Baru juga Hans merasa tenang dipelukan Rosela dan ingin menikmati indahnya sebagai pasangan suami istri yang baru saja menyelesaikan malam pertamanya, eh mendadak para pasukan demit Refald yang sudah berubah wujud menjadi manusia sementara itu malah berteriak kencang sekencang-kencangnya.
Tentu suara teriakan itu membuat kaget Hans dan Rosela. Mereka berdua buru-buru keluar kamar dan mencari sumber suara itu berasal dari mana.
“Ada apa? Apa yang terjadi?” teriak Hans dari lanta atas. Ia melihat lantai dasar di mana para pasukan demit kakeknya berkumpul seolah sedang melihat sesuatu.
“Pangeran … tangan Mas Gen berdarah-darah!” pekik Mas Ger.
Hans langsung melompat turun. Kalau manusia normal mungkin suami Rosela itu bisa saja patah tulang menuruni lantai atas seperti menuruni tangga begitu. Berhubung dia keturunan Refald dan punya kekuatan sama seperti kakeknya, Hans tampak biasa-biasa saja. Iapun memeriksa keadaan pasukan demit kakeknya yang entah kenap bisa berdarah-darah begitu.
“Mas Gen? kenapa kau potong jarimu?” pekik Hans ikut takut juga, habis jarinya Mas Gen lumayan lebar sayatannya.
“Huaaa … saya tidak tahu Pangeran, tadinya luka saya nggak selebar ini, tapi Pak Po bilang mau mengobati, eh malah sobeknya tambah lebar. Sakit Pangeran,” rengek mas Gen sambil menangis. Yang lain bukannya membantu mencari obat malah ikut menangis juga.
Hans jadi bingung sekaligus ngeri sendiri melihat luka terbuka di jari pasukan demit kakeknya itu. Demit kalau jadi manusia bisa bikin repot juga. “Haish astagah Kakek, apa yang kakek lakukan. Mau jadi hantu atau manusia, tetap saja bikin masalah,” gumam Hans. “Lalu di mana Kakekku?”
“Pergi keluar Pangeran, katanya mau mencari Raja Refald.”
“Astaganaga. Kalian diam di sini dan jangan ada yang keluar. Kalian sudah bukan demit lagi sekarang. Kalian manusia biasa dan kalian bisa kapan saja terluka. Aku akan mencari kakek, dia lupa kalau dia sekarang bukan pocong lagi.” Hans bergegas keluar rumah untuk mencari Pak Po yang lari dari tanggungjawab setelah bikin ulah.
“Lalu bagaimana dengan lukanya Mas Gen, Pangeran!” teriak Mas Gen.
“Biarkan saja dulu, nanti juga sembuh sendiri. Keistimewaaan manusia adalah memiliki sel darah putih yang bisa melawan bakteri akibat luka. Sabar saja,” terang Hans sambil berlalu pergi dam menghilang.
Tiba-tiba Rosela datang membawa sekotak P3K di tangan. Ia buru-buru mengambil kapas dan menumpahkan alcohol di kapas tersebut lalu menempelkannya di jari Mas Gen yang terluka untuk menghentikan darahnya agar tidak terus keluar.
“Sakit Tuan Putri,” teriak Mas Gen. teman-teman demitnya yang lain langsung memberi hormat pada Rosela dengan menundukkan kepala mereka.
“Tahan sebentar ya, yang penting lukanya steril dulu setelah itu kubantu membalut dengan perban supaya lukanya tertutup kembali. Tapi … kenapa kalian semua menunduk seperti itu? Aku bukan putri, namaku Rosela. Selamat datang di rumah ini, semoga kalian betah di sini. Senang bertemu kalian semuanya.”
Meski takut karena para pria ini asalnya adalah demit, Rosela memberanikan diri memperkenalkan dirinya agar kedepannya ia tak canggung lagi dengan keberadaan para lelaki tampan ini.
“Bagi kami, Anda adalah Tuan Putri kami karema Anda adalah istri Pangeran Hans. Terimaksih atas bantuannya,” ucap semua para demit kompak bersamaan layaknya para Paduan suara.
“Aku tidak melakukan apa-apa. ini Namanya pertolongan pertama. Kalau darah manusia yang terluka terus dibiarkan, nanti bisa kehabisan darah dan berakibat fatal.”
Rosela menjelaskan banyak hal pada para demit sebagai bentuk edukasi menjadi manusia di zaman modern. Tak lupa Rosela juga membalut tangan Mas Ger dengan telaten sehingga sakitnya sudah berkurang.
“Nah, sudah selesai. Kenapa bisa sampai terluka begini.”
“Kami lapar, perut kami keroncongan, sejak jadi manusia kami belum makan apapun. Mas Gen mau masak sesuatu di dapur karena Pangeran Hans bilang, kami harus mengurus diri kami sendiri. Ternyata Mas Gen kurang focus, makanya dia tak sengaja mengiris tangannya sendiri yang ia kira kentang.
“Kalian semua duduklah dan perhatikan caraku memasak supaya kalian tidak salah mengiris bagian tubuh kalian sendiri. Sebelumnya maaf kalau aku sok tahu tentang kalian, tapi sebenarnya aku sudah tahu siapa kalian semuanya.”
“Tidak apa-apa Tua Putri, kami juga tahu betul siapa Anda. Mohon bimbingannya.” Para pasukan demit Refald membungkukkan badan mereka sebagai penghormatan atas pertolongan dan kebaikan Rosela.
Rosela yang tadinya takut dan gemetar, setelah mengenal para demit itu jadi tidak takut lagi. Para demit ini sangat sopan dan beradab sekali walau mereka kudet dan ketinggalan zaman banget. Kayak disuruh ambil sendok malah ambil centong. Disuruh blender buah dibikin jus malah tombolnya nggak dipencet dan hanya dipelototin saja.
Belum lagi yang lainnya, disuruh mencuci lap kain malah dipakai ngepel. Pokoknya butuh kesabaran Tingkat dewa kalau menghadapi para pasukan demitnya Refald ini. untung Rosela sabar dan malah menikmati keonengan para demit. Komuk mereka kalau salah melakukan sesuatu itu lucu dan menggemaskan sehingga image demit menakutkan yang tersemat selama ini mendadak hilang kalau melihat para demit pasukan Refald.
***
Sementara Hans mencari-cari keberadaan kakeknya yang kabur entah ke mana. Pak Po sendiri juga kayak orang bingung setelah ditinggal Rajanya dalam wujud manusia. Ia sudah tidak bisa menghilang ataupun melayang. Kasihan Pak Po, biasanya ia bisa ke sana kemari dalam hitungan detik, sekarang malah tidak bisa sama sekali.
“Gawat, ada di mana aku sekarang.” Pak Po baru sadar kalau ia sudah tersesat. Tiba-tiba ia mendengar suara auman macan dan ternyata raja hutan itu sudah berdiri tegak tak jauh dari tempat pak Po berada.
“Alamak, ayang aku cari raja demit, kenapa yang nongol malah raja hutan. Hush hus, pergi sana. Siapa juga yang mau ketemu sama kamu ha!” usir Pak Po. Dikira dia mau ngusir ayam. Padahal itu macan, mau diusir pakai jurus seribu candi juga nggak akan mempan.
Macan itu bergerak maju dan perlahan seolah siap menerkam tubuh Pak Po. Pocong yang sudah menjadi manusia itu jadi merasa takut. Kalau ia jadi demit, ia tak akan mungkin setakut ini. Masalahnya kini ia manusia, secara naluri, rasa takut itu akan muncul sendiri bila sedang menghadapi bahaya besar yang mengancam.
Macan itu mengaum dan membuat pak Po langsung melarikan diri. Tentu saja si raja hutan langsung mengejar karena ia paling suka berburu mangsa sebelum diterkam. Pak Po berlari sekencang mungkin sambil berteriak kencang.
“Lontoooongg! Eh jadi salah kan … Lon .. eh Tolongggggg!” teriak Pak Po sambil lari terbirit birit.
BERSAMBUNG
***
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments
Teh Yen
duh pak po.bikin ulah aja deh kan udh d blngin sama raja refald engg boleh keluar dari kediaman Hans malah mau cari raja kan udah engg bisa ngelayang layang d udara lagi pak po ampun onengnya kagak ilang" yah 🙈🤣🤣
2024-07-25
2
Yurniati
tetap semangat terus update nya thorr ada
2024-07-25
0
Yurniati
pak po bikin gregetan aja,kasian mas ger tangan nya untung tak putus,,,,,,🤦🤦🤭🤭
2024-07-25
0