Airlangga melangkah maju sebelum akhirnya ia mengatakan, " Akan aku pikirkan ucapan mu. Sebaiknya kita masuk dulu!"

...***...

Terpopuler

Comments

M akhwan Firjatullah

M akhwan Firjatullah

lah malah pada negooo

2024-12-21

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Khianat
2 Bab 2. Agnia Hardianto
3 Bab 3. Be my bodyguard!
4 Bab 4. Deal
5 Bab 5. The Protector
6 Bab 6. Perduli
7 Bab 7. Dia dan pekerjaannya
8 Bab 8. Sulit di tebak
9 Bab 9. Nyaris celaka
10 Bab 10. Kesulitan seorang pria
11 Bab 11. Emang boleh sekesal ini?
12 Bab 12. Sakit
13 Bab 13. Dia dan masa lalunya
14 Bab 14. Liburan
15 Bab 15. Gara-gara turbulensi
16 Bab 16. Perangkap
17 Bab 17. Dia menyelamatkan
18 Bab 18. Rasa lain
19 Bab 19. Perseteruan dua pria
20 Bab 20. Tak semudah yang di kira
21 Bab 21. Benda bersejarah
22 Bab 22. Tak lagi bisa menutupi
23 Bab 23. Mr. Payah
24 Bab 24. Jangan rendahkan dirimu
25 Bab 25. Menabuh genderang perang
26 Bab 26. Suara hati
27 Bab 27. Berita viral
28 Bab 28. Mantan pacar?
29 Bab 29. Kenapa jealous
30 Bab 30. Paman datang
31 Bab 31. Pelukmu
32 Bab 32. Kenapa selalu dingin dan datar?
33 Bab 33. Aku pergi
34 Bab 34. Putar haluan
35 Bab 35. Welcome back
36 Bab 36. Fell to you
37 Bab 37. Efek domino
38 Bab 38. Suprise
39 Bab 39. Gangguan
40 Bab 40. Jangan begitu lagi, aku cemburu!
41 Bab 41. Tak rela?
42 Bab 42. Memeluk mu
43 Bab 43. Satu pagi bersama mu
44 Bab 44. Di kebimbangan hati
45 Bab 45. Hal menyakitkan
46 Bab 46. Mulai berani
47 Bab 47. Kita pacaran?
48 Bab 48. Happy New year
49 Bab 49. Rasa yang melampaui batas
50 Bab 50. Jalan terjal berliku
51 Bab 51. Kiamat itu tiba
52 Bab 52. Patah hati
53 Bab 53. Niat Zidan
54 Bab 54. Misi Airlangga part 1
55 Bab 55. Misi Airlangga part 2
56 Bab 56. Misi Airlangga part 3
57 Bab 57. Kehilangan mu, menyakitkan nurani
58 Bab 57. Roda sedang berputar
59 Bab 59. Kenyataan harus di kabarkan
60 Bab 60. Pertanggungjawaban
61 Bab 61. Ingin bertemu
62 Bab 62. Aku butuh kamu, kamu juga harus membutuhkan aku
63 Bab 63. Bangun pagi bersamamu
64 Bab 64. Aku mencintaimu, Agnia
Episodes

Updated 64 Episodes

1
Bab 1. Khianat
2
Bab 2. Agnia Hardianto
3
Bab 3. Be my bodyguard!
4
Bab 4. Deal
5
Bab 5. The Protector
6
Bab 6. Perduli
7
Bab 7. Dia dan pekerjaannya
8
Bab 8. Sulit di tebak
9
Bab 9. Nyaris celaka
10
Bab 10. Kesulitan seorang pria
11
Bab 11. Emang boleh sekesal ini?
12
Bab 12. Sakit
13
Bab 13. Dia dan masa lalunya
14
Bab 14. Liburan
15
Bab 15. Gara-gara turbulensi
16
Bab 16. Perangkap
17
Bab 17. Dia menyelamatkan
18
Bab 18. Rasa lain
19
Bab 19. Perseteruan dua pria
20
Bab 20. Tak semudah yang di kira
21
Bab 21. Benda bersejarah
22
Bab 22. Tak lagi bisa menutupi
23
Bab 23. Mr. Payah
24
Bab 24. Jangan rendahkan dirimu
25
Bab 25. Menabuh genderang perang
26
Bab 26. Suara hati
27
Bab 27. Berita viral
28
Bab 28. Mantan pacar?
29
Bab 29. Kenapa jealous
30
Bab 30. Paman datang
31
Bab 31. Pelukmu
32
Bab 32. Kenapa selalu dingin dan datar?
33
Bab 33. Aku pergi
34
Bab 34. Putar haluan
35
Bab 35. Welcome back
36
Bab 36. Fell to you
37
Bab 37. Efek domino
38
Bab 38. Suprise
39
Bab 39. Gangguan
40
Bab 40. Jangan begitu lagi, aku cemburu!
41
Bab 41. Tak rela?
42
Bab 42. Memeluk mu
43
Bab 43. Satu pagi bersama mu
44
Bab 44. Di kebimbangan hati
45
Bab 45. Hal menyakitkan
46
Bab 46. Mulai berani
47
Bab 47. Kita pacaran?
48
Bab 48. Happy New year
49
Bab 49. Rasa yang melampaui batas
50
Bab 50. Jalan terjal berliku
51
Bab 51. Kiamat itu tiba
52
Bab 52. Patah hati
53
Bab 53. Niat Zidan
54
Bab 54. Misi Airlangga part 1
55
Bab 55. Misi Airlangga part 2
56
Bab 56. Misi Airlangga part 3
57
Bab 57. Kehilangan mu, menyakitkan nurani
58
Bab 57. Roda sedang berputar
59
Bab 59. Kenyataan harus di kabarkan
60
Bab 60. Pertanggungjawaban
61
Bab 61. Ingin bertemu
62
Bab 62. Aku butuh kamu, kamu juga harus membutuhkan aku
63
Bab 63. Bangun pagi bersamamu
64
Bab 64. Aku mencintaimu, Agnia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!