Setelah Alina pergi, Xander duduk diam sejenak, menghela napas panjang. Pertemuan singkat tadi benar-benar mengingatkannya pada masa lalu yang sudah lama ingin dia lupakan. Dia mengusap wajahnya dengan tangan, berusaha menghapus sisa-sisa ketegangan yang muncul.
"Pagi yang aneh," gumamnya sendiri, lalu memutuskan untuk kembali fokus pada pekerjaan yang menumpuk di mejanya.
Waktu berlalu, dan Xander berhasil menenggelamkan diri dalam rutinitas kantornya. Ia menandatangani dokumen, menghadiri rapat, dan menangani beberapa masalah yang muncul. Hari yang sibuk membantu mengalihkan pikirannya dari pertemuan dengan Alina.
Saat istirahat siang, Xander memutuskan untuk keluar sebentar. Ia berjalan ke kafe terdekat, memesan kopi, dan duduk di meja dekat jendela. Sambil menikmati kopi panasnya, pikirannya kembali melayang pada Lily. Betapa beruntungnya dia memiliki istri seperti Lily yang selalu ada untuknya, meski dia sendiri kadang sulit membuka diri.
Xander meraih ponselnya dan mengetik pesan singkat untuk Lily: "Hai, Lil. Semoga harimu menyenangkan. Aku sangat menghargai apa yang kamu lakukan pagi ini. Aku cinta kamu."
Dia menekan tombol kirim dan tersenyum tipis. Merasa lebih ringan, Xander kembali ke kantor, siap menyelesaikan sisa harinya.
Sore hari, setelah semua pekerjaan selesai, Xander merasa sedikit lega. Dia merapikan meja, mematikan komputer, dan bersiap-siap untuk pulang. Di perjalanan pulang, pikirannya terus menerus memikirkan Lily dan rumah mereka. Dia merasa perlu memberitahukan tentang pertemuan dengan Alina, meski hanya untuk menjaga keterbukaan dalam hubungan mereka.
Sesampainya di rumah, Xander disambut oleh aroma masakan yang menggiurkan. Lily sudah menyiapkan makan malam. Dia tersenyum hangat saat melihat suaminya masuk.
"Bagaimana harimu, Xander?" tanya Lily sambil menyeka tangannya dengan serbet.
"Sedikit sibuk, tapi baik-baik saja," jawab Xander sambil meletakkan tas kerjanya. "Ada sesuatu yang perlu aku ceritakan, Lil."
Lily menatapnya dengan penuh perhatian. "Apa itu?"
Xander menarik napas dalam-dalam. "Tadi pagi, di kantor, aku bertemu dengan Alina. Dia datang untuk meminta maaf tentang masa lalu."
Lily terdiam sejenak, mencerna informasi tersebut. "Oh, begitu. Bagaimana perasaanmu tentang itu?"
Xander menggeleng pelan. "Aku sudah tidak peduli lagi. Masa lalu biarlah berlalu. Yang penting sekarang adalah kita. Aku hanya ingin jujur padamu."
Lily tersenyum lembut, merasa lega mendengar keterbukaan Xander. "Terima kasih sudah memberitahuku, Xander. Aku percaya padamu."
Mereka berdua berpelukan dengan erat, merasakan kehangatan dan cinta yang mengalir di antara mereka. Malam itu, mereka menikmati makan malam bersama dengan perasaan yang lebih dekat dan penuh pengertian, siap menghadapi hari-hari ke depan dengan lebih kuat sebagai pasangan.
Setelah makan malam selesai, Xander dan Lily membawa secangkir teh hangat masing-masing ke ruang tamu. Mereka duduk di sofa, menyalakan TV hanya untuk memberikan latar suara sambil menikmati waktu bersama. Suasana malam itu terasa lebih ringan dibandingkan sebelumnya, mungkin karena keterbukaan yang mereka bagikan sebelumnya.
Lily mengaduk tehnya pelan, menatap layar TV yang menampilkan acara berita tanpa benar-benar memperhatikannya. "Xander, terima kasih sudah jujur tentang Alina. Aku tahu kita belum sampai pada titik di mana kita saling mencintai, tapi aku merasa kejujuran adalah awal yang baik."
Saat waktu tidur tiba, mereka berjalan bersama menuju kamar. Xander melihat Lily dengan lebih hangat. "Selamat malam, Lily. Semoga tidurmu nyenyak."
"Selamat malam, Xander. Terima kasih untuk malam ini," balas Lily sambil tersenyum lembut.
Mereka masuk ke dalam kamar, berbaring di sisi masing-masing. Suasana tenang dan damai menyelimuti mereka. Meski masih ada jarak emosional di antara mereka, malam itu mereka merasa sedikit lebih dekat, dengan harapan bahwa hari-hari yang akan datang akan membawa mereka ke arah yang lebih baik.
Pagi berikutnya, sinar matahari mulai menyelinap masuk melalui tirai kamar, membangunkan Xander dan Lily perlahan. Xander menggeliat, merasakan tubuhnya yang masih agak kaku setelah tidur malam. Dia melirik ke arah Lily yang masih terlelap, tampak damai dalam tidurnya.
Xander bangkit dari tempat tidur, berjalan pelan menuju kamar mandi agar tidak membangunkan Lily. Setelah menyegarkan diri, dia menuju dapur untuk membuat secangkir kopi. Aroma kopi segar segera memenuhi rumah, memberikan semangat pagi itu.
Tak lama kemudian, Lily muncul di ambang pintu dapur, rambutnya masih sedikit berantakan dan matanya setengah terbuka. Dia menguap kecil dan tersenyum saat melihat Xander.
"Pagi, Xander," sapanya sambil meraih cangkir dari rak.
"Pagi, Lil." balas Xander sambil menuangkan kopi untuknya.
"Tidurmu nyenyak?"
"Ya, lumayan," jawab Lily sambil menyeruput kopi panasnya.
"Terima kasih untuk kopinya."
Mereka duduk bersama di meja dapur, menikmati kopi pagi dalam keheningan yang nyaman. Sesekali, mereka saling melempar senyum kecil, merasa lebih terhubung setelah malam sebelumnya.
"Apa rencanamu hari ini?" tanya Lily akhirnya, memecah keheningan.
"Aku ada beberapa rapat penting di kantor, tapi sepertinya tidak terlalu sibuk," jawab Xander.
"Kamu sendiri?"
"Aku akan pergi ke supermarket untuk belanja mingguan. Setelah itu, mungkin aku akan mencoba resep baru yang aku temukan kemarin," kata Lily sambil tersenyum.
Xander mengangguk. "Kedengarannya bagus. Kalau butuh bantuan apa-apa, beritahu saja, ya."
Lily tertawa kecil. "Aku akan ingat itu."
Setelah sarapan sederhana, Xander bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Sebelum pergi, dia menghampiri Lily yang sedang mencuci piring di dapur.
"Lily, ingat festival makanan yang kita bicarakan kemarin? Aku sudah memblokir waktuku untuk akhir pekan ini," kata Xander sambil tersenyum.
Lily menoleh dan tersenyum lebar. "Wah, terima kasih, Xander! Aku tidak sabar untuk pergi ke sana."
"Baiklah, aku berangkat dulu. Jaga diri, Lil," kata Xander sambil meraih tas kerjanya.
"Kamu juga, Xander. Hati-hati di jalan." balas Lily.
Mereka saling melambai saat Xander berjalan keluar rumah dan menuju mobilnya. Saat dia menghidupkan mesin dan mulai melaju, Xander merasa ada sesuatu yang berbeda pagi itu. Hubungan mereka memang masih dalam proses, tetapi ada harapan dan kebersamaan yang mulai tumbuh. Dan itu membuatnya merasa lebih ringan dan lebih siap menghadapi hari.
Di rumah, Lily menyelesaikan pekerjaannya dengan semangat baru. Dia merasa lebih optimis tentang masa depannya dengan Xander. Meski cinta belum sepenuhnya tumbuh, mereka berdua sedang dalam perjalanan menuju sesuatu yang lebih baik, dan itu adalah awal yang cukup baik bagi keduanya.
Hah
Lily tentu saja bahagia mendapati suaminya tak memperlakukan dirinya dengan kejam.Dia merasa Xander mencoba membuka hati atas kehadiran Lily.
"Semoga saja aku bisa membuatnya jatuh cinta." gumam Lily.
"Xander pantas dicintai siapapun yang berniat ingin berada disisinya!"
Lily segera mengambil tasnya setelah itu bersiap keluar dengan diantar sopir.Sepanjang perjalanan perempuan itu hanya diam saja dan tampak bengong.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Miss Apple 🍎
sangat seru
2024-06-04
0