BAB 15 CENGLU

"Hans, Hans, oey Hans, kau dengar aku tidak?" panggil Pak Po karena dirinya dicueki cucunya.

"Kakek diam dulu. Apa Kakek tidak lihat kalau aku lagi marah." Hans tampak sengal.

"Ya lihat, tapi obati dulu lukaku. Mana habis kau banting juga akunya," protes Pak Po yang kasihan banget.

“Aku tidak bisa menahan amarah lagi Kek. Teman-teman Kakek ini sangat menyebalkan sekali. Mereka menjadikan istriku sebagai perawat mereka dan menghancurkan istanaku.”Hans tampak depresi akut melihat keadaan disekelilingnya.

“Ini salahku Suamiku,” ucap Rosela masih dengan sikap tenangnya. Ia bahkan tersenyum tipis saat melihat Hans marah.

“Kenapa bisa salahmu?” tanya Hans sembari mengangkat alisnya.

“Aku meminta Pak Gen dan Pak Ger untuk masak air hangat. Biar bisa kugunakan mengobati luka-luka mereka karena terkena pecahan kaca dan lain sebagainya. Aku lupa kalau sebelumnya mereka makhluk tak kasat mata sehingga mereka tak tahu bagaimana cara menyalakan kompor. Alhasil meledaklah kompor itu dan muka mereka jadi gosong semua.”

“Lalu bagaimana denganmu. Kau tidak apa-apa.” Hans mendekati istrinya dan memeriksa apakah Rosela terluka.

“Aku tidak apa-apa karena mereka semua langsung bentuk barisan melindungiku. Makanya yang gosong mereka semua, bukan aku. Jangan marah oke. Kita obati saja mereka dan membantu mereka beradaptasi jadi manusia. Percuma kau marah-marah begini, tidak ada gunanya. Yang ada nanti gula darahmu naik.”

“Aku tidak punya gula darah,” cetus Hans kesal padahal Rosela hanya mengajaknya bercanda.

“Hans … to-long … kayaknya … aku sekarat nih!” pekik Pak Po masih merintih kesakitan. Kasihan pocong oneng ini sejak tadi dicuekin.

“Kakek tidak akan mati walau tulang kakek patah semua. Kakek hanya akan merasakan sakit saja!” Hans mulai menggunakan kekuatannya untuk mengobati luka Pak Po. Ia membenarkan tulang-tulang Pak Po yang patah agar tersambung kembali.

Namun ternyata itu hanya sementara. Ketika Pak Po mencoba bergerak, ternyata tulangnya itu patah lagi.

“Hans, kok kakiku bengkok begini? Mana sakit pula?” protes Pak Po.

“Berarti kakek harus dioperasi. Tulang kakek baru bisa benar-benar tersambung dan kembali seperti sebelumnya kalau didalamnya di tanam penyambung dan yang bisa melakukan itu hanyalah dokter di ruang operasi. Kekuatanku hanya menyembuhkan, tapi tidak bisa mengembalikan seperti semula. Luka Kakek terlalu parah.”

“Lalu bagaimana?” tanya Pak Po bingung.

“Kakek harus dibawa ke rumah sakit. Masalahnya, aku dan Rosela tidak bisa keluar dari sini “

“Kenapa? Bukanlah iblis yang bersekutu dengan keluarga tiri istrimu sudah berjanji akan mengatasi orang-orang itu? Apa yang kau takutkan?” tanya Pak Po heran. Gara-gara melawan iblis itulah ia dan semua rekannya harus Ikhlas menjadi manusia seperti ini selama sebulan penuh.

“Kakek, menurut kakek, kenapa Iblis bisa menjadi iblis?”

Pak Po tidak langsung menjawab. Ia berpikir sejenak sampai akhirnya ia berkata, “Sebab iblis itu suka berbohong, lain di mulut lain pula di hati. Suka ingkar janji dan suka sekali berbuat hal-hal tercela. Makanya mereka menjadi iblis.”

“Betul. Kakek Refald memang melepaskan iblis itu karena ia berjanji akan mengurus keluarga tiri Rosela, tapi tak menuntut kemungkinan, iblis itu ingkar janji. Karena dia adalah iblis. Bukan malaikat. Sebelum Ibu tiri dan kakak tiri istriku belum musnah dari muka bumi ini, Rosela tidak aman di luar sana.”

“Terus nasibku gimana?” Pak Po tampak ngenes sekali karena tulang-tulangnya jadi mudah patah. Walau dari luar tampak baik-baik saja, tapi dari dalam tulangnya pak po ini butuh penanganan khusus dan hanya pengobatan medis saja yang bisa membuat Pak Po kembali seperti semula.

“Begini saja, Mas Gen, Mas Ger, aku dengar saat kalian masih muda bisa bawa motor butut semacam vespa. Di Gudang, ada motor sejenis itu, kalian antar Pak Po ke rumah sakit. Aku akan menghubungi Paman Yeon untuk membantu mengurus kalian selama di rumah sakit. Bibi Yuna seorang bidan di rumah sakit, dia pasti mau membantu kalian.”

“Kami?” tanya Mas Gen dan mas Ger bersamaan.

“Tapi kami nggak tahu jalannya Tuan muda,” ucap Mas Gen.

“Keluar dari hutan larangan ini, akan ada jalan setapak yang mulus. Ikuti saja jalan itu. Mau lewat manapun pasti bakal sampai di kota. Nanti kalian akan dijemput Paman Yeon dan Bibi Yuna.”

Dua demit koplak itu saling pandang. Tapi mereka juga tak berani menentang perintahnya Hans. Di sisi lain, mereka juga kasihan dengan pak Po. Alhasil, mereka berdua bersedia membawa Pak Po ke rumah sakit dengan menaiki motor butut yang disediakan Hans.

Tak ada akses mobil di tengah hutan belantara ini, makanya Hans menyarankan pakai motor saja. Detik itu juga, Mas Gen dan Mas Ger mengantar Pak Po. Mereka bertiga cenglu alias bonceng telu. Kalau dibahasa Indonesiakan, artinya bonceng tiga.

Ketiganya duduk dalam satu motor dengan posisi Pak Po ada di tengah. Mas Gen yang menyetir, dan mas Ger yang memegangi Pak Po agar tidak jatuh mengingat tulang-tulang Pak Po mudah sekali patah.

“Hati-hati. Ini uang yang bisa kalian gunakan untuk isi bensin dan beli makan jika kalian lapar. Gunakan saja selembar-selembar, jangan diserahkan semuanya. Sampai di kota, kalian akan diurus sama Paman Yeon. Kalian paham kan?”

“Paham Tuan muda,” ujar Mas Gen dan Mas Ger bersamaan. Entah paham beneran atau hanya sekedar paham. Tidak ada yang tahu.

“Hati-hati di jalan Pak Gen, Pak Ger, dan Kakek Po. Jangan ngebut. Pelan-pelan saja berkendaranya.” Rosela ikut khawatir juga. Di dalam rumah saja semua barang dan benda hancur di tangan para dedemit ini, apalagi kalau mereka ada di luar rumah.

“Kami pergi dulu, sampai ketemu lagi.” Mas Gen mulai menyalakan mesin motor dan melajukan motornya meninggalkan hutan rumba dengan menerabas semak-semak belukar.

Karena tak tega, Hans mengawal 3 demit itu sampai di perbatasan hutan yang dibuat Refald agar tidak tersesat. Sesampainya di perbatasan, Hans pun berhenti mengawal.

“Jalan utama sudah dekat. Kalian lurus saja sampai melihat jalan beraspal. Kalian belok kanan biar lekas sampai ke kota. Belok kiri juga bisa. Sama saja. Terserah kalian mau ambil jalan yang mana. Paman Yeon akan langsung menghubungiku jika kalian sudah bertemu dengannya di kota. Sekali lagi, jangan lupa isi bensinnya kalau mau habis. Jangan dibiarkan kosong.” Pesan Hans lagi. Agak berat melepas demit oneng itu keluar sendirian tanpa pengawasan.

“Serahkan semua pada kami Tuan Muda Hans. Kami permisi.”

Hans hanya berdiri diam melihat para 3 demit itu pergi. “Semoga mereka tidak buat masalah,” gumamnya lalu kembali ke kediamannya di mana ada Rosela dan sisa demit lainnya.

BERSAMBUNG

***

Terpopuler

Comments

Teh Yen

Teh Yen

Hans kamu kasih tau engg cranya isi bensin bagaimana ntar jd Maslah lagi yah 🙈🤭🤭

2024-08-26

0

Raffasya@aimaria1203

Raffasya@aimaria1203

Ko aga ragu ya mrka bisa sampai kota 🤣

2024-08-07

0

Nadilah Egiers

Nadilah Egiers

pasti ada aja yang di bikin ulah sama mereka gk sabar nunggu kelanjutannya

2024-08-07

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!