BAB 4: Hari Penerimaan

Setelah aku memberikan sedikit pelajaran untuk Jade, perempuan muda yang selalu ingin belajar dan mulai kembali mendapatkan gairahnya dalam belajar. Aku lantas pergi ke gedung utama bersama dengan Jade yang kini malahan menjadi pengikut ku. Padahal aku sudah mengatakan padanya agar menungguku di perpustakaan saja, namun dia ingin membantuku setidaknya mencari beberapa murid lagi.

Jade kagum dengan caraku mengajari dirinya, padahal aku hanya mengatakan beberapa hal untuk dirinya agar menjadi semakin lebih kuat. Misal seperti sihir apa yang cocok untuk dirinya pelajari.

Di dunia ini, terdapat sebuah sihir. Sihir terbagi menjadi empat elemen dasar yaitu: api, air, tanah, dan angin. Lalu ada tingkatan yang lain seperti elemen petir, cahaya, dan kegelapan. Lalu ada juga tingkatan yang lebih lanjut, atau sedikit langka di dunia ini seperti elemen pasir, suara ataupun elemen magma.

Saat aku mempelajari tentang Jade dengan kemampuan yang kudapatkan setelah membaca buku Skill Taksiran, aku jadi mengetahui sihir elemen apa yang sangat cocok untuk Jade dan rupanya Jade lebih condong ke arah sihir air dan bahkan ia pun tidak menyadari hal itu. Karena itulah, Jade merasa begitu bahagia dan ingin membantuku mencari murid lagi untuk membayar hutangnya pada diriku, padahal sudah kukatakan padanya bahwa dia tidak perlu menganggapnya sebagai hutang.

Tetapi seberapa keras aku mencoba menasehati Jade, Jade tetap tidak peduli dan terus berusaha meyakinkan para pendaftar untuk masuk ke dalam kelasku. Sayangnya, reputasi ku yang sebelumnya membuatku sedikit diremehkan kali ini, tetapi aku tidak peduli. Aku tidak ingin terlalu gegabah, aku ingin melihat situasi dan kondisinya untuk sementara waktu.

"Pak guru Arthur! Kalau pak guru Arthur tidak aktif, nanti ada hanya kebagian murid yang tidak diinginkan guru yang lain saja, apa pak guru menginginkan hal itu?" Jade mulai khawatir pada diriku, karena sudah setengah jam lebih Jade berteriak keras sampai tenggorokannya sedikit kering untuk membuat para pendaftar melihat ke arah kelas milikku.

Aku cuma bisa menggelengkan kepala ku, ku ambilkan sebuah minuman untuk Jade. "Ini minum dulu, santai saja Jade! Lagipula masih ada banyak waktu" ujarku sambil menyerahkan minuman itu pada Jade.

Tertekuk wajahnya, Jade tidak senang dengan sikapku yang terlalu santai di matanya yang berwarna biru gelap seperti batu indah bernama Safir. "Pak guru Arthur memang seperti itu! Selalu santai, itulah mengapa pak guru hanya kebagian murid sisa di kelas umum dan bahkan semuanya keluar karena ulah pak guru sendiri!" katanya, kesal Jade namun ia tidak marah padaku.

Aku cuma menanggapi dengan tertawa kecil sambil terus memperhatikan banyaknya calon murid baru yang hilir mudik lalu lalang melewati kelasku, kelas umum yang ku gunakan semester kemarin.

Walaupun aku terlihat santai, sebenarnya dari tadi aku juga terus memperhatikan semua calon murid baru ini. Aku mencari-cari calon murid yang memiliki potensi yang sangat besar, saat aku menemukannya maka aku akan berusaha mati-matian untuk mendapatkannya meski berebut dengan guru yang lain. Tidak seperti para anak bangsawan kelas atas, aku lebih mencari calon murid yang berasal dari kalangan bawah ataupun kalangan biasa saja, namun dia memiliki potensi yang luar biasa. Aku menyebutnya dengan 'sebuah permata di tumpukan ikan busuk'.

Aku terus mencari dan mencari, telingaku bahkan sudah terbiasa dengan ceramah dari Jade yang terus menerus mengeluh dan kesal padaku, rupanya dibalik sifatnya yang kalem dan sedikit pemalu, Jade seorang yang sangat pandai dalam memarahi seseorang, aku bisa melihat betapa cocoknya Jade menjadi seorang ibu.

Saat aku fokus mencari, Jade menepuk pundakku. Aku berbalik ke hadapannya, ku tatap wajahnya seperti sedang ingin memberitahu ku sesuatu.

Lalu Jade menunjuk ke arah yang jauh, ku ikuti kemana jari telunjuknya yang lentik dengan kuku yang indah mengarah. Di sana aku melihat seorang pemuda berambut merah menyala, membawa tombak dan wajahnya seperti sedang menahan rasa sakit perut. Saat ku aktifkan Skill Taksiran, akhirnya ku menemukan apa yang ku cari. Hebat juga Jade bisa melihat orang yang punya potensi.

"Kerja bagus Jade! Apa kau punya skill taksiran juga?" aku memujinya dengan mengelus-elus rambutnya yang panjang.

Wajah Jade jadi merah, ia menunduk namun bisa ku lihat senyuman lebar di wajahnya. "Apa itu skill taksiran? Maksud pa guru Arthur skill penilaian? Sayangnya, aku tidak memiliki itu" Jade tersipu malu, manis sekali saat dirinya tersipu bahkan mengalahkan manisnya gula batu yang berukuran 3x3.

Aku terkejut, Jade bahkan menemukan bakat seseorang tanpa menggunakan skill taksiran atau skill penilaian sama sekali. Lantas bagaimana Jade mengetahui itu? Dengan mengunakan insting seorang wanita kah? Sepertinya aku harus berhati-hati di masa depan. "Hebat Jade! Ayo kita yakinkan dia untuk bergabung bersama kita!" ucapku dengan penuh semangat berjalan menuju sosok pemuda tadi.

Saat aku dan Jade tiba di hadapan pemuda itu, ia sedikit kebingungan. Ia menunduk pelan, sebuah sikap yang semakin membuatku ingin merekrutnya.

"Halo! Apa kau ingin belajar di Akademi Bridestones? Kalau iya sepertinya tempat yang cocok untukmu adalah dibawah pengawasan dan pengajaran pak guru Arthur! Aku jamin kau tidak akan menyesal setelah bergabung dengan beliau" Jade sudah seperti sales yang sangat handal.

Pemuda itu kebingungan, ia menatapku beberapa kali seperti meyakinkan dirinya sendiri. Di mataku, pemuda ini nampaknya mencoba mempelajari diriku, ia menunjukkan kalau dirinya punya patokan yang tinggi.

"Oh maaf kau pasti kebingungan ya? Perkenalkan namaku Jade, Jade Joanne. Aku salah satu murid dari pak guru Arthur yang disamping ku saat ini" Jade memperkenalkan diriku dan dirinya pada pemuda itu, aku menunduk pelan seperti layaknya seorang bangsawan yang mengetahui tata krama.

Pemuda itu menunduk juga namun sedikit kaku, jelas dia bukan orang yang biasa bertamu dengan orang-orang yang mementingkan etika rumit seperti bangsawan, bukannya aku benci namun aku lebih suka tidak terlalu formal.

"Namaku Johan Johannes, aku berasal dari desa Windthos yang berjarak satu Minggu dari sini dan aku ingin belajar tombak agar menjadi pengguna tombak paling hebat dan paling perkasa di seluruh kerajaan!" ucap Johan dengan sangat percaya diri.

"Aku suka gayamu Johan! Kau begitu bersemangat untuk meraih kesuksesan mu bagus sekali!" aku memujinya, sambil menepuk-nepuk pundaknya agar Johan merasa lebih nyaman.

Johan ikut tertawa, dan aku tawarkan dia untuk masuk ke dalam kelasku namun dengan sopan ia menolak ajakan ku.

"Maaf pak guru Arthur! Tetapi saya sudah memiliki tujuan saya di sini. Saya ingin masuk ke kelas pak guru Arges" ucap Johan sambil menunduk perlahan, masih dengan sangat sopan. "Untuk meraih mimpiku, aku harus ikut kelas beliau, sekali lagi maaf dan terima kasih telah menawari diriku"

Aku sedikit kesal, rasanya aku tidak ingin melepaskan Johan begitu saja pada guru lain. Tetapi saat aku ingin memaksa Johan sekali lagi agar ikut denganku, Jade menahan diriku.

"Pak guru Arthur tidak boleh memaksa kehendak orang lain okay? Dan juga sepertinya pak guru Arges lebih cocok untuk Johan yang pengguna tombak" kata Jade, matanya memohon padaku agar melepaskan Johan.

Pada akhirnya ku lepaskan Johan, namun aku tetap mencoba usaha terakhir. "Bila kau berubah pikiran, datang saja ke kelas ku ya Johan! Kau akan selalu diterima di sini" ucapku lagi, mencoba untuk tetap membuat Johan ingat.

"Terima kasih banyak, kalau begitu saya pergi dulu ke kelas pak guru Arges, permisi" setelah itu Johan berlalu pergi menuju kelas pak guru Arges, rasanya seperti kehilangan mutiara indah di dasar lautan.

"Siapa sebenarnya pak guru Arges? Mengapa Johan sangat ingin masuk ke sana?" aku bertanya-tanya, rupanya suaraku terdengar oleh Jade.

Jade langsung memotong. "Anda lupa siapa pak guru Jade?" ucapnya keheranan. "Beliau adalah salah satu pengajar terbaik di Akademi Bridestones dan spesialis penggunaan tombak, tetapi beliau juga bisa memberikan materi di luar itu seperti sihir dasar ataupun taktik berperang, karena beliau adalah mantan komandan pasukan tombak Kerajaan Fonterra"

Aku masih tidak terima meskipun sudah mendengar siapa sebenarnya pak guru Arges ini. Lagi, Jade memberikan pengetahuan tentang pak guru Arges untukku.

"Mengapa Johan lebih memilih pergi ke kelas pak guru Arges? itu karena reputasi beliau yang baik sekali, bukan seperti anda" Jade sedikit menyentil diriku. "Pak guru Arges bahkan memiliki lebih dari 120 murid semester kemarin dan bahkan beberapa lulusan dari kelas beliau ada yang menjadi perwira tinggi di pasukan kerajaan, tidak seperti anda yang bahkan mencari murid saja masih kesusahan"

Rasanya sakit, tetapi semua yang disampaikan oleh Jade tadi adalah benar adanya. Memang, sebuah kenyataan itu selalu menyakitkan, karena yang membuat kita nyaman itu adalah sebuah kebohongan.

Aku mencoba untuk lupakan, tidak ada hasilnya jika aku terus mengeluh sehingga sekali lagi aku dan Jade pergi berkeliling untuk mencari calon murid lagi, kali ini aku benar-benar berharap aku akan menemukan setidaknya 3 murid yang memang pilihan ku sendiri.

Terpopuler

Comments

Fendi Kurnia Anggara

Fendi Kurnia Anggara

up

2024-10-18

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 1: Awal Mulanya
2 BAB 2: Arthur Westwood
3 BAB 3: Mendapatkan Murid
4 BAB 4: Hari Penerimaan
5 BAB 5: Permata Diantara Tumpukan Ikan Busuk
6 BAB 6: Apa Yang Terjadi?
7 BAB 7: Apa Yang Terjadi Part 2
8 BAB 8: Berakhirnya Hari
9 BAB 9: Rapat Dewan Guru
10 BAB 10: Hari Pertama
11 BAB 11: Worm Hole
12 BAB 12: Home Visit
13 BAB 13: Home Visit Part 2
14 BAB 14: Pengalaman Adalah Guru
15 BAB 15: Pengalaman Adalah Guru Part 2
16 BAB 16: Pengalaman Adalah Guru Part End
17 BAB 17: Eclipsed Dominion
18 BAB 18: Dari Hadiah Ke Masalah
19 BAB 19: Provokasi Dari Kelas Pak Guru Brandon Berlanjut
20 BAB 20: Hari Pertarungan
21 BAB 21: Hari Pertarungan Part 2
22 BAB 22: Hari Pertarungan Part 3
23 BAB 23: Hari Pertarungan Part End
24 BAB 24: Drama Hari Ini
25 BAB 25: Celestine Dan Penggemarnya
26 BAB 26: Memanggil Familiar
27 BAB 27: Sihir Pemanggilan Dan Kejutan
28 BAB 28: Kelas Bonding
29 BAB 29: Melangkah Lebih Jauh
30 BAB 30: Hari-hari Berikutnya
31 BAB 31: Berita Buruk
32 BAB 32: Kutukan Terangkat
33 BAB 33: Janji Di Sore Itu
34 BAB 34: Perubahan Sikapnya
35 BAB 35: Kedatangan Yang Mendadak
36 BAB 36: Festival Lunaria
37 BAB 37: Persiapan Festival Lunaria
38 BAB 38: Babak Penyisihan
39 BAB 39: Babak Penyisihan Part 2
40 BAB 40: Babak Penyisihan Part 3
41 BAB 41: Babak Penyisihan Part Akhir
42 BAB 42: Tentang Ambisi dan Persahabatan
43 BAB 43: Acara Minum Teh Bersama Cassandra Beaumont
44 BAB 44: Drama Di Kelas
45 BAB 45: Rencana Liburan
46 BAB 46: Perasaan Nostalgia
47 BAB 47: Berlatih Di Whispering Wood
48 BAB 48: Satu Minggu Di Aldemere Haven
49 BAB 49: Hari Terakhir
50 BAB 50: Tugas Berat
51 BAB 51: Kedatangan Lady Seraphina
52 BAB 52: Seraphina von Edelweiss
53 BAB 53: Bermain-main Dengan Bayangan
54 BAB 54: Kegelapan Yang Mengintai
55 BAB 55: Membantu Persiapan
56 BAB 56: Pembukaan Festival Lunaria
57 BAB 57: Kategori Ketepatan dan Muncul Sosok Ahli Angin
58 BAB 58: Janji Untuk Elyrde
59 BAB 59: Pertunjukan Sihir
60 BAB 60: Saling Mendukung
61 BAB 61
62 BAB 62
63 BAB 63
64 BAB 64
65 BAB 65
66 BAB 66
67 BAB 67
68 BAB 68
69 BAB 69
70 BAB 70
Episodes

Updated 70 Episodes

1
BAB 1: Awal Mulanya
2
BAB 2: Arthur Westwood
3
BAB 3: Mendapatkan Murid
4
BAB 4: Hari Penerimaan
5
BAB 5: Permata Diantara Tumpukan Ikan Busuk
6
BAB 6: Apa Yang Terjadi?
7
BAB 7: Apa Yang Terjadi Part 2
8
BAB 8: Berakhirnya Hari
9
BAB 9: Rapat Dewan Guru
10
BAB 10: Hari Pertama
11
BAB 11: Worm Hole
12
BAB 12: Home Visit
13
BAB 13: Home Visit Part 2
14
BAB 14: Pengalaman Adalah Guru
15
BAB 15: Pengalaman Adalah Guru Part 2
16
BAB 16: Pengalaman Adalah Guru Part End
17
BAB 17: Eclipsed Dominion
18
BAB 18: Dari Hadiah Ke Masalah
19
BAB 19: Provokasi Dari Kelas Pak Guru Brandon Berlanjut
20
BAB 20: Hari Pertarungan
21
BAB 21: Hari Pertarungan Part 2
22
BAB 22: Hari Pertarungan Part 3
23
BAB 23: Hari Pertarungan Part End
24
BAB 24: Drama Hari Ini
25
BAB 25: Celestine Dan Penggemarnya
26
BAB 26: Memanggil Familiar
27
BAB 27: Sihir Pemanggilan Dan Kejutan
28
BAB 28: Kelas Bonding
29
BAB 29: Melangkah Lebih Jauh
30
BAB 30: Hari-hari Berikutnya
31
BAB 31: Berita Buruk
32
BAB 32: Kutukan Terangkat
33
BAB 33: Janji Di Sore Itu
34
BAB 34: Perubahan Sikapnya
35
BAB 35: Kedatangan Yang Mendadak
36
BAB 36: Festival Lunaria
37
BAB 37: Persiapan Festival Lunaria
38
BAB 38: Babak Penyisihan
39
BAB 39: Babak Penyisihan Part 2
40
BAB 40: Babak Penyisihan Part 3
41
BAB 41: Babak Penyisihan Part Akhir
42
BAB 42: Tentang Ambisi dan Persahabatan
43
BAB 43: Acara Minum Teh Bersama Cassandra Beaumont
44
BAB 44: Drama Di Kelas
45
BAB 45: Rencana Liburan
46
BAB 46: Perasaan Nostalgia
47
BAB 47: Berlatih Di Whispering Wood
48
BAB 48: Satu Minggu Di Aldemere Haven
49
BAB 49: Hari Terakhir
50
BAB 50: Tugas Berat
51
BAB 51: Kedatangan Lady Seraphina
52
BAB 52: Seraphina von Edelweiss
53
BAB 53: Bermain-main Dengan Bayangan
54
BAB 54: Kegelapan Yang Mengintai
55
BAB 55: Membantu Persiapan
56
BAB 56: Pembukaan Festival Lunaria
57
BAB 57: Kategori Ketepatan dan Muncul Sosok Ahli Angin
58
BAB 58: Janji Untuk Elyrde
59
BAB 59: Pertunjukan Sihir
60
BAB 60: Saling Mendukung
61
BAB 61
62
BAB 62
63
BAB 63
64
BAB 64
65
BAB 65
66
BAB 66
67
BAB 67
68
BAB 68
69
BAB 69
70
BAB 70

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!