Pagi itu, sinar matahari menerobos melalui jendela kamar Xander dan Lily, membangunkan mereka dengan lembut. Xander merentangkan tubuhnya dan menatap Lily yang masih terlelap. Dengan senyuman, dia mengecup keningnya sebelum bangkit dari tempat tidur. Hari ini adalah hari yang sibuk di kantor, dan dia harus berangkat lebih awal.
Di ruang makan, Lily sudah menyiapkan sarapan sederhana. “Selamat pagi, sayang,” sapa Lily dengan senyum manis. “Aku membuatkanmu roti panggang dan kopi.”
Xander duduk dan mulai menyantap sarapannya. “Terima kasih, sayang. Aku harus berangkat lebih awal hari ini. Ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.”
Lily mengangguk sambil menuangkan kopi ke cangkirnya. “Aku mengerti. Jangan terlalu memaksakan diri, ya.”
Setelah sarapan, Xander mencium pipi Lily dan berangkat ke kantor. “Sampai nanti, sayang. Aku mencintaimu.”
Lily tersenyum dan melambai. “Aku juga mencintaimu. Hati-hati di jalan.”
Setelah Xander pergi, Lily menghabiskan pagi dengan membersihkan rumah dan merapikan beberapa barang. Dia berusaha tetap sibuk agar pikirannya tidak terlalu memikirkan Alina atau hal-hal lain yang mungkin mengganggu ketenangannya.
Beberapa jam kemudian, bel pintu berbunyi. Lily yang sedang berada di dapur segera berjalan ke pintu dan membukanya. Alina berdiri di sana, tampak anggun seperti biasa dengan senyum yang tidak sepenuhnya tulus.
“Alina, ada apa?” tanya Lily dengan nada sopan namun tegas.
“Aku ingin bicara sebentar, Lily. Boleh aku masuk?” Alina meminta izin dengan sopan, meski ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat Lily merasa waspada.
Lily mengangguk, berusaha tetap tenang. “Silakan masuk.”
Alina melangkah masuk dan duduk di ruang tamu. Lily menyusul dan duduk di seberangnya. “Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?”
Alina mengambil napas dalam-dalam sebelum berbicara. “Lily, aku tidak bermaksud mengganggu, tapi aku merasa kita perlu berbicara tentang Xander.”
Lily mengangkat alis. “Apa maksudmu?”
“Xander dan aku memiliki sejarah yang panjang. Aku hanya ingin memastikan bahwa dia bahagia. Kau tahu, kadang-kadang aku merasa dia masih memikirkan masa lalu kami.”
Lily menatap Alina dengan mata tajam. “Xander telah memilihku, Alina. Aku tahu kalian memiliki masa lalu, tapi dia sudah memutuskan untuk melanjutkan hidupnya bersamaku.”
Alina tersenyum tipis, matanya berkilat dengan licik. “Tentu, tapi kau harus mengerti bahwa perasaan tidak mudah hilang begitu saja. Aku hanya ingin memastikan dia benar-benar bahagia.”
Lily tidak bisa menahan diri lagi. “Alina, kau tidak bisa terus-terusan mengganggu kami dengan alasan ingin memastikan kebahagiaannya. Jika kau benar-benar peduli padanya, kau akan menghormati pilihannya.”
Alina tetap tenang, meski senyum di wajahnya mulai pudar. “Aku hanya ingin yang terbaik untuknya, Lily. Itu saja.”
Lily berdiri, menunjukkan bahwa pertemuan ini sudah cukup. “Terima kasih sudah datang, Alina. Aku harap kau bisa memahami dan menghormati keputusan Xander.”
Alina bangkit dari tempat duduknya dengan anggun. “Baiklah, Lily. Aku harap kau benar. Tapi, jika ada sesuatu yang membuatnya tidak bahagia, aku akan selalu ada untuknya.”
Setelah Alina pergi, Lily menghela napas panjang. Dia tahu bahwa ini bukan akhir dari gangguan Alina, tapi dia bertekad untuk tidak membiarkan hal itu merusak hubungannya dengan Xander.
Di tempat lain, di kantor Xander, Mark dan Tina sibuk dengan pekerjaan mereka. Namun, di sela-sela kesibukan itu, mereka masih menemukan waktu untuk saling menggoda. Tina sedang mengetik di komputernya ketika Mark datang dan menyodorkan secangkir kopi.
“Tina, aku tahu kau butuh ini,” kata Mark dengan senyum nakal.
Tina menatapnya sambil tersenyum. “Terima kasih, Mark. Kau selalu tahu cara membuat hariku lebih baik.”
Mark duduk di kursi sebelahnya, mencoba bersikap serius. “Jadi, apa rencana kita malam ini? Mungkin makan malam di tempat favorit kita?”
Tina tertawa kecil. “Kau benar-benar tidak bisa berhenti merencanakan hal-hal romantis, ya?”
Mark mengangkat bahu. “Itu salah satu dari banyak pesonaku.”
Mereka berdua tertawa, menikmati momen kebersamaan di tengah kesibukan kantor. Meskipun mereka harus menjaga hubungan mereka tetap rahasia, kebersamaan dan cinta yang mereka rasakan membuat segalanya terasa lebih ringan.
Sementara itu, Xander sibuk dengan rapat dan presentasi. Dia tahu bahwa hari ini akan menjadi hari yang panjang, tapi pikirannya tetap tertuju pada Lily. Dia tidak sabar untuk pulang dan menghabiskan waktu bersamanya.
Saat hari mulai menjelang sore, Xander menerima pesan dari Lily yang membuatnya tersenyum. “Sayang, aku merindukanmu. Semoga harimu berjalan lancar.”
Xander membalas dengan cepat. “Aku juga merindukanmu. Tidak sabar untuk pulang dan melihatmu.”
Ketika malam tiba, Xander akhirnya bisa pulang. Saat dia masuk ke rumah, Lily menyambutnya dengan pelukan hangat. “Bagaimana harimu?” tanya Lily.
“Lelah, tapi sekarang aku merasa jauh lebih baik,” jawab Xander sambil memeluk Lily erat. “Bagaimana denganmu?”
Lily tersenyum. “Hari ini agak berat, tapi aku senang kau sudah pulang.”
Mereka menghabiskan malam dengan makan malam yang sederhana namun penuh cinta. Xander menceritakan tentang hari-harinya di kantor, sementara Lily berbagi tentang kunjungan Alina dan betapa dia tetap tegar menghadapi mantan kekasih suaminya.
“Kau melakukan hal yang benar, Lily,” kata Xander sambil menggenggam tangan Lily. “Aku mencintaimu dan hanya ingin bersamamu.”
Lily tersenyum penuh rasa syukur. “Aku juga mencintaimu, Xander. Kita akan menghadapi semuanya bersama.”
Malam itu, mereka berdua tidur dengan perasaan tenang dan bahagia. Mereka tahu bahwa perjalanan mereka masih panjang dan penuh tantangan, tetapi dengan cinta dan dukungan satu sama lain, mereka yakin bisa melewati segalanya.
Di sisi lain, Alina duduk di apartemennya, merencanakan langkah berikutnya. Dia belum menyerah, dan dia bertekad untuk mendapatkan kembali perhatian Xander. Namun, dia juga tahu bahwa Lily bukan lawan yang mudah.
Hari berikutnya,Pagi ini Xander dan Lily menikmati sarapan bersama di dapur yang hangat dan terang. Aroma kopi yang baru diseduh memenuhi udara, memberikan kenyamanan tersendiri. Xander menatap Lily dengan penuh cinta. "Bagaimana kalau kita makan malam di luar? Sudah lama kita tidak kencan.”
Lily tersenyum sambil mengaduk kopinya. “Itu ide bagus. Aku juga merasa kita butuh waktu berdua.”
Setelah sarapan, Xander berpamitan untuk berangkat ke kantor, meninggalkan Lily yang mulai sibuk dengan kegiatan rumah. “Sampai nanti, sayang,” kata Xander sambil mengecup kening Lily.
“Aku mencintaimu.”
“Sampai nanti. Aku juga mencintaimu,” balas Lily dengan senyuman hangat.
Hari berjalan cukup tenang di mansion. Lily sibuk merapikan rumah, membaca, dan menikmati waktu santainya. Namun, ketenangan itu terganggu ketika bel pintu berbunyi. Lily membuka pintu dan menemukan Alina berdiri di sana dengan senyum yang terlihat dipaksakan.
“Alina, ada apa lagi astaga?” tanya Lily dengan nada sopan tapi terdengar malas.
“Aku perlu bicara denganmu, Lily. Ada hal yang harus aku sampaikan,” jawab Alina sambil melangkah masuk.
Lily menghela napas dalam-dalam dan mengikuti Alina ke ruang tamu. Mereka duduk berhadapan, dan Alina mulai bicara. “Lily, aku ingin kau tahu bahwa aku tidak akan menyerah."
Lily menatap Alina dengan tegas. “Alina, aku menghormati masa lalu kalian, tapi Xander telah memilih untuk melanjutkan hidupnya bersamaku. Kami bahagia bersama."
"Harusnya kamu bisa move on dan tak mengusik rumah tangga orang!"pekiknya
Alina menatap tajam Lily, matanya menyiratkan rencana yang lebih dalam.
“Kau mungkin merasa aman sekarang, tapi kau harus tahu bahwa perasaan cinta tidak hilang begitu saja. Aku akan terus berusaha mendapatkan kembali Xander.”
Lily tidak tinggal diam. “Aku tidak akan membiarkanmu mengganggu hubungan kami. Jika kau benar-benar peduli pada Xander, kau akan menghormati kebahagiaannya dan berhenti mengusik kami.”
Alina tertawa kecil. “Kita lihat saja nanti, Lily.”
Setelah Alina pergi, Lily merasakan campuran antara kemarahan dan ketenangan. Lily mulai muak dengan kehadiran Alina yang setiap hari mengusiknya.
Di sisi lain, di kantor Xander, Mark dan Tina sedang menikmati momen kebersamaan mereka di sela-sela pekerjaan. Mereka sering bertukar pandang penuh makna dan sesekali saling menggoda. Di balik kesibukan mereka, ada kebahagiaan tersembunyi yang hanya mereka berdua yang tahu.
“Mark, nanti malam ada acara kantor. Kau akan datang?” tanya Tina sambil tersenyum.
Mark mengangguk. “Tentu saja. Aku tidak akan melewatkan kesempatan untuk menghabiskan waktu denganmu.”
Mereka berdua tertawa, menikmati rahasia kecil mereka yang memberikan warna dalam rutinitas sehari-hari.
Sementara itu, di sebuah kafe kecil di sudut kota, Alina duduk dengan Ryan.
“Aku tidak bisa membiarkan Xander bersama Lily. Aku harus melakukan sesuatu,” kata Alina dengan nada penuh tekad.
Ryan mengangkat alis. “Apa yang kau rencanakan, Alina?”
“Aku akan membuat Lily merasa tidak nyaman. Aku tahu Xander akan kembali padaku jika dia melihat betapa tidak cocoknya Lily untuknya,” jawab Alina dengan mata berkilat licik.
Ryan menghela napas. “Bisakah kau berhenti mengusik mereka,Al?"
Alina menatap temannya dengan tatapan sengit.
"Kenapa kamu protes,Ryan?"
Ryan hanya diam saja,pria itu tak berani mengungkapkan perasaannya.
Kembali ke mansion, Lily sedang merenung di ruang tamu, memikirkan pertemuannya dengan Alina. Dia tahu bahwa tantangan besar ada di depan mereka, tetapi dia bertekad untuk tidak membiarkan siapa pun merusak kebahagiaannya dengan Xander.
Sore hari, saat Xander pulang, dia menemukan Lily duduk di sofa dengan ekspresi yang penuh pikir. “Ada apa, sayang?” tanya Xander sambil duduk di sampingnya.
Lily tersenyum lemah. “Alina datang lagi hari ini. Dia masih berusaha mengganggu kita.”
Xander menghela napas dan memeluk Lily.
“Jangan khawatir, sayang. Aku di sini bersamamu, dan kita akan menghadapi ini bersama.”
"Tapi aku muak,Xander!"jawab Lily.
Xander membuang napas berat mendengar ucapan istrinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
mbok Darmi
xander juga oon ngga tegas ngga peka sama trik alina hrs nya xander lbh tegas jgn mau lg ketemu sama Alina demi menjaga kewarasan lily jgn sampai kamu menyesal xander itu alina akan menghalalkan segala cara buat merebut kamu kembali dan saat kamu lengah lily sdh pergi dr hidupmu jd jgn kecewakan lily hanya krn kamu menganggap alina hanya temen aja
2024-06-07
1