Selama perjalanan pulang Celine diam saja. Gadis itu memang biasa nya diam, tetapi kali ini gadis cantik itu sedang memikirkan banyak hal di dalam otak nya. xavier sebagai papa cukup khawatir melihat diam nya sang anak.
”Kamu kenapa sayang?” tanya Xavier dengan suara lembut pada putri tunggal nya.
”Ah aku gapapa pa,” jawab Celine sambil menunjukkan senyum nya.
”Apa kamu merasa terganggu dengan ucapan tante Eve?” tanya Karina langsung pada sang putri.
”Nggak kok ma,” Celine buru-buru menenangkan sang mama. ”Celine beneran gapapa ma, serius deh!” ucap Celine dengan senyum meyakinkan mama dan papa nya.
”Yaudah kalau memang gapapa, tante Eve dan om Sean itu hanya ingin William punya pacar, jadi dia mengatakan hal tersebut sama kamu sayang. jadi jangan jadi pikiran gitu ya sayang,” ucap Xavier menjelaskan.
”Iya pa, aku bukan kepikiran hal itu kok. Aku juga gak terbebani juga pa,” Celine sekali lagi berupaya menenangkan papa dan mama nya.
Kedua paruh baya itu pun meganggukkan kepala nya karena merasa yakin kalau putri nya tidak merasa terbebani dengan pembicaraan sahabat-sahabat nya itu. Tak terasa mereka sudah sampai di mansion utama. Mereka pun ke kamar masing-masing dan bersiap untuk segera tidur karena saat ini sudah jam 11 malam.
Sementara di dalam kamar William, terlihat pria itu sedang menatap langit malam yang bertabur bintang. Ya, pria tampan itu kini sedang duduk di balkon kamar nya menikmati pemandangan langit malam. Tiba-tiba saja suara ketukan pintu terdengar dari luar sana, membuat William memutar kepala nya melihat ke arah pintu.
Tok tok tok
William pun membuka pintu kamar nya. terlihat sang adik sedang berdiri di depan pintu kamar nya dengan dua cangkir coklat di tangan nya. william pun membuka pintu nya lebar mempersilahkan masuk sang adik.
”Ini buat kakak,” ucap Viona seraya menyodorkan satu cangkir cokelat panas pada kakak nya.
”Thanks,” gumam William yang masih di dengar Viona, gadis itu menganggukkan kepala nya lalu mendudukan diri nya di atas sofa yang tersedia di kamar kakak nya. Semua kamar di rumah nya memang ada sofa yang cukup di duduki untuk 4 orang dengan 1 meja di depan sofa tersebut.
”Kaya nya kakak banyak banget pikiran deh,” Viona memulai percakapan di keheningan malam ini.
”Nggak ah!” sangkal William pada adik nya.
”Aku tau kok kalau kakak suka sama sahabat cantik aku itu,” celetuk Viona lalu gadis itu menyeruput cokelat panas di cangkir nya.
”Sejak kapan kamu tau?” tanya William dengan santai karena memang dia sudah menyadari nya.
”Mungkin waktu kita makan siang bersama di restoran tante Karina waktu itu,” ucap Viona dengan ekspresi berpikir.
”Kakak kelihatan banget ya suka sama dia?” tanya William yang bingung karena keluarga nya bahkan saat ini sudah mengetahui bahwa dirinya menyukai gadis cantik itu.
”Bangetttt!” seru Viona.
”Biasa aja kali,” William terkekeh mendengar seruan adik nya itu.
”Tapi gapapa sih kakak tunjukin gitu, soal nya yang suka sama Celine tuh banyak kak. Bahkan udah banyak juga yang terang-terangan menyatakan perasaan mereka ke Celine,” ungkap Viona pada sang kakak.
”Dia memang gadis yang sangat menarik perhatian orang-orang,” lirih William yang masih di dengar adik perempuan nya.
”Apa yang kakak takutkan sih! Semua yang confess ke Celine itu kalah kalau dibandingkan sama kakak. Kakak ganteng, mapan, baik juga lagi. Udah pasti Celine lebih milih kakak lah, apalagi kakak pandai dalam berbisnis.” Viona tiba-tiba saja mengeluarkan pujian nya yang amat sangat langka itu.
”Kakak takut Celine jadi menjauh dari kakak. Karena omongan mommy dan daddy tadi bisa membuat kita berdua jadi canggung,” William mengakui apa yang dia khawatirkan saat ini.
”Kalau dia yang canggung ya biarin aja kak! Yang penting kakak pepet terusss!” seru Viona menyemangati kakak nya itu. ”Udah ya kak aku mau tidur. Ingat ya kak, pepet teruss!” gadis itu bangkit dari duduk nya dan segera keluar kamar kakak nya menuju ke kamar nya untuk istirahat karena hari sudah masuk tengah malam.
***
Flashback on
”Biasa aja dong lihat nya Will,” Sean meledek putra nya yang dengan intens memperhatikan setiap gerak gerik dari Celine. William yang mendengar ucapan daddy nya itu langsung mendadak gugup.
”Ekhem!” William berdeham guna menetralkan keterkejutan nya.
”Bilang dong sama mommy kalau kamu suka sama Celine. Kalau gitu kan mommy bisa lobby tante Karina. Biar kita pake jalur orang dalam aja Will,” Evelyn terkekeh melihat ekspresi wajah putra nya saat ini. William melotot karena ucapan sang mommy yang membuat nya semakin tidak bisa berkata apa-apa.
”Daddy sih senang kalau punya menantu kaya Celine, kalau mommy?” tanya Sean yang masih melanjutkan ledekan sang istri untuk anak sulung nya.
”Mommy juga senang banget kalau Celine jadi menantu keluarga kita dad,” jawab Evelyn dengan wajah sumringah.
”Hahaha, bisa aja kalian ini. Putri ku jadi malu kan,” balas Xavier sambil terkekeh karena melihat wajah putri tunggal nya sudah memerah karena malu.
Flashback off
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 157 Episodes
Comments