Bab 6 Kedatangan Mantan

Pagi berikutnya, sinar matahari menyelinap masuk melalui tirai jendela kamar, menyentuh wajah Lily yang masih terlelap. Suara burung berkicau di luar membuatnya perlahan membuka mata. Dia menghela napas panjang, mencoba menghilangkan perasaan cemas yang masih tersisa dari malam sebelumnya.

Xander sudah bangun lebih dulu. Lily bisa mendengar suara air mengalir dari kamar mandi. Dia bangkit dari tempat tidur, merapikan rambutnya yang sedikit kusut, lalu melangkah ke dapur untuk membuat kopi. Aroma kopi segar segera memenuhi rumah, membawa sedikit kenyamanan di pagi itu.

Tak lama kemudian, Xander keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit pinggang. Dia melihat Lily di dapur dan tersenyum kecil, meski senyumnya masih tampak agak kaku.

"Pagi, Lily," sapa Xander sambil mengusap rambutnya yang masih basah.

"Pagi, Xander," balas Lily, mencoba menyuntikkan semangat ke dalam suaranya.

"Aku buatkan kopi, mau?"

"Boleh," jawab Xander sambil duduk di meja dapur.

Lily menuangkan secangkir kopi untuk Xander dan duduk di seberangnya. Mereka saling menatap sejenak sebelum Xander memecah keheningan.

"Maaf tentang semalam, LLily"

Lily mengangguk pelan, merasa sedikit lega mendengar permintaan maafnya.

"Aku mengerti, Xander. Aku hanya ingin membuatmu senang. Aku harap kamu tahu itu."

Xander meraih tangan Lily di atas meja, menggenggamnya dengan lembut. "Aku tahu, dan aku sangat menghargainya. Terima kasih sudah selalu ada buatku."

Lily tersenyum hangat, merasakan ketulusan dalam genggaman tangan suaminya. "Iya, Xander. Kita bisa melewati ini bersama."

Setelah itu, suasana menjadi lebih hangat dan nyaman. Mereka menikmati sarapan bersama, berbicara tentang rencana hari itu dengan lebih santai. Meskipun masih ada hal-hal yang perlu dibicarakan dan diselesaikan, pagi itu memberikan mereka awal yang baik untuk mencoba lagi, dengan lebih banyak pengertian dan cinta.

Setelah sarapan bersama yang penuh kehangatan, Xander bersiap untuk pergi ke kantor. Dia mengenakan setelan jasnya dengan rapi, sementara Lily menyiapkan tas kerjanya di ruang tamu. Mansion mereka yang megah tampak tenang di pagi hari, dengan sinar matahari yang lembut masuk melalui jendela-jendela besar.

"Xander, ini tas kerjamu," kata Lily sambil menyerahkan tas itu kepadanya.

"Jangan lupa dokumen penting yang kamu butuhkan hari ini."

Xander menerima tas itu dengan senyum. "Terima kasih, Lily."

Mereka berjalan bersama menuju pintu depan. Xander memeriksa sekali lagi apakah dia sudah membawa semuanya, lalu berbalik menghadap Lily. Dia meraih kedua tangan Lily dan menatapnya dengan lembut.

"Lily, terima kasih untuk pagi ini. Rasanya lebih baik setelah kita bicara," kata Xander, suaranya terdengar tulus dan penuh rasa terima kasih.

Lily tersenyum hangat, merasa senang melihat Xander yang lebih tenang. "Aku juga merasa lebih baik, Xander. Semoga harimu menyenangkan di kantor."

Xander mengangguk, lalu mendekat untuk memberi Lily ciuman ringan di kening. "Aku akan berusaha. Jaga diri, Lil. Sampai nanti."

"Sampai nanti, Xander. Hati-hati di jalan," balas Lily sambil melambai.

Xander melangkah keluar dan berjalan menuju mobilnya yang terparkir di depan mansion. Dia melambaikan tangan terakhir kalinya sebelum masuk ke dalam mobil dan menyalakannya. Lily berdiri di ambang pintu, melihat suaminya pergi dengan perasaan yang lebih lega dan optimis.

Setelah mobil Xander menghilang di tikungan jalan, Lily kembali masuk ke dalam rumah. Dia menarik napas dalam-dalam, merasa siap untuk menjalani hari dengan semangat baru. Meskipun masih ada hal-hal yang perlu mereka selesaikan, pagi itu memberi mereka awal yang baik untuk mencoba lagi.

"Ternyata Xander tak seburuk apa yang aku bayangkan." gumam Lily.

Pagi itu, Xander tiba di kantor lebih awal seperti biasanya. Setelah memarkir mobilnya, dia berjalan melewati lobi gedung kantornya yang modern dan menuju lift. Suasana masih cukup sepi, hanya beberapa karyawan yang sudah mulai bekerja. Saat lift tiba di lantai kantornya, Xander melangkah keluar dan disambut oleh sekretarisnya, Tina.

"Selamat pagi, Pak Xander," sapa Tina dengan senyum ramah. "Ada beberapa dokumen penting di meja Anda yang perlu ditandatangani hari ini."

"Terima kasih, Tina," jawab Xander dengan anggukan singkat.

"Aku akan segera melihatnya."

Xander melangkah ke ruangannya, meletakkan tas kerjanya di kursi dan mulai memeriksa email serta dokumen yang menumpuk di mejanya. Tak lama kemudian, pintu ruangannya diketuk pelan. Xander mengangkat kepala dari layar komputernya.

"Masuk!" katanya tanpa mengalihkan pandangannya dari layar.

Pintu terbuka dan seorang wanita melangkah masuk. Xander mendongak dan matanya bertemu dengan mata Alina, mantan kekasihnya yang tak pernah dia sangka akan bertemu lagi. Alina masih terlihat anggun dan berkelas, dengan rambut cokelatnya yang terurai rapi dan setelan kerja yang modis.

"Xander," sapa Alina dengan suara yang lembut namun ada sedikit keraguan di dalamnya.

"Boleh bicara sebentar?"

Xander menatapnya dengan ekspresi datar dan dingin, tanpa menunjukkan perasaan apa pun.

"Apa yang kamu lakukan di sini, Alina?" tanyanya dengan nada dingin.

Alina terlihat sedikit gugup di bawah tatapan dingin Xander, namun dia mencoba untuk tetap tenang. "Aku ada urusan bisnis di dekat sini dan berpikir untuk mampir. Aku ingin berbicara sebentar, jika kamu punya waktu."

Xander menghela napas pelan, lalu mengangguk singkat.

"Silakan duduk!" katanya tanpa menawarkan senyum atau kehangatan.

Alina duduk di kursi di depan meja Xander, merapikan tasnya di pangkuan. Mereka terdiam sejenak, dengan Xander masih menatapnya dengan tatapan datar.

"Aku mendengar kabar tentang perusahaanmu yang berkembang pesat."

"Selamat atas kesuksesanmu, Xander," kata Alina mencoba memulai percakapan dengan senyum tipis.

"Terima kasih," jawab Xander singkat, tidak menunjukkan antusiasme.

Alina menghela napas dan memutuskan untuk langsung ke inti pembicaraannya. "Aku ingin meminta maaf tentang masa lalu kita. Aku merasa kita tidak pernah benar-benar menyelesaikannya dengan baik."

"Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku masih menginginkanmu."

Xander menatapnya dengan tajam, matanya tetap dingin. "Masa lalu adalah masa lalu, Alina. Tidak ada gunanya mengungkitnya lagi."

Alina terlihat sedikit terkejut oleh ketegasan dan dinginnya Xander, tetapi dia mengangguk pelan.

"Aku mengerti. Aku hanya ingin memastikan kita baik-baik saja."

"Kita baik-baik saja," jawab Xander tanpa ekspresi. "Jika itu saja yang ingin kamu bicarakan, aku masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan."

Merasa tidak nyaman, Alina bangkit dari kursinya. "Baiklah, aku tidak akan mengganggumu lebih lama. Terima kasih telah meluangkan waktu, Xander."

Xander hanya mengangguk tanpa berkata apa-apa, dan Alina pun keluar dari ruangan dengan perasaan campur aduk.

Setelah pintu tertutup, Xander menghela napas panjang dan kembali fokus pada pekerjaannya. Pertemuan singkat itu mengingatkannya bahwa masa lalu sudah berlalu, dan dia sekarang fokus pada masa depannya bersama Lily.

Dia memutuskan untuk menuntaskan semua pekerjaannya hari itu, meninggalkan pertemuan tak terduga itu di belakang.

Terpopuler

Comments

☠ᵏᵋᶜᶟ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🐝⃞⃟⃝𝕾𝕳ɳҽˢ⍣⃟ₛ♋

☠ᵏᵋᶜᶟ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🐝⃞⃟⃝𝕾𝕳ɳҽˢ⍣⃟ₛ♋

ternyata itu alasan Xander berubah

2024-07-15

0

merry jen

merry jen

apa xanderr berubhh dingin gr gr Alina mnggllknn xanderr

2024-06-21

0

Miss Apple 🍎

Miss Apple 🍎

yuhuu

2024-06-04

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!