Siang itu, setelah percakapan mendalam antara Nyonya Clara dan Lily, matahari mulai beranjak tinggi, menandakan waktu makan siang yang semakin mendekat. nyonya Clara memandang jam di dinding dan menghela napas, menyadari bahwa sudah waktunya dia berpamitan.
"Lily, sayang, mommy harus segera pulang sekarang," kata Nyonya Clara sambil berdiri dari sofa.
Lily, yang duduk di seberangnya, ikut bangkit berdiri. "Oh, Mom, sudah waktunya mommy pulang? Terima kasih sudah datang dan berbicara dengan saya. Kehadiran Ibu selalu membuat saya merasa lebih tenang."
Nyonya Clara tersenyum hangat, memeluk menantunya dengan erat. "Mommy juga merasa senang bisa berbicara denganmu, Lily. Ingatlah semua yang kita bicarakan tadi. Kamu adalah bagian penting dalam hidup Xander."
Lily membalas pelukan itu dengan lembut, merasakan kasih sayang yang tulus dari mertuanya. "Tentu, Mom. Saya akan selalu mengingat nasihat Mommy. Hati-hati di jalan, ya."
Setelah melepas pelukan, Nyonya Clara melangkah menuju pintu dengan Lily mengiringi. Di depan pintu, Nyonya Clara berbalik dan tersenyum sekali lagi.
"Sampai jumpa lagi, sayang. Jaga dirimu dan Xander baik-baik."
"Baik, Mom. Sampai jumpa lagi," jawab Lily sambil melambai saat Nyonya Clara berjalan keluar dan menuju mobilnya.
Setelah menutup pintu, Lily berdiri sejenak di ruang tamu, memikirkan kata-kata mertuanya. Dia kemudian memutuskan untuk melakukan sesuatu yang spesial untuk Xander. Dengan semangat baru, dia menuju kamar mereka di lantai atas.
Di kamar, Lily membuka lemari pakaian dan mencari gaun yang dibelikan Xander beberapa minggu yang lalu. Gaun itu berwarna biru tua dengan potongan elegan yang membuatnya terlihat anggun dan berkelas.
Lily tersenyum, mengingat betapa antusiasnya Xander saat memberikannya gaun itu.
Setelah memilih gaun tersebut, Lily dengan hati-hati mulai mengenakannya. Dia memastikan gaun itu terpasang dengan sempurna di tubuhnya, menonjolkan kecantikannya tanpa terlihat berlebihan. Setelah mengenakan gaun, dia berdiri di depan cermin besar, memperhatikan penampilannya.
Lily kemudian mengambil sisir dan mulai menyisir rambutnya dengan rapi, memutuskan untuk menata rambutnya dengan gaya sederhana namun elegan. Dia mengaplikasikan sedikit make-up, cukup untuk menonjolkan fitur-fitur wajahnya tanpa terlihat terlalu mencolok. Sentuhan akhir berupa sepasang anting berlian kecil yang berkilau indah di telinganya.
Ketika semuanya sudah selesai, Lily memandang dirinya sendiri di cermin dengan puas. Dia merasa lebih percaya diri dan siap menyambut Xander dengan penampilan yang berbeda dari biasanya.
Dia kemudian duduk di sisi tempat tidur, menunggu Xander pulang. Dalam hati, dia berharap penampilan barunya ini akan menjadi kejutan yang menyenangkan bagi suaminya, sebuah tanda bahwa dia selalu berusaha untuk membuatnya bahagia dan merasa dicintai.
Detik demi detik berlalu, dan dengan setiap bunyi jarum jam yang berputar, Lily semakin tidak sabar untuk melihat reaksi Xander saat melihatnya nanti. Dia tersenyum sendiri, membayangkan wajah suaminya yang mungkin akan terkejut dan senang.
Hari itu, Lily merasa telah melakukan sesuatu yang istimewa, sesuatu yang membuatnya lebih dekat dengan Xander, seperti yang diharapkan oleh Ny. Clara. Dengan cinta dan usaha yang dia berikan, dia yakin bisa membuat hari-hari mereka penuh dengan kebahagiaan dan kebersamaan yang lebih berarti.
Setelah seharian sibuk di kantor, Xander akhirnya pulang ke rumah dengan langkah yang agak lelah namun penuh antusiasme. Begitu dia membuka pintu depan, aroma harum makanan yang sedang dimasak menyambutnya, memberinya semangat baru.
"Lily, aku sudah pulang!" panggil Xander sambil menaruh tas kerjanya di lantai dekat pintu.
Tak lama kemudian, Lily keluar dari kamar mereka dengan senyum cerah di wajahnya. Namun, kali ini, ada sesuatu yang berbeda. Xander sejenak terdiam saat melihat penampilan istrinya. Lily mengenakan gaun biru tua yang indah, rambutnya ditata dengan elegan, dan sedikit make-up yang menambah pesonanya.
Xander terkejut melihat perubahan penampilan Lily. Dia menatap istrinya dengan mata terbuka lebar, mulutnya terbuka sedikit namun tak ada suara yang keluar.
"Lily... kamu... kamu terlihat... luar biasa," ucap Xander akhirnya dengan suara yang hampir tercekat oleh kejutan.
Lily tersenyum gugup, merasa sedikit canggung di bawah sorotan perhatian suaminya. "Terima kasih, Xander. Aku melakukan ini demi menyenangkan kamu."
Xander masih terdiam sejenak, matanya bergerak dari atas ke bawah, memperhatikan dengan seksama setiap detail penampilan Lily.
Namun, tiba-tiba ekspresi wajahnya berubah menjadi datar, hampir seolah-olah dia berusaha menyembunyikan perasaannya.
"Lily, apa yang terjadi? Ada sesuatu yang salah?" tanya Xander dengan suara datar.
Lily merasa sedikit cemas melihat perubahan ekspresi suaminya. "Tidak, Xander. Aku hanya ingin memberikan kejutan padamu, mulai sekarang aku akan berdandan seperti ini untukmu."
Xander mengangguk singkat, tetapi tatapannya masih terasa dingin. "Terima kasih, Lily. Aku menghargainya."
Suasana yang tadinya hangat dan penuh antusiasme kini berubah menjadi sedikit tegang. Lily merasa kekecewaan melintas di hatinya, bertanya-tanya apa yang salah dengan perubahan penampilannya. Namun, dia mencoba untuk tetap tersenyum, berharap bisa meredakan ketegangan di antara mereka.
"Mungkin kau ingin mengganti baju dulu, Xander. Makan malam hampir siap," ucap Lily mencoba untuk mengalihkan perhatian.
Xander mengangguk singkat, lalu berjalan masuk ke kamar mandi tanpa sepatah kata pun lagi. Lily merasa hatinya berat melihat reaksi suaminya yang dingin, namun dia mencoba untuk tetap optimis dan berharap bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Ketika Xander keluar dari kamar mandi, dia telah kembali mengenakan pakaian santai rumah. Dia mencoba untuk tersenyum pada Lily, meskipun ekspresinya masih terasa kaku.
"Mungkin kita bisa duduk bersama di ruang makan," kata Xander dengan suara yang terdengar sedikit tertahan.
Lily mengangguk, mencoba untuk mengembalikan kehangatan dan keakraban di antara mereka. Mereka berjalan bersama ke ruang makan, tetapi di dalam hati, Lily masih bertanya-tanya tentang perubahan tiba-tiba dalam sikap Xander.
Suasana makan malam pun berlangsung dalam ketegangan yang tak terucapkan, meskipun mereka berusaha untuk menjalani percakapan ringan. Namun, Lily berharap bahwa mereka dapat menyelesaikan ketidaknyamanan ini dan kembali ke keadaan yang tenang seperti biasanya.
"Bagaimana rasa makanan ini, Xander?" tanya Lily dengan gugup.
"Enak, apa kamu yang memasaknya?" tanya Xander dengan pandangan tertuju pada sang istri.
"Iya." jawab Lily.
Xander kembali diam dan fokus pada makanan begitu juga dengan Lily.Usai makanan pria itu beranjak pergi ke kamarnya. Lily sendiri membereskan meja makan lebih dulu lalu dibawa ke dapur baru setelah itu pergi ke kamar.
Lily menuju kamar utama sesuai perintah sang suami.Kini keduanya berada dalam ruangan yang sama.
"Segeralah naik ke atas ranjang dan berbaring!"
"Huum." gumam Lily canggung.Gadis itu membaringkan tubuhnya diatas ranjang.Gadis itu menatap punggung kekar sang suami dalam diam.
Dia berniat menyentuhnya namun Lily mengurungkan niat.Gadis cantik itu mulai memejamkan kedua mata.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Miss Apple 🍎
semangat
2024-06-04
0