Hans langsung depresi akut melihat ada banyak sekali pria dirumahnya. Rumah yang tadinya luas seluas Samudra, tenang, sepi dan sunyi, kini mendadak menjadi sempit dan ramainya melebihi pasar raya. Pria tampan itu langsung protes pada kakeknya yang sedang menikmati teh di pagi hari tanpa peduli pada anak buahnya yang sedang buat kehebohan di rumah cucunya.
“Kek!” pekik Hans kesal. “Cepat suruh pergi para pasukan Kakek dari rumah ini. Rumahku bukan tempat penampungan Kek. Kakek kan bisa bangunkan mereka rumah megah di tempat lain. Kenapa mereka harus tinggal di sini,” rengeknya sambil menggaruk-garuk kepalanya saking suteresnya melihat huniannya jadi berantakan tak karuan.
Yang diprotes malah asyik menikmati tehnya sambil bersantai ria. “Mereka hanya sementara di sini Hans. Tidak selamanya. Biarkan mereka adaptasi dulu menjadi manusia. Kau jangan kejam begitu. Mereka jadi seperti ini juga demi dirimu. Balas budilah sedikit.”
“Haishhh … “Hans hanya buang napas. “Nggak harus jadi satu di sini juga kan Kek, bangunkan saja bangunan sama di samping rumahku. Aku depresi melihat tingkah pasukan kakek yang seperti sekumpulan bayi itu.”
“Salah satu dari mereka juga kakekmu. Ingat itu, jangan jadi cucu durhakim kau Hans. Apa salahnya mereka tinggal di rumah sebesar ini. Toh kamarmu ada bejibun.”
Kalau Refald sudah bicara seperti itu, Hans tak punya pilihan lain lagi. Wajahnya jadi mirip benang kusut saat semua pasukan demit Refald mulai beraksi membuat seisi rumah Hans berubah jadi mirip kapal pecah.
Karena kasihan pada cucunya, Refald mengumpulkan semua pasukan demitnya dan menghimbau untuk tak menyentuh barang apapun milik Hans agar sang pemilik rumah tidak marah. Refald juga memberitahu bahwa Hans akan mendidik dan membimbing mereka menjadi manusia yang beradab, mengingat semua pasukan demit Refald ini berasal dari zaman purba. Tentu mereka semua sudah pasti ketinggalan zaman.
“Aku harus pergi dan kalian semua harus patuh pada Hans. Sampai aku kembali, kalian semua tidak boleh keluar dari hutan terlarang ini. Paham,” seru Refald pada semua pasukan demitnya.
“Yang mulia, apa akibatnya jika kami meninggalkan hutan?” tanya Mas Gen.
“Ya tidak apa-apa, palingan kalian hanya akan tersesat saja. Ingat, kalian semua adalah manusia. Kalian bisa saja terluka dan bila kalian mati, kalian takkan bisa jadi arwah lagi. Tetaplah aman karena hanya tempat ini yang bisa melindungi kalian. Ah satu lagi, jangan jauh-jauh dari Hans. Hidup mati kalian, sekarang ada ditangannya. Selamat tinggal sampai ketemu lagi.”
Tanpa pamit ataupun permisi, Refald langsung menghilang tanpa jejak. Ia bahkan belum menyapa Rosela yang sudah menjadi bagian dari keluarganya. Kepergian Refald terkesan seolah sedang buru-buru.
“Kakekkkkkkkkkk! Apa maksudnya ini haaaaa! Kenapa kau pergi meninggalkan mereka di sini! Kakekkkkkk!” teriak Hans dengan lantang tapi Refald sudah terlanjur hilang.
“Hans kenapa kau teriak-teriak memanggilku? Aku ada di sini sejak tadi!” ujar Pak Po yang ada di barisan paling belakang rekan demitnya.
“Bukan kakek yang aku panggil, tapi kakek Refald. Kenapa Kakek punya raja demit seperti dia? Seenaknya saja lari dari tanggungjawab. Dia yang buat kalian seperti ini kenapa harus aku yang nanggung akibatnya!” bentak Hans kesal setengah mati.
“Kenapa juga kau punya kakek demit seperti raja demit kami? Aku juga bingung.” Pak Po mulai menunjukkan sisi manusianya.
“Haaaissh sudahlah, terserah. Ingat ya, Kalian jangan buat berantakan rumahku. Lakukan apapun yang kalian suka tapi jangan sentuh apapun. Kalau kalian lapar, buat saja makanan sendiri!” Hans langsung ngeluyur pergi ke kamarnya dan sebenarnya di dalam sudah ada Rosela yang kaget bukan kepalang karena mendadak ada banyak pria di rumahnya.
Sebenarnya Rosela sudah bangun sejak suaminya keluar kamar. Ia sangat shock melihat para manusia yang mendadak ada dikediaman suaminya ternyata bukan manusia, melainkan demit yang berubah wujud menjadi manusia tapi tak tahu apa-apa. awalnya gadis itu mengira kalau dirinya bermimpi, namun ketika ia mencubit pipinya sendiri, ia jadi percaya kalau apa yang ia lihat itu nyata.
“Kau sudah bangun?” tanya Hans saat melihat Rosela berdiri tegang didepannya.
“Iya, mereka …”
“Kau sudah dengar dan lihat semuanya?” Hans menatap wajah Rosela dan ingin tahu seperti apa reaksinya.
“Aku sangat terkejut, tapi apa boleh buat, kakekmu ingin kau menjaga mereka. Aku sudah dengar semuanya. Walau aku tidak mengerti, tapi sepertinya, ini sudah menjadi tugas kita.” Rosela belajar memahami dunia suaminya yang sudah diluar prediksi nasa. Manusia normal mungkin tidak akan pernah memercayai semua ini.
Hans menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dan tampak sangat frustasi sekali dengan kehadiran semua para pasukan demit kakeknya. Kalau hanya Pak Po mungkin Hans bisa terima. Masalahnya ada banyak sekali pria di rumah ini sementara istrinya hanya sendiri.
“Kita pindah dari rumah ini. aku tak bisa membiarkanmu tidak nyaman berada di sekeliling mereka.”
“Tidak perlu, aku akan terbiasa kok, lagian mereka bukanlah musuh. Mereka sama seperti keluarga kita.”
“Tapi mereka semua adalah pria. Bagaimana bisa satu wanita tinggal dengan banyak pria dalam satu rumah.”
“Itulah kenapa kakek Refald membiarkan mereka semua tinggal di sini bersama kita. Kalau mereka tinggal di kota atau di desa. orang normal pasti akan menyadari keanehan mereka dan pasti akan membahayakan nyawa mereka. Mengenai aku tinggal dengan banyak pria, aku rasa tidak aka nada yang kebaratan karena di hutan ini, kita tidak punya tetangga lain selain binatang hutan. Dan aku yakin mereka tidak akan julid hanya karena aku tinggal dengan banyak pria sekaligus meski satu-satunya suamiku hanyalah dirimu.”
Rosela bersikap lebih realistis ketimbang Hans. Walau ia adalah manusia normal, ia cepat adaptasi dengan lingkungan yang ia tinggali termasuk menerima semua keanehan yang ada dalam hidup suaminya.
“Bagaimana kau bisa setenang itu sementara aku depresi akut memikirkan semua ini. Kalau aku jadi kau, pasti ketakutan dan kabur saja dari rumah ini. para pria di luar sana memang tampak seperti manusia normal biasa, tap aslinya mereka adalah demit.”
“Siapa bilang aku tidak takut. Aku sangat takut sampai seluruh tubuhku gemetar dan serasa mati rasa. Tapi aku sadar kalau di sini aku tidak sendiri. Ada kau bersamaku. Mengingat hal itu aku merasa aman. Aku pasti tidak akan pernah kenapa-napa karena lau pasti menjaga dan melindungiku. Apa yang kutakutkan. Para demit yang berubah manusia itu juga tidak jahat. Mereka pelindung kita juga. Mereka seperti itu juga demi melindungi kita kan?”
Hans langsung memeluk istrinya yang ternyata jauh lebih bijaksana darinya. Ia hanya tak ingi Rosela merasa tidak nyaman hidup seatap di tengah banyaknya para laki-laki lain selain dirinya. Tapi ternyata dugaannya salah. Rosela bisa menerima semua yang ada dalam hidup Hans tanpa protes sedikitpun.
"Ternyata kau baik sekali. Mau menerima mereka semua padahal kau tak kenal satupun dari mereka. Bisa saja mereka akan sangat merepotkanmu nantinya."
"Mungkin saja, tapi kan ada suamiku yang selalu ada disisiku. Tak ada yang perlu ku khawatirkan."
BERSAMBUNG
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 34 Episodes
Comments
Teh Yen
ah hati Rosela memang sebaik itu Hans ,,pantas dia menjadi jodoh dari cucu raja demit sepertimu 🤗
2024-07-25
0
Yurniati
tetap semangat terus
2024-07-25
0
Yurniati
double update terus thorr
2024-07-25
0