Saat mengetahui mereka diikuti, mereka langsung berhenti dan menatap ke arah semak-semak yang bergerak.
Mereka memegang pedangnya masing-masing untuk mengantisipasi serangan tiba-tiba. Saat sesuatu keluar dari semak-semak membuat mereka menghela nafas.
Seekor kelinci yang memang berbeda dari Real World muncul dan berlari menjauh dari mereka. Liyura menghela nafas dan melanjutkan perjalanan diikuti dengan Chris.
"Kalian ingin ke Dungeon?"
Perkataan seseorang itu membuat Chris dan Liyura langsung berbalik.
"Siapa kau?"
Liyura menjadi waspada lagi ketika melihat sesosok manusia yang mungkin aneh karena mempunyai telinga yang runcing. Liyura yakin jika sosok di hadapannya adalah ras Elf.
"Hmm, namaku Lucia, aku tersesat di hutan ini dan menemukan kalian, aku juga ingin ke Dungeon yang ada di Beast Montain ini. Bagimana jika kita bergabung?"
Liyura seakan meneliti penampilan Lucia dari atas ke bawah, Liyura yakin jika Elf itu mengikutinya dan Chris karena menganggap dirinya adalah salah satu dari kaumnya melihat paras Liyura yang memang dapat menarik perhatian. Tapi ketika Elf itu melihat telinga Liyura, dia terkejut.
"Baiklah, kau boleh bergabung asalkan kau tau dimana Dungeon itu."
"Aku tidak tahu ada di mana tapi aku tahu cara untuk ke sana."
Liyura mengangkat alisnya tinggi, "Baiklah kau boleh ikut, tunjukkan jalannya."
Lucia mengangguk dan berjalan maju ke depan Liyura dan Chris. Dia meneliti sekitar dan menggunakan sebuah mantra yang Liyura tidak tahu berguna untuk apa.
Lucia membacakan mantra dan seketika sesuatu seperti cermin tak kasat mata, menjadi hancur. Seketika suatu hutan berubah menjadi sebuah air terjun.
Liyura terbelalak, apa-apaan ini?! Liyura menatap ke arah Lucia yang sudah menyelesaikan mantranya dan melihat ke arah dua temannya yang masih terkejut.
"Bagaimana bisa kau melakukan itu?" Liyura bertanya dengan sangat penasaran.
"Kita sebenarnya ada di dalam dinding ilusi, jadi kemungkinan kita akan mudah tersesat dan tidak tahu arah jalan karena kita bukan ada di jalan yang sebenarnya. Untuk itulah siapapun yang mencari Dungeon di Beast Montain ini tidak bisa kembali karena mereka tidak tau jika mereka berjalan di jalan ilusi dan hanya mantra kaum Elf yang bisa menghancurkannya."
Dia menatap kedua temannya yang terlihat bingung,
"Begini, kita anggap saja berada di gurun pasir ilusi, bukankah terdapat ilusi seperti ini juga? Jika kita kehausan, mungkin yang ditampilkan oleh ilusi itu sendiri adalah semacam aliran sungai atau danau yang banyak airnya ketika kita sangat menginginkan hal itu. Nah, tapi jika kita tergoda, kita akan semakin tersesat dalam gurun dan tidak bisa kembali. Situasi ini sama seperti sekarang tapi masalahnya jika di gurun, Ilusi itu hanya bisa dihancurkan oleh kaum Elf maupun penyihir yang mempunyai level yang sangat tinggi."
"Dan jika di sini, siapapun dapat menghancurkan dinding ilusi asalkan mempunyai mantra untuk menghancurkannya. Bedanya dengan gurun pasir, hutan ini menampilkan ilusi tetap, yaitu hutan tidak akan berubah dan yang sebenarnya akan selalu tertutupi jika tidak dihancurkan."
Liyura kemudian mengangguk-angguk tentang penjelasan panjang lebar Lucia. Meskipun dia ahli dalam bela diri dia juga memiliki otak yang encer. Yah, dia juga menjadi juara satu umum di berbagai sekolah pun bukan hanya juara satu di satu kelasnya saja.
"Aku mengerti. Bisakah sekarang kita masuk?"
Lucia mengangguk dan berjalan di depan. Liyura juga mengikutinya bersama Chris di belakangnya.
Mereka tiba di air terjun yang mengalir tidak terlalu tinggi, Liyura meneliti air terjun di sekitarnya dan melihat ada sesuatu yang aneh dengan air terjun itu. Tepatnya di balik terjunan air terjun.
"Kita sudah sampai di Dungeon, ayo kita masuk melalui celah air terjun itu."
Lucia tidak menunggu yang lainnya dan segera melafalkan mantra lain membuatnya berlari ke arah aliran air yang berkumpul di bawah terjunan air.
Lucia berlari hingga dia tiba di tengah kumpulan air tanpa tenggelam. Lucia menunggu yang lainnya hingga dia merapalkan mata pada mereka.
"Kemarilah, kalian sudah kumantrai agar dapat berjalan di atas air."
Liyura menjadi bingung sendiri, ternyata ada juga yang seperti ini di dunia CO. Meskipun kakaknya sudah memberitahukannya tapi melihat dengan mata kepala sendiri terlihat agak aneh.
Jika saja dia tidak bisa bela diri seperti gadis lain yang seumuran dengannya dan bermain Chronicle Online, mungkin dia akan memilih kelas penyihir jika dia dapat membuat pekerjaan susah menjadi mudah.
Liyura mencoba untuk menapaki air dan ternyata benar, dia tidak tenggelam dan malahan seakan dia berjalan di atas tanah, tidak ada yang berbeda.
Liyura berjalan dan akhirnya sampai di celah-celah di balik air terjun. Dia menunggu Chris yang masih tidak bernajak ke depan.
"Ayo cepat, Chris, kita harus bisa menyelamatkan Sky."
Perkataan Liyura menjadi semangat tersendiri bagi Chris membuat dia berani berjalan di atas air. Chris segera menghampiri Liyura dan akhirnya mereka masuk ke celah-celah air terjun.
---
[ Anda memasuki Death Dungeon. Berhati-hatilah dengan bahaya yang menghampiri. ]
---
Liyura mengernyit dengan Notifikasi layar virtual di hadapannya. Dia menatap ke arah Lucia dan Chris bergantian.
"Kita sudah sampai?" Kata Liyura
"Ya, seperti yang diucapkan Notifikasi." Kata Lucia.
Chris meneliti sekitar agar mengantisispasi serangan musuh tiba-tiba karena di balik air terjun ini mereka seperti berada di dalam gua yang gelap.
Mereka terus berjalan di lorong gua dan melihat entah itu Ular dan Kelabang yang menghuninya menyerang.
Sampai mereka melihat sebuah pintu setinggi 2 meter di ujung lorong yang mereka lalui. Pintu itu berwarna coklat pudar dengan ukiran rumit di segala sisi pintu sebagai corak yang menambah kesan arti yang dalam.
Mereka saling berpandangan dan mengangguk bersamaan. Mereka dengan serentak mengulurkan tangan ke arah pintu dan membukanya bersama-sama.
Suara derit keras terdengar dari pintu yang sangat berat itu. Seperti tidak pernah dibuka selama 1 abad. Mereka masuk bersamaan ke dalam ruang tahta?
Liyura mengernyit, di dalam Dungeon juga ada yang seperti ini? Dia meneliti ke sekitar ruangan yang sangat besar dan lebar akan tetapi ruang tahta ini berbeda dari ruang tahta biasanya karena terlalu.. Suram.
Liyura melihat obor-obor yang menyala di sekeliling ruangan dengan berurutan sampai pada sisi kursi tahta yang ada di ujung ruangan, yang berdiri dengan megahnya.
Mata Liyura menyipit ketika dia melihat sesosok makhluk yang duduk di di atas kursi tahta.
"Oh, sudah lama aku tidak kedatangan tamu. Terakhir kali mungkin 10 Abad yang lalu, akhirnya aku tidak akan bosan lagi."
Sepuluh abad dia menunggu kedatangan tamu? Kenapa dia tidak mati? Apa-apaan sosok di hadapannya itu?! Hey! Kalian tahu berapa sepuluh abad? 1 abad adalah 100 tahun, jika 10 abad berarti berapa?
"Siapa kau?!"
Chris berteriak membuat suaranya menggema seperti terdengar beberapa kali di setiap ruangan. Dia menarik pedang dari sarungnya untuk waspada diikuti Liyura yang merasa dirinya terancam.
"Aku? Aku adalah Lord Monster yang menjaga Dungeon ini. Apa tujuan kalian kemari?"
"Aku dan temanku ingin mengambil Bunga Seribu Warna di Dungeon ini." Kata Chris.
"Pffft... Kau kesini pusing-pusing menghancurkan dinding ilusiku hanya untuk mengambil bunga sampah? Sepertinya kalian manusia semakin menjadi seperti badut untuk membuatku tertawa ya?"
Sosok itu tertawa terbahak ketika menyelesaikan kata-kata nya membuat seluruh ruangan bergetar.
"Katakan dimana bunga itu?!"
Kali ini Liyura yang berteriak membuat sosok itu berhenti tertawa dan melihat ke arah Liyura sambil mengelap ujung matanya yang nampak basah dengan jarinya.
"Kau tidak tahu? Bunga itu tumbuh di ruangan ini lebih banyak dari jumlah umur kalian! Kalian buta, ya?!"
Liyura mengernyit, Chris langsung melihat sekitar ingin membuktikan perkataan sosok itu. Chris menoleh akan tetapi tidak ada apaun di ruangan itu, hanya lantai di bawah mereka yang tertutupi oleh sekumpulan tanah yang kotor dan tak terawat.
"Kau jangan Bohong!"
Liyura juga memperhatikannya dan dia berteriak pada sosok itu.
"Heh, dasar manusia. Makhluk sepertiku ini selalu jujur asal kau tahu, bukankah kalianlah yang selalu mengatakan kebohongan dibalik kejujuran? Lucu sekali aku mendengar seseorang berkata begitu padahal orang yang mengatakannya adalah orang yang melakukan hal yang sama seperti apa yang dikatakannya."
Liyura memegang Pedang Bulan Sabit dengan erat, dia ingin menyerang tapi Lucia sudah melakukannya terlebih dahulu.
Lucia menarik alat panah dari balik punggungnya dan menarik senar alat panah yang langsung memunculkan satu anak panah dengan ajaib.
Liyura terkejut, tapi dia juga punya alat panah seperti itu di Systen Room nya ketika dia mengalahkan pasukan Goblin saat menuju Beast Montain.
"Heh, panah yang bagus Nona Elf. Apa tujuanmu kemari? Apakah sama dengan dua orang itu?"
Kata sosok itu sambil menunjuk Liyura dan Chris. Lucia tersenyum membuat kecantikannya bertambah, dia menarik senarnya lagi dan menargetkan sosok itu.
"Aku ke sini untuk mengambil Gold Dice milikmu!"
Lucia melesatkan anak panah setelah mengatakannya, seketika panah itu bertambah menjadi 3 yang awalnya 1 dan melesat bagaikan cahaya.
Sosok itu terkekeh dan segera mengibaskan tangannya dengan cepat membuat panah itu menabrak udara kosong seakan terhenti oleh sesuatu dan jatuh dengan menjadi abu secara abnormal.
Liyura dan Chris terkejut, secara langsung mereka menjadi lebih waspada ketika sosok itu menunjukkan kebolehannya.
Menangkis panah hanya dengan kibasan?! Jika ada yang mengatakan itu padanya mungkin dia hanya menganggapnya bercanda. Tapi di depannya? Panah itu seakan tidak mau melukainya saja.
"Heh, panah mainanmu tidak akan bisa melukaiku."
Soaok itu menyandarkan punggungnya pada penyangga kursi dan duduk seakan dialah yang memerintah.
Liyura akhirnya memilih menyerang dengan kecepatan cahayanya menuju sosok itu hingga Chris dan Lucia menjadi terhuyung ikut tertarik ke depan.
"Moon Wave - Crescent Wave!"
Liyura menebaskan pedangnya pada udara hingga menciptakan gelombang berbentuk bulan sabit yang mengarah pada sosok yang masih berdiri tenang di kursi tahta.
Dia melihat gelombang pedang itu dan mengibasnya seperti yang dilakukannya tadi pada panah milik Lucia.
Gelombang pedang itu berhenti dan menghilang akan tetapi Liyura mendengar sesuatu mengenai sesuatu.
Liyura menyipit dan melihat tudung yang dikenakan sosok itu sobek hingga menimbulkan suara, mungkin itu adalah dampak dari serangannya.
Tapi bagaimana bisa? bukankah gelombang pedangnya tadi dapat dihentikan? Liyura mundur waspada dan menyiapkan kuda-kudanya kembali.
"Sepertinya aku terlalu meremehkanmu, baiklah aku akan mulai serius. Jika kalian dapat mengalahkan peliharaanku aku akan mengabulkan 1 permintaan kalian dengan senang hati tapi jika kalian kalah, kalian akan menjadi santapan dari peliharaanku. Bagaimana? Terima sajalah, apa kalian tidak tau? Peliharaanku sudah tidak kuberi makan daging manusia selama 6 Abad ini. Apakah kalian tidak kasihan padanya?"
Sosok itu mengeluarkan suara yang dibuat-buat. Peliharaannya tidak makan selama 6 abad tapi dia masih hidup? Peliharaan macam apa yang dimiliki sosok itu?
Liyura bergabung ke arah Chris dan Lucia di tengah-tengah mereka menunggu serangan musuh.
"Baiklah, kalian bisa melawannya di sini. Kelabangku yang cantik, munculllah!"
Sosok itu berteriak dengan sekuat tenaga dengan meramalkan sebuah mantra yang tidak Chris maupun Liyura mengerti. Terkecuali Lucia yang mendengar mantra itu menjadi terbelalak.
"Mantra apa itu?"
Liyura berkata seperti itu karena mungkin bahaya yang menghampiri mereka bukanlah sembarangan.
"I-itu adalah mantra pemanggilan Magic Animal Summon yang berumur lebih dari 1 milyar tahun. Dan mungkin levelnya hampir setara dengan level 1000."
Liyura dan Chris terbelalak dan menjadi ketakutan sendiri. Liyura menggigit bibirnya karena dia tidak mungkin menganggap Lucia bercanda dari ekspresinya yang lebih takut dari dirinya.
"Dia datang!"
Setelah Lucia berkata seperti itu, dari dalam tanah keluarlah seekor Kelabang Hitam yang sangat besar hingga kemunculannya membuat dia terlihat seperti ikan yang meloncat ke udara hingga menabrak dinding atap Dungeon membuat seluruh ruang bergetar hingga Chris dan Lucia terjatuh karena tidak dapat menyeimbangkan tubuhnya.
Sedangkan Liyura masih tetap berdiri menatap Kelabang besar di hadapannya yang seakan memintanya makan.
Liyura berdecih dan mengeluarkan pedang Excalibur nya dari System Room. Kali ini dirinya memegang dua pedang di kesemua tangannya.
Melihat pedang emas di tangan Liyura menbuat sosok itu terkejut. Dia menggosok matanya sendiri untuk melihat apakah ini adalah mimpi.
Sosok itu menatap Liyura dengan pandangan yang berbeda dan tersenyum lebar.
Liyura yang tidak melihat ke arahnya dan hanya berfokus pada Kelabang hitam di depannya tidak mengetahui hal itu.
---
[ Perhatian! Anda mengahadapi Magic Animal dengan level yang sangat jauh dari level anda ini! Anda mendapatkan Quest Spesial ]
---
[ Ques : Mengalahkan Kelabang hitam (S)
Kelabang hitam adalah magic animal berlevel 1000 yang sedang kelaparan membuatnya lebih agresif dari dirinya yang sebenarnya.
0 / 1
Reward : Skill Fly Guns, 2 Blue Dice, 30 Poin All Stat, Level Up +10
Failed : Mati dimakan
Time : -- ]
---
Liyura terbelalak dengan Quest di depannya. Misi kesulitan Rank S lagi?! Dia sudah mendapatkan misi Rank S serupa untuk mengalahkan Boss Monster atau Administrator di tempat ini.
Dan sekarang dia mendapatkannya lagi?! Liyura menggelengkan kepala keras dan langsung bersiap menyerang.
Quest special adalah Quest yang ada karena Player berada di situasi terdesak dan kehilangan semangat bertarung. Akan tetapi jika terdapat Quest dengan Reward tinggi seperti ini siapa yang tidak akan tergiur?
Dan Quest special tidak akan menunggu persetujuan Player apakah menerima Quest atau tidak karena Quest ini memang beda dengan Quest umum.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 118 Episodes
Comments
Alice(*˘︶˘*).。.:*♡
mati dimakan😅😅
2021-03-13
1