“Ada apa denganmu?” tanya Rosela begitu rapat selesai,
“Memangnya aku kenapa?” Hans balik tanya dan tidak merasa bersalah sama sekali. Dengan santainya ia berjalan di sisi sang istri. Sementara semua orang menatap mereka dengan tatapan campur aduk antara kesal dan salut.
Rosela langsung dongkol akut dengan suaminya. Bisa-bisanya disaat lagi rapat, si Bengal Hans malah tidur pulas sampai mendengkur pula. Bikin malu saja. Hans memang tampan, cool dan sangat kuat, tapi bengal dan malasnya nggak bisa ditinggal.
“Kenapa kau manyun begitu? Kau marah padaku?” tanya Hans saat Rosela berjalan mendahuluinya dan tak mau melihat wajahnya.
“Aku nggak marah. Aku kesal. Bagaimana kau bisa tidur sambil ngorok begitu di saat rapat?” omel Rosela.
“Aku ngantuk sekali Sayang. Kalau terlalu sering menggunakan kekuatanku, aku jadi ngantuk. Tapi aku dengar kok apa yang mereka bicarakan.”
“Oh iya? Mereka bilang apa?” Rosela mencoba mengetes suaminya.
“Eeee … apa ya?” Hans tidak bisa menjawab. Pasalnya ia memang beneran molor dan tidak tahu menahu apa yang dirapatkan.
“Tidak tahu kan? Kalau kau terus seperti ini, jangan kaget kalau dalam hitungan hari perusahaan besar ini bakalan bangkrut.”
“Itulah yang diperintahkan paman Leo, dia ingin perusahaan ini bangkrut ditanganku. Paman punya 215 perusahaan besar yang tersebar di seluruh dunia. Belum anak cabangnya. Dia bosan kalau harus datang kemari. Makanya dia pasang foto segede gaban di ruangannya sebagai pengganti dirinya karena jarang sekali ke perusahaan ini.”
“Ya tapi nggak harus gini juga kali. Tidak membuat perusahaan ini bangkrut artinya kau menyelamatkan kehidupan banyak orang. Bayangkan saja kalau perusahaan ini bangkrut berapa ratus karyawan yang akan jadi pengangguran.”
Seketika Hans langsung terdiam. Selama ini ia tak pernah peduli pada orang lain dan hanya memikirkan kesenangannya sendiri. Ucapan Rosela barusan seakan sebuah tamparan besar baginya. Ini kali pertama Hans mulai memikirkan nasib hidup orang lain berkat Rosela.
“Sini!” Rosela menyeret tangan suaminya menuju jendela Perusahaan. “Lihat satpam itu. Dan juga OB tua itu. Mereka bekerja supaya dapat gaji dari sini untuk mencukupi kebutuhan mereka dan keluarganya. Dan lihat di Seberang sana. Ada banyak pemulung, pengemis dan gelandangan terus berkeliaran di Perusahaan berharap belas kasih dari kita. Ini baru Sebagian kecil lingkungan Perusahaan. Kalau kau keliling lagi atau melihat area-area yang lain. masih banyak orang yang kelaparan dan kekurangan uang. Kebanyakan mereka terpaksa jadi penjahat demi mengisi perut mereka.”
Melihat suaminya berdiri diam di tempatnya, Rosela memegang kedua tangan Hans sambil menatapnya lembut. “Mungkin bagimu dan seluruh keluarga besarmu, kalian tidak akan pernah kekurangan materi, uang, harta dan tahta. Sampai tujuh turunanpun kekayaan kalian tidak akan habis. Dan tanpa bekerjapun, kebutuhan hidup kalian masih bisa tercukupi dengan sangat baik. Tapi bagaimana dengan orang lain di luar keluargamu yang harus banting tulang demi mencari sesuap nasi. Jika memang kau ingin membuat bangkrut perusahaan ini, setidaknya berikan semua uang yang perusahaan ini punya pada orang-orang yang membutuhkan.”
Rosela membelai lembut pipi Hans yang menatap dirinya dengan wajah bingung. Sungguh Hans tak pernah berpikir sampai sejauh ini. Ia juga tak pernah peduli pada banyaknya orang-orang yang kelaparan di luar sana karena prinsipnya adalah tidak suka ikut campur urusan orang lain.
Di tambah Hans ini adalah manusia yang berbeda dengan manusia lainnya sehingga ia merasa kalau ia tak perlu bergaul dengan siapapun. Entah orang itu susah atau senang, kaya atau miskin, bodo amat. Yang penting Hans hidup dengan dunianya sendiri. Sampai akhirnya ia bertemu dengan Rosela.
Sejak saat itu, hidup Hans berubah. Rosela mengubah hidupnya yang tadinya gelap menjadi terang dengan sikap polosnya. Rosela menghidupkan kembali sisi manusianya dengan selalu menyelamatkan nyawa sang istri setiap kali Rosela dalam bahaya. Hingga akhirnya keduanya jatuh cinta.
“Apa aku salah?” tanya Rosela membuyarkan lamunan suaminya.
“Tidak, kau tidak salah. Aku tidak tahu kalau banyak manusia bernasib malang lebih darimu. kau satu-satunya wanita yang membuatku ingin melindungimu. Tanpa sadar kalau di dunia ini, ada begitu banyak manusia lain selain dirimu dan aku serta keluargaku.”
“Jadi sekarang bagaimana? Masih mau bikin bangkrut Perusahaan?”
“Tentu saja tidak. Aku akan belajar bekerja mulai besok. Sekarang kita pulang.”
“Pulang ke mana? Kau bilang aku sudah tidak boleh pulang lagi ke rumahku. Tapi itu rumahku. Aku nggak akan pernah menyerahkan rumah peninggalan ayahku pada ibu dan kakak tiriku. Mereka sudah merusak rumah itu.”
“Ibu tiri dan kakak tirimu bekerjasama dengan iblis bertanduk. Dia adalah sosok iblis paling kuat dan jahat, tapi juga bang5aat karena ia selalu menodai wanita yang masih suci sebagai tumbalnya.”
“Hah?”
“Dia mengincarmu, tapi kau sudah jadi istriku. Kita … harus … itu …”
“Tunggu-tunggu. Apa maksudmu? Iblis minta tumbal peraw44n? Emang ada?”
“Tidak ada yang tidak ada di dunia iblis. Semua serba ada, serba gila, serba tidak masuk akal, serba menjijikkan dan serba-serba lainnya. Makanya, sebelum iblis itu mendekatimu, kita harus itu ….”
“Itu apa …” tanya Rosela bingung. “Kau ini bicara apa sih? Aku tidak mengerti sama sekali.
“Kalau kau mau pulang ke rumahmu, kita harus sering-sering berhubungan suami istri agar iblis itu tak bisa mendekatimu karena kau sudah jadi milikku seutuhnya. Itu maksudku.” Hans gugup sendiri. Habis Rosela nggak paham juga.
Wajah Rosela memerah seperti semangka. Ia langsung buang muka dan mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Kita harus ke tempat Vira sekarang. Dia akan terus gentayangan kalau kita tidak segera menemukan pelakunya.”
“Pelakunya sudah tertangkap. Tapi mereka bukan pelaku sebenarnya. Para polisi itu sengaja dibungkam karena pelaku utamanya sudah dihabisi oleh ayah pacar Vira. Mau dicari sampai kapanpun, pelaku pembunuh sahabatmu tidak akan pernah ketemu. Mereka sudah lama mati seminggu setelah Vira dimakamkan. Tepat di saat sahabat temanmu yang lain kesurupan. Perwira polisi yang mendengar kabar itu langsung memburu pelaku dan menghabisinya di tempat. Kasus itu langsung ditutup. Dan tidak ada kelanjutannya lagi hingga sekarang.”
“Tapi kenapa para polisi masih menangkap pelaku yang bukan pelaku sebenarnya? Kenapa tidak dikatakan saja kalau pelakunya sudah tiada?”
“Sebab, pembunuh Vira juga bukan orang sembarangan. Dia putra pengusaha kaya raya di negara ini. Baik perwira dan pengusaha itu sudah sepakat. Mereka merelakan anak-anak mereka dan mengubur kasus ini sebagai misteri yang takkan pernah terpecahkan.”
“Lalu Vira? Kenapa arwahnya masih gentayangan kalau pelakunya sudah tidak ada?”
“Karena dia tak tahu di mana jasad pelaku itu dikebumikan. Kalau dia tahu dan melihat sendiri jasad pembunuhnya, saat itu juga jiwanya akan lenyap dan kembali ke alamnya. Apa keputusanmu sekarang?”
Rosela terdiam seribu bahasa karena bingung. Apa yang akan ia lakukan sekarang. Memberitahu Vira apa yang dikatakan Hans barusan sehingga temannya bisa kembali tenang di alamnya. Atau menutupinya rapat-rapat karena Rosela tak ingin berpisah dengan Vira. Setidaknya tidak untuk sekarang.”
BERSAMBUNG
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments
eenok
hayo ah rose serhkn perwn km ke suami lah .. biar mkn gerrr si suami kekuatnny jg
2024-07-05
0
Suwastika
seru thor.....
lanjut ya thor....
2024-07-04
0
Haryati
nunggu Hans jebol gawang...😁😁😁
2024-07-04
0