BAB 10 PERUBAHAN

Pasangan suami istri yang habis berindehoi ria jadi terkaget-kaget mendengar suara menggelegarnya Refald. Untung saja mereka ada di hutan rimba belantara yang tak pernah dijamah tangan manusia sehingga sekeras dan sekencang apapun suara teriakan Refald takkan ada tetangga yang merasa terganggu.

“Hans, suara siapa itu? Apakah …” Rosela langsung terbangun dan memeluk suaminya. Jelas ia kaget mendadak ada orang berteriak sekencang itu di kediaman suaminya.

Hans yang terbangun langsung mengusap jidatnya dengan kesal. Ia langsung tahu siapa yang buat onar di dalam rumahnya. Resiko punya kakek agak laen ya memang harus terima saja.

“Itu suara kakekku,”jawab Hans sudah tidak kaget lagi.

“Hah? Masa sih? Aku kira itu suara demit. Seram sekali.”Rosela sampai bergidik ngeri.

“Dia memang raja demit. Makanya suaranya mengalahkan suara demit manapun yang ada di muka bumi ini kalau sudah berteriak. Tapi kau jangan takut. Kakek tidak akan menyakiti kita. Julidnya lagi kumat. Ini sih belum apa-apa. Nanti bakal ada yang jauh lebih parah. Mulai sekarang kau harus terbiasa dengan kebiasaan aneh keluargaku karena kami ini memang bukan manusia biasa.”

Meski takut, Rosela mencoba memahami semua ucapan suaminya.“Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa kita temui beliau?” Rosela agak merinding membayangkan kalau kakeknya Hans yang raja demit itu berwajah menyeramkan seperti demit-demit pada umumnya. Bukannya apa-apa, ia khawatir reaksinya bakal berlebihan sehingga bisa menimbulkan kesan buruk.

“Tidak usah. Biarkan saja, kita lanjut saja tidur. Kau tampak sangat lelah. Jangan pikirkan kakekku. Dia hanya usil pada kita.”

“Beneran nggak apa-apa? Bukannya nggak sopan membiarkan tamu begitu saja di luar sana. Setidaknya kita sapa dulu baru lanjut tidur lagi.” Rosela heran sekaligus bingung.

“Nggak perlu. Tidurlah. Ini juga sudah hampir pagi. Besok saja kita sapa Kakek.” Hans langsung mendekap tubuh Rosela agar kembali tertidur lelap tanpa memedulikan kegaduhan yang ada di lantai dasar rumah besar dan megahnya.

Refald sengaja mengganggu cucunya yang lagi istirahat di kamar mereka. Raja demit bengal itu akan membuat cucunya terbiasa dengan gangguan-gangguan yang akan menghiasi hari-hari Hans dan istrinya setelah ini.

Bukan tanpa alasan kenapa ia berteriak kencang memanggil nama cucunya. Hal itu untuk menyamarkan perubahan wujud pasukan demitnya yang tadinya adalah sosok demit alias makhluk astral tak kasat mata, kini berubah menjadi padat seperti sosok tubuh manusia. Tapi pasukan Refald tidak ada yang sadar kalau mereka sudah jadi manusia sementara.

Tahu kalau Hans mengabaikan teriakannya dan memutuskan untuk kembali tidur, Refald hanya tersenyum tipis. Ia jadi semakin keranjingan mengganggu masa-masa indah cucunya. Tapi tidak sekarang. Mungkin besok, lusan dan seterusnya mumpung para pasukannya sudah jadi manusia seperti dirinya.

“Mentang-mentang di hutan, Raja langsung cosplay jadi Tarsan. Padahal dia sudah jadi raja demit abadi, masih mau jadi raja hutan pula dasar serakah.” Pak Po mulia julid. Dan ucapannya barusan sukses bikin ngakak ngik-ngik rekan-rekan demitnya.

Tampaknya, Pak Po dan yang lainnya memang tidak sadar kalau wujud mereka sudah berubah jadi manusia. Dan bahkan kaki mereka semua telah menginjakkan kaki di lantai. Padahal sebelumnya mereka hanya melayang-layang di udara.

“Aku mendengarmu Pak Po, kau mau ku lempar ke planet merkurius supaya ketemu langsung sama matahari?” ancam Refald.

“Bukan begitu Raja, saya hanya berkomentar saja. Sepertinya, Raja masih cocok jadi Tarzan zaman now berkat suara emas yang Anda miliki,” kilah Pak Po, jelas-jelas dia meledek Rajanya sendiri.

“Aku terlalu tua untuk jadi Tarsan Pak Po. Bagaimana kalau kau saja yang jadi Tarsan.” Refald duduk di sofa panjang dan empuk milik cucunya.

“Saya tidak bakat jadi Tarsan atau siapapun Raja. Jadi pocong saja sudah bikin kepala saya senewen. Apalagi bila jadi yang lain. Tapi Raja, bukankah tidak etnis kalau Raja berteriak sekencang itu dan mengganggu kesenangan cucu kita.”

“Etis kali, bukan etnis! Kalau nggak bisa bahasa kalbu nggak usah ngomong bahasa kalbu. Bikin malu dunia perdemitan saja kau,” Mas Gen membenarkan ucapan Pak Po.

“Heh, setan alas, sejak kapan kata ‘etnis’ itu jadi bahasa kalbu?” tanya Mas Ger.

“Emang bukan ya? Terus masuk bahasa apaan?” Mas Gen jadi ikutan bingung kayak Pak Po.

“Bahasa gaul. Iya nggak sih? Aku nggak sempat sekolah sih dulu. Jadi nggak tahu juga.”

“Yeee sama aja bohong astagah. Kalian jangan bodoh bodoh amat napa? Cukup Pak Po aja yang oneng. Kita jangan ikut-ikutan.”

“Kalian semua juga oneng. Sesama oneng nggak perlu rebutan siapa yang oneng.” Pak Po menimpali dan melihat Refald tertawa keras. “Raja! Kita pergi saja dari sini. Nggak sopan nyelonong masuk ke rumah orang.” Pak Po mulai menunjukkan sisi tegasnya. Mungkin karena ia berubah jadi manusia. Makanya agak pintar sedikit.

“Suka-suka aku mau mengganggu siapa. Memangnya kau mau apa?” tantang Refald. Agak songong sih, sehingga kali ini bikin Pak Po nahan esmosi.

“Raja, apa yang kita lakukan di sini? Bukankah lebih baik kita kembali ke dunia kita saja?” tanya salah satu pasukan demit Refald. Mereka juga refleks menutup kedua telinga mereka saat Refald berteriak kencang.

Wajah Refald mulai berubah lagi. Ia berdiri dari tempatnya duduk lalu menatap anak buahnya satu per satu.

“Kalian semua tidak bisa kembali ke dunia lain saat ini,” ujarnya dengan raut muka datar sedatar-datarnya.

Para pasukan demit Refald langsung saling pandang satu sama lain. Mereka bingung apa maksud ucapan Raja mereka barusan.

“Maksudnya apa Raja? Kenapa kita tidak bisa kembali? Walau hari sudah menjelang pagi, kami masih bisa kembali sesuka hati kami seperti biasanya,” tanya Mas Gen.

Refald tidak langsung menjawab pertanyaan salah satu anak buahnya. Sebaliknya, ia malah berjalan ke dekat dinding kaca tebal yang tepat menghadap ke timur di mana matahari akan segera muncul.

Pasukan demit Refald otomatis juga bingung. Apa yang sedang dilihat Refald sekarang. Merekapun mengikuti langkah Refald dan berdiri di belakang raja mereka. Begitu sinar garis cakrawala mulai menyinari permukaan bumi diufuk timur, dan Mentari mulai memunculkan cahaya kemilaunya, tampaklah bayangan sederet pria yang berdiri tegak di dekat dinding kaca besar kediaman Hans.

Semua pasukan Refald kaget bukan kepalang karena baru tahu kalau mereka kini … memiliki bayangan.

“I-ini …,” ujar para pasukan demit Refald hampir bersamaan.

“Kalian tidak bisa kembali ke dunia lain, karena sekarang, kalian adalah manusia.” Refald balik badan dan menatap satu per satu wajah shock para pasukannya.

BERSAMBUNG

***

Terpopuler

Comments

Yurniati

Yurniati

terus semangat update nya thorr

2024-07-19

0

Yurniati

Yurniati

jadi manusia lagi pak po,tidak lah Oneng,

2024-07-19

0

Rahma Nuryani

Rahma Nuryani

gak kebayang gimana ramenya istanah hans

2024-07-19

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!