Bab 19 Kehadiran Bram

Saat Xander dan Lily sedang sibuk memasak di dapur, terdengar suara bel pintu. Xander mengangkat alis, sedikit terkejut.

"Siapa yang datang malam-malam begini?" tanyanya sambil mengelap tangannya dengan lap.

Lily menoleh dan tersenyum. "Mungkin tamu. Ayo, kita lihat."

Mereka berdua berjalan ke pintu depan dan ketika Xander membukanya, dia melihat sosok yang sudah lama tidak ditemuinya. Bram, teman lamanya dari masa kuliah, berdiri di sana dengan senyum lebar.

"Bram! Lama tidak bertemu, bro!" Xander menyapa dengan hangat, menarik Bram ke dalam pelukan singkat.

"Bram! Apa kabar?" sambung Lily, ikut senang melihat kedatangan Bram.

Bram tertawa sambil melepas sepatunya. "Kabar baik, terima kasih. Maaf mendadak datang tanpa pemberitahuan. Aku sedang lewat kota ini dan tidak bisa melewatkan kesempatan untuk bertemu kalian."

Xander mengangguk penuh pengertian. "Tidak masalah, kami senang kamu datang. Ayo, masuk! Kami sedang masak makan malam. Ikut bergabung, ya?"

Bram mengikuti mereka ke dapur, terlihat takjub dengan suasana rumah yang hangat dan nyaman. "Wah, rumah kalian luar biasa. Aku ingat cerita Xander tentang mansion ini, tapi melihatnya langsung jauh lebih mengesankan."

Lily tersenyum sambil kembali memotong sayuran untuk salad. "Terima kasih, Bram. Kami baru saja memulai masakannya. Duduklah, kami akan segera siap."

Bram duduk di salah satu kursi di dapur, menyaksikan Xander dan Lily bekerja sama dengan harmonis. "Kalian benar-benar pasangan yang kompak. Xander, kamu beruntung sekali."

Xander tertawa sambil mengaduk saus di panci. "Aku tahu, aku beruntung bisa memiliki Lily. Bagaimana denganmu, Bram? Ada cerita menarik yang ingin dibagikan?"

Bram mulai bercerita tentang perjalanannya, pekerjaan barunya, dan kenangan lama yang membuat mereka tertawa bersama. Suasana malam itu dipenuhi dengan kehangatan dan tawa, membawa kembali kenangan masa lalu yang manis.

Setelah makan malam selesai, mereka duduk bersama di ruang tamu, menikmati kopi dan kue sambil melanjutkan obrolan panjang. Xander, Lily, dan Bram menghabiskan waktu bersama, menikmati setiap momen pertemuan yang tak terduga itu. Mereka berbicara hingga larut malam, mengisi rumah dengan cerita-cerita dan tawa yang membuat malam itu terasa istimewa.

Pagi itu, sinar matahari menembus jendela dapur, menciptakan suasana hangat dan cerah. Xander, Lily, dan Bram duduk di meja makan, menikmati sarapan bersama. Aroma kopi dan roti panggang memenuhi ruangan, menambah kesan nyaman pagi itu.

Xander, yang sedang menyendok telur orak-arik ke piringnya, tersenyum puas. "Sarapan pagi ini benar-benar nikmat. Terima kasih, Lily."

Lily membalas senyum suaminya sambil menuangkan jus jeruk ke gelas Bram. "Sama-sama, sayang. Aku senang kalian suka."

Bram, yang duduk di seberang meja, diam-diam mengamati Lily dengan tatapan terpesona. Dia memperhatikan setiap gerakannya, dari cara Lily tersenyum hingga caranya berbicara dengan lembut. Ada sesuatu di mata Bram yang menunjukkan ketertarikan yang lebih dari sekadar teman lama.

"Ini benar-benar enak, Lily," puji Bram dengan suara rendah, matanya tetap tertuju pada Lily.

"Xander sangat beruntung memiliki istri sepertimu."

Lily tersenyum sopan. "Terima kasih, Bram. Senang mendengarnya."

Xander, yang tidak menyadari tatapan Bram, meneguk kopinya dan melanjutkan obrolan. "Jadi, Bram, apa rencanamu hari ini? Ada tempat yang ingin kamu kunjungi?"

Bram mengalihkan pandangannya dengan enggan dari Lily dan tersenyum pada Xander. "Belum ada rencana pasti. Aku pikir aku akan jalan-jalan sedikit, melihat-lihat kota ini. Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku di sini."

Lily mengangguk sambil mengunyah roti panggangnya. "Kota ini banyak berubah. Kamu pasti akan menemukan banyak hal menarik."

Namun, di balik percakapan ringan itu, Bram menyimpan niat tersembunyi. Dia terus mencuri pandang ke arah Lily, berharap Xander tidak memperhatikan. Ada sesuatu yang membuatnya ingin lebih dekat dengan Lily, meskipun dia tahu itu salah.

Xander, yang tidak menyadari apa yang terjadi, melanjutkan sarapan dengan santai, berbicara tentang rencana akhir pekan mereka. Sementara itu, Lily, meskipun tidak sepenuhnya menyadari niat Bram, merasa ada sesuatu yang aneh dalam tatapannya.

Sarapan pagi itu berlanjut dengan percakapan ringan, namun ada ketegangan tak terlihat yang menggantung di udara. Bram berusaha keras menyembunyikan niatnya, sementara Xander dan Lily tetap menikmati kebersamaan mereka, tidak menyadari bayang-bayang niat tersembunyi di antara mereka.

Setelah sarapan selesai, Xander, Lily, dan Bram memutuskan untuk menghabiskan waktu di ruang tamu sebelum memulai aktivitas mereka masing-masing. Ruang tamu yang luas dan nyaman itu dipenuhi dengan cahaya matahari yang masuk melalui jendela-jendela besar, memberikan kesan hangat dan mengundang.

Xander menyalakan TV untuk menonton berita pagi, sementara Lily duduk di sofa dengan secangkir teh di tangannya. Bram duduk di kursi sebelah, berpura-pura tertarik dengan berita di TV, namun matanya sesekali melirik ke arah Lily.

"Jadi, Bram," kata Xander sambil mengangkat suara untuk mengalahkan volume TV.

"kapan terakhir kali kita bertemu? Rasanya sudah lama sekali."

Bram tertawa kecil, mencoba mengalihkan perhatiannya dari Lily. "Ya, sudah beberapa tahun, Xander. Waktu cepat sekali berlalu. Banyak yang sudah berubah."

Lily menambahkan dengan senyum hangat, "Tapi senang rasanya bisa bertemu sekian lama. Kamu selalu diterima di sini kapan pun, Bram."

Bram membalas senyum Lily, merasa hangat oleh penerimaan mereka, namun tetap dengan niat tersembunyi yang berdenyut di dalam hatinya. "Terima kasih, Lily. Kalian berdua benar-benar pasangan yang luar biasa."

Mereka berbincang ringan, mengingat kenangan masa lalu dan berbagi cerita tentang kehidupan mereka saat ini. Namun, Bram terus merasa terganggu oleh pesona Lily. Setiap senyum dan tawa dari Lily membuatnya semakin terpesona, dan dia harus berjuang untuk menjaga pikirannya tetap jernih.

Setelah beberapa waktu, Xander berdiri dan meregangkan tubuhnya. "Aku harus pergi ke kantor sebentar untuk beberapa urusan. Aku akan kembali dalam beberapa jam. Bram, apakah kamu ingin ikut atau ada rencana lain?"

Bram cepat-cepat menggeleng. "Tidak, aku pikir aku akan jalan-jalan di sekitar sini dulu. Mungkin Lily bisa menunjukkan beberapa tempat menarik?"

Lily tersenyum ramah. "Tentu saja, Bram. Aku dengan senang hati akan menemanimu berkeliling."

Xander tersenyum, tidak menyadari apa-apa. "Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu. Jaga diri kalian."

Setelah Xander pergi, Lily dan Bram melanjutkan obrolan mereka. Lily menunjukkan taman di sekitar mansion dan beberapa sudut menarik dari rumah mereka yang besar dan elegan.

"Rumah ini benar-benar indah, Lily," ujar Bram sambil melihat-lihat.

"Kamu pasti menikmati tinggal di sini."

Lily mengangguk, matanya bersinar dengan kebanggaan. "Ya, Xander dan aku bekerja keras untuk membuatnya jadi rumah yang hangat dan nyaman. Kami sangat mencintai tempat ini."

Bram terus mengamati Lily dengan tatapan yang semakin intens.

"Aku bisa melihatnya. Kamu benar-benar beruntung, Lily."

Lily merasa sedikit tidak nyaman dengan cara Bram menatapnya, tetapi dia tetap menjaga senyum di wajahnya. "Terima kasih, Bram. Aku juga merasa sangat beruntung."

Mereka berjalan ke arah taman belakang, tempat di mana mereka sebelumnya menghabiskan waktu bersama Xander. Suasana taman yang tenang dan penuh dengan aroma bunga kembali menenangkan Lily.

"Bram, apakah ada tempat tertentu yang ingin kamu lihat?" tanya Lily sambil melihat sekeliling.

Bram menggelengkan kepala, matanya tetap tertuju pada Lily. "Tidak ada yang khusus. Aku hanya ingin menikmati waktuku di sini. Terutama menikmati kebersamaan denganmu, Lily dalam nada suara Bram, tapi dia berusaha mengabaikannya. "Yah, kita bisa menghabiskan waktu di sini di taman. Ini tempat yang tenang dan indah."

Mereka duduk di bangku taman, berbicara tentang masa lalu dan masa kini. Namun, Bram terus mencari cara untuk mendekatkan diri pada Lily, sementara Lily tetap tidak menyadari sepenuhnya niat tersembunyi Bram. Pagi yang cerah itu dipenuhi dengan percakapan yang tampak santai di permukaan, namun ada ketegangan bawah sadar yang terus meningkat di antara mereka.

Terpopuler

Comments

Miss Apple 🍎

Miss Apple 🍎

lily hati hati

2024-06-10

0

mbok Darmi

mbok Darmi

Lily jgn bikin ulah yg akan jd celah alina untuk merebut xander ingat kamu khs jaga diri dr fitnah, xander mungkin baik to kl dikompori alina dan ada bukti kedekatan mu dgn bram akan jd bumerang

2024-06-09

1

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!