Di tempat lain di taman yang sama, Alina kebetulan sedang berjalan-jalan untuk menghirup udara segar dan merenungkan rencananya. Tak sengaja, dia melihat Xander dan Lily berjalan beriringan, tertawa dan tampak begitu bahagia. Hatinya langsung dipenuhi dengan rasa kesal dan cemburu.
Dari balik pohon besar, Alina mengintip dengan perasaan yang campur aduk. "Kenapa mereka bisa secepat ini kembali dekat?" pikirnya dengan penuh kemarahan. Dia merasa usahanya untuk memisahkan mereka sia-sia.
Alina menyaksikan Xander menggenggam tangan Lily dan melihat mereka duduk di bangku taman sambil berbicara dan tertawa. "Seharusnya aku yang ada di sana, bersama Xander," bisiknya dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Kesal dengan pemandangan itu, Alina berjalan menjauh, berusaha meredakan emosi yang berkecamuk di dalam dirinya. Dia berpikir keras, mencoba mencari cara lain untuk memisahkan Xander dan Lily. Namun, melihat kebahagiaan di wajah mereka membuatnya merasa kalah.
"Kenapa semua usahaku gagal?" tanya Alina pada dirinya sendiri. "Aku harus menemukan cara lain. Aku tidak bisa membiarkan mereka bersama."
Dengan langkah cepat, Alina meninggalkan taman, memutuskan untuk menyusun rencana baru. Dia tahu dia harus lebih pintar dan lebih hati-hati kali ini. Meskipun rasa kesal dan cemburu masih menguasai hatinya, Alina tidak berniat untuk menyerah begitu saja.
Sementara itu, Xander dan Lily terus menikmati waktu mereka di taman, tanpa menyadari bahwa Alina mengamati mereka dari kejauhan. Mereka fokus pada kebersamaan dan berusaha memulihkan hubungan mereka, menemukan kembali cinta yang sempat terganggu oleh kesalahpahaman.
Setelah beberapa waktu berjalan-jalan dan berbicara, Xander dan Lily memutuskan untuk duduk di bangku dekat danau kecil di taman. Matahari pagi memantulkan cahaya ke permukaan air, menciptakan pemandangan yang tenang dan damai.
Xander memegang tangan Lily lebih erat, seolah tak ingin melepaskannya lagi. "Lily, aku benar-benar ingin kita bisa memulai lagi dari awal. Aku sadar kalau aku banyak salah paham dan terlalu cepat menyimpulkan," katanya dengan suara tulus.
Lily menatap Xander dengan penuh kasih. "Aku juga ingin kita bisa kembali seperti dulu, Xander. Aku tahu ini butuh waktu, tapi aku siap berusaha demi kita."
Mereka duduk dalam keheningan sejenak, menikmati momen kebersamaan itu. Xander menatap danau, pikirannya mulai merencanakan hal-hal kecil yang bisa membuat Lily bahagia lagi. "Bagaimana kalau kita piknik di sini minggu depan? Seperti dulu," usul Xander sambil tersenyum.
Lily tersenyum lebar, merasa antusias dengan ide itu. "Itu ide bagus, Xander. Aku suka piknik kita yang dulu."
Di sisi lain taman, Alina berjalan menjauh dengan langkah cepat, hatinya masih dipenuhi rasa kesal dan cemburu. Dia tahu dia harus berpikir lebih cerdas jika ingin memisahkan Xander dan Lily. "Aku harus mencari cara lain," gumamnya dengan tekad yang kuat.
Namun, seiring Alina semakin jauh dari taman, Xander dan Lily semakin dekat satu sama lain. Mereka berbicara tentang kenangan-kenangan indah dan rencana-rencana masa depan, berharap bisa membangun kembali hubungan yang kuat.
Saat matahari semakin tinggi, mereka memutuskan untuk pulang. Xander mengantar Lily kembali ke mansion dengan hati yang lebih ringan. "Terima kasih, Lily. Aku benar-benar menghargai kesabaran dan pengertianmu," kata Xander ketika mereka sampai di rumah.
Lily tersenyum, merasa optimis tentang masa depan mereka. "Kita bisa melewati ini bersama, Xander. Aku yakin kita bisa."
Dengan perasaan yang lebih baik, mereka berdua masuk ke dalam mansion, siap untuk menghadapi hari-hari berikutnya dengan lebih percaya diri dan cinta. Mereka tahu masih banyak hal yang harus mereka selesaikan, tapi mereka yakin bisa melewatinya bersama.
Di sisi lain taman, Alina berjalan menjauh dengan wajah cemberut, hatinya terbakar dengan rasa kesal dan cemburu. "Kenapa semua usahaku sia-sia?" gumamnya kesal sambil mempercepat langkahnya.
Dia berjalan keluar dari taman, memasuki jalan setapak yang lebih sepi. Pikirannya terus berputar, mencari cara lain untuk memisahkan Xander dan Lily. "Mereka tidak seharusnya bersama," bisiknya pada dirinya sendiri.
Alina akhirnya tiba di mobilnya yang terparkir di dekat pintu masuk taman. Dia masuk ke dalam dan duduk sejenak, memijat pelipisnya yang mulai sakit karena frustrasi. "Aku harus menemukan rencana baru," pikirnya dengan tekad yang semakin kuat.
Dengan gerakan cepat, Alina menghidupkan mesin mobil dan melaju menuju apartemennya. Sepanjang perjalanan, pikirannya terus memikirkan cara-cara untuk mendapatkan Xander kembali. Dia merasa tidak bisa menyerah begitu saja.
Sesampainya di apartemen, Alina langsung menuju ke meja kerjanya. Dia membuka laptop dan mulai mencari informasi lebih banyak tentang Lily, berharap menemukan sesuatu yang bisa dia gunakan. "Pasti ada sesuatu yang bisa ku manfaatkan," katanya dengan penuh semangat.
Namun, di balik semua kekesalan dan kecemburuan itu, ada sedikit keraguan yang mulai muncul di benak Alina. "Apakah ini semua sepadan?" tanyanya pelan pada dirinya sendiri, tapi dengan cepat mengabaikan pikiran itu. Dia merasa terlalu jauh untuk mundur sekarang.
Sambil terus mencari dan merencanakan, Alina bertekad untuk tidak menyerah. Dia yakin, dengan sedikit usaha lagi, dia bisa memisahkan Xander dan Lily untuk selamanya. Meski hatinya dipenuhi rasa kesal, Alina tetap fokus pada tujuannya.
Sementara itu, di mansion, Xander dan Lily menikmati sisa hari dengan suasana hati yang lebih baik, tidak menyadari bahwa Alina masih merencanakan sesuatu di balik layar. Mereka terus berusaha memperbaiki hubungan mereka, menemukan kembali kebahagiaan yang pernah hilang.
Di apartemennya, Alina duduk di depan laptop, menggulir media sosial Lily dengan teliti. Meskipun pikirannya masih penuh dengan rasa kesal, dia berusaha fokus mencari sesuatu yang bisa dia manfaatkan. Namun, semakin lama dia mencari, semakin sedikit yang dia temukan. "Tidak ada yang mencurigakan," gumamnya kesal sambil menghela napas.
Setelah beberapa saat, Alina memutuskan untuk beristirahat sejenak. Dia berjalan ke dapur, mengambil segelas air, dan mencoba menenangkan dirinya. "Mungkin aku perlu pendekatan yang berbeda," pikirnya sambil menatap keluar jendela. Cahaya matahari sore yang hangat sedikit membantu menenangkan pikirannya yang berkecamuk.
Sementara itu, di mansion, Xander dan Lily sedang duduk di teras belakang, menikmati teh sore. Suasana di antara mereka terasa lebih ringan dan nyaman. Mereka berbicara tentang rencana akhir pekan dan mengenang kenangan indah yang pernah mereka alami bersama.
"Bagaimana kalau kita pergi ke tempat yang dulu sering kita kunjungi?" usul Lily dengan senyum manis.
"Mungkin itu bisa membantu kita semakin dekat lagi."
Xander mengangguk setuju. "Itu ide bagus, Lily. Aku juga kangen tempat-tempat itu. Kita bisa membuat kenangan baru di sana."
Mereka berdua tersenyum, merasa optimis tentang masa depan mereka. Meskipun masih ada bayang-bayang masalah, mereka percaya bisa mengatasinya bersama.
Kembali ke apartemen Alina, dia memutuskan untuk mengambil pendekatan yang berbeda. "Mungkin aku harus bicara langsung dengan Xander," pikirnya dengan tekad baru. Dia tahu itu berisiko, tapi dia merasa tidak punya pilihan lain.
Dengan cepat, Alina mengambil ponselnya dan mulai mengetik pesan untuk Xander. "Xander, bisa kita ketemu? Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu," tulisnya. Setelah ragu sejenak, dia menekan tombol 'kirim' dan menunggu dengan gelisah.
Sementara itu, Xander menerima pesan dari Alina. Dia menatap layar ponselnya dengan alis berkerut. "Alina ingin bicara," gumamnya pada Lily.
"Aku gak tahu apa yang dia inginkan, tapi mungkin ini bisa jadi kesempatan untuk menyelesaikan semuanya."
Lily mengangguk dengan penuh pengertian. "Pergilah, Xander. Tapi hati-hati, oke? Aku percaya padamu."
Xander mengangguk, merasakan dukungan dari Lily. Dia membalas pesan Alina, menyetujui untuk bertemu di kafe dekat taman yang biasa mereka kunjungi. Meski sedikit ragu, dia merasa ini adalah langkah yang perlu diambil untuk menutup bab lama dan memulai yang baru dengan Lily.
Hari mulai beranjak sore, dan Xander bersiap untuk pertemuan itu, berharap bisa menyelesaikan segala sesuatu dengan baik. Di sisi lain, Alina bersiap dengan penuh harap bahwa ini akan menjadi kesempatan terakhirnya untuk merebut kembali hati Xander.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Yanti Gunawan
gmn si ya sampe detik ini msh ga nyambung ktnya gak boleh jatuh cinta dn ada perjanjian trs knp tetiba ada kata mencintai oy
2024-06-20
0
Miss Apple 🍎
penasaran
2024-06-04
0