BAB 20 DUO DEMIT SOMPLAK

Lagi-lagi si duo demit somplak itu bikin ulah. Nggak ada angin nggak ada hujan tepat di tengah bolong begini, seenak jidat mereka berlarian di lorong koridor rumah sakit sambil bilang setan dengan suara lantang.

Karena ini siang bolong, ya jelas nggak akan ada yang percaya kalau setan bergentayangan siang siang begini kecuali kalau setan itu buta atau hilang ingatan. Hans melotot dan menjulurkan satu tangannya untuk membungkam mulut dua demit somplak itu agar tidak berisik di rumah sakit.

"Kalian berisik sekali!" sentak Hans kesal melihat dua demit yang langsung terdiam didepannya. "Apa kalian tidak malu? kalian ini setan? Setan gila mana yang takut dengan setan?"

"Maaf Pangeran, kami lupa kalau kami juga setan. Habis di kamar mayat tadi ada yang bangun Pangeran. Kan kami kaget," terang Mas Gen.

Hans hanya bisa tepok jidat mendengar alasan duo demit somplak ini. "Itu arwah orang yang baru saja meninggal. Wajar kalau mereka bangun dari jasadnya. Atau bisa jadi itu jin qorin nya. Nggak usah ngadi-ngadi kalian. Lagian ngapain kalian ada di ruang mayat? Itu sapu sama pengki mau kalian apain?"

"Aku menghukum mereka karena mereka buat ulah sama Pak Po. Alasan kakekmu harus masuk ruang ICU karena mereka memukuli Pak Po hingga babak belur." Yeon membantu menjelaskan kenapa duo demit somplak itu bawa sapu dan pengki ke mana-mana.

Mulut Hans menganga. Kepalanya langsung pening menghadapi kelakuan para demit ini.

"Bisa tidak sehari saja kalian tidak bikin ulah? Bagaimana kalau manusia lain menyadari siapa kalian hanya dengan melihat kecerobohan kalian. Ingat Mas Gen, Mas Ger. Sekali ada yang tahu identitas kalian. Pilihannya hanya ada 1. Kalian akan lenyap dari muka bumi ini selamanya dengan menjadi manusia biasa tanpa kekuatan. Perlahan kalian akan menua dan mati. Tidak bisa bereinkarnasi. Jagalah sikap kalian sampai kalian kembali menjadi demit. Hanya tinggal 2 minggu lagi. Paham!" Hans memberikan wejangan panjang lebar kali tinggi.

"Maafkan kami Pangeran, kedepannya kami akan hati-hati dalam bertindak," ujar Mas Gen dan Mas Gen bersamaan.

"Sekarang lakukan tugas kalian. Hukuman yang diberikan Pamanku tetap berlaku. Jangan lupa untuk makan dan minum. Meski kalian tak suka makanannya, tubuh manusia kalian tetap butuh asupan. Apa kalian mengerti?"

"Mengerti Pangeran, kami pamit undur diri." duo demit somplak itu sama sekali tak berani mengangkat wajah mereka saat Hans ngomel-ngomel. Merekapun langsung pamit undur diri dan mulai bekerja sebagai kang kebun rumah sakit.

Namun, pekerjaan mereka ini juga sering diusili oleh penunggu rumah sakit yang merupakan makhluk astral tak kasat mata. Mungkin makhluk astral itu belum tahu kalau demit yang mereka jahili adalah Kang bikin onar.

Lagi asyik-asyiknya nyapu di bawah pohon beringin, tiba-tiba ada hantu gentayangan melempari kepala Mas Gen dengan batu. Awalnya Mas Gen diam saja karena ia tahu Hans sedang mengawasinya dari kejauhan. Kalau dia membalas perbuatan hantu gentayangan itu, pasti Hans bakal ngomel-ngomel lagi.

tetapi si Hantu itu tak takut juga. Untuk kedua kalinya, ia melempari Mas Ger batu besar juga hingga terdengar suara "pletak" saking kerasnya batu itu mendarat di kepala Mas Ger.

Karena Mas Ger dalam mode manusia, tentu ia merasakan sakit. Bahkan kepalanya langsung benjol. Untung tidak sampai berdarah. Namun sakitnya lumayan juga.

"Woy!" pekik Mas Ger marah. "Jangan berani di belakang! Kalau berani sini turun! Satu lawan satu!" pekiknya.

"Mas Ger! Pura-pura saja tidak lihat, kita bikin perhitungan setelah pangeran Hans tidak ada di sini," bisik Mas Gen.

"Tapi Pangeran pasti perginya lama. Nah itu, sudah masuk ke ruangan Pak Po." Mas Ger memerhatikan gerak geriknya Hans sambil pura-pura membersihkan taman.

"Ayo!" seru Mas Gen. Ia langsung meletakkan sapu dan pengkinya begitu saja lalu memanjat pohon beringin nyamperin hantu jahil yang sejak tadi mengganggunya.

Hantu jahil itupun kaget karena ternyata orang yang dijahilinya bisa melihatnya dengan jelas.

"Wah, rupanya kau baru mati bunuh diri ya, makanya gentayangan di sini. Apa masalahmu denganku ha? Kenapa kau melempariku batu?" Mas Gen sudah siap-siap memberi bogem mentah pada hantu jahil di depannya ini.

"Ka-kau bisa melihatku?" tanyanya heran.

"Tentu saja, makanya. Sebelum perang, cari tahu dulu lawanmu itu siapa."

Hantu jahil itupun langsung menghilang dan melarikan diri. Tapi Mas Gen tidak mengejar. Sebagai demit dia tahu betul sistematis kecepatan hantu menghilang itu sampai di mana.

Mas Gen pun kembali turun, karena ada banyak manusia berlalu lalang, iapun penuruni pohon beringin dengan menggunakan tangan dan kaki. Hanya saja, orang yang melihat Mas Gen merasa heran aja. Manusia gila mana yang mau manjat pohon beringin dan turun kayal orang manjat pohon mangga saja. Nggak ada takut-takutnya. Padahal kan beringin di rumah sakit ini terkenal angker dan tak seorangpun berani mendekat. Ya karena ada hantu jahil tadi.

Sepertinya si hantu jahil sedang apes karena dia beraksi pada orang yang salah. Meski si hantu lolos dari Mas Gen, ia tak bisa lolos dari Mas Ger. Begitu si hantu jahil muncul di gudang rumah sakit. Dia langsung dikejutkan dengan Mas Ger yang mendadak muncul didepannya.

"Astaga!" pekik hantu jahil itu kaget.

"Berani sekali kau melempariku dengan batu sampai kepalaku benjol begini. Belum pernah dihajar demit kau ha?" geram Mas Ger.

"Ka-kau ... juga ... bisa lihat aku?" si hantu kaget. Ini kali pertama ada manusia yang bisa melihat sosoknya.

"Tentu saja aku bisa lihat. Karena kau setan, maka kau harus dihukum dengan cara setan. Sini kau!" Mas Ger langsung memgambil ancang-ancang dan siap menendang sosok hantu jahil itu hingga terlempar jauh di angkasa.

Cuaca yang panas mendadak hujan gara-gara hantu jahil itu di lempar Mas Ger hingga menembus awan sehingga menyebabkan hujan dadakan. Matahari memang bersinar teranh dan teriknya menyengat tubuh. Tapi hujanpun turun juga sehingga airnya menjadi hangat.

Merasa ada yang tidak beres, Hans pun keluar untuk memeriksa apakah duo demit somplak bikin ulah lagi. Saat keluar, ia melihat Mas Ger dan Mas Ger sedang sibuk menyapu sambil berteduh di bawah pohon beringin sok kedinginan karena tersiram hujan. Padahal ini cuaca lagi panas. Namun akting duo demit itu tampak meyakinkan.

"Kalian tidak buat onar lagi kan?" tanya Hans curiga.

"Tidak Pangeran, daritadi kami di sini, iya kan Mas Gen?" ujar Mas Ger.

"Iya Pangeran, sejak tadi kami sibuk menyapu."

Duo demit itu pandai sekali berbohong.

"Lalu setan mana yang sedang menangis di atas awan sampai bikin hujan ditengah bolong gini?" tanya Hans.

"Mana kami tahu Pangeran, silahkan periksa saja kalau Pangeran penasaran."

"Yakin bukan ulah kalian kan?"

"Sumpah demi kesembuhan Pak Po Pangeran, kami tidak bohong."

Mendadak Pak Po berteriak histeris karena tubuhnya serasa terbakar dan teramat sakit.

"Aduh aduhh panasss! Siapa yang berani sumpah atas namaku woy! Panas tahu!" pekik Pak Po marah karena jelas rekannya itu sedang berbohong makanya tubuhnya langsung kepanasan.

Yang bikin ulah siapa, yang dijadiin tumbal siapa.

BERSAMBUNG

***

Terpopuler

Comments

Teh Yen

Teh Yen

duh.mas ger sama mas gen bikin ulah aj nih ,, aku pikir.pak po sakit semuanya aman tau ya malah mas ger d mas gen yg bikin onar 😅😅

2024-08-26

0

Nadilah Egiers

Nadilah Egiers

hans"kamu harus banyak stok sabar buat ngadepin para demit itu belum lg kalau pa po udah sembuh nambah lg 🤣🤣🤣

2024-08-19

0

Yurniati

Yurniati

terus update nya thorr

2024-08-17

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!