Di suatu siang yang cerah, Xander dan Lily duduk santai di taman belakang mansion milik Xander. Taman itu luas, dipenuhi dengan bunga-bunga bermekaran yang harum semerbak. Suara gemericik air dari kolam kecil di dekat mereka menambah suasana tenang.
Xander, dengan kacamata hitamnya, sedang membaca buku di kursi taman yang nyaman. Sementara itu, Lily berbaring di rumput, menikmati hangatnya sinar matahari yang menyusup di antara dedaunan pohon. Sesekali, angin sepoi-sepoi meniup rambut Lily yang terurai, membuatnya tampak semakin anggun.
"Kamu benar, tempat ini benar-benar tenang," kata Lily sambil memejamkan mata.
Xander tersenyum kecil, menutup bukunya, dan menoleh ke arah Lily. "Aku selalu datang ke sini kalau butuh ketenangan. Ada sesuatu yang menenangkan dari suara air dan aroma bunga ini."
Lily mengangguk setuju. "Aku bisa merasakannya. Terima kasih sudah mengajakku ke sini."
Mereka kemudian terdiam sejenak, menikmati suasana damai di taman, mendengarkan nyanyian burung dan desiran angin di antara pepohonan. Suasana siang itu benar-benar sempurna, sebuah pelarian singkat dari kesibukan sehari-hari.
Tak lama kemudian, Lily bangkit dari rumput dan menatap Xander dengan mata yang menyipit. Dia melipat tangan di dada, terlihat sedikit jengkel.
"Kamu ini ya, seenaknya saja ambil cuti hanya karena kamu bosnya," ujar Lily dengan nada mengomel.
Xander tertawa kecil, melepas kacamatanya dan menatap Lily dengan wajah polos. "Aku butuh istirahat, sayang. Lagi pula, perusahaan masih bisa berjalan tanpa aku untuk sementara waktu."
Lily menggelengkan kepala, tapi senyum tipis terlihat di wajahnya. "Kamu selalu punya alasan. Bagaimana kalau orang lain mengikuti jejakmu dan mulai seenaknya ambil cuti juga?"
Xander berdiri dan mendekati Lily, meletakkan tangannya di bahu istrinya dengan lembut. "Mereka tahu kapan waktunya bekerja dan kapan waktunya istirahat. Lagipula, aku ingin menghabiskan lebih banyak waktu denganmu."
Lily mendesah, tapi akhirnya tersenyum. "Baiklah, kali ini aku maafkan. Tapi jangan terlalu sering, ya?"
Xander mengangguk sambil tersenyum. "Janji. Sekarang, bagaimana kalau kita jalan-jalan di sekitar taman ini? Siapa tahu kita menemukan tempat yang lebih indah."
Mereka kemudian berjalan beriringan, menikmati sisa hari dengan tawa dan cerita ringan, melupakan sejenak kesibukan dan tanggung jawab mereka.
Saat mereka berjalan di sekitar taman, Xander dan Lily berbincang santai tentang berbagai hal. Namun, Xander tiba-tiba berhenti dan menatap Lily dengan mata jahil.
"Lily, aku punya permintaan kecil," katanya dengan nada serius tapi wajahnya penuh senyum.
Lily mengerutkan kening, penasaran. "Apa itu, Xander?"
Xander mendekat, menunduk sedikit hingga wajah mereka hampir bersentuhan. "Jangan terlalu sering melirik dan mengagumi pria lain!"
"Aku cemburu."
Lily terkejut sejenak, lalu tertawa lepas. "Kamu ini ada-ada saja. Siapa yang aku lirikin? Kamu kan satu-satunya pria di sini."
Xander tersenyum lebar, puas dengan jawabannya. "Yah, cuma mengingatkan saja. Aku ini suamimu yang tampan dan karismatik. Jangan sampai tergoda pada pria lain."
Lily menggeleng sambil tertawa, menepuk lembut bahu Xander. "Tenang saja, bos besar. Tidak ada yang bisa menggantikanmu di hati aku."
Xander meraih tangan Lily, menggenggamnya erat.
"Itu yang ingin aku dengar. Sekarang, ayo kita lanjutkan jalan-jalannya."
Mereka melanjutkan langkah dengan senyum di wajah, merasa lebih dekat satu sama lain. Suasana taman yang tenang dan indah menjadi saksi kebahagiaan kecil mereka di siang yang cerah itu.
Mereka melanjutkan langkah dengan santai, melewati deretan bunga mawar yang sedang mekar. Lily tiba-tiba berhenti dan memetik satu bunga, lalu menyerahkannya kepada Xander.
"Ini untukmu, bos besar. Anggap saja sebagai tanda cinta," ujar Lily sambil tersenyum manis.
Xander menerima bunga itu dengan senyum lebar. "Terima kasih, sayang. Kamu tahu, aku tidak pernah bosan mendengar kata-kata manismu."
Mereka berjalan lebih jauh hingga tiba di sebuah bangku taman di bawah pohon besar yang rindang. Xander menarik tangan Lily, mengajaknya duduk di sana. Mereka duduk berdampingan, menikmati angin sepoi-sepoi yang menyapu wajah mereka.
"Jadi, apa rencanamu untuk liburan ini?" tanya Lily, memandang Xander dengan mata penuh rasa ingin tahu.
Xander berpikir sejenak sebelum menjawab. "Aku sebenarnya ingin mengajakmu berkeliling kota, mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah kita datangi. Bagaimana menurutmu?"
Lily mengangguk antusias. "Itu terdengar menyenangkan. Kita bisa mulai dari kafe kecil di sudut jalan yang sering kita lewati tapi belum pernah kita singgahi."
Xander tersenyum dan mengusap tangan Lily. "Kafe itu? Ide yang bagus. Mari kita jadikan ini petualangan kecil kita."
Mereka berdua kemudian tertawa, merasa semangat dengan rencana sederhana mereka. Siang itu, di bawah pohon rindang di taman belakang mansion, mereka merencanakan hari-hari menyenangkan yang akan datang. Rasanya, segala sesuatunya mungkin dan setiap momen bersama adalah petualangan yang tak ternilai.
Saat matahari semakin menanjak di langit, Xander dan Lily memutuskan untuk kembali ke dalam mansion. Mereka berjalan dengan langkah pelan, menikmati setiap momen bersama di bawah sinar mentari yang hangat.
"Sungguh hari yang menyenangkan," ujar Xander sambil mengaitkan lengannya dengan Lily.
Lily mengangguk setuju sambil tersenyum. "Benar sekali. Terima kasih sudah mengajakku ke taman ini, Xander. Aku merasa begitu rileks dan bahagia di sini bersamamu."
Xander menyentuh punggung tangan Lily dengan lembut. "Aku senang bisa memberikanmu momen-momen seperti ini, sayang. Bagiku, tidak ada yang lebih berarti daripada melihatmu bahagia."
Mereka tiba di teras belakang mansion, dan Lily menoleh sekilas ke arah taman yang masih terlihat indah dari kejauhan. "Kita harus sering-sering datang ke sini lagi."
Xander mengangguk setuju. "Pasti, kita bisa membuatnya jadi tempat untuk kita bersantai dan menghabiskan waktu bersama."
Dengan senyum di wajah mereka, mereka masuk ke dalam mansion, siap mengakhiri hari ini dengan kedamaian dan kebahagiaan yang mereka rasakan satu sama lain.
Di dalam mansion yang sejuk, suasana santai masih terasa ketika Xander dan Lily memasuki ruang tamu. Mereka memilih untuk duduk di sofa besar yang empuk, melepas sepatu mereka dan merasakan kenyamanan rumah mereka sendiri.
"Duh, betapa aku merindukan kenyamanan rumah ini," ujar Lily sambil meregangkan tubuhnya.
Xander mengangguk setuju sambil tersenyum. "Aku juga, sayang. Tidak ada tempat yang lebih baik untuk kembali setelah seharian berkeliling."
Lily menggenggam tangan Xander dengan lembut. "Sungguh, aku bersyukur punya rumah yang nyaman dan hangat seperti ini, dan tentu saja punya suami yang begitu perhatian."
Xander tersenyum dan mencium kening Lily. "Kamu selalu tahu bagaimana membuatku merasa spesial, sayang."
Mereka terdiam sejenak, menikmati kebersamaan mereka dalam keheningan yang nyaman. Lampu ruangan yang lembut dan aroma harum lilin membuat suasana semakin tenang.
Tiba-tiba, suara riuh rendah dari dapur menyadarkan mereka akan waktu makan malam. Xander melirik jam di dinding dan tersenyum. "Sepertinya sudah waktunya untuk makan malam, sayang. Bagaimana kalau kita masak bersama?"
Lily mengangguk antusias. "Baiklah, aku akan memasak salad segar dan kamu bisa membuat hidangan utamanya. Bagaimana?"
Xander tersenyum lebar. "Deal. Mari kita mulai!"
Mereka berdua bangkit dari sofa dengan semangat, siap menghabiskan malam mereka dalam kebersamaan, tertawa, dan bercanda di dapur, menciptakan kenangan indah yang tak terlupakan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Miss Apple 🍎
seru
2024-06-10
0