BAB 8: Berakhirnya Hari

Langit sudah mulai menggelap, cahaya jingga keemasan mulai memudar menjadi gelap gulita, itu tandanya hari ini akan segera berakhir, hari dimana pendaftaran murid baru Akademi Bridestones telah berakhir.

Sampai di menit-menit akhir, aku berhasil mendapatkan murid melebihi dari standar yang sudah ditetapkan sebelumnya. Aku memiliki total 6 calon murid nantinya, yaitu pembantu di perpustakaan akademi yang ingin belajar denganku dan menjadi murid pertamaku yaitu Jade. Lalu pemuda berambut duri landak berwarna merah yang ahli menggunakan tombak, Johan. Anak bangsawan kelas tinggi yang memiliki pemikiran sedikit nyeleneh, Charlotte. Lalu ada Celestine yang tidak bisa berbicara dengan orang lain namun memiliki senyuman seindah air terjun Niagara.

Lalu menjelang penutupan, Jade dan Johan mampu mengajak dua orang lagi, satu pemuda tampan yang energik dan penuh semangat yaitu Masamune. Serta satu perempuan elf yang ahli menggunakan panah dan belati, Elyrde.

Sejauh ini aku sangat senang dengan calon-calon muridku. Kekuatan mata penilai yang ku miliki bisa sedikit mengintip istilahnya, bagaimana potensi yang dimiliki setiap murid yang ku rekrut. Ingat, itu hanya sekedar potensi, tanpa pembelajaran yang tepat potensi hanyalah sekedar potensi saja.

Untuk menjadi yang terkuat, terhebat ataupun ter yang lainnya, makhluk hidup harus mengenali potensi diri mereka masing-masing. Seperti elang yang tahu potensi diri mereka menjadi seorang predator kelas atas, maka mereka akan terus terbang dan meneror mangsa mereka dari atas langit.

Tetapi sayangnya, manusia sedikit memiliki kekurangan. Terkadang kita sebagai manusia kesulitan menemukan jati diri atau potensi diri mereka sendiri. Dibutuhkan kesadaran diri yang sangat tinggi untuk menemukan di mana sebenarnya potensi diri kita, kadang bahkan ada yang menyia-nyiakan potensi mereka. Manusia adalah makhluk yang rumit, semakin maju peradaban maka semakin rumit pula permasalahan yang mereka hadapi, itulah terkadang yang membuat manusia melupakan potensi di dalam diri mereka.

Karena aku bisa melihat potensi dari calon-calon muridku, aku sebagai sosok guru harus mengembangkan potensi mereka agar tidak hanya sekedar potensi, melainkan menjadi hal yang lebih besar lagi dari sekedar potensi biasa. Mungkin itulah tanggung jawabku karena telah memiliki kekuatan ini, kekuatan Perpustakaan Dunia yang aku juga masih belum mengetahui potensi besar yang dimiliki oleh kekuatan yang ku miliki ini.

Aku baru menemukan permukaannya saja dari kekuatan ini, yakni aku bisa mengakses sebuah perpustakaan dalam pikiran ku yang bisa membuatku menemukan buku tentang apa saja di dunia ini dan menyerap isinya sampai membuat kepalaku pusing tujuh keliling.

Kini mereka semua berkumpul di kelas ku, Charlotte juga sudah tidak ditemani oleh Lewis karena setelah ini mereka semua akan tinggal dalam satu asrama khusus. Jade dan Celestine membantuku merapikan kelas yang sudah mulai terlihat usang dan tidak beraturan itu, bahkan sampai beberapa kali Charlotte mengutarakan kritikan pedas pada diriku yang dulu soal kebersihan kelas dan aku hanya bisa terdiam dan menerima semua fakta itu meskipun pahit sekali rasanya.

"Kira-kira bagaimana ya nanti kamar asrama kita ya Charlotte? Apa lumayan mewah seperti murid-murid yang lain" Jade mulai berangan soal asrama.

Charlotte tertawa menanggapi itu, Charlotte juga berharap adanya kamar mewah. "Aku berharap kamarnya lebih mewah dari kamar di rumahku" ucap Charlotte dengan sedikit tertawa sombong.

Celestine juga ikut nimbrung, dari bahasa isyarat dan senyumannya yang tulus dan polos. Ia juga berharap seperti Charlotte dan Jade.

Hanya Elyrde yang terlihat biasa saja dan santai. Elf itu fokus membersihkan debu-debu yang masih menempel di tempat yang sulit dijangkau, aku yang melihat semua murid perempuan begitu senang dan bersemangat ku putuskan untuk mendekati Elyrde dan mencoba bertanya apa yang sedang menganggu dirinya sehingga tidak ingin ikut bergabung dengan kelompok perempuan lainnya.

Elyrde menatapku tajam pada awalnya, namun perlahan-lahan raut wajahnya mulai ringan dan terang. Elyrde mulai berkata, suaranya sangat halus dan lembut seperti perempuan yang sudah begitu dewasa. "Tidak ada pak guru, aku hanya ingin tetap berpikir realistis saja. Aku rasa kamar asrama nanti tidak mewah seperti yang mereka harapkan, kau tahu sendiri kan alasannya apa?" ujar Elyrde yang berbalik tanya padaku.

Aku tersenyum, aku tahu maksudnya Elyrde. Aku lalu duduk di atas meja, sedikit lebih dekat dari tubuh Elyrde, aku mengagumi telinganya yang panjang, sangat berbeda dari telinga manusia pada umumnya. Ini adalah pertama kalinya aku melihat ras Elf sungguhan, setelah aku melihatnya di dunia sebelumnya di film Lord of The Ring atau Harry Potter.

Rambutnya yang perak menjadi padu dengan pakaian tunik berwarna senada, kaos kaki selutut yang memperlihatkan putihnya betis Elyrde. Ku tebak umurnya pasti sudah lebih dari 100, dan bahkan Elyrde adalah yang paling dewasa diantara mereka semua bahkan Jade.

"Eh pak guru, kenapa menatap saya seperti itu?" bola mata Elyrde yang berwana biru gelap menatap ke arahku seperti ketakutan, dia buru-buru menggeser tubuhnya agar sedikit membuat jarak.

Aku tertawa pelan. "Maaf Elyrde aku tidak bermaksud membuat mu ketakutan, aku hanya kagum dengan rambut perak mu yang indah itu" Ku ambil sedikit rambut Elyrde dan mengelusnya dengan lembut. "Jika kamu berjalan di bawah sinar rembulan malam ini, yakinlah kalau sinar rembulan pun akan iri dengan keindahan rambut perak mu ini Elyrde" ucapku dengan sangat santai.

Aku hanya bermaksud bercanda dan mencairkan suasana hati Elyrde, namun sepertinya apa yang kulakukan ini sudah sedikit salah diartikan oleh Elyrde yang wajahnya jadi merah dan tidak mau menatap ke arahku lagi. Bahkan ada bongkahan es tajam yang terbang hampir mengenai diriku, saat ku berpaling rupanya Jade dan Charlotte yang melemparkan sihir es tadi pada diriku.

"Hei kalian hampir membunuhku!" ujarku, berpura-pura marah pada mereka berdua.

"Oh percayalah pak guru Arthur, kami memang sengaja meleset, kali ini tidak akan meleset lagi. Betul kan Jade?"

"Ya itu benar sekali Charlotte!"

Mereka berdua kembali merapal mantra, tombak es yang besar mulai terbentuk dan diarahkan kepada diriku. Aku tidak tahu apa yang membuat mereka jadi sangat marah seperti itu, dan aku lebih kasihan pada Celestine yang berusaha untuk menghentikan Charlotte dan Jade, sayangnya Celestine tidak bisa menghentikan mereka berdua.

Aku mulai panik, keringat semakin deras mengucur. Apalagi melihat wajah mereka berdua yang sama sekali tidak terlihat sedang bercanda, aku melirik ke arah Johan dan Masamune, namun mereka mengacuhkan ku.

"Makanya lain kali pak guru harus lebih peka pada perasaan perempuan, pak guru sudah menggali kuburan pak guru sendiri" ucap Johan yang diamini oleh Masamune.

Charlotte dan Jade benar-benar melepaskan tombak es itu pada diriku, beruntungnya aku punya sihir es yang bisa membuatku aman dari serangan itu. Namun tetap saja, serangan mereka berdua tadi benar-benar sungguhan. "Hei kalian berdua benar-benar kelewat batas ya! Awas saja kalian nanti" aku mendengus kesal.

Karena suara yang begitu keras tadi saat tombak es yang menghantam dinding es yang kubuat menggunakan sihir ku, rupanya mengejutkan pak guru Brandon yang datang lagi ke kelasku ini. Tetapi bedanya dari siang tadi adalah, pak Brandon hanya datang seorang diri.

Wajah Jade dan Charlotte langsung berubah total melihat kedatangan pak guru Brandon, mereka sepertinya benar-benar tidak suka dengan pak guru Brandon.

"Arthur! Apa-apaan tadi? Kau membiarkan muridmu menggunakan sihir dengan leluasa seperti itu? Apa kau ingin menghancurkan sekolah ini?" Pak guru Brandon langsung mengomeli diriku.

Aku meminta maaf padanya, karena memang itu sudah sedikit keterlaluan dan sebagai guru mereka aku harus meminta maaf yang sebesar-besarnya. "Saya mohon maaf pak Brandon, kami hanya main-main namun sepertinya kami sedikit kelewatan, tidak tapi aku yang sedikit kelewatan makanya anak-anak muridku ikut terbawa suasana" ujarku dengan senyuman palsu di wajah ku, padahal aku sangat tidak suka berada di dekat beliau lama-lama.

Pak Brandon diam saja, ia mendengus kesal sambil merapikan tuniknya yang terlihat mewah namun pemilihan warnanya yang terkesan sangat-sangat buruk. "Sudahlah!" ucap beliau dengan nada yang tinggi. "Kau Arthur, ayo cepat ikuti aku, ada sesuatu hal yang harus kita bahas" lalu beliau lanjut pergi begitu saja.

Murid-murid ku mengkhawatirkan diriku karena mereka tahu gelagat pak guru Brandon, namun aku berusaha menenangkan mereka semua. Setelah itu aku langsung pergi mengikuti pak Brandon, aku tidak tahu apa yang pak guru Brandon siapkan untukku namun yang jelas aku sudah lebih jauh bersiap dari beliau.

Terpopuler

Comments

Fendi Kurnia Anggara

Fendi Kurnia Anggara

oo

2024-10-18

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: Awal Mulanya
2 BAB 2: Arthur Westwood
3 BAB 3: Mendapatkan Murid
4 BAB 4: Hari Penerimaan
5 BAB 5: Permata Diantara Tumpukan Ikan Busuk
6 BAB 6: Apa Yang Terjadi?
7 BAB 7: Apa Yang Terjadi Part 2
8 BAB 8: Berakhirnya Hari
9 BAB 9: Rapat Dewan Guru
10 BAB 10: Hari Pertama
11 BAB 11: Worm Hole
12 BAB 12: Home Visit
13 BAB 13: Home Visit Part 2
14 BAB 14: Pengalaman Adalah Guru
15 BAB 15: Pengalaman Adalah Guru Part 2
16 BAB 16: Pengalaman Adalah Guru Part End
17 BAB 17: Eclipsed Dominion
18 BAB 18: Dari Hadiah Ke Masalah
19 BAB 19: Provokasi Dari Kelas Pak Guru Brandon Berlanjut
20 BAB 20: Hari Pertarungan
21 BAB 21: Hari Pertarungan Part 2
22 BAB 22: Hari Pertarungan Part 3
23 BAB 23: Hari Pertarungan Part End
24 BAB 24: Drama Hari Ini
25 BAB 25: Celestine Dan Penggemarnya
26 BAB 26: Memanggil Familiar
27 BAB 27: Sihir Pemanggilan Dan Kejutan
28 BAB 28: Kelas Bonding
29 BAB 29: Melangkah Lebih Jauh
30 BAB 30: Hari-hari Berikutnya
31 BAB 31: Berita Buruk
32 BAB 32: Kutukan Terangkat
33 BAB 33: Janji Di Sore Itu
34 BAB 34: Perubahan Sikapnya
35 BAB 35: Kedatangan Yang Mendadak
36 BAB 36: Festival Lunaria
37 BAB 37: Persiapan Festival Lunaria
38 BAB 38: Babak Penyisihan
39 BAB 39: Babak Penyisihan Part 2
40 BAB 40: Babak Penyisihan Part 3
41 BAB 41: Babak Penyisihan Part Akhir
42 BAB 42: Tentang Ambisi dan Persahabatan
43 BAB 43: Acara Minum Teh Bersama Cassandra Beaumont
44 BAB 44: Drama Di Kelas
45 BAB 45: Rencana Liburan
46 BAB 46: Perasaan Nostalgia
47 BAB 47: Berlatih Di Whispering Wood
48 BAB 48: Satu Minggu Di Aldemere Haven
49 BAB 49: Hari Terakhir
50 BAB 50: Tugas Berat
51 BAB 51: Kedatangan Lady Seraphina
52 BAB 52: Seraphina von Edelweiss
53 BAB 53: Bermain-main Dengan Bayangan
54 BAB 54: Kegelapan Yang Mengintai
55 BAB 55: Membantu Persiapan
56 BAB 56: Pembukaan Festival Lunaria
57 BAB 57: Kategori Ketepatan dan Muncul Sosok Ahli Angin
58 BAB 58: Janji Untuk Elyrde
59 BAB 59: Pertunjukan Sihir
60 BAB 60: Saling Mendukung
61 BAB 61
62 BAB 62
63 BAB 63
64 BAB 64
65 BAB 65
66 BAB 66
67 BAB 67
68 BAB 68
69 BAB 69
70 BAB 70
Episodes

Updated 70 Episodes

1
BAB 1: Awal Mulanya
2
BAB 2: Arthur Westwood
3
BAB 3: Mendapatkan Murid
4
BAB 4: Hari Penerimaan
5
BAB 5: Permata Diantara Tumpukan Ikan Busuk
6
BAB 6: Apa Yang Terjadi?
7
BAB 7: Apa Yang Terjadi Part 2
8
BAB 8: Berakhirnya Hari
9
BAB 9: Rapat Dewan Guru
10
BAB 10: Hari Pertama
11
BAB 11: Worm Hole
12
BAB 12: Home Visit
13
BAB 13: Home Visit Part 2
14
BAB 14: Pengalaman Adalah Guru
15
BAB 15: Pengalaman Adalah Guru Part 2
16
BAB 16: Pengalaman Adalah Guru Part End
17
BAB 17: Eclipsed Dominion
18
BAB 18: Dari Hadiah Ke Masalah
19
BAB 19: Provokasi Dari Kelas Pak Guru Brandon Berlanjut
20
BAB 20: Hari Pertarungan
21
BAB 21: Hari Pertarungan Part 2
22
BAB 22: Hari Pertarungan Part 3
23
BAB 23: Hari Pertarungan Part End
24
BAB 24: Drama Hari Ini
25
BAB 25: Celestine Dan Penggemarnya
26
BAB 26: Memanggil Familiar
27
BAB 27: Sihir Pemanggilan Dan Kejutan
28
BAB 28: Kelas Bonding
29
BAB 29: Melangkah Lebih Jauh
30
BAB 30: Hari-hari Berikutnya
31
BAB 31: Berita Buruk
32
BAB 32: Kutukan Terangkat
33
BAB 33: Janji Di Sore Itu
34
BAB 34: Perubahan Sikapnya
35
BAB 35: Kedatangan Yang Mendadak
36
BAB 36: Festival Lunaria
37
BAB 37: Persiapan Festival Lunaria
38
BAB 38: Babak Penyisihan
39
BAB 39: Babak Penyisihan Part 2
40
BAB 40: Babak Penyisihan Part 3
41
BAB 41: Babak Penyisihan Part Akhir
42
BAB 42: Tentang Ambisi dan Persahabatan
43
BAB 43: Acara Minum Teh Bersama Cassandra Beaumont
44
BAB 44: Drama Di Kelas
45
BAB 45: Rencana Liburan
46
BAB 46: Perasaan Nostalgia
47
BAB 47: Berlatih Di Whispering Wood
48
BAB 48: Satu Minggu Di Aldemere Haven
49
BAB 49: Hari Terakhir
50
BAB 50: Tugas Berat
51
BAB 51: Kedatangan Lady Seraphina
52
BAB 52: Seraphina von Edelweiss
53
BAB 53: Bermain-main Dengan Bayangan
54
BAB 54: Kegelapan Yang Mengintai
55
BAB 55: Membantu Persiapan
56
BAB 56: Pembukaan Festival Lunaria
57
BAB 57: Kategori Ketepatan dan Muncul Sosok Ahli Angin
58
BAB 58: Janji Untuk Elyrde
59
BAB 59: Pertunjukan Sihir
60
BAB 60: Saling Mendukung
61
BAB 61
62
BAB 62
63
BAB 63
64
BAB 64
65
BAB 65
66
BAB 66
67
BAB 67
68
BAB 68
69
BAB 69
70
BAB 70

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!