Setelah mengganti pakaian, Lily pun menerima berkas dari Xander, suaminya.Gadis itu pun mulai menandatangani surat perjanjian di antara keduanya.
"Sudah." jawab Lily yang langsung memberikan surat itu yang diterima Xander.Pria itu segera menyimpannya ke dalam laci.
Setelah itu dia kembali duduk di sofa berhadapan dengan Lily dengan pandangan datar.
"Aku tak akan meminta hakku padamu, jadi jangan kepedean!"tegasnya.
" Baiklah, aku akan mengingatnya tuan Xander."jawab Lily mantap.
"Bagus Serenity Lily!" jawab Xander dengan seringai miring.
Setelah menandatangani surat perjanjian pernikahan mereka di kamar mewah Xander, suasana ruangan terasa tegang dan hening. Lily duduk di ujung ranjang yang luas, merasa kelelahan dan hampa setelah segala peristiwa yang baru saja terjadi. Xander berdiri di dekat jendela besar, tatapannya melayang-layang di luar kegelapan malam.
Lily menatap surat perjanjian di tangannya, memikirkan konsekuensi dari keputusannya untuk menikahi Xander demi melunasi hutang keluarganya. Meskipun dia tahu bahwa itu adalah satu-satunya jalan keluar, dia masih merasa tercekik oleh rasa sesak di dadanya.
Xander akhirnya berbalik, langkahnya yang mantap memecah keheningan. Dia melangkah mendekati Lily, ekspresinya keras dan berwibawa. "Lily, aku harap kamu menyadari betapa seriusnya situasi ini. Kita berdua tahu apa yang diharapkan dari pernikahan ini."
Lily mengangguk, tetapi tidak bisa menahan diri untuk tidak menunjukkan ekspresi yang terlihat lelah dan tertekan. "Aku tahu, Xander. Aku akan melakukan yang terbaik."
Xander mengangguk, tetapi ekspresinya menjadi lebih serius. "Ada satu hal yang perlu kamu ingat, Lily."
"Aku melarangmu untuk jatuh cinta padaku."
Lily terkejut mendengarnya. Dia menatap Xander dengan kebingungan, tidak bisa mempercayai apa yang baru saja didengarnya. "Apa? Mengapa kamu berkata begitu, Xander?"
Xander menjawab dengan raut datar. "Karena pernikahan kita didasari oleh kepentingan bisnis dan kesepakatan finansial. Aku tidak ingin ada ruang untuk perasaan cinta di antara kita. Jatuh cinta hanya akan menyulitkan segalanya."
Lily merasa sedih dan kecewa mendengar kata-kata itu. Meskipun dia merasa tidak mungkin jatuh cinta pada Xander, larangan itu membuatnya merasa terbatas dan tidak diakui sebagai individu dengan perasaan.
"Dengan senang hati, Xander," jawab Lily dengan suara yang redup, meskipun hatinya dipenuhi oleh kekecewaan yang mendalam.
Xander mengangguk sekali lagi, seolah memastikan bahwa pesannya diterima dengan baik.
"Baiklah, Lily. Ayo kita berusaha membuat pernikahan ini berjalan sesuai rencana."
Lily menyetujui dengan cepat, berusaha menyembunyikan perasaan campur aduk di dalam dirinya. Meskipun dia tidak berniat untuk jatuh cinta pada Xander, larangan itu membuatnya merasa terjaga dan waspada terhadap setiap perasaan yang mungkin muncul.
Dengan kata-kata terakhir itu, Xander berbalik dan meninggalkan Lily sendirian di kamar mewah itu. Lily duduk di ranjang, merasa lebih sendirian dari sebelumnya.
Dia merasakan seutas dinding yang terbangun di antara mereka, menghalangi kemungkinan untuk membuka hati dan menemukan cinta yang sejati. Meskipun dia berusaha untuk menerima larangan Xander, Lily merasa berat untuk menahan perasaannya sendiri, terkungkung dalam kehampaan dan kesedihan yang melilit hatinya.
Setelah Xander meninggalkan kamar, Lily duduk termenung di atas ranjang yang luas dan mewah. Kamar itu dihiasi dengan perabotan mahal dan dekorasi yang elegan, tetapi semua kemewahan itu tidak mampu menghapus perasaan hampa yang ia rasakan. Lily menghela napas panjang, mencoba meredakan kegelisahan dalam dirinya.
Dia memandangi surat perjanjian yang baru saja mereka tanda tangani. Perjanjian yang mengikat dirinya dalam sebuah pernikahan tanpa cinta, hanya demi melunasi hutang keluarganya yang tak tertanggungkan. Larangan Xander untuk jatuh cinta hanya menambah perasaan terisolasi dan terkekang. Namun, di dalam hatinya, Lily tahu bahwa dia tidak punya pilihan lain.
Lily bangkit dari ranjang, melangkah pelan menuju jendela besar yang menghadap ke taman luas di belakang mansion. Angin malam yang sejuk menyapa wajahnya ketika dia membuka jendela, membawa aroma bunga-bunga yang mekar di bawah cahaya rembulan. Meskipun pemandangan itu indah, Lily merasa seperti burung dalam sangkar emas, terperangkap dalam kehidupan yang tidak ia pilih.
Setelah beberapa saat, Lily memutuskan untuk bersiap tidur. Dia menukar gaun pengantinnya dengan piyama sutra yang nyaman. Ketika dia berbaring di atas ranjang yang empuk, pikirannya melayang pada keluarganya. Dia berharap keputusan yang diambilnya ini akan membawa kesejahteraan dan ketenangan bagi mereka.
Namun, tidur tidak datang dengan mudah. Pikiran tentang Xander dan pernikahan mereka yang aneh terus mengganggunya. Xander dengan sikapnya yang dingin dan angkuh, jelas tidak menginginkan hubungan emosional apapun dengan dirinya. Dan Lily, meskipun awalnya tidak berniat jatuh cinta, merasa terbebani oleh ketentuan tegas yang diberlakukan Xander.
Sementara itu, di sisi lain mansion, Xander duduk di ruang kerjanya. Dia menatap ke arah perapian yang menyala, pikirannya sibuk dengan berbagai rencana bisnis dan strategi.
Tapi bayangan Lily terus menyelinap masuk ke dalam pikirannya. Meskipun dia berusaha keras untuk tetap bersikap dingin dan profesional, ada sesuatu tentang Lily yang membuatnya merasa sedikit terusik.
Malam semakin larut, dan akhirnya Lily memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam kelelahan yang menumpuk. Dia tahu bahwa hari-hari mendatang akan penuh dengan tantangan, tetapi dia bertekad untuk tetap kuat demi keluarganya dan masa depan mereka.
Pagi berikutnya, cahaya matahari masuk melalui celah tirai kamar, membangunkan Lily dari tidurnya yang gelisah. Dia bangkit perlahan, menyadari sepenuhnya bahwa ini adalah hari pertama dari hidup barunya sebagai istri Xander Sterling. Dengan hati yang berat, namun penuh tekad, dia bersiap menghadapi hari dan segala tantangan yang akan datang.
Saat Lily keluar dari kamar, dia bertemu dengan Xander yang sudah rapi dengan setelan jas, siap untuk berangkat kerja. Mereka bertukar pandang sejenak sebelum Xander berbicara.
"Pagi, Lily. Aku akan pergi ke kantor. Ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Kita akan membicarakan rencana kita malam nanti."
Lily mengangguk, mencoba tersenyum meskipun hatinya masih terasa berat.
"Pagi, Xander. Baik, aku akan menunggu."
Xander mengangguk sebelum berbalik dan pergi, meninggalkan Lily sendiri. Lily menghela napas dan berjalan menuju dapur, berharap menemukan sesuatu untuk dilakukan agar bisa mengalihkan pikirannya dari kenyataan yang baru saja dimasukinya. Di dapur, ia bertemu dengan beberapa staf rumah tangga yang menyambutnya dengan ramah, meskipun sedikit canggung karena status barunya sebagai nyonya rumah.
Hari itu berlalu dengan lambat bagi Lily. Dia berusaha mengenal rumah barunya, berbicara dengan staf, dan mencoba menemukan cara untuk merasa lebih nyaman. Meskipun rumah itu indah dan penuh dengan fasilitas mewah, Lily merasa seperti orang asing di tempat yang asing.
Malam tiba, dan seperti yang dijanjikan, Xander pulang lebih awal dari biasanya. Mereka duduk di ruang makan untuk makan malam yang sunyi, hanya diiringi suara alat makan yang berbenturan.
Setelah makan malam, Xander mengajak Lily ke ruang tamu untuk berbicara. Dia duduk di sofa dengan ekspresi serius, dan Lily duduk di seberangnya, merasa cemas tentang apa yang akan dibicarakan.
"Lily, seperti yang sudah kita bahas sebelumnya, pernikahan ini adalah kesepakatan bisnis."
"Aku berharap kamu bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan di sini dan menjalankan peranmu dengan baik," kata Xander dengan nada tegas.
Lily mengangguk pelan. "Aku akan berusaha, Xander."
Xander menatap Lily sejenak sebelum melanjutkan, "Bagus. Aku juga ingin kamu tahu bahwa meskipun ini adalah pernikahan tanpa cinta, aku tetap mengharapkan kita bisa bekerja sama dengan baik. Aku tidak ingin ada konflik atau masalah yang bisa mengganggu tujuan kita."
Lily mengerti maksud Xander dan berusaha menyembunyikan perasaan tidak nyamannya.
"Aku paham, Xander. Aku akan melakukan yang terbaik untuk memastikan semuanya berjalan lancar."
Xander mengangguk, tampak puas dengan jawaban Lily. "Baiklah. Jika ada yang kamu butuhkan atau ingin dibicarakan, jangan ragu untuk memberitahuku."
Setelah percakapan singkat itu, Xander bangkit dan menuju ruang kerjanya, meninggalkan Lily di ruang tamu yang luas dan sunyi. Lily duduk sejenak, mencoba mencerna semua yang baru saja dibicarakan. Dia tahu bahwa hidupnya kini berada di bawah aturan dan kendali Xander, tetapi dia bertekad untuk tetap kuat dan menemukan cara untuk bertahan.
Lily bangkit dan berjalan ke kamarnya, menutup pintu di belakangnya. Dia berdiri di dekat jendela, menatap bintang-bintang di langit malam yang cerah. Dalam hati, dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa meskipun pernikahan ini tidak didasari oleh cinta, dia akan menemukan cara untuk menciptakan kebahagiaan dan arti dalam hidupnya sendiri.
Dengan tekad yang baru, Lily memejamkan mata, mempersiapkan dirinya untuk menghadapi hari-hari mendatang dengan keberanian dan kekuatan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Miss Apple 🍎
lanjut
2024-06-04
0