Xander Sterling mendekati rumah sederhana milik Lily dengan langkah penuh percaya diri. Rumah itu, yang terletak di pinggir kota, tampak tenang di bawah sinar matahari sore. Xander, dengan setelan jas hitamnya yang rapi dan dasi merah menyala, tampak mencolok di lingkungan yang sederhana ini. Matanya menatap lurus ke depan, bibirnya menyunggingkan senyum penuh kesombongan. Dia mengangkat tangannya, menekan bel pintu dengan keras.
Beberapa detik kemudian, pintu rumah terbuka, menampilkan sosok Lily yang terkejut melihat siapa tamunya. Lily, yang mengenakan kaus sederhana dan celana jeans, tampak cemas namun berusaha menutupi kegugupannya dengan senyum dipaksakan.
"Tuan Xander," sapanya.
"Apa yang membawamu ke sini?"
Xander melangkah masuk tanpa diundang, memaksakan dirinya ke dalam rumah Lily. Dia berjalan ke ruang tamu kecil yang sederhana dan duduk di sofa yang tampak sudah agak tua. Lily mengikutinya dengan cemas.
"Langsung ke intinya saja, Lily," Xander memulai dengan nada dingin, "Aku datang untuk membicarakan hutang keluargamu yang 10 miliar itu."
Wajah Lily pucat seketika. Dia mencoba menguasai diri dan duduk di seberang Xander. "Aku tahu,tuan."
Aku sedang berusaha untuk melunasinya. Beri aku sedikit waktu lagi."
Xander menyeringai, senyum angkuh yang menghiasi wajah tampannya. "Waktu? Kamu sudah punya banyak waktu, Lily. Keluargamu sudah menunda-nunda terlalu lama. Aku tidak sabar lagi. Bisnis tidak menunggu orang yang lemah dan lamban."
Nada bicara Xander tajam dan penuh ejekan. Lily menghela napas, merasa tekanan yang semakin berat di pundaknya. "Aku benar-benar sedang berusaha. Kami butuh sedikit lebih banyak waktu untuk menjual beberapa aset."
"Menjual aset? Di tempat seperti ini?" Xander melirik sekeliling ruang tamu yang sederhana dengan ekspresi meremehkan. "Sudah terlambat untuk itu. Kamu tahu apa yang aku inginkan, Lily. Aku ingin uangku sekarang, atau aku akan mengambil sesuatu yang lebih berharga darimu."
Lily menegakkan tubuhnya, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. "Apa maksudmu, Xander?"
Xander mendekat, menatap mata Lily dengan tatapan menusuk. "Aku ingin kamu, Lily. Menjadi istriku. Itulah cara satu-satunya untuk melunasi hutang keluargamu."
Lily terkejut dan mundur beberapa langkah, mulutnya terbuka tanpa kata. "Apa? Itu tidak masuk akal, Xander. Kamu tidak bisa memaksaku menikah denganmu."
Xander berdiri, mendekatkan dirinya ke Lily, membuatnya merasa terpojok. "Oh, tapi aku bisa, dan aku akan melakukannya. Kamu tahu aku punya kekuasaan dan pengaruh. Jika kamu tidak setuju, keluargamu akan kehilangan segalanya. Rumah ini, reputasimu, semua yang kalian miliki."
Lily merasakan ketakutan yang mendalam, tetapi dia juga merasa marah atas sikap arogan Xander.
"Kamu tidak bisa memaksaku begitu saja. Aku punya hak untuk memilih, Xander."
"Pilihanmu sangat sederhana, Lily," kata Xander dengan nada yang lebih dingin. "Menikah denganku dan hutang keluargamu akan lenyap, atau aku akan menghancurkan hidupmu dan keluargamu. Kalian tidak akan punya apa-apa lagi, bahkan tempat untuk berlindung."
Lily terdiam, matanya berkaca-kaca. Dia merasa terjebak, tak ada jalan keluar. "Berikan aku waktu untuk memikirkan ini," akhirnya dia memohon.
Xander menyeringai lagi, kali ini lebih puas. "Baiklah, aku akan memberimu waktu seminggu. Tapi ingat, Lily, ini bukanlah tawaran yang bisa kamu tolak begitu saja. Pikirkan baik-baik."
Dengan itu, Xander berbalik dan meninggalkan rumah Lily, membiarkannya dalam kebingungan dan keputusasaan. Suara derap kakinya yang mantap menghilang di kejauhan, sementara Lily terduduk lemas, memikirkan nasibnya yang terancam. Ruang tamu yang sederhana tiba-tiba terasa dingin dan sunyi, mencerminkan kekosongan dan kecemasan yang kini merajai hati Lily.
Saat Lily terduduk di sofa, memikirkan nasibnya, suara pintu yang terbuka membuyarkan pikirannya. Ibunya, dengan wajah penuh kekhawatiran, masuk ke ruang tamu.
"Apa yang terjadi, Lily? Siapa yang datang tadi?" tanya ibunya dengan suara gemetar.
Lily menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca. "Itu Xander Sterling, Bu. Dia datang untuk menagih hutang 10 miliar yang kita punya."
Ibunya terkejut dan terduduk di kursi terdekat. "Apa yang dia katakan?"
Lily menghela napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian untuk menjelaskan. "Dia ingin aku menikah dengannya untuk melunasi hutang kita. Kalau tidak, dia akan mengambil semua yang kita miliki."
Ibunya terdiam sejenak, lalu memegang tangan Lily dengan erat. "Lily, kita harus mencari cara lain. Kamu tidak bisa menikah dengan orang seperti dia. Kita akan mencari jalan keluarnya bersama."
Lily hanya bisa mengangguk pelan, mencoba menenangkan diri meski hatinya dipenuhi oleh ketakutan dan kebingungan. Suasana rumah yang sederhana itu menjadi semakin sunyi, mencerminkan beban berat yang kini mereka hadapi.
Selama beberapa hari setelah kunjungan Xander, Lily hidup dalam ketidakpastian dan kecemasan. Setiap malam, dia merenung, mencoba mencari jalan keluar yang tidak melibatkan dirinya terjebak dalam pernikahan dengan pria angkuh seperti Xander Sterling. Namun, semakin dia mencari, semakin dia menyadari bahwa tak ada pilihan lain. Keluarganya sudah tenggelam dalam hutang yang terlalu besar untuk dilunasi tanpa bantuan drastis.
Di hari terakhir sebelum batas waktu yang diberikan Xander, Lily merasa semakin terdesak. Ibunya, yang menyadari beban yang ditanggung putrinya, duduk bersamanya di ruang tamu yang sederhana.
"Lily," kata ibunya lembut, "Kamu sudah mencoba yang terbaik. Jika ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan kita, maka kamu harus melakukannya."
Lily menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca. "Aku tidak pernah membayangkan akan menikah dengan seseorang seperti Xander, Bu. Tapi aku juga tidak bisa membiarkan kita kehilangan segalanya."
Dengan keputusan yang berat di hati, Lily mengangkat telepon dan menghubungi Xander. Suara di seberang sana terdengar dingin dan penuh kemenangan saat dia mengucapkan salam.
"Lily, aku tahu kamu akan menelepon. Jadi, apa keputusanmu?" tanyanya tanpa basa-basi.
Lily menarik napas dalam-dalam. "Aku setuju untuk menikah denganmu, Xander. Tapi aku punya syarat."
Xander tertawa kecil. "Syarat? Baiklah, Lily. Aku mendengarkan."
"Kamu harus memastikan keluargaku tidak akan pernah mengalami kesulitan lagi. Dan kamu harus menghormati mereka, seperti halnya aku."
Xander terdiam sejenak sebelum menjawab, "Deal. Kita akan menikah secepatnya. Bersiaplah, Lily."
Hari pernikahan tiba dengan cepat, jauh lebih cepat dari yang Lily inginkan. Upacara berlangsung di sebuah gereja kecil yang dihias dengan bunga-bunga mewah dan dekorasi elegan yang tidak sesuai dengan latar belakang sederhana Lily. Keluarga Sterling telah mengatur semuanya dengan sangat mewah, seolah ingin menegaskan kekuasaan dan kekayaan mereka.
Lily mengenakan gaun pengantin putih yang indah, tapi berat di pundaknya terasa lebih seperti beban daripada kebahagiaan. Ketika dia berjalan menyusuri lorong, langkahnya terasa berat dan hati kecilnya berbisik bahwa ini bukanlah pernikahan yang diimpikannya sejak kecil.
Xander berdiri di altar, mengenakan setelan jas hitam yang elegan. Senyumnya penuh kepuasan melihat Lily mendekat. Dia tahu bahwa dia telah memenangkan permainan ini. Ketika Lily tiba di hadapannya, dia meraih tangannya dengan cengkeraman yang erat, hampir seperti tanda kepemilikan.
Pendeta memulai upacara, membaca janji suci dengan suara tenang dan khidmat. Lily mendengarkan dengan setengah hati, matanya terpaku pada Xander yang tampak begitu angkuh dan penuh percaya diri. Ketika saatnya tiba untuk mengucapkan janji, Lily melakukannya dengan suara yang bergetar, tetapi cukup kuat untuk terdengar.
"Aku, Lily, menerima kamu, Xander, sebagai suami sahku, untuk mencintai dan menghormati, dalam suka dan duka, dalam keadaan sehat dan sakit, hingga maut memisahkan kita."
Xander mengucapkan janji yang sama dengan suara yang mantap dan percaya diri. Ketika pendeta mengumumkan mereka sebagai suami istri, Xander menarik Lily dalam pelukan yang kaku dan memberikan ciuman singkat di bibirnya, seolah menunjukkan kepemilikannya kepada semua orang yang hadir.
Setelah upacara selesai, mereka menuju resepsi yang diadakan di ballroom mewah. Lily merasa terasing di tengah kerumunan tamu yang sebagian besar adalah rekan bisnis dan teman-teman keluarga Sterling. Dia tersenyum dan berbicara dengan sopan, tetapi hatinya terasa hampa. Xander, di sisi lain, tampak menikmati sorotan, berbicara dengan angkuh tentang masa depan mereka.
Di tengah malam yang penuh kemewahan itu, Lily mencari penghiburan dengan memandang ke luar jendela, ke arah langit malam yang gelap. Dia tahu bahwa hidupnya telah berubah selamanya, dan meskipun dia tidak yakin tentang apa yang akan datang, dia bertekad untuk tetap kuat demi keluarganya.
Ketika pesta akhirnya usai, Xander membawa Lily ke rumah baru mereka, sebuah mansion besar yang tampak seperti istana dibandingkan rumah sederhana keluarganya. Saat mereka tiba di kamar tidur yang luas, Lily merasa cemas dan tidak nyaman. Xander mendekatinya, tatapannya penuh arti.
"Lily, mulai malam ini, kamu adalah istriku. Kamu tahu apa yang aku harapkan darimu," katanya dengan nada tegas.
Lily menelan ludah, merasa takut tetapi berusaha tetap tegar. "Aku tahu, Xander."
Dengan berat hati, Lily mencoba menerima nasib barunya sebagai istri Xander. Meskipun pernikahan ini didasarkan pada paksaan dan hutang, dia berharap suatu hari nanti dia bisa meluluhkan Xander.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
☠ᵏᵋᶜᶟ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🐝⃞⃟⃝𝕾𝕳ɳҽˢ⍣⃟ₛ♋
semangat lily
2024-07-02
0
Miss Apple 🍎
lanjut kak
2024-05-27
0