Bab 8. Sulit di tebak

Alih-alih bisa melanjutkan tidur seperti yang di minta pengawalnya, Agnia malah terganggu dengan pemikiran soal betapa banyaknya bekas luka yang tersebar di punggung lebar Airlangga.

Ia bahkan sampai terduduk dan menyalakan lampu kamarnya lagi. Seumur hidupnya, ia belum pernah melihat luka sebanyak itu di orang-orang terdekatnya. Dan juga, hidup seperti apa yang sebelumnya di jalani Airlangga? Melihat kalung yang melingkar dilehernya, ia tiba-tiba menarik senyuman penuh arti.

Sementara yang di pikirkan terlihat berjibaku di depan laptopnya dan mengerjakan beberapa hal yang harus ia kerjakan. Ia sebenarnya lelah dan pusing, tapi Zidan menunggu semuanya.

Di sela kegiatan, tiba-tiba pandangannya beralih pada luka di lengannya. Perempuan cerewet dan impulsif yang kini menjadi bosnya itu, tak di sangka perduli padanya. Ia tiba-tiba tersenyum sumbang.

Dan ketika kembali memfokuskan perhatian pada layar, alat di telinganya mendadak berbunyi. Ia sontak berlari menuju kamar Agni demi sinyal darurat itu.

Namun begitu pintu di buka dengan kerasnya, Airlangga tak mendapati Agni ada di sana. Pria itu segera melangkah tergesa dan sejurus kemudian,

Jeglek!

Ia kontan membalikkan tubuhnya demi suara yangg tiba-tiba. Tak taunya di sana sudah ada Agni yang meringis usai menutup pintu. Damned! Kini ia tahu jika perempuan itu membohonginya.

"Apa kau tahu alat itu ku berikan gunanya untuk apa?" kata Airlangga yang tak suka karena Agni menyalahgunakan alat itu.

"Aku... hanya ingin mengetes!" balasnya ragu. Menutupi kegugupannya dengan meringis.

Airlangga menghela napas berat. Dasar kurang kerjaan, pria itu seketika melangkah maju berniat menuju pintu untuk keluar, namun tangan lentik tiba-tiba terulur menahan perutnya.

"Aku tidak bisa tidur!"

Airlangga mengerutkan keningnya.

Lalu?

"Aku di bayar bukan untuk meninabobokan orang!" sahutnya sambil melempar tatapan ke arah lain.

"Bukan itu!" Agni memanyunkan bibirnya, merasa tak enak hati karena sepertinya Airlangga kesal, "Aku..."

Airlangga melirik tajam. Melihat seraut wajah yang tampak ragu-ragu untuk membuka suaranya.

"Aku... ingin kau tidur di situ!" menunjuk ke arah sofa.

Tentu saja Airlangga membulatkan matanya.

"Jangan berpikiran cabul dulu, aku takut karena..." katanya segera meralat sebab reaksi Airlangga membuatnya cemas.

"Cepat lah. Besok kau harus ke bank!" ucap Airlangga yang langsung bergerak menuju sofa lalu duduk dan melipat kedua tangannya ke dada.

Agnia langsung tersenyum. Padahal, entah mengapa ia hanya ingin menginterogasi Airlangga.

"Kau dari mana tadi?" tanya Agnia dari atas ranjang. Ia menatap ke arah pengawalnya.

Airlangga yang memejamkan matanya sambil duduk kini membuka matanya lagi karena di lempari pertanyaan.

"Ada urusan!"

"Urusan apa? Kenapa sampai terluka begitu?"

Airlangga menghela napasnya. Apakah ini penting untuk dia ketahui? Sepertinya tidak.

"Dalam perjanjian tidak ada tertulis untuk mengetahui urusan pribadi kedua belah pihak. Jadi, sebaiknya kau tidur lah!"

Agnia memanyunkan bibirnya demi jawaban tak enak itu, apalagi melihat pria dingin itu merem kembali rasanya sia-sia saja usahanya ingin ngobrol. Padahal ia ingin tau kejadian sebenarnya saja. Tapi ya sudahlah, pria itu memang sulit di tebak.

Karena kesal Agnia akhirnya memilih menarik selimutnya lalu tidur membelakangi Airlangga yang duduk berjarak hampir dua meter dari kasurnya.

Airlangga membuka matanya lagi begitu Agnia mematikan lampu kamarnya. Ia tertegun sejenak. Bukan maksud apa-apa, hubungan kerjasama ini tentu akan ada batasnya. Dan dia tidak mau Agnia tahu.

***

Tiupan angin sejuk di cerahnya sinar matahari membuat lembaran hordeng bergerak. Bersama dengan tepukan pelan di pipi yang membuat Agnia terganggu. Sialnya dalam mimpinya, ia di bangunkan oleh seorang pangeran yang begitu harum. Airlangga mengerutkan dahinya ketika tangannya di tangkap Agnia yang senyam-senyum sambil merem.

"Kenapa dia?"

"Ah pangeran, kau sangat wangi!"

Lagi-lagi Airlangga mengerutkan keningnya. Tak menyangka jika kliennya ini sungguh bar-bar.

"Jika kau tak bangun maka kau bisa kehilangan uangmu!"

Agnia yang mendengar suara ketus yang khas itu langsung bangun dan reflek melempar tangan Airlangga begitu menyadari jika ia memegang tangan berjemari besar pria itu.

"Ka-kau?" ucapnya tergagap-gagap.

"Sudah lewat jam delapan pagi. Kita bisa terlambat!"

Agnia yang ingat dengan jadwalnya hari ini jadi panik dan kalang kabut. Sungguh sial, gara-gara cemas kepada Airlangga ia sampai kesiangan. Tunggu dulu, Agni berhenti dan menoleh sesaat ke arah Airlangga sebelum ia masuk kamar mandi. Pria itu sudah sangat rapih dan tampan ,apa pria itu tidak tidur? Apa dia hantu yang tak memiliki rasa lelah?

"Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan kurang..."

"Iya-iya sebentar!" jeritnya sembari lari terbirit-birit.

Airlangga hanya geleng-geleng kepala demi melihat Agni yang sungguh konyol.

***

Di dalam mobil, Agni yang sudah cantik kini duduk di belakang sembari mengamati raut tegas Airlangga yang fokus ke jalan raya.

"Aku dandan cantik begini, apa dia sungguh tidak terkesima? Reaksinya sungguh datar-datar saja!"

"Aku sudah meminta Zidan menyelidiki aliran beberapa rekening di perusahaan mu. Sebagian mengalir ke rekening fiktif. Kemungkinan tunangan mu itu yang membuatnya!" ucap Airlangga yang lagi-lagi membuat Agnia tersadar dari lamunannya.

Agni kesal dan berengut ketika mendengarkan kalimat 'tunangan mu' yang di lontarkan Airlangga tanpa beban.

"Kalau begitu langsung saja kita cecar dia nanti!"

Airlangga melihat melalui pantulan cermin di depannya, "Jangan gegabah, kumpulkan bukti dulu, dana itu tidak akan segera bisa di gunakan. Dia juga perlu waktu untuk mencucinya. Selain itu, pengembangan proyek mall di kota N berpeluang besar di korup!"

Agni langsung merasa pusing. Ia sungguh payah dan tak bisa apa-apa jika bukan Airlangga yang memberitahunya. Proyek di kota N, adalah proyek impian Ayahnya. Sejenak ia merasa sedih jika harus seperti ini.

Di bank, ia berhasil bertemu dengan petingginya. Namun, mereka tidak bisa memberikan bocoran sandi jika bukan Jovan sendiri yang datang karena prosedur yang ketat. Di saat itu, Agni benar-benar frustasi. Seperti berada di jalan buntu. Niat ingin menerabas, ternyata birokrasinya sangat rumit.

"Bagiamana caranya mengetahui aliran dana itu di tujukan kepada siapa?"

"Kita harus bisa mencuri buku dan melihat mutasinya!" jawab Airlangga sembari.

"Mencuri?"

"Mau tidak mau kau harus datang ke rumah Jovan. Terserah alasannya!"

Memikirkan ide gila itu, perutnya sudah bergejolak. Airlangga melangkah pergi namun Agni malah melamun di tempat. Merasa tak ada derak langkah yang mengikuti, Airlangga membalikkan tubuhnya.

"Ayo!"

Agni tergeragap dan langsung mengangguk. Ketika akan masuk ke mobil, sebuah motor mendadak melintas tepat di samping kendaraan mereka dan nyaris menyerempet tubuh Agnia. Dengan tanggap dan sigap ,Airlangga menarik tubuh Agnia dan membuat wanita itu seketika jatuh dalam dekapan pria tampan itu.

Airlangga hanya melakukan tugasnya, tapi Agnia menjadi deg-degan karena posisi mereka yang begitu berdekatan.

"Kau ini selalu ceroboh!"

"Aku?"

Agni yang semula tersipu langsung merengut karena Airlangga malah mengatai begitu dengan entengnya. Perempuan itu akhirnya ngomel bahkan hingga masuk ke mobil. Kesal karena pria itu sungguh kaku.

"Apa kau pernah punya pacar?" tanya Agnia dengan muka jutek.

Yang di tanya sama sekali tak bereaksi dan terlihat tak berminat menjawab.

"Hey!"

"Sudak aku katakan tidak ada jawaban pribadi untuk kerjasama kita!"

"Shhh, kau ini sungguh kaku sekali. Tak bisakah kau ini rileks dan ngobrol dengan enak?"

Namun bukan Airlangga jika tidak tetap dingin. Pria itu melajukan mobil dengan kecepatan tinggi dan tak menggubris Agnia yang terus saja ngoceh.

Agnia menyetujui saran Airlangga dan sekarang sedang menuju rumah Jovan. Ia yang sengaja tak memberitahu dulu kepada pria itu, membuat Jovan yang kini di rumah berdua bersama Agni terkejut bukan main.

"Agni, sayang?" kata Jovan langsung bangkit meninggalkan Visya yang kini membenahi rambutnya.

Visya langsung menepi ketika melihat Agnia. Ia melihat ke arah Airlangga yang tanpa ekspresi berjalan mengekor di belakang Agnia yang sangat pandai menyembunyikan perasaannya.

"Aku memberikan kejutan untukmu sayang!" kata Agnia merentangkan tangannya memeluk Jovan.

Jovan kesulitan bernapas detik itu juga. Ia lalu mengedipkan matanya ke arah Visya sebagai tanda untuk turut menyapa.

"Agni, aku senang kau kesini!"

"Oh ya? Kenapa kau yang senang? Ngomong-ngomong kenapa ada di sini?"

Visya menelan ludahnya gugup, " Tadi aku mampir untuk kasih surat ke Jovan. Ini ketinggalan di kantor kemarin!" jawab Visya mencoba tersenyum.

Jovan yang tahu situasi ini sangat canggung mencoba menengahi.

"Kebetulan kau kemari sayang, aku ada hadiah untukmu, sebentar!"

"Apa, apa yang Jovan lakukan? Itu kan tadi katanya untukku!" ucap Visya dalam hati yang kesal karena gelang mahal itu mahal di berikan kepada Agnia.

Agnia tahu bila sebenarnya gelang itu pasti untuk sahabatnya yang tak tahu malu itu, tapi ia senang, karena dengan begini ia bisa mengerjai Visya.

"Oh sayang, kau benar-benar perhatian. Ini yang aku suka dari kamu!" Agnia mencium pipi Jovan dan Airlangga meliriknya.

Visya yang melihat hal itu seketika mengepalkan tangannya karena geram dan kesal.

"Oh ya, masih ada satu kejutan lagi!"

Episodes
1 Bab 1. Khianat
2 Bab 2. Agnia Hardianto
3 Bab 3. Be my bodyguard!
4 Bab 4. Deal
5 Bab 5. The Protector
6 Bab 6. Perduli
7 Bab 7. Dia dan pekerjaannya
8 Bab 8. Sulit di tebak
9 Bab 9. Nyaris celaka
10 Bab 10. Kesulitan seorang pria
11 Bab 11. Emang boleh sekesal ini?
12 Bab 12. Sakit
13 Bab 13. Dia dan masa lalunya
14 Bab 14. Liburan
15 Bab 15. Gara-gara turbulensi
16 Bab 16. Perangkap
17 Bab 17. Dia menyelamatkan
18 Bab 18. Rasa lain
19 Bab 19. Perseteruan dua pria
20 Bab 20. Tak semudah yang di kira
21 Bab 21. Benda bersejarah
22 Bab 22. Tak lagi bisa menutupi
23 Bab 23. Mr. Payah
24 Bab 24. Jangan rendahkan dirimu
25 Bab 25. Menabuh genderang perang
26 Bab 26. Suara hati
27 Bab 27. Berita viral
28 Bab 28. Mantan pacar?
29 Bab 29. Kenapa jealous
30 Bab 30. Paman datang
31 Bab 31. Pelukmu
32 Bab 32. Kenapa selalu dingin dan datar?
33 Bab 33. Aku pergi
34 Bab 34. Putar haluan
35 Bab 35. Welcome back
36 Bab 36. Fell to you
37 Bab 37. Efek domino
38 Bab 38. Suprise
39 Bab 39. Gangguan
40 Bab 40. Jangan begitu lagi, aku cemburu!
41 Bab 41. Tak rela?
42 Bab 42. Memeluk mu
43 Bab 43. Satu pagi bersama mu
44 Bab 44. Di kebimbangan hati
45 Bab 45. Hal menyakitkan
46 Bab 46. Mulai berani
47 Bab 47. Kita pacaran?
48 Bab 48. Happy New year
49 Bab 49. Rasa yang melampaui batas
50 Bab 50. Jalan terjal berliku
51 Bab 51. Kiamat itu tiba
52 Bab 52. Patah hati
53 Bab 53. Niat Zidan
54 Bab 54. Misi Airlangga part 1
55 Bab 55. Misi Airlangga part 2
56 Bab 56. Misi Airlangga part 3
57 Bab 57. Kehilangan mu, menyakitkan nurani
58 Bab 57. Roda sedang berputar
59 Bab 59. Kenyataan harus di kabarkan
60 Bab 60. Pertanggungjawaban
61 Bab 61. Ingin bertemu
62 Bab 62. Aku butuh kamu, kamu juga harus membutuhkan aku
63 Bab 63. Bangun pagi bersamamu
64 Bab 64. Aku mencintaimu, Agnia
Episodes

Updated 64 Episodes

1
Bab 1. Khianat
2
Bab 2. Agnia Hardianto
3
Bab 3. Be my bodyguard!
4
Bab 4. Deal
5
Bab 5. The Protector
6
Bab 6. Perduli
7
Bab 7. Dia dan pekerjaannya
8
Bab 8. Sulit di tebak
9
Bab 9. Nyaris celaka
10
Bab 10. Kesulitan seorang pria
11
Bab 11. Emang boleh sekesal ini?
12
Bab 12. Sakit
13
Bab 13. Dia dan masa lalunya
14
Bab 14. Liburan
15
Bab 15. Gara-gara turbulensi
16
Bab 16. Perangkap
17
Bab 17. Dia menyelamatkan
18
Bab 18. Rasa lain
19
Bab 19. Perseteruan dua pria
20
Bab 20. Tak semudah yang di kira
21
Bab 21. Benda bersejarah
22
Bab 22. Tak lagi bisa menutupi
23
Bab 23. Mr. Payah
24
Bab 24. Jangan rendahkan dirimu
25
Bab 25. Menabuh genderang perang
26
Bab 26. Suara hati
27
Bab 27. Berita viral
28
Bab 28. Mantan pacar?
29
Bab 29. Kenapa jealous
30
Bab 30. Paman datang
31
Bab 31. Pelukmu
32
Bab 32. Kenapa selalu dingin dan datar?
33
Bab 33. Aku pergi
34
Bab 34. Putar haluan
35
Bab 35. Welcome back
36
Bab 36. Fell to you
37
Bab 37. Efek domino
38
Bab 38. Suprise
39
Bab 39. Gangguan
40
Bab 40. Jangan begitu lagi, aku cemburu!
41
Bab 41. Tak rela?
42
Bab 42. Memeluk mu
43
Bab 43. Satu pagi bersama mu
44
Bab 44. Di kebimbangan hati
45
Bab 45. Hal menyakitkan
46
Bab 46. Mulai berani
47
Bab 47. Kita pacaran?
48
Bab 48. Happy New year
49
Bab 49. Rasa yang melampaui batas
50
Bab 50. Jalan terjal berliku
51
Bab 51. Kiamat itu tiba
52
Bab 52. Patah hati
53
Bab 53. Niat Zidan
54
Bab 54. Misi Airlangga part 1
55
Bab 55. Misi Airlangga part 2
56
Bab 56. Misi Airlangga part 3
57
Bab 57. Kehilangan mu, menyakitkan nurani
58
Bab 57. Roda sedang berputar
59
Bab 59. Kenyataan harus di kabarkan
60
Bab 60. Pertanggungjawaban
61
Bab 61. Ingin bertemu
62
Bab 62. Aku butuh kamu, kamu juga harus membutuhkan aku
63
Bab 63. Bangun pagi bersamamu
64
Bab 64. Aku mencintaimu, Agnia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!