Bab 6. Perduli

"Maaf, tapi semua barang asing yang masuk ke dalam rumah ini harus melalui pemeriksaan terlebih dahulu!"

Ketiga manusia di sana kompak menoleh demi mendengar suara bass Airlangga yang tiba-tiba muncul dari arah belakang. Dan Agni tampak tersenyum tak menyangka dengan prosedur ini.

Sementara Jovan, as always, dia langsung menyuguhkan wajah tak senang.

" Apa lagi ini? Si bangsat ini selalu saja mengganggu!" maki Jovan hanya berani di dalam hati.

"Hey, apa matamu buta? Dia adalah dokter. Dia hanya bawa obat, bukan bom!" sahut Jovan kesal setengah mati. Sungguh ia sama sekali tak menyukai pria yang tingginya melebihi dirinya itu.

Tapi Airlangga yang masih betah dengan raut datarnya meminta sang dokter untuk memasukkan barang bawaannya ke mesin X-ray yang ia pasang di rumah Agnia. Sama sekali tak mempedulikan kekesalan seorang pria di depannya.

Sang dokter pun terpaksa menurut. Raut Airlangga sungguh mengintimidasi. Agnia bahkan ingin tertawa demi melihat reaksi kesal Jovan yang kian uring-uringan. Sungguh pria itu lagi-lagi membuatnya kagum dengan cara kerja yang tak terduga.

"Kapan dia memasang alat itu? Aku kok nggak tahu?" batin Agnia tersenyum senang.

Sang dokter menurut saja ketika diminta untuk memasukkan barangnya. Dokter itu juga diam saat Airlangga melakukan body check pada dirinya. Berbeda dengan Jovan yang sesekali memaki kepada Airlangga tapi pria itu tak menghiraukannya. Baginya, tugas tetaplah tugas.

Dan ketika lolos pemeriksaan, Jovan mengeraskan rahangnya ke arah Airlangga sambil mendelik kesal.

"Dasar kau orang rendahan!"

Maka Jovan buru-buru berjalan ke arah Agnia bersama dokter dan meninggalkan Airlangga yang masih cuek meski berkali-kali di katai.

Di dalam, Jovan dengan saksama mengikuti jalannya pemeriksaan dokter Billy. Dokter juga melakukan tes dan konseling untuk kelengkapan pemeriksaan. Airlangga juga ada di sana, mengawasi setiap pergerakan. Dan Agni, entah mengapa, setiap merasa gugup malah selalu memandang ke arah bodyguardnya yang bahkan sedari tadi diam seperti patung.

"Kenapa dia bisa se dingin itu sih?"

Usai menjawab beberapa pertanyaan yang tentu saja sudah Agnia pikirkan sebelumnya, Jovan mengantar dokter ke depan. Tentu saja karena ia ingin mengetahui hasilnya lebih cepat.

"Aku akan mengantarkan dokter Salis dulu!"kata Jovan berpamitan kepada Agni

Agnia mengangguk sembari menyuguhkan senyum palsunya.

***

Diluar.

"Bagiamana hasilnya, apa ini sungguh-sungguh?" tanya Jovan kepada sang dokter setibanya mereka diluar.

"Dari semua rangkaian pemeriksaan. Sepertinya tunangan anda benar-benar hilang ingatan. Memory nya kembali pada saat anda pacaran di momen sebelum pertunangan. Jangan di paksa, sebaiknya ingatkan pelan-pelan dengan sering mengajak nona Agni pergi ke tempat-tempat historis!"

Jovan mengangguk berpura-pura menurut, namun dalam hati Jovan tentu ingin Agni tidak ingat apapun. Ia malah berharap jika kekasihnya itu bakal hilang ingatan selamanya. Dan selama waktu yang tak terprediksi ini, ia harus bisa membuat perusahaan Agnia jatuh ke tangannya.

"Kau mau makan sesuatu?" tawar Jovan setibanya ia di kamar kembali.

Agnia menggeleng. "Aku sudah makan tadi!"

Jovan melirik Airlangga yang berdiri siaga di sebelah sana sebelum berbicara dengan Agni. Sungguh sialan pikirnya.

"Sayang, aku sangat terganggu dengan orang itu. Aku jadi risih!" bisik Jovan sembari menatap tak suka Airlangga.

"Abaikan saja dia. Anggap dia tidak ada!" balas Agnia.

Jovan sekali lagi melirik Airlangga yang dengan tubuh tegap dan gagah masih berdiri. Ia ingin menyingkirkan bodyguard sialan itu.

"Aku takut dia macam-macam kepadamu!" bisik Jovan.

"Tidak akan sayang. Dia hanya melakukan tugasnya!"

Saat sedang berbicara, ponsel Jovan tiba-tiba berbunyi. Rupanya itu adalah Visya. Agnia tahu karena sempat melirik nama di layar, tapi dia pura-pura tidak tahu dan terus berusaha memainkan perannya meskipun hatinya terus merasa sakit.

"Sayang, aku harus ke kantor. Tadi aku janjian dengan orang dari perwakilan grup Jan. Aku akan mengajakmu untuk ke pesta nanti!" kata Jovan sembari memasukkan ponselnya.

Agni mengangguk. Meski ingin muntah karena menahan amarah yang sudah berjubel, tapi ia berhasil menahan sampai Jovan akhirnya benar-benar pergi.

Begitu suara mobil Jovan terdengar keluar dari gerbang, detik itu juga, Agnia seketika melesat ke toilet dan memuntahkan seluruh isi perutnya. Airlangga yang kaget segera mengikuti dan memijat tengkuk Agnia.

"Pergi, ini menjijikkan!" ucap Agnia yang malu karena bisa-bisanya pria itu malah menyusulnya ke toilet.

Tapi Airlangga samasekali tidak menurut. Pria itu terus memijat leher belakang Agnia untuk membantu Agnia bisa mengeluarkan gejolak di perutnya.

"Huek!"

Dengan terengah-engah, Agnia yang berhasil mengeluarkan seluruh isi perutnya kini terduduk lemas di lantai. Ia menerima tissue dari tangan Airlangga dengan keadaan pasrah tak bertenaga. Ia selalu seperti ini, mual dan muntah ketika menahan amarah di dada yang berlebih-lebihan. Ia tahu jika Jovan akan menemui Visya di hotel dan akan melakukan hal menjijikan.

"Bagiamana keadaan mu?" tanya Airlangga.

"Aku tidak apa-apa. Terimakasih!"

Airlangga membantu menuntun Agni duduk di sofa. Perempuan itu lagi-lagi merasa sangat terbantu.

"Apa kau sudah berhasil?" tanya Agni dengan napas kembang kempis.

Airlangga mengangguk. Ya, beberapa saat yang lalu, Airlangga sudah meminta rekannya untuk memasang alat pelacak di mobil Jovan atas permintaan Agnia. Agnia merasa lega. Entah mengapa, ia merasa perlu melakukan hal itu.

Episodes
1 Bab 1. Khianat
2 Bab 2. Agnia Hardianto
3 Bab 3. Be my bodyguard!
4 Bab 4. Deal
5 Bab 5. The Protector
6 Bab 6. Perduli
7 Bab 7. Dia dan pekerjaannya
8 Bab 8. Sulit di tebak
9 Bab 9. Nyaris celaka
10 Bab 10. Kesulitan seorang pria
11 Bab 11. Emang boleh sekesal ini?
12 Bab 12. Sakit
13 Bab 13. Dia dan masa lalunya
14 Bab 14. Liburan
15 Bab 15. Gara-gara turbulensi
16 Bab 16. Perangkap
17 Bab 17. Dia menyelamatkan
18 Bab 18. Rasa lain
19 Bab 19. Perseteruan dua pria
20 Bab 20. Tak semudah yang di kira
21 Bab 21. Benda bersejarah
22 Bab 22. Tak lagi bisa menutupi
23 Bab 23. Mr. Payah
24 Bab 24. Jangan rendahkan dirimu
25 Bab 25. Menabuh genderang perang
26 Bab 26. Suara hati
27 Bab 27. Berita viral
28 Bab 28. Mantan pacar?
29 Bab 29. Kenapa jealous
30 Bab 30. Paman datang
31 Bab 31. Pelukmu
32 Bab 32. Kenapa selalu dingin dan datar?
33 Bab 33. Aku pergi
34 Bab 34. Putar haluan
35 Bab 35. Welcome back
36 Bab 36. Fell to you
37 Bab 37. Efek domino
38 Bab 38. Suprise
39 Bab 39. Gangguan
40 Bab 40. Jangan begitu lagi, aku cemburu!
41 Bab 41. Tak rela?
42 Bab 42. Memeluk mu
43 Bab 43. Satu pagi bersama mu
44 Bab 44. Di kebimbangan hati
45 Bab 45. Hal menyakitkan
46 Bab 46. Mulai berani
47 Bab 47. Kita pacaran?
48 Bab 48. Happy New year
49 Bab 49. Rasa yang melampaui batas
50 Bab 50. Jalan terjal berliku
51 Bab 51. Kiamat itu tiba
52 Bab 52. Patah hati
53 Bab 53. Niat Zidan
54 Bab 54. Misi Airlangga part 1
55 Bab 55. Misi Airlangga part 2
56 Bab 56. Misi Airlangga part 3
57 Bab 57. Kehilangan mu, menyakitkan nurani
58 Bab 57. Roda sedang berputar
59 Bab 59. Kenyataan harus di kabarkan
60 Bab 60. Pertanggungjawaban
61 Bab 61. Ingin bertemu
62 Bab 62. Aku butuh kamu, kamu juga harus membutuhkan aku
63 Bab 63. Bangun pagi bersamamu
64 Bab 64. Aku mencintaimu, Agnia
Episodes

Updated 64 Episodes

1
Bab 1. Khianat
2
Bab 2. Agnia Hardianto
3
Bab 3. Be my bodyguard!
4
Bab 4. Deal
5
Bab 5. The Protector
6
Bab 6. Perduli
7
Bab 7. Dia dan pekerjaannya
8
Bab 8. Sulit di tebak
9
Bab 9. Nyaris celaka
10
Bab 10. Kesulitan seorang pria
11
Bab 11. Emang boleh sekesal ini?
12
Bab 12. Sakit
13
Bab 13. Dia dan masa lalunya
14
Bab 14. Liburan
15
Bab 15. Gara-gara turbulensi
16
Bab 16. Perangkap
17
Bab 17. Dia menyelamatkan
18
Bab 18. Rasa lain
19
Bab 19. Perseteruan dua pria
20
Bab 20. Tak semudah yang di kira
21
Bab 21. Benda bersejarah
22
Bab 22. Tak lagi bisa menutupi
23
Bab 23. Mr. Payah
24
Bab 24. Jangan rendahkan dirimu
25
Bab 25. Menabuh genderang perang
26
Bab 26. Suara hati
27
Bab 27. Berita viral
28
Bab 28. Mantan pacar?
29
Bab 29. Kenapa jealous
30
Bab 30. Paman datang
31
Bab 31. Pelukmu
32
Bab 32. Kenapa selalu dingin dan datar?
33
Bab 33. Aku pergi
34
Bab 34. Putar haluan
35
Bab 35. Welcome back
36
Bab 36. Fell to you
37
Bab 37. Efek domino
38
Bab 38. Suprise
39
Bab 39. Gangguan
40
Bab 40. Jangan begitu lagi, aku cemburu!
41
Bab 41. Tak rela?
42
Bab 42. Memeluk mu
43
Bab 43. Satu pagi bersama mu
44
Bab 44. Di kebimbangan hati
45
Bab 45. Hal menyakitkan
46
Bab 46. Mulai berani
47
Bab 47. Kita pacaran?
48
Bab 48. Happy New year
49
Bab 49. Rasa yang melampaui batas
50
Bab 50. Jalan terjal berliku
51
Bab 51. Kiamat itu tiba
52
Bab 52. Patah hati
53
Bab 53. Niat Zidan
54
Bab 54. Misi Airlangga part 1
55
Bab 55. Misi Airlangga part 2
56
Bab 56. Misi Airlangga part 3
57
Bab 57. Kehilangan mu, menyakitkan nurani
58
Bab 57. Roda sedang berputar
59
Bab 59. Kenyataan harus di kabarkan
60
Bab 60. Pertanggungjawaban
61
Bab 61. Ingin bertemu
62
Bab 62. Aku butuh kamu, kamu juga harus membutuhkan aku
63
Bab 63. Bangun pagi bersamamu
64
Bab 64. Aku mencintaimu, Agnia

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!