Hans hanya bisa tepok jidat melihat seluruh pasukan demit kakeknya nyungsep ke dalam git tanpa berbuat apa-apa. Mana gotnya sangat kotor dan bau. Rosela apalagi, mulutnya menganga melihat para manusia demit itu menundukkan kepala seolah siap mendapat nyanyian tak teratur.
Rosela mengulurkan tangan hendak menolong para demit itu dengan menarik mereka satu per satu. Namun dihalau oleh Hans.
"Jangan!" serunya.
"Kenapa? Kita nggak mungkin biarkan mereka tetap di sini?" tanya Rosela heran kenapa melarangnya menolong para demit ini.
Hans tidak langsung menjawab. Ia melihat sekitarnya dan mengamati sesuatu.
"Kalian semua tetap di sini. Jangan bergerak sampai aku kembali."
Hans pergi ke suatu tempat sedangkan Rosela ikut menunggu seperti yang dikatakan suaminya. Tak lama kemudian Hans datang sambil membawa selang panjang yang entah ia dapat dari mana.
Tanpa permisi, ia langsung menyiram semua tubuh lara demit yang kotor dan wujudnya hitam legam menggunakan air selang. Kotoran dan bau tak sedap yang menempel di tubuh para demit itupun menghilang secara perlahan.
Kasihan para demit itu, mereka gelagapan gara-gara disiram air oleh Hans. Tapi mereka tak bisa melawan. Hanya dengan cara ini mereka bisa bersih kembali dan dapat ditarik kembali ke atas.
"Aku tidak menyangka, kena air selang ternyata menyakitkan juga," ujar salah satu demit itu.
"Tapi airnya segar dan enak," sahut yang lainya.
"Kalian tidak apa-apa? Apa ada yang terluka?" tanya Rosela penuh perhatian.
"Kami tidak apa-apa Tuan Putri?" seru semua demit menundukkan kepala pada Rosela.
"Aku berani mengajak kalian keluar, karena aku sudah mengajarkan adab yang baik selama jadi manusia. Jadi tolong jangan bikin malu."
"Baik Pangeran," ucap semua demit bersamaan.
"Kita masuk dan jenguk Pak Po!" Hans mengajak semua demit itu ke rumah sakit tempat di mana Yuna bekerja dan Pak Po dirawat.
Kebetulan, Yeon sedang mengurus kasus yang menimpa desanya di mana beberapa warga melapor kalau mereka di teror. Bahkan teror itu bukan teror manusia biasa. Melainkan teror dari makhluk tak kasat mata yang menyebabkan sebagian warga terluka.
Hans dan Rosela berjalan beriringan dan ada banyak sekali aparat dan perangkat desa wara wiri di sekita mereka. Para demit yang mengekor di belakang Hans ikutan bingung juga.
"Sepertinya, rumah sakitnya ramai sekali, Suamiku. Apa banyak yang sakit?" tanya Rosela.
"Aku rasa tidak seperti itu. Wahai para demit," seru Hans pada para demit yang ada di belakangnya. "Kalian merasakan sesuatu?" tanyanya.
"Kami bisa merasakannya Pangeran. Tapi tidak begitu kuat."
"Itu kutukan. Warga desa paman Yeon, terkena kutukan." Hans langsung menatap Yeon yang kebetulan ada di depannya.
Wajah Yeon langsung terpaku mendengar keterangan keponakannya. "Apa maksudmu Hans?" tanya Yeon.
"Kita akan tahu setelah aku datang ke desa Paman. Tak menuntut kemungkinan, korbannya akan semakin bertambah."
"Maksudku, bagaimana bisa desaku di kutuk? Aku tak pernah melakukan kesalahan apapun. Selama ini kami semua baik-baik saja."
"Ada yang mengirim kutukan itu Paman. Mungkin faktor iri. Kan desa Paman selalu masuk desa terbaik. Dan selalu mendapat penghargaan baik dari luar maupun dalam negeri. Wajar kalau ada yang tidak suka," terang Hans santai.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Yeon cemas.
"Duduk manis saja di sini dan rawat Pak Po. Biar aku yang bertindak," ujar Hans enteng. Iapun pergi ke tempat Pak Po berada sekarang.
Rosela yang sejak tadi diam menundukkan kepala saat melewatj Yeon dan mengejar suaminya.
Sedangkan para demit hanya diam berdiri ditempatnya. Yeon jadi heran.
"Kenapa kalian dia saja di sini? Ikuti Pangeran kalian."
"Kami punya firasat kalau kami bakal dijadikan korban pangeran Tuan Muda Yeon."
"Korban?" Yeon mengernyitkan alis tanda tidak mengerti.
"Kutukan yang menyerang warga desa Anda, tidak akan pernah berhenti sampai semua terget kutukan itu mati. Sepertinya Pangeran Hans berniat menggantikan para penduduk desa itu dengah kami. Huaaaa." salah satu demit itu menangis diikuti dengan demit lainnya.
"Kami tidak mau mati Tuan Muda. Baru juga jadi manusia masa langsung mati. Kami bahkan belum merasakan suka dukanya sebagai manusia itu kayak gimana. Sekarang malah diminta mati sia-sia. Huaaaa."
Semua demit menangis bersamaan dan membuat Yeon jadi merasa bersalah. Yeon pun balik badan dan langsung mengejar Hans.
"Hans!" panggil Yeon sebelum Hans masuk ke ruangan Pak Po.
"Iya Paman? Ada apa?"
"Apa betul yang dikatakan para demit itu? Kau mengorbankan mereka untuk menggantikan semua penduduk desa? Aku tidak setuju. Aku tidak mau kau melakukan hal segila itu? Kakekmu bisa murka?" Nada suara Yeon meninggi. Ia bukan marah, tapi ia tak bisa membiarkan ketidakadilan terjadi di depan matanya.
Hans tersenyum simpul melihat ekspresi Yeon. "Lantas, Paman mau membiarkan kutukan itu melenyapkan satu per satu para warga tanpa melakukan apa-apa?"
"Tentu saja tidak, pasti ada cara lain."
"Yang menjadi korban, bukan hanya para penduduk desa Paman. Tapi Paman dan bibi Yuna juga terancam. Pangeran kecil Paman juga. Apa Paman akan membiarkannya?"
Yeon langsung tertegun. Dia bingung harus berkata apa. Ini bagaikan buah simalakama untuknya.
"Tenanglah Paman. Selama ada aku, keluarga Paman aman. Kutukan itu, tidak serta merta mematikan. Masih ada waktu setengah bulan untuk mencapai puncak kutukan dan ketika saatnya tiba, kutukan itu akan kembali pada siapa yang membuat kutukannya. Dan mengenai para demit itu. Mereka terlalu lebay. Jangan didengarkan. Mereka itu sudah mati, bagaimana bisa mereka mati lagi. Pak Po yang terluka parah begitu juga tetap masih hidup."
Apa yang dikatakan Hans masuk akal. Para demitnya Refald pasti tidak akan bisa mati lagi. Yeon jadi sedikit lega walau ia masih tidak tahu apa rencana Hans untuk menghadapai kutukan di desanya
Sejujurnya, sebagai kepala desa ternama. Yeon sangat kaget desanya terkena kutukan. Selama ini, ia selalu memimpin desanya dengan sangat adil dan bijaksana. Apapun masalahnya selalu bisa terselesaikan dengan sangat baik. Ia bahkan tak pernah mendapat keluhan apapun. Yang menjadi pertanyaan, apa yang menyebabkan desanya dikutuk seseorang? Dan siapa pelakunya?
"Percayakan padaku Paman. Jangan khawatirkan apapun. Terimakasih sudah merawat Pak Po dengan baik. Tapi ... di mana mas Gen dan Mas Ger? Kenapa aku tidak lihat mereka berdua?"
Yeon hendak menjelaskan keberadaan Mas Gen dan Mas Ger, tapi belum sempat si kepala desa tampan itu buka suara, tiba-tiba terdengar suara teriakan.
"Setaaaaaaaaaann!" teriak dua orang bersamaan yang sedang berlari dari ujung lorong menuju ke tempat di mana Hans dan Yeon berdiri sekarang.
Tentu saja dua pria tampan itu menoleh ke arah sumber suara tersebut.
"Nah, itu mereka," ujar Yeon sudah tidak kaget lagi dengan kehebohan yang dibuat Mas Gen dan Mas Ger.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments
Teh Yen
baru tau ada hantu takut sama hantu 🤣🤣🤣
2024-08-26
0
Nadilah Egiers
untung pa po masih sakit coba kalau gk nambah pusing aja hans 🤣🤣
2024-08-15
0
Yurniati
terus update nya thorr
2024-08-15
0