Keesokan harinya, usai sarapan, Xander pamit berangkat ke perusahaan. "Aku berangkat dulu, sayang," katanya sambil mencium kening Lily.
"Baik, hati-hati di jalan," jawab Lily sambil tersenyum. Xander mengambil tas kerjanya dan melangkah keluar.
Setelah Xander pergi, Lily duduk di ruang tamu dan mulai membaca buku. Tak lama kemudian, bel pintu berbunyi. Lily bangkit dan membuka pintu. Ternyata Alina yang datang berkunjung.
"Hai, Lily!" sapa Alina.
"Hai, Alina! Ayo masuk!" jawab Lily sambil mempersilakannya masuk.
Alina melangkah masuk dan Lily menutup pintu. "Mau minum teh atau kopi?" tanya Lily.
"Teh saja, terima kasih." jawab Alina sambil duduk di sofa.
Lily pergi ke dapur dan menyiapkan dua cangkir teh. Beberapa menit kemudian, dia kembali ke ruang tamu dan menyerahkan satu cangkir kepada Alina.
"Terima kasih," kata Alina sambil menerima cangkirnya. Mereka duduk bersama di ruang tamu, menikmati teh. Setelah beberapa saat berbicara ringan, nada suara Alina tiba-tiba berubah.
"Kamu tahu, Lily." kata Alina dengan nada merendahkan.
"Aku selalu heran kenapa Xander memilih gadis miskin sepertimu. Menurutku, kamu tidak pantas untuknya."
Lily terdiam sejenak, mencoba menahan amarahnya. Namun, dia tak tinggal diam. Dengan tenang, dia menjawab,
"Alina, mungkin aku bukan dari keluarga kaya seperti kamu, tapi yang penting adalah perasaan kami satu sama lain. Xander memilihku bukan karena latar belakangku, tapi karena siapa aku sebenarnya."
Alina mendengus. "Tetap saja, Lily. Kamu takkan pernah bisa memberi Xander kehidupan yang layak."
Lily menatap Alina dengan tegas. "Xander butuh seseorang yang mencintainya dengan tulus, bukan hanya karena kekayaannya."
"Dan aku tahu aku bisa memberikan itu. Jika kamu tidak bisa menerima hubungan kami, itu masalahmu, bukan masalah kami."
Alina terlihat terkejut mendengar jawaban tegas Lily. Dia tidak menyangka Lily akan berbicara seperti itu. Setelah beberapa saat terdiam, Sofia akhirnya menghela napas panjang.
"Baiklah, Lily. Mungkin aku terlalu meremehkanmu," kata Alina dengan nada yang sedikit lebih lembut.
"Tapi aku tetap khawatir tentang Xander."
"Aku juga mencemaskan Xander, dan itulah sebabnya aku selalu ada untuknya," jawab Lily dengan lembut namun pasti.
"Aku harap suatu saat kamu bisa melihat betapa kami saling mencintai dan mendukung."
Percakapan itu membuat suasana menjadi lebih serius, tetapi juga membuka ruang bagi Alina untuk melihat sisi lain dari Lily. Meskipun pertemuan mereka tidak sepenuhnya nyaman, Lily tetap berharap Alina bisa mengerti dan menerima hubungan mereka suatu saat nanti.
Suasana tegang antara Lily dan Alina tampak sedikit mereda, tetapi Lily masih merasakan ketegangan di udara. Alina duduk dengan ekspresi bingung, sementara Lily mencoba tetap tenang.
"Alina," kata Lily sambil menatap Alina dengan tajam, "kamu selalu berbicara tentang bagaimana aku tidak pantas untuk Xander."
"Tapi apa yang sebenarnya kamu inginkan? Kamu mengejar Xander, padahal dia sudah menikah denganku."
Alina terkejut mendengar sindiran langsung dari Lily. "Aku hanya ingin memastikan Xander bahagia," katanya dengan nada defensif.
"Benarkah?" Lily tersenyum tipis. "Atau apakah kamu sebenarnya tidak bisa menerima bahwa Xander telah memilih orang lain?"
"Kamu terus meragukan kebahagiaannya padahal dia sudah membuat pilihannya dengan jelas."
Alina membuka mulutnya, ingin membalas, tetapi Lily melanjutkan sebelum dia sempat berbicara. "Kamu selalu bicara tentang masa lalu kalian dan betapa kamu lebih mengenal Xander. Tapi sekarang, kamu malah mengejar pria yang sudah berkomitmen denganku. Tidakkah kamu melihat betapa tidak adilnya itu?"
Alina menggigit bibirnya, tidak bisa menahan rasa malunya. "Aku hanya merasa... merasa bahwa Xander layak mendapatkan yang terbaik."
Lily mengangguk perlahan. "Dan kamu berpikir aku bukan yang terbaik untuknya. Tapi Alina, Xander yang memilihku. Dia yang memutuskan bahwa aku adalah orang yang dia ingin habiskan sisa hidupnya bersama. Kamu harus belajar menerima itu."
Alina terdiam, terlihat bingung dan sedikit tersinggung. "Aku hanya tidak ingin dia membuat kesalahan."
Lily mendesah. "Setiap orang berhak membuat pilihannya sendiri, termasuk Xander."
"Kau cuma masa lalunya, sementara aku masa depan Xander!"
"Jika kamu benar-benar peduli padanya, kamu harus menghormati keputusannya."
Alina menghela napas panjang, akhirnya menyadari bahwa perdebatan ini tidak akan membawanya ke mana-mana. "Mungkin kamu benar, Lily. Tapi bukan berarti aku akan menyerah begitu saja!"
Lily tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan melihat sikap keras kepala Alina.
Alina berdiri, tampak lebih tenang meski masih ada sedikit keraguan di wajahnya. "Kita lihat saja nanti!"
Lily mengangguk. "Terserah kamu saja, kalau kecewa jangan mengamuk dan dicari pelakor oleh orang lain."
Setelah Alina pergi, Lily duduk kembali di ruang tamu, merasakan campuran antara kelegaan dan kelelahan. Dia tahu perjuangannya untuk mempertahankan hubungan dengan Xander tidak akan selalu mudah, tetapi dia siap menghadapi apa pun demi cinta mereka.
Setelah Sofia pergi, Lily duduk di ruang tamu dan menghela napas panjang. Pertemuan itu cukup menguras emosi, tetapi dia merasa lega bisa menyampaikan perasaannya dengan tegas. Dia mengambil cangkir tehnya dan menyesapnya perlahan, mencoba menenangkan pikiran.
Beberapa saat kemudian, Xander pulang lebih awal dari biasanya. Melihat Lily duduk sendirian di ruang tamu, dia langsung menghampirinya. "Hai, sayang. Ada apa? Kamu terlihat lelah," katanya sambil duduk di sampingnya.
Lily tersenyum tipis. "Alina baru saja datang. Kami sedikit berdebat."
Xander mengerutkan kening. "Debat tentang apa?"
Lily menceritakan percakapan mereka, termasuk bagaimana Alina merendahkannya dan mengejar Xander meski tahu dia sudah menikah.
Xander mendengarkan dengan seksama, ekspresinya berubah menjadi marah.
"Aku tidak percaya Alina masih mencoba mengganggu kita," kata Xander dengan nada tegas. "Aku akan bicara dengannya."
Lily menggeleng. "Aku sudah menanganinya, Xander. Aku sudah mengatakan apa yang perlu dikatakan."
"tapi dia terlalu keras kepala!"
Xander menarik napas dalam-dalam dan meraih tangan Lily. "Aku bangga padamu, sayang. Kamu begitu kuat."
Lily tersenyum, merasa lega mendengar dukungan Xander. "Terima kasih. Aku hanya ingin kita bisa hidup tenang tanpa gangguan."
Xander mengangguk. "Kita akan. Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengganggu kita lagi."
Mereka berdua duduk bersebelahan di sofa, merasakan kehangatan dan dukungan satu sama lain. Xander merangkul Lily dan mencium keningnya dengan lembut. "Kamu adalah segalanya bagiku, Lily. Jangan biarkan siapa pun membuatmu meragukan itu."
Lily memeluk Xander erat. "Aku tahu, Xander. Aku juga tidak akan pernah meragukan cinta kita."
Mereka duduk dalam keheningan sejenak, menikmati kebersamaan yang tenang. Kemudian, Xander bangkit dan mengajak Lily untuk berjalan-jalan di taman. "Ayo, kita butuh udara segar. Ini akan membantu kita merasa lebih baik."
Lily mengangguk dan mengikuti Xander keluar. Mereka berjalan beriringan di taman, menikmati keindahan bunga-bunga yang sedang mekar dan mendengarkan suara burung-burung yang berkicau. Dengan tangan saling menggenggam, mereka merasa lebih kuat dan siap menghadapi apa pun yang akan datang.
Ketika matahari mulai terbenam, mereka kembali ke rumah dengan perasaan yang lebih ringan. Di dapur, mereka memutuskan untuk memasak makan malam bersama.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Miss Apple 🍎
seru kak
2024-06-06
0