Bab 9

Di kamarnya yang tenang, Lily duduk bersandar di kepala ranjang, menghapus air mata yang mengalir di pipinya. Dia menatap ke luar jendela, mencoba mencari kedamaian dalam pemandangan malam yang tenang.

Pikirannya melayang ke saat-saat bahagia bersama Xander, kenangan manis yang sekarang terasa jauh. Dia menarik napas dalam-dalam, berusaha menemukan ketenangan di tengah kekacauan yang baru saja terjadi.

Setelah beberapa saat, Lily bangkit dan berjalan ke meja rias. Dia menatap cermin, melihat refleksi dirinya yang terlihat lelah tapi tegar. "Aku harus buktikan kalau aku jujur," gumamnya pelan.

Lily mengambil ponselnya dan mulai menulis pesan kepada Xander. Dia tahu ini mungkin tidak akan langsung menyelesaikan masalah, tapi dia harus mencoba. "Xander, aku tahu kamu marah dan kecewa. Tapi aku bersumpah, aku tidak pernah bohong tentang kesucian 'ku. Tolong, beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya."

Setelah mengirim pesan itu, Lily merasa sedikit lebih lega. Dia tahu ini baru permulaan, tapi setidaknya dia sudah melakukan langkah pertama untuk memperbaiki situasi. Dia duduk kembali di ranjang, menatap ponselnya dengan harapan Xander akan membacanya dan memberikan respon.

Sementara itu, di luar mansion, Xander masih berjalan dengan langkah berat. Pikirannya penuh dengan konflik, tapi jauh di dalam hatinya, dia telah mencintai Lily meski dia masih mengelak. Dia merasakan getaran dari ponselnya dan melihat pesan dari Lily. Perlahan, dia membaca kata demi kata, mencoba memahami perasaan aneh dalam dirinya.

Di kamar, Lily menunggu dengan sabar, berharap Xander akan memberi kesempatan untuk berbicara dan menyelesaikan masalah mereka.

Malam itu, meski hati mereka terpisah oleh kesalahpahaman, ada secercah harapan bahwa cinta mereka masih bisa bertahan.

Pagi berikutnya, sinar matahari perlahan menembus tirai kamar Lily, menerangi ruangan dengan lembut. Lily terbangun dengan perasaan sedikit lebih tenang meskipun semalam penuh dengan kegelisahan. Dia melangkah keluar dari ranjang dan menuju ke jendela, membuka tirai lebar-lebar untuk membiarkan cahaya pagi masuk sepenuhnya.

Sementara itu, di lantai bawah, Xander duduk di meja makan dengan secangkir kopi di tangannya. Matanya terlihat lelah setelah malam panjang penuh pemikiran. Dia menatap layar ponselnya, membaca kembali pesan dari Lily yang dikirim semalam. Pikirannya masih berkecamuk, tetapi ada kerinduan untuk mempercayai istrinya lagi.

Lily turun ke dapur, mencoba mengumpulkan keberanian untuk menghadapi Xander. Dia tahu bahwa percakapan mereka belum selesai dan banyak hal yang perlu dijelaskan. Ketika dia melihat Xander duduk di sana, hatinya berdebar.

"Selamat pagi," sapa Lily pelan, mencoba memulai percakapan dengan nada yang lembut.

Xander mengangkat wajahnya dan menatap Lily sejenak sebelum membalas. "Selamat pagi," jawabnya, suaranya terdengar lelah tapi ada secercah kehangatan di dalamnya.

Lily mengambil tempat duduk di seberang Xander, menatapnya dengan mata penuh harap. "Xander, aku tahu kita perlu bicara."

"Aku siap menjelaskan semuanya kalau kamu siap mendengarkan."

Xander mengangguk perlahan, mengisyaratkan bahwa dia bersedia mendengar penjelasan Lily. "Oke, Lily. Aku siap mendengarkan. Mari kita coba selesaikan ini."

Dengan hati-hati, Lily mulai menceritakan semuanya, menjelaskan jika selama ini Lily tak dekat dengan pria manapun. Xander mencoba memahami sudut pandang Lily.

Pagi itu, di meja makan sederhana mereka, Xander dan Lily memulai percakapan yang jujur dan terbuka, berharap bisa menemukan jalan keluar dari semua masalah yang mereka hadapi. Meskipun perjalanan mereka masih panjang, ada harapan bahwa cinta mereka cukup kuat untuk mengatasi segalanya.

Pagi itu, setelah mendengarkan penjelasan Lily dengan seksama, Xander merasa ada beban yang terangkat dari dadanya. Dia menatap Lily yang duduk di depannya, melihat kejujuran dan ketulusan di matanya. Perasaan bersalah mulai merayap di hatinya, menyadari betapa keras dan merendahkan kata-katanya kemarin.

"Lily," kata Xander dengan suara yang lembut namun tegas. "Aku... Aku minta maaf atas apa yang aku ucapkan kemarin. Aku sangat marah dan kecewa, tapi itu tidak memberi aku hak untuk merendahkanmu seperti itu."

Lily menatap Xander dengan mata berkaca-kaca, merasa sedikit lega mendengar permintaan maafnya. "Xander, aku mengerti. Aku juga minta maaf kalau ada hal-hal yang membuatmu merasa seperti itu. Aku tidak pernah bermaksud menyakitimu."

Xander menghela napas panjang, menatap cangkir kopinya sejenak sebelum melanjutkan. "Aku seharusnya lebih percaya padamu dan tidak langsung percaya pada pesan anonim itu. Aku tahu kita punya masalah, tapi kita bisa menyelesaikannya bersama-sama,Lily."

Lily tersenyum tipis, merasa kehangatan dari kata-kata Xander. "Aku juga masih mencintaimu, Xander. Kita bisa melalui ini bersama-sama, asal kita tetap jujur dan saling percaya."

Xander mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Lily dengan lembut. "Aku janji akan berusaha lebih baik. Kita akan melalui ini bersama."

Mereka duduk di sana, saling menggenggam tangan, merasakan kehangatan yang kembali mengalir di antara mereka. Meski masih ada banyak yang perlu dibicarakan dan diselesaikan, pagi itu menjadi awal yang baru bagi hubungan mereka. Dengan saling pengertian dan cinta, mereka tahu bahwa mereka bisa mengatasi segala rintangan yang ada.

Setelah percakapan yang mendalam, Xander merasa ada kelegaan yang mulai menyelimuti hatinya. Dia melihat Lily, yang meskipun masih terlihat sedikit lelah, sekarang memancarkan senyum yang menenangkan. Xander berpikir, mungkin ini saat yang tepat untuk mengubah suasana.

"Lily, gimana kalau kita jalan-jalan sebentar? Mungkin udara segar bisa membantu kita merasa lebih baik," kata Xander dengan senyum kecil.

Lily mengangguk, menyambut ide itu dengan hangat. "Itu ide bagus, Xander. Aku juga butuh keluar sejenak."

Setelah bersiap-siap, mereka berdua keluar dari mansion dan menuju mobil. Xander mengendarai mobil perlahan, sambil sesekali melirik ke arah Lily untuk memastikan dia baik-baik saja. Mereka memutuskan untuk pergi ke taman favorit mereka, tempat yang sering mereka kunjungi saat pertama kali pacaran.

Setibanya di taman, mereka berjalan beriringan di jalur yang teduh, menikmati pemandangan hijau dan udara pagi yang segar. Burung-burung berkicau riang, menambah suasana damai di sekitar mereka. Xander merasakan ketenangan yang jarang dia rasakan belakangan ini.

"Ini tempat yang indah, ya," kata Lily sambil memandang sekeliling. "Aku suka tempat di sini."

Xander mengangguk setuju. "Iya, banyak kenangan indah di sini. Aku harap ini bisa membantu kita menemukan kembali kebahagiaan kita."

Mereka melanjutkan berjalan sambil bercerita ringan, mengingat kenangan-kenangan manis dan tertawa bersama. Perlahan, ketegangan di antara mereka mulai mencair, digantikan oleh kehangatan dan kebersamaan.

Setelah beberapa saat, mereka duduk di bangku taman, menikmati pemandangan dan suasana yang damai. Xander meraih tangan Lily dan menggenggamnya erat.

"Terima kasih sudah mau memaafkanku, Lily. Aku berjanji akan lebih baik dan selalu berusaha untuk membuatmu bahagia."

Lily tersenyum, merasakan cinta dan ketulusan di dalam hati Xander. "Aku juga akan berusaha lebih baik, Xander. Kita bisa melewati ini bersama."

Mereka duduk di sana, menikmati momen kebersamaan yang sederhana namun bermakna. Jalan-jalan pagi itu menjadi awal yang baru bagi mereka, membawa harapan bahwa cinta dan kebersamaan bisa mengatasi semua rintangan.

Terpopuler

Comments

Miss Apple 🍎

Miss Apple 🍎

luvvv

2024-06-04

0

lihat semua
Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!