Besoknya di kantor Dion masih merasa sakit pada tubuhnya, dan juga ia melihat wajahnya yang masih memar.
Ia mengolesi dengan pelan salap diwajahnya, namun entah kenapa rasanya sulit.
Tok.. Tok.. Tok..
Dion mendengar suara ketukan, sudah bisa ia tebak jika itu adalah Amel.
" Masuk " ucapnya datar
Dan benar saja Amel masuk dengan map di tangannya, hari ini Amel menggunakan kemeja pink dan celana hitam yang membuat dirinya semakin cantik.
" Pagi pak " sapa Amel dengan tersenyum
Dion dengan cepat menepis pikirannya, ia menatap map yang sudah Amel letakkan.
" Ini jadwal bapa hari ini, jam 5 nanti kita ada meeting dengan klien dari jepang di restoran Jepang pak " jelas Amel
" Hmm " gumam Dion sambil memegangi wajahnya
Amel yang menyadari jika luka diwajah Dion belum membaik, langsung mendekat.
" Biar saya bantu oleskan salepnya yah pak " ucap Amel melihat sebuah salep dimeja Dio
" Boleh, pelan pelan " perintah Dion
" Iyah Pak " jawab Amel mengangguk
Dion memutar kursinya agar menghadap Amel, begitu pun dengan Amel yang membungkukkan tubuhnya agar lebih mudah.
Dengan lembut Amel mulai mengoles salep di luka Dion, dengan jarak yang sangat dekat Dion bisa merasakan semuanya.
Dion mencium harum parfum Amel yang manis, ia juga terus memperhatikan bibir Amel yang seolah menggodanya.
" Sakit ga pak? " tanya Amel memecahkan lamunan Dion
" Engga, udah cukup " jawab Dion
Amel langsung berdiri kembali, ia pun mengembalikan salep tersebut diatas meja.
" Kalau sudah tidak ada, saya kembali keruangan saya ya pak. Permisi" ucap Amel yang kemudian keluar dari ruangan Dion
Sejak tadi Dion tak bisa fokus, terlebih saat Amel dekat dengan dirinya. Dion membayangkan bibir Amel dan bibirnya bersatu.
" Aarrghh, ga ga ga gue ga suka sama dia. " bantah Dion
Dion mencoba menyibukkan dirinya, ia tak mau terus terbayang oleh Amel.
..
Amel hari ini di sibukkan dengan banyak pekerjaan, terlebih hari ini ia harus menemani Dion meeting.
" Duh capenya " Amel merenggangkan tubuhnya yang pegal
" Amell " ucap Dela yang baru masuk ke dalam ruangannya
" Hmm apa si Del, pasti udah laper " tebak Amel dan Dela tersenyum mengangguk
" Kemarin pas lo udah pulang, Pak Dion nyariin Lo. Gatau tapi gue kenapanya " jelas Dela
" Lupa kali dia kalau gue balik cepet " jawab Amel dan Dela mengangguk
" Lo masa ga naksir sih Mel sama Pak Dion, kalau gue mungkin nih yah udah klepek klepek deh apalagi kalau berduaan sama dia. " ucap Dela yang membuat Amel tertawa
" Haha Del Del, yakali gue naksir sama kulkas 1 pintu. Gue rasa dia ga punya perasaan sama cewe deh, atau mungkin dia ga pernah suka sama cewe. Udah mah ketus, jutek, dingin. Lo sih cuma liat penampilannya aja, jangan ketipu " ucap Amel sambil tertawa
Tanpa Amel dan Dela sadar, Dion yang baru saja hendak masuk kedalam ruangan Amel mendengar semuanya.
Dion dengan cepat langsung pergi dari sana, dan kembali keruangannya.
" Yah tapi Mel, seenggaknya kita perempuan pasti adalah naksir sama cowo ganteng. Jangan jangan lo juga ga normal lagi " ucap Dela
" Normal lah, cuma yah kalau dibilang naksir ya naksir tapi ga sampai gimana gimana. Lagian kalaupun ya gue suka sama Pak Dion, gue bisa apa ? Ya ga mungkin kan gue pacaran sama Pak Dion " jawab Amel
" Ya juga sih yah, yaudah ayo makan. Laper gue " ajak Dela dan Amel mengangguk
**
Seharian ini Dion tak fokus dengan pekerjaannya, terlebih dengan apa yang ia dengar dari Amel.
" Bisa bisanya mereka ngomongin gue kayak gitu " ucap Dion dengan kesal
Tak lama terdengar suara ketukan pintu, Dion pun mempersilahkan untuk masuk.
" Permisi Pak " ucap Amel yang baru saja masuk
" Hmm " gumam Dion
Amel datang dengan membawa beberapa map, dan mendekati Dion.
" Pak Dion sudah rapih ? 5 menit lagi kita berangkat, saya sudah minta pak Ujang untuk standby" jelas Amel
" Suruh pulang aja, saya ingin sendiri " jawab Dion dengan datar
" Berarti bapak ga mau di temani saya juga atau gimana ? " tanya Amel
Dion yang mendengar langsung menatap dingin kearah Amel.
" Saya mau nyetir sendiri Amel, kamu itu sekretaris saya ya kamu wajib ikut" jelas Dion dengan tatapan dingin
" Oo iya iya pak baik, nanti biar saya ucapkan ke pak Ujang " jelas Amel
" Gausah, biar saya saja. Kamu siap siap, kita berangkat sekarang " ucap Dion dengan tegas dan Amel mengangguk
Amel pun langsung keluar dari ruangan Dion, ia langsung bersiap siap untuk segera berangkat.
" Udah rapih kan gue yah, udah wangi juga " ucap Amel sendiri
Setelah siap Amel langsung keluar dari ruangan, dan begitu pun dengan Dion.
Amel berjalan di belakang Dion, Amel selalu suka dengan minyak wangi Dion.
Mobil Dion sudah berada di lobby, Dion dan Amel pun masuk kedalam mobil bersama.
Dion langsung melajukan mobilnya meninggalkan kantornya, sepanjang jalan keduanya hening.
" Pak, luka bapa gimana ? Masih sakit ? " tanya Amel memecahkan keheningan
" Lumayan " jawab Dion singkat
" Sudah di obatin lagi pak ? " tanya Amel kembali
" Hmm " gumam Dion
" Atau mau saya bantu obatin lagi pak ? Maaf yah pak, saya beneran masih ga enak sama bapa. " ucap Amel dan Dion hanya diam
Amel tau jika bosnya itu tak banyak bicara, makanya ia tak heran jika Dion hanya diam.
Setelah melewati kemacetan di sore Hari, keduanya sampai ditempat yang sudah mereka tentukan.
Disana sudah ada klien yang datang lebih awal, mereka mulai berbincang mengenai pekerjaan.
Amel hanya diam mendengar Dion berbicara, selama pembahasan berlangsung Dion menggunakan bahasa yang sama dengan kliennya.
Setelah makan malam, mereka memutuskan untuk mengakhiri pertemuan mereka.
" Pak bapa ternyata bisa bahasa jepang " tanya Amel sambil melangkah keluar
" Yang kamu dengar ? " jawab Dion
" Bisa " jawab Amel dan Dion hanya diam
Dion dan Amel langsung masuk kedalam mobil, Dion pun langsung melajukan mobilnya meninggalkan tempat.
Tak terasa meeting kali ini cukup lama, Amel dan Dion baru bisa berakhir meeting pukul 8 malam.
" Perasaan tadi kita ga lewat sini pak " tanya Amel sambil memperhatikan jalan yang sepi
Tak lama Dion menghentikan mobilnya di tempat sepi dan gelap tersebut.
" Ko berhenti pak mobilnya? Pak disini sepi dan gelap pak " ucap Amel ketakutan
" Badan saya sakit, jadi saya berhenti " ucap Dion
" Apanya pak ? Biar saya yang bawa mobilnya gimana pak ? Tapi saya bisanya pelan pak " jawab Amel yang masih takut
" Engga perlu, saya hanya mau istirahat sebentar " jelas Dion sambil membuka ponselnya
Amel merasa tak tenang, ia takut jika ada orang jahat yang tiba tiba menghampiri mereka.
" Pak jangan disini Pak saya takut " ucap Amel kembali
" Sabar Amel, badan saya sakit, luka saya juga skit banyak ngomong tadi. Kamu ga paham yah, ini semua kan karena kamu " ucap Dion sambil menatap ponselnya
" Yaudah Iyah saya minta maaf, bapa mau apa ? Mau saya bayarin pijat ? " ucap Amel
" Kamu mau tanggung jawab kan ? " tanya Dion sambil tetap menatap ponselnya
" Iyah, saya tanggung jawab. Bapa mau berobat? Ayo saya antar " jawab Amel
Dion mematikan ponselnya, dan menatap Amel.
" Jadi pacar saya " ucap Dion dan Amel terkejut
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 92 Episodes
Comments
Halima Limah
wek modus pura" sakit ada hal pengen bareng lama" sama amel/Grin/
2024-09-03
2
Mawar Tia
waww makin seru aja thor🤭
2024-09-01
0
Ani Baru
wuuuiii...
ngeriii pak dion, mnt t'ggung jwb..
2024-06-25
5