Di sisi lain, Lily merasa kesal saat melihat Alina datang ke mansion dirinya dan Xander. Dari jendela, Lily memperhatikan Alina melangkah dengan angkuh menuju pintu depan. Alina mengenakan gaun elegan dan terlihat sempurna, seolah-olah dia datang untuk acara penting. Lily tahu tujuan sebenarnya Alina—mencari simpati Xander.
Saat bel pintu berbunyi, Lily menghela napas panjang dan melangkah ke pintu. "Ada apa, Alina?" tanyanya dengan nada datar saat membuka pintu.
Alina tersenyum manis, tetapi Lily bisa melihat kepalsuan di balik senyum itu. "Hai, Lily. Aku datang untuk berbicara dengan Xander. Ada beberapa hal yang perlu kami selesaikan."
Lily menahan diri untuk tidak memutar matanya. "Xander sedang tidak di rumah. Ada yang bisa kubantu?"
"Oh, aku bisa menunggu," kata Alina sambil melangkah masuk tanpa diundang.
Lily mengepalkan tangannya di belakang punggungnya, berusaha tetap tenang. "Silakan duduk. Aku akan membuatkan teh."
Di ruang tamu, Alina duduk dengan anggun di sofa, seolah-olah dia yang memiliki tempat itu. Lily berjalan ke dapur, menggerutu pelan, "Wanita itu benar-benar tidak tahu malu."
Setelah beberapa saat, Lily kembali dengan nampan berisi teh dan beberapa camilan. Dia meletakkan nampan di meja dan duduk di seberang Alina. "Xander akan pulang beberapa jam lagi," kata Lily, berusaha mengisi keheningan canggung.
Alina menyeruput tehnya dengan perlahan, menatap Lily dengan tatapan menilai. "Kau tahu, Lily, aku sangat mengenal Xander. Kami punya banyak kenangan bersama."
Lily menahan diri untuk tidak tersinggung. "Ya, aku tahu. Tapi sekarang, dia adalah suamiku."
Alina tersenyum miring. "Kau benar. Tapi aku hanya ingin memastikan dia baik-baik saja. Aku merasa bertanggung jawab untuk itu."
Lily merasa kemarahan mulai membara di dalam dirinya. "Xander baik-baik saja, Alina. Aku yang merawatnya sekarang. Kau tidak perlu khawatir."
Alina meletakkan cangkir tehnya dan menatap langsung ke mata Lily. "Lily, aku hanya tidak ingin melihatnya terluka. Aku ingin memastikan dia bahagia."
Lily tidak bisa menahan diri lagi. "Dengar, Alina. Xander dan aku sudah membangun kehidupan bersama. Kami bahagia tanpa campur tanganmu. Jadi, kalau tujuanmu ke sini hanya untuk membuat keraguan, sebaiknya kau pergi sekarang."
Alina tersentak, tidak menyangka Lily akan berbicara dengan begitu tegas. "Lily, kau salah paham. Aku hanya ingin..."
"Sudah cukup, Alina," potong Lily dengan tegas. "Aku mengerti niatmu, tapi ini adalah rumahku dan Xander. Jika kau benar-benar peduli padanya, kau akan membiarkan dia hidup dengan tenang."
Alina berdiri dengan anggun, meski wajahnya menunjukkan sedikit kekalahan. "Baiklah, Lily. Aku tidak ingin menciptakan masalah. Sampaikan salamku pada Xander."
Lily mengangguk. "Akan kusampaikan."
Alina melangkah keluar dengan perlahan, meninggalkan Lily yang merasa lega namun masih marah. Setelah menutup pintu, Lily menghela napas panjang dan bersandar pada pintu. Dia tahu bahwa Alina tidak akan menyerah begitu saja, tetapi setidaknya untuk saat ini, dia telah memenangkan pertempuran kecil ini.
Ketika Xander akhirnya pulang, Lily menceritakan kejadian tersebut dengan tenang. Xander mendengarkan dengan serius, lalu meraih tangan Lily dan menenangkannya. "Lily, aku memilihmu. Tidak ada yang bisa mengubah itu. Terima kasih telah menjaga rumah kita."
Lily tersenyum lelah, merasa beban di hatinya sedikit berkurang. "Aku hanya ingin kita bahagia tanpa gangguan dari masa lalumu."
"Aku juga," kata Xander dengan penuh keyakinan.
"Dan aku berjanji, kita akan melalui semua ini bersama."
Malam itu, setelah berbicara dengan Xander, Lily merasa lebih tenang. Mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama di ruang tamu, menonton film favorit mereka. Xander duduk di sofa, merangkul Lily dengan hangat.
"Terima kasih sudah menjaga rumah tangga kita, sayang," kata Xander sambil mencium kening Lily.
Lily tersenyum lembut. "Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan. Aku tahu kau mencintaiku dan itu cukup untukku."
Keesokan paginya, mereka bangun dengan semangat baru. Xander memutuskan untuk membuat sarapan sebagai tanda terima kasihnya. "Apa yang kau inginkan untuk sarapan?" tanya Xander dengan riang.
"Bagaimana dengan pancake?" jawab Lily dengan mata berbinar.
"Deal," kata Xander sambil mulai mengaduk adonan pancake.
Mereka memasak bersama, tertawa dan bercanda di dapur. Aroma pancake memenuhi ruangan, menciptakan suasana hangat dan nyaman. Setelah sarapan, mereka duduk di meja makan, menikmati hidangan dan berbicara tentang rencana hari itu.
"Aku harus pergi ke perusahaan nanti," kata Xander. "Ada beberapa hal yang perlu diurus."
"Aku akan mengurus rumah. Mungkin aku juga akan pergi belanja," jawab Lily.
Setelah sarapan, Xander bersiap untuk berangkat ke kantor. Sebelum pergi, dia memeluk Lily erat dan berkata, "Aku akan pulang secepatnya. Jaga dirimu, sayang."
"Kau juga, hati-hati di jalan," balas Lily dengan senyum.
Setelah Xander pergi, Lily membersihkan dapur dan merapikan rumah. Beberapa saat kemudian, bel pintu berbunyi. Lily membuka pintu dan melihat Alina berdiri di sana dengan wajah cemberut.
"Apa yang kau lakukan di sini, Alina?" tanya Lily dengan nada datar.
Alina masuk tanpa diundang, menatap Lily dengan tatapan merendahkan. "Aku hanya ingin memastikan kau tahu tempatmu. Kau mungkin istri Xander sekarang, tapi aku tahu dia masih punya perasaan untukku."
Lily mendesah, merasa kesal dengan sikap Alina yang selalu berusaha merusak kebahagiaannya. "Alina, kau datang ke sini hanya untuk membuat masalah? Xander sudah memilihku. Terimalah itu."
Alina mendekat, menatap Lily dengan penuh kebencian. "Kau tidak pantas untuknya, Lily. Kau hanya gadis miskin yang beruntung. Xander butuh seseorang yang selevel dengannya, bukan gadis seperti kau."
Lily tidak tinggal diam. "Alina, aku tidak tahu apa masalahmu, tapi Xander mencintaiku dan itu sudah cukup. Kau tidak bisa mengubah kenyataan itu dengan menghina dan merendahkanku."
Alina tertawa sinis. "Kau tidak mengerti, Lily. Xander dan aku punya sejarah yang panjang. Aku yakin dia akan kembali padaku."
Lily mengangkat dagunya, menatap Alina dengan tatapan tegas. "Kau salah. Xander dan aku punya masa depan yang lebih kuat daripada masa lalu yang pernah kau miliki dengannya. Aku tidak akan membiarkanmu merusak hubungan kami."
Alina terlihat terkejut dengan keberanian Lily. "Kita lihat saja," katanya sebelum berbalik dan keluar dari rumah.
Lily menutup pintu dengan perasaan campur aduk. Dia tahu Alina tidak akan berhenti mencoba mengganggu hubungannya dengan Xander, tapi dia merasa lebih kuat setelah membela dirinya.
Saat hari mulai sore, Xander pulang dengan wajah lelah namun senang melihat Lily. "Bagaimana harimu?" tanya Xander sambil mencium pipi Lily.
"Lumayan," jawab Lily sambil tersenyum. "Alina datang lagi, mencoba membuat masalah."
Xander mengerutkan kening. "Apa yang dia inginkan kali ini?"
"Hal yang sama seperti biasa. Dia ingin membuatku merasa tidak pantas untukmu," kata Lily dengan tenang.
Xander memeluk Lily erat. "Kau adalah orang yang paling pantas untukku, Lily. Jangan biarkan kata-katanya mempengaruhimu. Aku mencintaimu lebih dari apa pun."
Lily merasa hangat dan aman dalam pelukan Xander. "Aku tahu, dan aku juga mencintaimu."
Mereka menghabiskan malam itu dengan tenang, menikmati kebersamaan mereka dan berusaha melupakan gangguan dari Sofia. Lily tahu bahwa mereka akan terus menghadapi tantangan, tetapi dia yakin bahwa dengan cinta dan dukungan Xander, mereka bisa mengatasi segalanya.
Hari-hari berlalu dengan rutinitas yang nyaman. Lily dan Xander semakin dekat, menikmati momen-momen kecil bersama yang membuat hubungan mereka semakin kuat. Meski ada gangguan dari Alina, mereka tetap fokus pada cinta dan kebahagiaan mereka.
Suatu hari, saat mereka berjalan di taman, Xander berhenti dan menatap Lily dengan mata penuh kasih. "Lily, aku sangat bersyukur memiliki dirimu. Kau adalah yang terbaik yang pernah terjadi padaku."
Lily tersenyum, merasakan kebahagiaan yang mendalam. "Aku juga merasa begitu, Xander. Terima kasih telah selalu ada untukku."
Mereka berpelukan di bawah sinar matahari yang hangat, merasa lebih kuat dan lebih bahagia bersama. Meski ada rintangan di depan, mereka tahu bahwa cinta mereka akan selalu menjadi fondasi yang kokoh untuk menghadapi segala tantangan.
Dengan semangat baru dan hati yang penuh cinta, Lily dan Xander melangkah maju, siap menghadapi apa pun yang datang dengan keyakinan bahwa mereka akan selalu memiliki satu sama lain.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Miss Apple 🍎
seru lanjut
2024-06-06
0